Esports Ecosystem

Turnamen Esports Bisa Dorong Industri Pariwisata Lokal

07 Nov 2019 | Ellavie Ichlasa Amalia
Turnamen esports biasanya dikunjungi oleh fans dari luar kota atau bahkan luar negeri

Rusia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018. Pihak penyelenggara memperkirakan, potensi dampak ekonomi dari kegiatan tersebut mencapai hampir US$31 miliar dalam waktu 10 tahun. Salah satu alasannya adalah karena acara tersebut mendorong pertumbuhan sektor pariwisata. Selain itu, pembangunan besar-besaran yang dilakukan pemerintah untuk menyambut Piala Dunia juga memberikan dampak ekonomi yang besar. Memang, acara seperti Piala Dunia atau konser musik dapat mendukung perekonomian lokal. Sayangnya, acara dalam skala yang lebih kecil, seperti liga lokal atau konser musik, biasanya tak memberikan dampak besar pada ekonomi lokal karena kebanyakan orang yang hadir adalah warga lokal. Sebuah konser baru akan didatangi oleh orang-orang dari luar kota atau luar negeri jika musisi yang hadir memang sangat dikenal. Namun, lain halnya dengan turnamen esports.

Turnamen esports biasanya dapat menarik pengunjung dari luar kota atau bahkan luar negeri. Berbeda dengan olahraga tradisional seperti sepak bola, yang biasanya memiliki fans yang terpusat di kota asalnya, fans esports biasanya tersebar di berbagai kawasan. Tak aneh, mengingat esports tumbuh besar berkat internet. Misalnya, kebanyakan The Jak Mania, fans sepak bola Persija Jakarta, berasal dari Jakarta. Tapi tidak begitu dengan fans tim esports ternama. Walaupun tim-tim esports besar seperti EVOS Esports dan RRQ memiliki markas di Jakarta, tapi fans-nya tak hanya ada di Jakarta saja.

Rainbow Six: Siege Raleigh Major
Sumber: Ubisoft

Mengingat esports kini telah menjadi fenomena global, pemerintah kota bisa mengembangkan industri pariwisata lokal jika mereka bisa memanfaatkan strategi yang tepat. Ubisoft bercerita, salah satu alasan mereka memilih untuk mengadakan turnamen Rainbow Six Major di Raleigh adalah karena pemerintah Raleigh memang melakukan pendekatan yang agresif, misalnya dengan memberikan subsidi. Ini menunjukkan bahwa pemerintah kota mulai berlomba-lomba untuk membuat kotanya menjadi ramah pada pelaku industri esports. Tren ini mulai terlihat di Tiongkok dan Amerika Serikat. Pemerintah Shanghai bahkan mengatakan, mereka ingin menjadikan Shanghai sebagai “ibukota esports“. Mengingat turnamen Raleigh Major memberikan kontribusi ekonomi langsung sebesar US$1,45 juta atau sekitar Rp20,5 miliar, tak heran jika pemerintah kota mau agar kotanya terpilih sebagai tempat diselenggarakannya turnamen esports.

Turnamen besar seperti Rainbow Six Major di Raleigh bisa mendatangkan hingga ribuan pengunjung dari luar kota dan luar negeri. Pemerintah Raleigh mengatakan, 70 persen penonton turnamen Rainbow Six Major datang dari luar Raleigh. Sementara dari segi kontribusi ekonomi, turnamen tersebut menyumbangkan US$1,45 juta atau sekitar Rp20,5 miliar pada perekonomian lokal. Memang, menurut Tourism Economics, divisi Oxford Economics yang menghitung dampak langsung ekonomi, jumlah pengunjung luar kota atau luar negeri berdampak langsung pada ekonomi lokal.

Di Indonesia, cukup banyak turnamen esports yang diadakan. Hadiah yang diberikan pun cukup besar, seperti Mobile Legends Professional League Season 4 yang menawarkan hadiah sebesar US$300 ribu. Jakarta juga pernah menjadi tuan rumah dari turnamen tingkat regional, seperti ESL Clash of Nations yang merupakan turnamen Arena of Valor tingkat Asia Tenggara atau GESC: Indonesia Dota 2 Minor yang diadakan pada tahun lalu. Akhir pekan lalu, HP juga baru mengadakan turnamen OMEN Challenger Series yang mempertemukan 12 tim dari kawasan Asia Pasifik dan Jepang. Sayangnya, belum diketahui berapa besar dampak penyelenggaraan turnamen tersebut pada sektor pariwisata di Jakarta.