Esports Ecosystem

Q3 2019, Semakin Banyak Merek Non-Endemik yang Jadi Sponsor Esports

17 Oct 2019 | Ellavie Ichlasa Amalia
Merek non-endemik ini berasal dari berbagai industri, seperti makanan dan minuman serta otomotif

Pada awal tahun ini, Nielsen membuat laporan yang menyebutkan 49 persen sponsorship esports berasal dari merek non-endemik, yaitu merek yang tidak ada kaitannya dengan industri esports itu sendiri, misalnya merek makanan dan minuman atau merek fashion. Tampaknya, tren ini masih terus berlanjut. Semakin banyak merek non-endemik yang menjadi sponsor dari tim atau turnamen esports.

Menurut laporan Esports Observer, pada Q3 2019, ada 75 kontrak sponsorship dari merek non-endemik. Sebagai perbandingan, jumlah kontrak sponsorship dari merek non-endemik pada Q3 2018 hanya mencapai 43 kontrak. Itu artinya, ada kenaikan 74 persen pada tahun ini jika dibandingkan dengan tahun lalu. Memang, jumlah kontrak sponsorship pada Q2 2019 sedikit lebih banyak, mencapai 82 kontrak. Namun, pertumbuhan jumlah kontrak pada Q2 2019 jika dibandingkan dengan pada kuartal yang sama tahun lalu sedikit lebih rendah, yaitu 68 persen. Secara garis besar, merek-merek non-endemik yang menjadi sponsor esports bisa dikategorikan ke dalam empat industri, yaitu makanan dan minuman, teknologi, pakaian, dan otomotif.

Makanan dan minuman

Perusahaan makanan dan minuman menjadi pihak yang paling aktif dalam menjalin kerja sama di ranah esports pada Q3 2019. Selama empat bulan, ada 30 kontrak sponsorship yang dibuat oleh berbagai perusahaan makanan dan minuman. Salah satunya adalah Anheuser-Busch InBev yang menjadikan Bud Light sebagai sponsor dari NBA 2K League setelah mensponsori Overwatch League (OWL). Selain itu, merek bir tersebut juga menjadi sponsor dari tim OWL Los Angeles Valiant. Mereka juga bekerja sama dengan Twitch untuk mengadakan Tekken World Tour. Sementara itu, merek energy drink Red Bull telah menandatangani kerja sama dengan G2 Esports. Dengan ini, merek Red Bull akan terpasang pada jersey tim. Selain itu, mereka juga bekerja sama dalam pembuatan konten.

Sumber: G2 Esports via Esports Insider
Sumber: G2 Esports via Esports Insider

Seiring dengan bertumbuhnya industri esports, turnamen di tingkat SMA dan universitas juga semakin marak. Coca-Cola memutuskan untuk menjadi rekan minuman eksklusif dari organisasi esports tingkat perkuliahan Tespa, sementara PepsiCo menandatangani kontrak dengan Immortals Gaming Club. Dengan begitu, merek MTN DEW AMP GAME FUEL akan tampil di jersey dari tim Immortals dan MIBR. Selain itu, merek minuman tersebut juga tercatat sebagai rekan resmi ESL dalam berbagai turnamen hingga 2020. Madden NFL 20 Championship Series, turnamen game american football dari EA Esports, didukung oleh tiga perusahaan makanan dan minuman, yaitu Pizza Hut, Snickers, dan Starbucks. Sementara Kellog menjadikan dua merek snack miliknya, Pringles dan Cheez-It, sebagai sponsor dari Overwatch League. Selain itu, Pringles juga menjadi sponsor dari League of Legends European Championship Summer Finals dan DreamHack Winter 2019.

Smartphone dan teknologi

Dari industri smartphone, OPPO memutuskan untuk menjadi sposnor turnamen League of Legends internasional selama beberapa tahun ke depan, dimulai dari 2019 World Championship. Tidak tanggung-tanggung, perjanjian ini berlangsung sampai 2024. Selain OPPO, Huawei menjadi perusahaan asal Tiongkok lain yang juga masuk ke industri esports. Huawei menjadi sponsor dan smartphone provider untuk Vodafone 5G ESL Mobile Open Finals yang diadakan di Eropa. Sementara operator telekomunikasi Amerika Serikat AT&T memperpanjang kerja samanya dengan penyelenggara turnamen esports ESL dan menjalin kerja sama dengan DreamHack, yang berada di bawah perusahaan induk yang sama dengan ESL.

oppo lol

Otomotif

Honda menjadi rekan otomotif eksklusif dari League of Legends Championship Series (LCS) dengan tujuan untuk menarik perhatian para generasi milenial dan gen Z. Sebelum ini, mereka telah bekerja sama dengan Team Liquid pada Maret tahun ini. Di Indonesia, Honda memasuki ranah esports dengan mendukung ESL Jagoan Free Fire. Sementara Toyota memilih untuk menjadi rekan dari BLAST Pro Series dan Mercedes-Benz menjadi sponsor dari turnamen Dota 2 setelah mensponsori ESL Premiership. Audi juga menjadi sponsor dari Future FC, tim FIFA grup Astralis, yang merupakan salah satu tim Counter-Strike: Global Offensive terkuat. Dikabarkan, kontrak kerja sama itu bernilai US$1 juta per tahun dan akan berlangsung selama tiga tahun. Perusahaan otomoatif Amerika Serikat, Chevrolet, menggandeng Invictus Gaming untuk mempromosikan salah satu mobilnya.

Fashion

Ada beberapa merek fashion yang menarik perhatian ketika mereka memutuskan untuk masuk ke ranah esports. Salah satunya adalah Louis Vuitton, yang bekerja sama dengan Riot Games untuk membuat trophy case untuk trofi League of Legends World Championship. Selain itu, merek fashion tersebut juga akan mendesain skin karakter dan item dalam game. Sementara itu, Nike mengumumkan kerja sama dengan tim Brazil, FURIA Esports, Puma menandatangani kontrak dengan tim Australia, ORDER, dan Adidas berkolaborasi dengan streamer Fortnite, Tyler “Ninja” Blevins. Kerja sama Adidas dan Blevins akan meliputi pembuatan konten digital dan pakaian. Sayangnya, belum ada produk hasil kolaborasi keduanya.

Selain merek makanan dan minuman, smartphone dan teknologi, otomotif dan fashion, ada merek non-endemik dari industri lain yang menjalin kerja sama dengan tim esports. Salah satu contohnya adalah kolaborasi Gen.G Esports dengan jaringan gym LA Fitness serta aplikasi meditasi Simple Habit untuk mendorong para anggota tim hidup dengan lebih sehat. Tim sepak bola Inggris, Manchester City juga bekerja sama dengan FaZe Clan yang memungkinkan keduanya bekerja sama dalam pembuatan konten dan merchandise.

Sumber header: The Esports Observer