Strategi Baru JBL di Usia 80 Tahun: Usung Identitas “Made to be Heard” dan Rilis Audio AI

1 min read
October 7, 2026

Memasuki perayaan hari jadinya yang ke-80, jenama perlengkapan audio JBL resmi mengubah identitas kampanye global mereka untuk kawasan Asia Pasifik. JBL meninggalkan slogan lama “Dare to Listen” dan menggantinya dengan “Made to be Heard”.

Pembaruan ini menandai pergeseran arah bisnis perusahaan yang kini memprioritaskan dukungan bagi para pembuat konten (kreator) serta pendorong ekspresi budaya secara lebih luas.

Slogan kampanye sebelumnya telah digunakan sejak tahun 2017 hingga 2024 dengan fokus yang menargetkan pengguna sebagai pendengar setia. Kini, identitas baru tersebut dirancang untuk merangkul keberagaman suara, memfasilitasi ekspresi diri pengguna, serta memperkuat relevansi emosional antara produk dan gaya hidup.

Kawasan Asia Pasifik dipilih sebagai pondasi peluncuran identitas ini, salah satunya karena tingginya pertumbuhan sektor ekonomi kreatif, tren musik independen, serta kuatnya komunitas anak muda digital.

Konsumen di wilayah ini, mulai dari pemain gim, pembuat konten, hingga pegiat olahraga jalanan, dinilai sangat bergantung pada perangkat audio sebagai instrumen utama untuk mengekspresikan jati diri.

Terkait dengan pergantian arah jenama ini, Grace Koh, General Manager and Vice President, Consumer Audio, HARMAN Asia Pacific, menyampaikan pernyataan resminya:

“’Made to Be Heard’ mewakili evolusi JBL selanjutnya sebagai sebuah merek yang dibangun di atas ide-ide berani, kreativitas tanpa batas, dan ekspresi diri yang autentik,” ujar Grace Koh, General Manager and Vice President, Consumer Audio, HARMAN Asia Pacific.

“Di seluruh Asia Pasifik, kami melihat konsumen mulai menggunakan berbagai cara baru untuk mengekspresikan diri dan saling terhubung melalui audio, menjadikan momen ini sangat berarti bagi kami. ‘Made to Be Heard’ adalah komitmen kami untuk menginspirasi rasa percaya diri, merayakan orisinalitas, sekaligus menghadirkan inovasi dan performa yang selalu diharapkan dari JBL. Lebih dari sebelumnya, kami ingin setiap interaksi dengan JBL mampu memberdayakan setiap orang untuk menunjukkan siapa diri mereka, karena setiap suara berhak untuk didengar.”

Ekosistem Perangkat AI dan Program Komunitas Musik

Selain perombakan identitas merek, pabrikan yang pernah menyabet penghargaan Grammy dan Academy Awards untuk rekayasa tata suara ini juga menajamkan fokus inovasinya pada integrasi kecerdasan buatan (AI). Perusahaan mengandalkan produk audio cerdas untuk membantu para musisi dan kreator dalam berkarya.

Beberapa inovasi perangkat keras dan program nyata yang diluncurkan dalam fase baru ini meliputi:

  • JBL EasySing: Mikrofon portabel yang dibekali teknologi AI cerdas untuk meredam atau menghilangkan vokal lagu asli secara langsung (real-time).

  • JBL BandBox: Seri penguat suara (smart amplifier) modern yang sanggup melakukan isolasi instrumen atau vokal (stem isolation) secara langsung tanpa memerlukan perangkat lunak tambahan eksternal.

  • JBL Music Academy: Program bimbingan terintegrasi yang memfasilitasi musisi, produser, dan pencipta lagu pendatang baru dengan akses pada teknologi, perangkat audio mumpuni, serta bimbingan industri.

Melalui perpaduan perangkat keras berteknologi AI dan program inkubasi komunitas tersebut, JBL berupaya mempertahankan eksistensinya tidak hanya sebagai produsen pengeras suara, tetapi sebagai penyedia infrastruktur bagi ekosistem kreatif di masa depan.

—

Disclosure: Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan dalam pengawasan editor.

Previous Story

iBox Resmi Buka Pre-Order iPhone 18 Pro dan Pro Max di Indonesia

Next Story

Kingston Kuasai 62 Persen Pangsa Pasar DRAM Global, Bertahan di Puncak Selama 23 Tahun

Latest from Blog

Don't Miss

JBL EasySing Mic Mini

Review JBL EasySing Mic Mini, Mungil Powerfull untuk Karaoke atau Buat Konten

JBL EasySing Mic Mini adalah mikrofon nirkabel portabel berukuran ringkas

HARMAN Berantas Peredaran JBL Palsu di Asia Pasifik: 500 Ribu Tautan Ilegal Dihapus

HARMAN memperketat pemberantasan JBL palsu di Asia Pasifik dan berhasil