Gaming News

Belum Dua Bulan Diluncurkan, Crucible Malah Mundur ke Fase Closed Beta

01 Jul 2020 | Glenn Kaonang
Per 1 Juli, Crucible tak bisa lagi diunduh oleh pemain baru

Sungguh malang nasib Crucible. Game hero shooter besutan Amazon tersebut baru meluncur ke Steam pada tanggal 20 Mei lalu, namun belum dua bulan berselang, Crucible justru sudah ditarik dari publik dan dimasukkan ke tahap closed beta.

Kabar ini datang setelah developer-nya memutuskan untuk memensiunkan dua dari tiga mode permainan dalam Crucible. Namun rupanya penyempitan fokus pun tidak cukup, sebab sekarang aksesnya juga ikut dipersempit; Crucible tidak akan bisa diunduh oleh pemain baru sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Mereka yang sudah pernah memainkannya dipersilakan untuk terus bermain selama tahap closed beta berlangsung, dan developer-nya bakal menjadwalkan sesi bermain bersama setiap minggunya agar bisa langsung mendengarkan feedback dari komunitasnya. Intinya tidak ada yang berubah untuk para pemain Crucible selama ini, hanya saja mereka tak akan berjumpa dengan pemain baru untuk sementara waktu.

Bicara soal pemain, jumlah pemain Crucible terbilang menyedihkan. Data di SteamDB menunjukkan total paling banyak 187 orang yang memainkannya dalam 24 jam terakhir. Jumlah terbanyaknya pun cuma 25.145 pemain di hari peluncurannya, dan itu terus menurun seiring berjalannya waktu. Begitu sedikitnya jumlah pemain Crucible, developer-nya menyarankan para pemain untuk bergabung ke server Discord mereka agar lebih mudah membuat janji dengan pemain lainnya selama fase closed beta.

Crucible

Kalau ditanya apa yang salah dari Crucible, jawabannya mungkin bisa beberapa. Namun yang paling utama sepertinya adalah timing peluncurannya. Crucible hadir nyaris bersamaan dengan Valorant, yang sendirinya sudah sangat diantisipasi berkat kebesaran nama Riot Games di ranah game kompetitif. Crucible juga tidak pernah memulai dengan status beta terlebih dulu, menimbulkan kesan bahwa peluncurannya agak tergesa-gesa.

Kedua game ini memang cukup berbeda dari segi gameplay, akan tetapi Valorant yang lebih mirip CS:GO mungkin pada akhirnya lebih bisa memikat banyak kalangan. Dari sisi marketing, Amazon juga terkesan pasif. Sebaliknya, Riot Games justru berani membayar para streamer untuk memainkan Valorant sekaligus menyiarkannya, yang pada akhirnya berujung pada pemecahan rekor jumlah penonton di Twitch.

Faktor lain yang menurut saya juga cukup berpengaruh adalah terkait aksesnya. Valorant jauh lebih mudah diakses karena tidak menuntut spesifikasi PC yang tinggi untuk bisa berjalan di 60 fps. Sebaliknya, spesifikasi minimum untuk bisa menjalankan Crucible tergolong tinggi dan tidak bisa mewakili populasi gamer secara umum. Grafik Crucible memang lebih bagus daripada Valorant, tapi grafik sendiri tidak pernah menjadi penentu utama kesuksesan suatu game kompetitif.

Belum diketahui sampai kapan Crucible akan menjalani fase closed beta-nya. Semoga saja nasibnya tidak senaas Battleborn, yang harus di-discontinue karena terbukti kalah saing dengan game serupa yang meluncur secara hampir bersamaan, yaitu Overwatch.

Sumber: GamesRadar dan Crucible.