Dark
Light

[TanyaBangwin] Bagaimana Kerja Seorang Buzzer?

2 mins read
August 8, 2013

TanyaBangwin adalah kolom di Trenologi yang dijalankan bekerja sama dengan Abang Edwin SA, seorang social media consultant dan online business advisor. Untuk kolom kali ini akan dibahas seputar Buzzer. Mulai dari cara kerja serta berbagai hal lain seputar penggunaan buzzer oleh pemilik merek. Selamat membaca.

Pertanyaan:

Halo Bangwin,

Saya sering dengar istilah buzzer dan pengertian yang saya dapatkan tentang buzzer ini adalah orang-orang yang memiliki follower banyak lalu mereka dipergunakan dengan sejumlah bayaran oleh perusahaan/brand/pihak-pihak yang mau membayar mereka untuk menyebarkan pesan. Apakah benar demikian? Lalu kenapa ya kok mereka seperti orang beriklan di timeline? Karena kalau kebanyakan kan butek juga bacanya padahal saya pribadi memfollow mereka karena hal-hal yang menarik yang sering mereka share di tweet-tweet mereka.

Bisa dijabarkan gak ya Bangwin sebenarnya buzzer itu gimana cara kerjanya?

Regards,

Jimi Sumlang

Jawaban:

Halo Jimi,

Pertanyaannya menarik karena memang masih banyak kerancuan dengan apa yang disebut dengan buzzer. Buzzer adalah sebuah predikat yang namanya diambil dari kata dasar Buzz yang artinya ‘pembicaraan’ atau ‘percakapan’. Sehingga Buzzer sendiri adalah orang yang diharapkan bisa membuat sebuah topik/keywords jadi sebuah pembicaraan bukan saja di dunia online tapi juga in real world.

Tadinya banyak yang menganggap bahwa kekuatan buzzer itu bisa diukur dari jumlah follower-nya, namun sebenarnya tidak bisa hanya berhenti sampai disitu. Seorang buzzer seharusnya terlepas dari jumlah follower yang ia miliki harus memiliki kemampuan membangun buzz. Dan jika iya juga memiliki jumlah follower yang banyak maka itu adalah nilai plus buat si buzzer tersebut.

Aturan tidak tertulis dalam menggunakan buzzer pada saat ini memang masih dihitung dari tweet berisikan pesan tersebut, dengan kata lain mereka dibayar dari jumlah tweet yang diminta oleh perusahaan/brand/agency yang meng-hired mereka. Penghitungan success rate-nya adalah dari jumlah tweet yang di-retweet, sehingga bisa diukur seberapa jauh si pesan tersebut bisa menjangkau dalam hitungan jumlah retweet tersebut (artinya makin besar jumlah retweet, makin besar pula nilai reach-nya)

Pendekatan seperti ini saya menamakannya dengan istilah amplifying method. Apakah ada dampak buruknya? Tentu saja ada yaitu bisa saya jabarkan dibawah ini:

  1. Muaknya para follower jika terus menerus dijadikan target ‘iklan’ di timeline mereka, sehingga selain mereka meng-unfollow si buzzer, mereka juga bisa jadi badmouthing si buzzer + brand/perusahaan yang jadi klien mereka. Harus diingat bad news di social media itu menyebarnya sangat cepat.
  2. Social capital dari buzzer yang dibangun dengan susah payah bisa hilang dengan cepat. Sebutan influencer akan bisa berubah jadi spammer dengan segera pula.

Buat saya pribadi, amplifying method itu banyak ruginya untuk si buzzer, karena pada prinsipnya klien hanya menggunakan banyaknya follower untuk menyebarkan iklan mereka, dan si follower most likely tidak akan suka dihujani oleh iklan (kecuali kalau akunnya memang khusus iklan ya) dan dampaknya ke si buzzer itu sendiri (karena mereka dianggap ‘menggunakan’ mereka untuk mencari uang).

Idealnya memang perusahaan/brand menggunakan buzzer agar produk/service/campaign mereka bisa jadi bahan pembicaraan dan terdistribusi secara viral. Dan untuk ini tidak bisa didapat hanya dengan meng-amplified pesan saja tanpa membangun percakapannya.

Tentunya Jimi tidak akan jadi butek ya jika sebuah pesan disampaikan tidak dengan pendekatan hardselling tapi dengan memasukkannya ke dalam elemen percakapan, sehingga jauh lebih santai.

Kira-kira demikian Jim, mudah-mudahan bisa terjawab pertanyaannya.

Salam,

Bangwin

Catatan:

Bagi yang ingin bertanya tentang hal-hal yang kaitannya dengan social media, community management dan online business pada kolom [TanyaBangwin] ini, silahkan mengirimkan pertanyaannya ke tanyabangwin[at]gmail[dot]com.

Jangan lupa menyertakan akun Twitter/FB nya sehingga bisa di mention ketika kolom ini terbit. Usahakan pertanyaan yang diberikan bisa memicu penjelasan yang berbentuk artikel (salah satu ketentuan agar pertanyaannya bisa terpilih nantinya).

 Sumber gambar header: Peshkova/Shutterstock.

4 Comments

  1. Saya sering sekali beriklan di social media saya. Kalau hal tersebut sudah dilakukan dari awal, maka follower juga sudah terbiasa dengan hal tersebut sehingga tidak akan menjadi masalah. Memang tetap harus diperhatikan bahwa porsi iklan tidak boleh lebih besar daripada porsi konten itu sendiri. Tetapi menurut saya pribadi, social media itu sendiri adalah sebuah gateway menuju goal kita. Saya menggunakan social media selain untuk personal branding, bikin network, juga untuk set up new business dan berjualan (core business saya berjualan produk). Jadi sukses tidaknya, itu diukur dari personal goal si pemilik akun itu sendiri. (Ketika tulisan ini dibuat, saya memiliki 489,4K twitter follower)

  2. Betul mas…Apa yang mas Denny lakukan bisa berhasil karena positioning personal branding mas Denny sudah terbentuk, sehingga orang2 yg memfollow mas Denny memang sudah “mengharapkan” mendapatkan apapun yang ingin mas Denny share lewat socmed channel mas Denny. Tapi coba bayangkan deh, misalnya si A baru buka akun Twitter, lalu mengajak teman2nya gabung…dan seminggu kemudian si A menghujani mereka dgn iklan….saya yakin teman2 si A akan komplen.

    Yang mas Denny alami sama halnya dengan mas Adri Soebono, para follower mas Adri Soebono sudah tahu bahwa jika mereka memfollow akun @adrisoebono maka mereka akan dihujani oleh twit2 iklan konser2 yg diadakan oleh Java Musikindo, lalu apakah followernya berkurang? Kenyataannya tidak, hanya saya yakin komposisi follower yg memfollow mas Adri Soebono krn ingin mendapatkan iklan2 konser akan bertambah dan yg menfollow dgn alasan diluar itu akan berkurang. Apakah lalu itu salah? Ya untuk orang2 yang sdh mencapai level tertentu spt mas Adri ataupun mas Denny tidak salah, tapi buat orang yang belum punya nama dan baru ingin membangun personal branding mereka ada baiknya tidak langsung kesitu and do it slowly…:-) Saya yakin follower mas Denny yg hampir 500 ribu tersebut juga tidak didapatkan gampang, pasti ada proses kan mas 🙂

  3. Tapi coba bayangkan deh, misalnya si A baru buka akun Twitter, lalu mengajak teman2nya gabung…dan seminggu kemudian si A menghujani mereka dgn iklan….saya yakin teman2 si A akan komplen. <– nah ini yang tadi saya bilang bahwa sebaiknya iklan tidak lebih banyak dari kontennya. Memang secara gradual akan lebih baik, misalnya dari 20 tweet content, 1 adalah iklan.

    Terlebih kalau iklannya masih berkaitan dengan konten tweetnya. Itu akan bisa dengan cepat diterima, mengingat Twitter memanfaatkan apa yg sering disebut dengan Social Testimonial. Lebih kuat daripada banner ads.

    Yang jadi masalah adalah kalau iklannya ga jelas (tidak terkait konten) plus kontennya sendiri tidak berguna (galauers). Ya itu adalah resep kegagalan.
    Yang jadi pengamatan saya belakangan ini ada di sisi lain, yaitu bahwa semakin banyaknya orang masuk ke social media, power social media itu koq rasanya jadi semakin berkurang. Memang secara viral lebih meningkat, tetapi orang membaca hal baru di social media sudah tidak seheboh dulu lagi, kecuali beritanya benar2 spektakuler.

    Terutama di Indonesia, facebook audiencenya sudah semakin alay, twitter bergerak ke arah yang sama. Dulu masih follow sedikit orang, interaksi masih enak. Skrg sudah follow semakin banyak orang, TL malah ga pernah saya lihat krn sudah noisy banget. Akhirnya pindah ke PATH. What do you think?

  4. Ya kalau dibandingkan ya tetap saja hubungan yg dimulai tanpa iklan adalah yg paling kuat sih mas, hubungan yg didasari oleh rasa trust. Kalau memang harus beriklan, ya saya sependapat dg mas Denny, sebaiknya minimal iklan, tapi kalau ndak perlu ya ada baiknya membangun relasilah dulu saja utk membangun pertemanan dan trust. Silahkan dipilih jalur mana yang ingin ditempuh…:-)

    Social Testimonial itu baik hanya menurut saya Social Testimonial itu akan jauh lebih baik lagi jika didasari oleh Social Capital yang bisa membangun Social Reputation kita mas. Jadi tingkatannya adalah diawali menjalin pertemanan, membangun trust, gain influence, lalu akhirnya menjadikan mereka sbg customer

    Menurut saya tidak ada yg salah, hanya saja point of viewnya yg berbeda…Saya lebih berfokus utk memperkuat ikatan antar manusianya untuk meraih trust yang ujung2nya jika saya menjual apapun org akan bisa lebih percaya. Point of view mas Adri ataupun mas Denny saya pikir melihat dari sudut pandang membangun akun sbg channel iklan. Itu pun tidak salah.

    Org2 akan “mendekati” Adri Subono karena ingin dapat informasi lebih cepat dan ingin mendapatkan promosi + kuis bukan hal-hal lain. Jika si A ingin memfokuskan akun socmednya hanya utk “jualan” ya pendekatan mas Adri bisa dijalankan namun tantangannya adalah, Adri Subono masuk ke socmed dgn sudah memiliki Social Capital sendiri dibidang promotor musiknya, sehingga istilahnya dia tidak mulai dari nol, sedangkan si A….who is A? ini yang harus dibangun. Please CMIIW, saya pikir mas Denny punya pendekatan yg serupa dengan mas Adri.

    Mengenai kekuatan social media berkurang seiring dengan makin banyaknya org yg masuk ke social media menurut saya itu diakibatkan karena semakin kompleksnya level dan karakter pengguna social media. Pemfokusan diri pada sebauh branding menurut saya akan “memfilter” itu semua sehingga TL akan bisa tetap relevan dengan apa yang kita fokuskan.

    PATH memang bisa lebih kuat krn itu tadi ikatan friend nya dibatasi, kalau tidak salah hanya bisa 150 orang ya, lalu sistemnya bukan follow tapi friend (harus disetujui kedua belah pihak)

    Kira2 begitu mas…:-)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous Story

Stop Nganggur! Ngelamar Kerja Sekarang Bisa via LinkedIn Mobile

Next Story

Ekstensi Chrome dan Addon Firefox Terbaik Untuk ‘Jaga’ Aktivitas Anak di Internet

Latest from Blog

Don't Miss

Semua Hal yang Diumumkan NVIDIA pada Computex 2024

Dalam presentasi selama 1 jam 47 menit, CEO dan pendiri

Pengguna X Premium Kini Bisa Gunakan Grok AI

Secara global, Elon Musk mengumumkan peluncuran Grok 1.5 pada akhir