Esports Ecosystem

Seperti Apa Kondisi Bursa Transfer dan Kontrak Pemain Esports?

19 Feb 2020 | Ellavie Ichlasa Amalia
Menjadi atlet esports tak lagi sekadar main-main, ada kontrak dan profesionalisme yang mengikat.

Dulu, hidup sebagai gamer profesional bukanlah hal yang mudah. Biasanya, mereka harus menggantungkan diri pada hadiah turnamen yang mereka dapatkan. Masalahnya, ketika itu, total hadiah yang ditawarkan turnamen esports juga belum sebesar sekarang. Saat ini, berkat dukungan dari berbagai pihak, termasuk merek non-endemik dan investor, esports sudah jauh berkembang. Para pemain esports tak hanya mendapatkan hadiah dari turnamen yang mereka menangkan, mereka juga mendapatkan gaji tetap dari organisasi tempat mereka bernaung.

Oh iya, artikel kali ini adalah pembahasan soal kontrak pemain esports secara luas. Jika Anda lebih tertarik dengan bagaimana caranya bisa bergabung dengan tim esports, Anda bisa membaca artikel ini: 5 Cara untuk Direkrut Jadi Pemain Esports Profesional.

Para pemain yang berlaga di turnamen internasional, mereka bisa menerima gaji hingga miliaran rupiah per tahun, seperti pemain profesional League of Legends di Amerika Utara dan Eropa atau pemain di Korea Selataan. Lee Sang-hyeok alias Faker, yang dianggap sebagai pemain League of Legends terbaik sepanjang masa, pernah ditawari untuk menentukan besar gajinya sendiri ketika dia ditawari untuk pindah. Tentu saja, gaji para pemain esports tidak bisa dipukul rata.

Lalu, apa yang menentukan besar gaji seorang pemain?

Salah satu hal yang menentukan besar gaji pemain adalah game yang mereka mainkan. Setiap game esports biasanya memiliki peraturan sendiri. Biasanya, ketat atau tidaknya peraturan di scene sebuah game esports tergantung pada publisher game itu. Misalnya, dalam esports League of Legends, Riot Games turun tangan langsung dalam penyelenggarakan turnamen. Sementara Valve biasanya tak banyak ikut campur dalam scene Counter-Strike: Global Offensive.

G2 Esports. | Sumber: Nexus League of Legends
G2 Esports. | Sumber: Nexus League of Legends

Dalam kasus League of Legends, Riot menentukan gaji minimal yang diterima oleh pemain di tim yang berlaga di liga League of Legends untuk kawasn Amerika Utara. Riot bukan satu-satunya publisher yang membuat regulasi tentang gaji minimal pemain. Activision Blizzard juga melakukan hal yang sama dengan Overwatch League. Sementara itu, dalam kasus CS:GO, yang memiliki sistem terbuka, tidak ada peraturan yang menentukan besar gaji pemain. Selain itu, juga tidak ada batasan minimal atau maksimal terkait harga transfer dari seorang pemain. Beberapa narasumber The Esports Observer yang aktif dalam sceneesports CS:GO mengeluhkan bahwa mekanisme pasar terbuka membuat harga transfer pemain sangat fluktuatif.

Mekanisme Transfer Pemain

Sekali lagi, bursa pasar pemain di masing-masing game esports berbeda-beda. League of Legends adalah salah satu game yang memiliki peraturan ketat soal transfer pemain karena Riot memang langsung turun tangan. Mengingat industri esports sendiri masih relatif muda, Riot membuat peraturan bursa transfer pemain berdasarkan pada olahraga tradisional. Regulasi yang dibuat oleh Riot ini bersifat internasional, karena liga League of Legends memang diadakan di berbagai belahan dunia. Dengan adanya regulasi dari Riot, maka kontrak antara tim esports dan pemain memiliki standarisasi.

Salah satu hal yang dilarang oleh Riot adalah poaching, yaitu ketika pemain mendorong pemain lain untuk pindah ke tim lain. Riot bahkan menentukan waktu untuk melakukan transfer. Selain itu, mereka juga menyediakan waktu diskusi agar tim yang hendak membeli pemain bisa mengobrol langsung dengan pemain itu. Pada dasarnya, semua peraturan ini dibuat agar tim tidak melakukan transfer pemain di tengah musim. Selain Riot, Blizzard adalah publisher lain yang membuat peraturan ketat terkait Overwatch League.

Ketika hendak membeli pemain dari tim lain, sebuah tim wajib untuk melakukan pemeriksaan background, untuk memastikan bahwa pemain tidak memiliki catatan kriminal. Biasanya, hal ini dilakukan sebelum pemain menandatangani kontrak. Sementara itu, tugas untuk memastikan bahwa calon pemain tidak pernah melakukan tindakan curang, ini tidak hanya menjadi tanggung jawab tim sendiri, tapi juga publisher game. Karena hanya publisher yang mengetahui sejarah lengkap pemain selama mereka bermain satu game. Untungnya, para pemain profesional biasanya hanya menggunakan satu akun. Jadi, tidak sulit untuk memeriksa sejarah permainan mereka, apakah mereka pernah melakukan kecurangan atau tidak.

Bagaimana Cara Tim Mencari Pemain Potensial?

Waktu untuk melakukan transfer pemain terbatas, jadi sebuah tim biasanya telah mengambil ancang-ancang sebelum waktu transfer pemain dibuka. Masing-masing tim memiliki caranya tersendiri dalam mencari pemain yang ingin mereka ambil. Biasanya, pelatih atau General Manager yang berdiskusi tentang transfer pemain. Satu hal yang pasti, tawaran transfer tidak diberikan di tengah musim pertandingan. Kedua tim yang hendak melakukan transfer akan berdiskusi untuk memindahkan pemain pada musim berikutnya. Tentu saja, keputusan untuk melakukan transfer atau tidak baru akan diambil setelah tim memiliki kesempatan untuk berdiskusi dengan calon pemain di luar musim pertandingan.

Sumber: Wykrhm Reddy/Twitter
Sumber: Wykrhm Reddy/Twitter

Beberapa orang dalam di organisasi esports League of Legends, Dota 2, dan CS:GO mengaku kesulitan ketika mereka harus berurusan dengan pemain yang sudah memiliki nama. Alasannya, pemain yang sudah bermain lama dan menjadi favorit para fans akan memiliki ekspektasi tinggi akan gaji yang mereka dapat. Sementara tidak semua tim dapat atau mau membayar gaji tersebut.

Pemain yang memiliki sejarah panjang berani menuntut gaji tinggi karena mereka bisa menarik fans. Di dunia esports, para fans biasanya lebih setia pada seorang pemain atau sebuah tim daripada organisasi esports yang menjadi tempat atau tim bernaung. Misalnya, ketika semua anggota tim Dota 2 dari Team Liquid memutuskan untuk membentuk tim baru setelah The International 2019, fans tim tersebut akan tetap mendukung tim itu, meski mereka telah berubah menjadi Nigma.

Masalahnya, industri esports cenderung lebih muda jika dibandingkan dengan industri olahraga tradisional. Data tentang para pemainnya juga belum lengkap. Jadi, sulit bagi tim untuk menentukan nilai dari seorang pemain, apakah mereka memang pantas untuk menuntut gaji selangit. Namun, performa bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah sebuah tim akan membeli sebuah pemain atau tidak. Potensi monetisasi dan endorsement menjadi faktor lain yang diperhatikan. Karir pemain esports tidak panjang. Biasanya, pada pertengahan 20-an, performa pemain esports sudah mulai menurun. Meskipun begitu, seorang pemain tetap bisa dipertahankan jika dia memiliki nilai lain, misalnya, mereka bisa menarik merek untuk melakukan endorsement.

Bagaimana dengan Bursa Transfer di Indonesia?

Sama seperti di dunia internasional, peraturan tentang transfer pemain esports di Indonesia masih tergantung pada publisher game, ungkap Wijaya Nugroho, Business Development, Esports Manager dari SEA (aka Garena). Ada publisher yang telah membuat regulasi terkait transfer pemain profesional dalam scene esports dari game yang mereka rilis, ada juga yang belum. “Kami ada di game Free Fire dan Arena of Valor,” kata Wijaya ketika ditanya apakah Garena telah menerapkan peraturan terkait game esports yang mereka naungi. “Untuk Call of Duty: Mobile belum, karena masih baru dan sedang disiapkan ekosistemnya.”

Wijaya menjelaskan, saat ini, regulasi yang ada telah mengatur tentang perlindungan dari poaching alias “pencurian” pemain dari tim lain. Selain itu, SEA juga telah membuat acuan kontrak antara player dan tim jika ada yang hendak melakukan transfer, walau dia mengaku bahwa belum ada ketentuan terkait harga maksimal atau minimal untuk transfer pemain. Tentang regulasi yang dibuat oleh SEA, Wijaya berkata, “intinya, kita set up gaji minimal bagi tim yang ingin dilindungi dari poaching. Konsepnya, tim wajib buka negoisasi ke pemilik player/tim, tidak boleh langsung ke player. Kalau melanggar, akan kena sanksi berat.”

Sumber: Dokumentasi Hybrid - Akbar Priono
Sumber: Dokumentasi Hybrid – Akbar Priono

Lebih lanjut, Wijaya menyebutkan bahwa tujuan SEA membuat regulasi terkait pemain yang berlaga di game mereka adalah untuk memastikan tidak ada pihak yang dirugikan. Mereka juga memiliki tim pengawas untuk memastikan tidak ada pihak yang melanggar peraturan yang telah mereka buat. Soal hukuman, dia menyebutkan, “Hukumannya beragam, mulai dari peringatan, sanksi administrasi sampai diskualifikasi.” Namun, dia menyebutkan, selama ini, belum ada tim yang melanggar peraturan yang telah mereka tetapkan.

SEA juga telah menentukan waktu untuk transfer pemain. Misalnya, Free Fire memiliki dua fase untuk pertukaran pemain. Fase pertama jatuh pada tanggal 25 Desember 2019. Sementara fase kedua pada 8 Februari 2020, yang ditujukan untuk Free Fire Master League.

Kontrak pemain di mata pemilik tim esports

Setelah dua tim esports setuju untuk melakukan transfer pemain, tahap selanjutnya adalah tanda tangan kontrak. Masalahnya, kebanyakan pemain profesional masih sangat muda. Tidak sedikit yang belum berumur 18 tahun, belum dianggap dewasa di mata negara. Ketika membahas tentang ini, Bos BOOM Esports, Gary Ongko mengaku bahwa hal ini justrunya menyulitkan dirinya sebagai employer. Alasannya karena pemain belum memiliki disiplin tinggi. “Buat saya susah, karena ya mereka ngerasa ini kayak TK, kadang-kadang ngambek keluar seenak jidat. Tapi saya pribadi tidak pernah ada masalah, karena saya selalu sewa legal advice untuk semua hal,” ujarnya sambil tertawa.

Berdasarkan pengalaman memimpin BOOM Esports, dia merasa masih cukup banyak kontrak pemain esports profesional yang menurutnya “nggak benar”. Dia memberikan contoh, “Seperti, pemain di bawah 18 tahun, tapi yang tanda tangan bukan orangtua. Atau tidak ada materai pada kontrak. Atau tim tidak membayar gaji pemain, tapi ketika pemain hendak dibeli oleh tim lain, pihak manajemen tim justru meminta pemain dibeli.” Padahal, dia menyebutkan, hukum Indonesia mengatur, jika sebuah organisasi tidak membayar gaji pekerjanya selama beberapa bulan, maka kontrak secara otomatis dianggap batal. Sementara jika ada dua tim yang memperebutkan satu pemain, dia menjelaskan, biasanya kedua tim akan melakukan diskusi untuk mencari jalan tengah.

Lalu, bagaimana kontrak yang ideal?

Gary percaya, “kontrak standar” yang bisa digunakan di segala situasi adalah hal yang mustahil dibuat. Masing-masing kontrak pemain dengan tim profesional berbeda. “Kontrak standar untuk pemain bola/basket/olahraga yang sudah ratusan tahun saja enggak ada,” katanya. Dia mengambil contoh Richard Sherman, atlet american football. “Dia negoisasi kontrak, gaji utamanya kecil, tapi dia minta banyak insentif. Pada awal musim, dia diketawain. Tapi setelah dia masuk Super Bowl (liga utama untuk american football), tidak ada lagi yang menertawai dia.”

Richard Sherman. | Sumber: Twitter
Richard Sherman. | Sumber: Twitter

Lebih lanjut dia menjelaskan, “intinya, kontrak itu kan sesuatu yang disetujui oleh kedua belah pihak sehingga mereka tanda tangan. Makanya, tidak akan ada kontrak standar.” Sebelum ini, Federasi Esports Indonesia (FEI) mencoba untuk membuat guidelines tentang apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh tim dan pemain esports dalam membuat kontrak untuk memastikan bahwa kontrak tetap etis. Dia memberikan contoh kontrak etis yang pernah dia lihat. “Saya pernah melihat beberapa kontrak yang memiliki klausul, ‘kalau keluar dari tim A, tidak boleh main game B untuk dua tahun.’ Itu sama saja kontrak seumur hidup. Dalam dua tahun, game sudah akan berubah dan karirnya sudah habis.”

Gary berkata, pembagian total hadiah adalah salah satu hal lain yang harus diatur dalam kontrak. Dua organisasi esports besar di Indonesia, RRQ dan EVOS Esports, mengungkap bahwa selama ini, pemain biasanya mendapatkan persentase yang lebih besar dalam pembagian hadiah. “Jelaskan tentang pembagian prize pool. Jelaskan gaji dan klausul tentang naik gaji. Misalnya, pemain naik gaji kalau tim lolos ke Mobile Legends Pro League atau syarat lain. Sementara pemain di bawah umur 18 tahun, orangtua harus tanda tangan,” ujar Gary. “Kalau pihak pertama melakukan sesuatu, pihak kedua bisa menuntut hal-hal tertentu.”

Menurut Gary, baik pihak manajemen tim dan pemain sama-sama bisa membuat masalah. Sambil tertawa dia menjelaskan, “intinya, sekarang kontrak nggak terlalu dihargai. Player kalau mau keluar, bertingkah. Tim juga kalau tidak senang dengan player, jadi bertingkah, misalnya pemain tidak digaji.” Gary menjelaskan, untuk memastikan bahwa tidak ada pihak yang dirugikan, baik pemain ataupun tim, mereka harus membaca kontrak tersebut dengan hati-hati. “Jangan ngasal tanda tangan,” tutupnya.

Kesimpulan

Regulasi tentang transfer pemain di dunia esports tergantung pada publisher game itu sendiri. Sebagian publisher, seperti Riot dan Blizzard, memiliki peraturan yang cukup ketat dengan menentukan waktu transfer dan gaji minimal pemain. Namun, ada juga game esports yang tidak memiliki regulasi terkait transfer pemain, seperti CS:GO. Di Indonesia, SEA alias Garena cukup peduli dengan regulasi terkait game yang mereka rilis.

Sementara itu, soal kontrak pemain, terlepas dari besarnya uang yang mengalir ke industri esports, masih ada pihak yang tidak profesional dalam membuat kontrak. Mengingat kontrak mengikat secara hukum, maka sebelum setuju dan membubuhkan tanda tangan dalam kontrak, ada baiknya kedua belah pihak membaca kontrak dengan seksama.

Malas dengan bahasa hukum yang terlalu formal? Anda selalu bisa mencari bantuan pengacara untuk membantu Anda memahami kewajiban dan hak yang Anda terima berdasarkan kontrak. Namun, Anda harus siap merogoh kocek demi menyewa pengacara. Per jam, jasa pengacara bisa dihargai Rp1 juta sampai Rp2 juta. Sementara jika Anda hanya ingin jasa baca kontrak, biaya yang harus Anda siapkan adalah Rp750 ribu per kontrak.

Sumber header: Twitter