Esports Ecosystem

Pertandingan Olahraga Terhenti Karena Corona, Esports Bisa Jadi Pengganti

20 Mar 2020 | Ellavie Ichlasa Amalia
Banyak atlet basket yang kini mengisi waktu luang dengan bermain game

Pertandingan NBA dihentikan, setidaknya untuk saat ini. Di tengah himbauan untuk tidak keluar dari rumah, para atlet basket profesional kini memiliki banyak waktu luang. Justin Jackson, atlet berumur 24 tahun yang bermain untuk Dallas Mavericks, memutuskan untuk mengisi waktu luangnya dengan bermain game dan menyiarkan permainannya.

Justin bukan satu-satunya pemain Mavericks yang hobi bermain game. Dari kicauan yang dia buat di Twitter, Luka Doncic mengimplikasikan bahwa sejak pertandingan NBA dibatalkan, dia hanya menghabiskan waktunya dengan bermain game. Memang, beberapa tahun belakangan, semakin banyak atlet profesional yang menjadikan bermain game sebagai hobi. Sekarang, juga semakin banyak klub olahraga yang masuk ke industri esports.

Tim NBA Dallas Mavericks juga memiliki tim esports. Tim yang dinamai Mavs Gaming ini berlaga di NBA 2K League. Artreyo “Dimez” Boyd mewakili Mavs Gaming sejak 2018. Meskipun begitu, dia masih sering menemukan orang-orang yang percaya bahwa esports bukanlah olahraga atau semua orang bisa menjadi pemain esports.

“Jawaban saya selalu saya, ‘Kalau begitu, coba gantikan saya,'” kata Boyd, dikutip dari Dallas News. “Tidak peduli apakah saya melawan mantan kekasih saya atau teman baik saya, ketika mereka melawan saya, mereka tidak bisa melakukan jump shot, dan itu hanya satu manuver. Bermain esports kelihatan mudah, sama seperti bermain olahraga tradisional. Saya tidak bisa pergi ke lapangan dan melakukan apa yang Luke Doncic lakukan. Namun, saya jamin, pemain kasual tidak bisa melakukan apa yang bisa saya lakukan.”

Artreyo "Dimez" Boyd membela Mavs Gaming. | Sumber: The Esports Observer
Artreyo “Dimez” Boyd membela Mavs Gaming. | Sumber: The Esports Observer

Menjadi pemain esports profesional memang tidak semudah kelihatannya. Ada banyak pengorbanan yang harus seseorang lakukan untuk menjadi atlet esports profesional. Selain itu, tidak semua orang bisa melakukan apa yang para atlet esports profesional lakukan. Inilah alasan mengapa ada ratusan ribu atau bahkan jutaan orang tertarik untuk menonton pertandingan antara pemain profesional.

“Dalam esports, ada kompetisi, peraturan, dan pemenang,” kata James “Clayster” Eubanks, pemain Dallas Empire yang berlaga di Call of Duty League. Di umurnya yang ke-27, dia telah mendapatkan dua gelar juara dunia. Dia mengaku, dia tidak terlalu peduli apakah orang-orang menganggap esports sebagai olahraga atau bukan. “Anda bisa berdebat, tapi pada akhirnya, esports juga merupakan hiburan.”

Esports juga memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan olahraga tradisional. Misalnya, di tengah pandemik virus Corona, banyak liga olahraga tradisional yang dibatalkan. Namun, turnamen esports masih bisa berjalan, walau penyelenggaraan beberapa turnamen sempat tertunda.

Belakangan, semakin banyak pertandingan esports yang diadakan secara offline. | Sumber: The Esports Observer
Belakangan, semakin banyak pertandingan esports yang diadakan secara offline. | Sumber: The Esports Observer

“Kelebihan esports adalah banyak kompetisi yang pada awalnya diadakan secara online dan banyak pertandingan resmi yang memang diadakan online,” kata pemilik dan CEO Envy Gaming, Mike Rufail. “Walau belakangan, para pelaku industri esports dapat mengumpulkan dana yang cukup banyak untuk menyelenggarakan turnamen secara offline. Jadi, apa yang terjadi sekarang tidak membuat kami terlalu khawatir karena kami punya infrastruktur yang memadai untuk melakukan pertandingan secara online.”

Meskipun begitu, itu bukan berarti industri game dan esports tak terdampak sama sekali. Pandemik virus Corona juga menyebabkan berbagai masalah untuk pelaku industri game dan esports, mulai dari turnamen yang harus dibatalkan atau ditunda, penyelenggaraan turnamen tanpa penonton, sampai penundaan peluncuran game baru. Ada juga tim esports yang tak bisa kembali ke negara asalnya setelah pertandingan karena larangan berpergian akibat virus Corona. Hal ini dialami Complexity Gaming. Tim mereka terdampar di Eropa dan tidak bisa pulang setelah ikut dalam turnamen.

“Kami harus mengambil keputusan sulit, apakah kami akan tetap memulangkan tim kami walau ada larangan berpergian atau apa kami akan membiarkan mereka tinggal di satu tempat dan memastikan mereka aman dan tetap bisa melakukan pekerjaan mereka,” kata Chief Operating Officer Complexity Gaming, Kyle Bautista.

Terlepas dari lokasi seorang pemain esports, selama dia memiliki perangkat dan koneksi internet yang memadai, dia masih akan bisa bertanding. Belakangan, banyak turnamen esports yang mengubah format pertandingan menjadi online karena kekhawatiran akan virus Corona.

Sumber header: Dot Esports