Esports Ecosystem

CEO BOOM Esports Bicara Soal Rencana Ekspansi Internasional

26 Feb 2020 | Akbar Priono
Setelah CS:GO Brazil, ke mana lagi BOOM Esports akan berlabuh? Simak Gary Ongko Putera CEO BOOM Esports, bicara soal rencana ekspansi internasional.

Kemarin (25 Februari 2020), khalayak esports Indonesia cukup dibuat tercengang oleh keputusan ekspansi dari salah satu organisasi esports besar di Indonesia. Setelah sempat menjadi spekulasi sebelumnya, BOOM Esports akhirnya mengeluarkan pengumuman yang menggemparkan, yaitu melakukan ekspansi ke skena kompetisi CS:GO barat dengan mengakuisisi roster ex-INTZ.

Ini sebenarnya bukan kali pertama bagi BOOM Esports melakukan ekspansi ke luar negeri. Sebelumnya, tepatnya tanggal 23 Februari 2020 lalu, mereka juga mengumumkan tim terbarunya yang bernama BOOM EXP, tim Free Fire asal Thailand. Namun demikian, akuisisi INTZ jadi menarik untuk dibahas karena posisi BOOM Esports, yang mungkin bisa dibilang, sebagai organisasi esports Indonesia pertama yang melakukan ekspansi ke barat. Maka dari itu, terkait soal ini, Hybrid mencoba berbincang singkat membahas soal keputusan ini bersama Gary Ongko Putera, Founder dan CEO BOOM Esports.

Sumber: Dokumentasi Hybrid
Gary Ongko Putera (Kiri) Founder dan CEO BOOM Esports. Sumber: Dokumentasi Hybrid

Mungkin salah satu yang kerap dipertanyakan khalayak esports Indonesia adalah alasan BOOM Esports mengambil tim luar negeri, dan secara lebih spesifik, mengambil roster CS:GO sekelas INTZ yang sudah termahsyur, dan berlokasi jauh sekali dari Indonesia. Menjawab ini, Gary kembali mengulang pernyataan seperti yang tertuang dalam rilis BOOM Esports.

“Impian saya adalah membuat BOOM menjadi tim nomor satu di dunia. Toh, saya juga merasa bahwa BOOM bisa memberi lebih banyak jika dibanding dengan organisasi esports negara lain, untuk membimbing dan memberi kesempatan kepada bibit-bibit pemain di luar Indonesia”. ucap Gary kepada Hybrid.

Ketika mengganti jenama BOOM ID menjadi BOOM Esports, pendapat serupa sudah sempat disuarakan oleh Marzarian Sahita (Ojan) General Manager BOOM Esports. Ketika itu ia mengatakan, “Perubahan nama ini dilakukan sebagai usaha untuk menyelaraskan brand dengan visi dan tujuan kami, yaitu menjadi tim nomor 1 di Indonesia dan tingkat dunia.”.

Lebih lanjut, Gary lalu mengatakan alasannya mengincar menjadikan pemain-pemain Brazil sebagai bagian dari keluarga Hungry Beast. “Alasan tim Brazil sih karena kami entah kenapa klop sama mereka. Mereka juga fair dalam urusan hak dan kewajiban, negosiasi juga enak, dan mereka sepertinya memang punya visi yang sama dengan kita, yaitu untuk membuktikan diri.”

“Selain itu secara line-up pemain, saya juga merasa mereka sangat potensial. Ada bibit muda CS:GO Brazil di sana, yang dilengkapi dengan Felps serta Boltz yang menyeimbangkan dari sisi pengalaman. Terlebih saya juga merasa fanbase Brazil bisa dibilang sama passionate seperti fanbase Indonesia. Dukungan mereka pun sangat luar biasa overwhelming di Twitter kami semenjak pertama kali melakukan announcement.” Gary membahas beberapa alasan mengambil roster asal Brazil tersebut.

Lalu, hal lain yang juga membuat kita penasaran adalah soal nasib roster CS:GO Indonesia BOOM Esports? Akankah BOOM Esports tetap berusaha membawa idealisme Indo Pride untuk membawa roster Indonesia ke kancah dunia? Kalau soal Indo Pride, Gary mengatakan “Saya tetap memegang idealisme Indo Pride dan mencoba untuk membuat juara dunia dari talenta lokal.”

Tetapi lebih lanjut soal mempertahankan roster CS:GO Indonesia, Gary menceritakan. “Untuk saat ini, saya menegaskan bahwa BOOM Esports tidak memiliki roster CS:GO Indonesia. Saya sudah mencoba susah payah selama 3 tahun, tapi sepertinya memang masih sulit untuk mencapai tingkat dunia dengan roster lokal. Ada banyak faktor sebetulnya, salah satunya karena memang scene lokal dan region SEA itu kurang.”

“Ada ucapan yang mengatakan ‘You are only as good as your opponnents’ dan menurut saya ini sangat terlihat di Asia. Kita bisa lihat sendiri contohnya seperti BnTeT yang akhirnya keluar dari Tyloo dan masuk scene Amerika Serikat demi meningkatkan kemampuannya. Namun kalau bicara idealisme Indo Pride, BOOM Esports  masih mempertahankan Jason Susanto (f0rsakeN). Saya merasa dia punya potensi jadi pemain terbaik dunia, tapi untuk sekarang masih harus menyelesaikan studinya dan menunggu dia mencapai usia 16 tahun agar dapat mengikuti kompetisi di luar negeri.” tukas Gary.

Alasan Gary sebenarnya cukup masuk akal. Apalagi mengingat skena kompetitif CS:GO di Indonesia dan Asia Tenggara terbilang sangat minim. Saya jadi teringat apa yang dikatakan salah satu caster CS:GO ternama Indonesia, Antonius Wilson (Wooswa), saat berbincang dalam salah satu episode Hybrid Talk. Ia mengatakan bahwa memang jalur menuju internasional dari regional SEA itu sangat sulit. Menurutnya ada dua hal yang menyebabkan hal tersebut.

Pertama karena Indonesia tidak punya lawan bermain yang mumpuni untuk mengembangkan kemampuan, kita hanya bisa berlatih tanding melawan Thailand ataupun Filipina. Ditambah lagi, Alpha Red sebagai tim terbaik SEA sekalipun, kesulitan ketika harus berhadapan dengan tim kelas dua di eropa, Grayhound. Faktor kedua yang juga penting adalah, karena memang kesempatan menuju panggung CS:GO dunia dari regional SEA lebih sempit jika dibandingkan dengan regional lainnya.

Setelah pengumuman ini, pertanyaan yang jadi menggelitik bagi kita mungkin adalah, apa langkah berikutnya BOOM Esports? Terutama jika bicara ekspansi scene luar negeri. Satu yang menarik dan mungkin cukup ditunggu adalah ekspansi BOOM Esports ke dalam skena kompetitif Rainbow Six: Siege.

Ini mengingat Rainbow Six sedang mendapatkan momentum positif belakangan ini, baik dari sisi game itu sendiri ataupun dari sisi esports. Dari sisi game, pada 25 Februari lalu Rainbow Six Siege berhasil memecahkan rekor jumlah pemain, dengan jumlah concurrent player sebesar 180.463 pemain. Secara esports, Six Invitational juga mengalami peningkatan jumlah penonton dengan jumlah penonton rata-rata sebanyak 58.509 orang.

“Jujur, kami sebetulnya malah lebih dulu tertarik sama Rainbow Six daripada mengambil roster CS:GO Brazil.” Gary mengatakan. “Karena waktu itu INTZ belom available, dan nggak ada opsi lain yang lebih baik. Akhirnya sempat terpikir mau mengambil tim R6, tapi ternyata cost-nya sangat luar biasa. Biaya buyout atau membeli tim R6 kurang lebih setara dengan 2 slot MPL(sekitar Rp30 miliar) ketika itu. Karena nggak cost effective, jadi saya mengurungkan niat lebih dahulu. Tapi R6 definitely in my sight, tinggal cari opportunity aja, karena saya personal mengikuti perkembangan scene game tersebut.” ucap Gary.

Six Invitational 2019 - G2 Esports
Rainbow Six jadi salah satu game dan esports yang sedang bertumbuh positif belakangan ini. Sumber: Ubisoft

Gary lalu membahas lebih lanjut soal rencananya masuk ke dalam skena kompetitif R6. “Karena kita punya tim di Brazil sekarang, mungkin akan sekalian ambil tim R6 atau bahkan mungkin Free Fire juga dari sana. Karena scene di Brazil itu besar, bahkan tim kelas satu R6 juga beberapa asal Brazil seperti Ninja in Pyjamas, FaZE Clan, atau Team Liquid.”

“Dari apa yang saya pelajari lewat mengembangkan tim CS:GO Indonesia, ekspansi besar seperti ini butuh tim yang sudah terkenal. Untuk scene lokal, masih tidak apa-apa kalau ambil pemain bibit. Tapi untuk game seperti R6, rasanya harus mengambil tim yang bisa langsung kompetitif.” ucap Gary Ongko menutup pembahasan.

Jadi dari pembahasan ini kita mungkin sudah bisa menebak, ke arah mana ekspansi internasional berikutnya yang akan dilakukan oleh BOOM Esports. Bagaimanapun, walau memainkan roster pemain asing, namun saya merasa apa yang dilakukan BOOM Esports tetap membanggakan Indonesia karena membawa brand organisasi esports lokal kepada penonton internasional.