Esports Ecosystem

Pemuda 16 Tahun Ini Borong Rp42 Miliar Setelah Jadi Juara Fortnite World Cup

30 Jul 2019 | Ayyub Mustofa
Fortnite World Cup jadi ajang peraihan prestasi para remaja dari berbagai negara.

Fortnite World Cup baru saja selesai digelar, menyisakan sejumlah aksi berkesan dari para pemain yang tak terduga. Game battle royale yang sangat populer itu menjadi ajang peraihan prestasi bagi banyak anak muda dari berbagai belahan dunia, bahkan mereka yang masih belia. Dalam kejuaraan dunia pertamanya, Fortnite World Cup dimenangkan oleh remaja berusia 16 tahun!

Menawarkan hadiah total US$30.000.000 (sekitar Rp420 miliar), Fortnite World Cup kini memegang rekor sebagai kompetisi esports dengan hadiah terbesar di dunia. Rekor tersebut memang akan segera terpecahkan karena turnamen Dota 2 The International 2019 sudah mencapai prize pool US$31.000.000 lebih, tapi untuk kejuaraan dunia pertama pencapaian Fortnite ini tetaplah signifikan.

Epic Games selaku penerbit Fortnite menyelenggarakan kompetisi di empat kategori. Dua kategori utama yaitu Solo dan Duos, ditambah dua kategori sampingan yaitu Pro-Am dan Creative. Juara di kategori Solo adalah Kyle “Bugha” Giersdorf, remaja 16 tahun asal Amerika Serikat. Dengan performanya itu, Bugha berhak membawa pulang hadiah senilai US$3.000.000 sendiri, atau setara dengan kurang lebih Rp42 miliar.

Bugha bukan satu-satunya remaja yang meraih prestasi di ajang Fortnite World Cup. Remaja lain, Jaden “Wolfiez” Ashman yang berusia 15 tahun, berhasil menjadi juara 2 di kategori Duos. Ia berhak atas hadiah US$2.250.000 (sekitar Rp31,5 miliar), namun dibagi dua dengan kawan setimnya Dave “Rojo” John. Ada juga remaja 14 tahun Kyle “Mongraal” Jackson, peraih peringkat Top 6 Duos yang meraih hadiah US$375.000. Bahkan yang lebih muda, Thiago “k1nGOD” Lapp dengan usia 13 tahun, membawa pulang hadiah US$900.000 setelah finis di peringkat 5 kategori Solo.

Lucunya, ketika ditanya oleh BBC akan digunakan untuk apa hadiah tersebut, Bugha berkata, “Saya hanya ingin beli meja baru, dan mungkin satu meja lagi untuk menaruh piala.” Sementara sisa hadiahnya akan ditabung. Cukup menarik melihat bahwa ketika memperoleh rejeki nomplok demikian ternyata Bugha tetap tidak terlena atau ingin berfoya-foya.

Prestasi para remaja di ajang Fortnite World Cup ini menunjukkan bahwa dunia esports adalah dunia di mana setiap orang berpeluang menjadi juara, tanpa terikat keterbatasan usia. Mereka yang masih 13 tahun bisa saja bertanding melawan pemain usia 20 atau 30 tahun, asal punya keahlian yang mumpuni.

Dukungan dari orang tua juga jadi faktor pendorong yang penting, sebagaimana ditunjukkan oleh pemain seperti Wolfiez dan k1nGOD. Dulu ibu Wolfiez sempat menentang kegiatan gaming anaknya karena ia mengira itu hanya membuang-buang waktu. Namun lambat laun ia dapat menerima keinginan Wolfiez untuk menjadi pemain esports profesional dan kini memberinya dukungan penuh. Sementara k1nGOD, Anda bisa lihat sendiri ekspresi ayahnya dalam klip Twitter di bawah.

Bentuk dukungan dari orang tua tentu tidak sebatas “membiarkan anaknya bermain”. Sama seperti berbagai jenjang karier lainnya, menjadi atlet esports pun butuh kerja keras, latihan, serta bimbingan. Memfasilitasi semua itu serta mengarahkan anak ke jalur yang tepat adalah bentuk dukungan yang lebih nyata untuk membantu mereka meraih mimpi. Semoga saja di masa depan lebih banyak orang tua yang dapat mengerti itu, sehingga stigma negatif esports bisa hilang dari masyarakat dan anak-anak muda semakin bersemangat meraih prestasi.

Sumber: BBC, The GuardianFortnite Competitive