Dark
Light

Jogjakarta Memang Kota Yang Unik

2 mins read
January 7, 2010

IMG_2209

Jogjakarta, kota pelajar yang saya kunjungi beberapa hari lalu ini memang merupakan sebuah fenomena yang menarik terutama dari sisi teknologi. Kota yang isinya kebanyakan mahasiswa ini memang terkenal dengan budaya jawa yang teramat kental,  dan juga teknologi modern yang masuk  menciptakan sebuah sinergi yang unik dan khas.

Dalam perjalanan saya ke Jogjakarta beberapa hari lalu, beberapa teman-teman netpreneur lokal berbaik hati meluangkan waktu untuk bertemu dan berbincang dengan saya, ya seputar teknologi dan sekitarnya. Pembicaraan itu berlangsung 4 jam tanpa terasa dari jam 7 – 11 malam, tentu ada banyak yang kami bahas disana namun saya hanya akan membahas beberapa saja.

Satu hal yang saya ingin kemukakan di post ini adalah bagaimana pasar pengguna internet di Jogjakarta itu sangat unik dan bisa dibilang berbeda dengan Jakarta, mulai dari budaya mobile dan warnet yang menjamur.

Budaya berinternet menggunakan perangkat bergerak (mobile) memang sudah tidak asing bagi banyak orang di Jakarta, Medan dan Semarang, bahkan sudah mulai dianggap lumrah dan menjadi pilihan utama (primary). Namun fenomena yang berbeda berlangsung di Jogjakarta dimana penetrasi internet via mobile ternyata tidak se-signifikan kota lainnya di Indonesia, justru penetrasi internet via desktop pc terbilang tinggi dan terus meningkat. Warnet-warnet subur bertumbuh di Jogjakarta, dan kafe-kafe sudah hampir pasti dipersenjatai dengan Wifi yang cepat. Bahkan seorang teman saya di Jogja berkata bahwa kecepatan free Wifi dari suatu kafe sudah menjadi faktor yang menentukan potensi popularitas dari kafe tersebut. Soal enak atau tidak belakangan, yang penting internet cepat.

Photos-(1801)Lalu saya pun bertanya kepada teman-teman netpreneur Jogja, apakah mereka mengetahui tentang Koprol? Semua menjawab ya. Apakah mereka memiliki account di Koprol? Ya. Apakah mereka aktif menggunakan Koprol? Tidak. Mengapa? Apakah lokasi-lokasi Jogja tidak lengkap didata oleh Koprol? Tidak juga. Ternyata salah satu alasan mereka tidak menggunakan Koprol adalah ide dibelakang Koprol yang memang dikhususkan kepada pengguna internet mobile yang sering jalan-jalan. Nampaknya di Jogja Koprol tidak terlalu populer seperti di Bandung maupun Jogja Jakarta.

Lalu kalau mobile internet tidak terlalu populer, apa saja kegiatan berinternet anak-anak Jogja? Well, saya pun mencoba jalan-jalan ke beberapa warnet yang dimiliki teman saya dan juga memperhatikan kebiasaan internet di kos-kosan daerah saya menginap. Ternyata Facebook tetap mendominasi, namun selain itu banyak mahasiswa-mahasiswa Jogja yang rajin ke warnet itu mencari uang lewat internet. Entah itu berupa blogging dengan ad-sense, game taruhan bola, game poker di Facebook, dan segala macam skema-cepat-kaya yang super populer itu. Bahkan aktivitas ilegal seperti carding-pun masih cukup tinggi di Jogjakarta.

Saya dan teman-teman mencapai sebuah kesimpulan bahwa pasar pengguna internet di Jogja ini cukup besar dan sangat potensial, namun masih perlu diarahkan ke jalan (berinternet) yang benar. Memang tidak salah mencari uang lewat internet, namun carding bukanlah jawaban yang tepat. Kalau dipikir-pikir, Jogja itu kedatangan banyak sekali pendatang dari luar Jogja yang notabene jauh dari keluarga dan kampung halaman, faktor ini saya rasa sedikit banyak menyebabkan behavior mereka yang akan berusaha mencari uang sampingan dengan cara yang se-efektif dan se-efisien mungkin sembari kuliah/bekerja.

Namun sayangnya, belum ada startup lokal yang mampu mengeksploitasi hal ini. Startup lokal yang mampu memberikan keuntungan/reward intrinsik memang masih sebatas PPC saja dan saya rasa variasinya masih kurang meskipun ada banyak startup luar yang bisa menjadi inspirasi. Jika saja ada startup web lokal yang mampu memberikan reward uang kepada user, warga internet Jogja (dan tentu warga internet di daerah lain) sepertinya akan menyambut dengan baik.

Well, perjalanan kemarin sangat menarik dan berkesan untuk saya. Terima kasih untuk Kristiono Setyadi, Faiq Fardian, Fahmi Adib, Fachry Bafadal dan DenBagus yang sudah berbaik hati meluangkan waktu untuk ngobrol dan diskusi bareng.

Next stop, Bali? 😀

Rama Mamuaya

Founder, CEO, Writer, Admin, Designer, Coder, Webmaster, Sales, Business Development and Head Janitor of DailySocial.net.

Contact me : [email protected]

14 Comments

  1. Mas Rama, not very important but kayaknya ada typo disitu “Nampaknya di Jogja Koprol tidak terlalu populer seperti di Bandung maupun Jogja.” .. mestinya “Nampaknya di Jogja Koprol tidak terlalu populer seperti di Bandung maupun Jakarta.” bukan? 🙂

  2. Thanks rama atas kunjungan dan diskusi hangat-nya, sayang waktu yang tidak mau berkompromi. Anyway, bulan ini kita bakal ngasi kejutan buat pengguna, konsep sedang dibahas..so we'll let you know when its ready 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous Story

Formspring.me: The Next Trend?

Next Story

Fasilitas Baru (Keren) Dari HootSuite

Latest from Blog

Don't Miss

Game Lokal Lokapala Ekspansi ke Asia Tenggara

Anda tentu sudah mengetahui tentang game mobile bernama Lokapala, bukan? Game dengan
garena FF sea

Turnamen Free Fire di 2023 Bakal Gunakan Format Baru

Game mobile yang terkenal di Indonesia keluaran Garena, yaitu Free