Esports Ecosystem

AI di Esports: Coach Baru yang Lebih Efektif?

09 Aug 2019 | Ellavie Ichlasa Amalia
Salah satu penggunaan AI di esports adalah membantu latihan pemain, baik amatir atau profesional

Pada April, AI buatan OpenAI, organisasi yang didukung oleh Elon Musk, berhasil mengalahkan OG, tim profesional yang memenangkan The International 2018, salah satu turnamen Dota 2 paling bergengsi.

Meskipun begitu, ini bukan berarti AI akan menggantikan atlet profesional. Ada banyak batasan yang ditetapkan dalam pertandingan yang mengadu AI dengan pemain manusia ini. Misalnya, di Dota 2, ada lebih dari 100 karakter. Namun, dalam pertandingan tersebut, kedua tim hanya bisa menggunakan 17 karakter.

Selain itu, OpenAI juga tidak berencana untuk mengembangkan AI yang dapat bermain Dota 2 ini lebih lanjut. Karena, pada akhirnya, tujuan utama OpenAI adalah untuk membuat AI yang bisa belajar tentang dunia nyata dan bukannya AI khusus untuk bermain game.

“OpenAI Five menggunakan metode deep reinforce learning, yang berarti kami tidak membuat kode tentang cara bermain Dota 2. Kami membuat AI itu agar bisa belajar,” kata Chairman dan Co-Founder OpenAI, Greg Brockman, lapor The Verge.

Anda bisa menonton video di bawah ini untuk tahu cara kerja AI yang dapat memainkan Dota 2 buatan OpenAI.

Esports kini menjadi industri dengan nilai US$1,1 miliar, menurut Newzoo. Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan endemik dan non-endemik yang tertarik untuk mendukung industri esports, semakin banyak pula kompetisi esports yang diadakan.

Tidak hanya itu, besar hadiah yang ditawarkan juga semakin fantastis. Siapa yang tidak mau menjadi seperti Kyle “Bugha” Giersdorf, remaja 16 tahun yang memenangkan US$3 juta dari Fortnite World Cup?

Untuk bisa menjadi pemain profesional, selain bakat, seseorang juga harus berlatih. Falcon AI melihat ini sebagai kesempatan. Mereka mengembangkan AI, bernama SenpAI, yang dapat membantu seseorang untuk dapat bermain dengan lebih baik.

Pada awalnya, SenpAI hanya tersedia untuk game Dota 2. Namun, sekarang, SenpAI juga tersedia untuk pemain League of Legends. Menurut situs resminya, ada tiga hal yang SenpAI tawarkan: rekomendasi strategi, statistik pemain, dan pelacakan performa pengguna.

Co-founder dan CEO Falcon AI, Olcay Yilmazcoban mengatakan bahwa AI buatan mereka akan membantu para pemain untuk tahu kelemahan dan kekuatan mereka. Tidak berhenti sampai di situ, SenpAI juga akan memberitahukan cara bagi pemain untuk menang.

“Kami memberdayakan pemain agar mereka bisa bermain dengan lebih baik, terutama gamer kelas pemula dan menengah yang memang masih bisa berkembang,” kata co-founder Falcon AI, Berk Ozer pada Inc.com.

“Kami mengembangkan AI yang bisa membuat replika dari para pemain dan menyarankan tindakan yang bisa dilakukan pemain untuk meningkatkan performanya.”

Sumber: Team Liquid
Sumber: SAP

AI tidak hanya digunakan oleh pemain pemula, tapi juga profesional. Pada tahun lalu, SAP mengumumkan kerja samanya dengan Team Liquid.

Dalam situs resminya, SAP berkata bahwa kerja sama ini akan bertujuan untuk mengembangkan software yang dapat membantu tim esports tersebut untuk menganalisa permainan mereka. Tujuan akhirnya, tentu saja, adalah untuk meningkatkan performa mereka.

Selain membantu para pemain, AI juga bisa digunakan untuk membantu caster. Pada Maret lalu, IBM menunjukkan bagaimana AI mereka — bernama Watson — bisa membantu para caster dalam menyampaikan jalannya pertandingan.

IBM mengakui bahwa esports adalah industri yang besar dan masih bertumbuh. Selain itu, turnamen esports juga mengundang banyak penonton, baik penonton yang datang langsung ataupun menonton secara online.

“Para ahli dan developer di IBM mengembangkan cara bagi promotor acara untuk menarik fans menggunakan video cerdas, dan memberikan informasi penting pada komentator pertandingan,” kata IBM pada Variety.

IBM menggunakan teknologi yang sama dengan teknologi yang digunakan di turnamen tenis US Open.

Pada dasarnya, AI buatan IBM akan dapat menunjukkan momen penting dari sebuah pertandingan secara real-time berdasarkan ratusan jam konten yang ia konsumsi. Dengan begitu, sang caster akan bisa memastikan bahwa komentar mereka tetap relevan selama pertandingan berlangsung.

Selain itu, ada beberapa cara lain AI bisa digunakan di industri esports. Untuk lebih lengkapnya, Anda bisa membacanya di sini.

Sumber: The Verge, Inc.com, Variety, Forbes