Dark
Light

Sejarah Assassin’s Creed dari Waktu ke Waktu

9 mins read
September 24, 2022
Valhalla jadi salah satu game dengan penjualan terbaik Ubisoft. | Sumber: Red Bull

Ubisoft resmi memperkenalkan Assassin’s Creed Mirage di acara Forward 2022. Berdasarkan trailer yang Ubisoft rilis, diketahui bahwa Mirage akan mengambil setting lokasi di Baghdad pada Abad ke-9, 300 tahun sebelum game Assassin’s Creed pertama dan 20 tahun sebelum Valhalla.

Di game itu, pemain akan menjadi Basim Ibn Ishaq, yang dikenal dengan nama “Loki” di Valhalla. Narasi dari Mirage akan fokus pada awal karir Basim sebagai Assassin. Sementara dari segi gameplay, tampaknya, Ubisoft akan kembali fokus pada elemen stealth.

Assassin’s Creed adalah franchise milik Ubisoft yang telah bertahan selama 15 tahun. Sejak game pertama Assassin’s Creed diluncurkan, franchise itu telah mengalami sejumlah perubahan.

Untuk mengupas perjalanan game legendaris ini, berikut sejarah Assassin’s Creed.

Berawal dari Sekuel Prince of Persia: The Sands of Time

Developer yang membuat Assassin’s Creed pertama adalah Ubisoft Montreal, yang didirikan pada 1997. Namun, selama beberapa tahun ke depan, mereka selalu membuat game-game yang mudah untuk dilupakan.

Nama mereka mulai dikenal setelah mereka meluncurkan Splinter Cell pada 2002. Ketika Ubisoft Montreal mulai memproduksi game stealth itu pada 2001, publisher Ubisoft membeli intellectual property atas Prince of Persia.

Kepada Ubisoft, Yannis Mallat, yang ketika itu menjabat sebagai CEO dari Ubisoft Montreal, menawarkan studio yang dia pimpin untuk membuat game reboot dari Prince of Persia. Alasannya, dia cukup menyukai game side-scrolling Prince of Persia yang dirilis pada 1989.

Ubisoft meluncurkan Prince of Persia: The Sands of Time pada 2003. Lagi-lagi, game itu sukses besar. Total penjualan dari game tersebut mencapai lebih dari 10 juta unit. Melihat kesuksesan tersebut, Ubisoft pun meminta tim Montreal untuk membuat sekuel dari Prince of Persia.

Dalam sebuah wawancara, Creative Director Patrice Desilets mengakui bahwa dia merasa kesulitan untuk membuat sekuel dari Sands of Time. Dia merasa, proyek itu menjadi sulit berkembang karena fakta bahwa tokoh utama dari game tersebut merupakan pangeran.

Saat itulah, dia ingat akan keberadaan “Hashshashin”, yang merupakan bagian dari secret society. Dia lalu mendapatkan ide untuk menjadikan seorang pembunuh alias Assassin, sebagai tokoh utama.

Setelah mendapatkan ide itu, Desilets bekerja sama dengan sejumlah developer veteran Sands of Time untuk membuat Prince of Persia: Assassin. Rencananya, game itu akan mengambil setting lokasi di Timur Tengah pada abad ke-12. Para player akan bermain sebagai seorang Assassin yang bertugas untuk menyelematkan dan menjaga Pangeran Persia, yang merupakan NPC.

Setelah mengembangkan game tersebut, tim Montreal sadar, game yang mereka buat tidak lagi bisa disebut sebagai sekuel dari Sands of Time. Kabar baiknya, setelah berdiskusi dengan Ubisoft, tim Montreal mendapatkan izin untuk membuat game yang sama sekali baru.

Dan game inilah yang akan menjadi game Assassin’s Creed pertama. Dalam pembuatan game tersebut, Desilets dan tim developer Sands of Time juga bekerja sama dengan Jade Raymond, staf baru di Montreal dengan pengalaman dalam membuat game open worlds.

Era Awal Assassin’s Creed

Saat membuat game Assassin’s Creed pertama, Desilets mencoba untuk membuat cerita yang didasarkan pada sejarah. Game itu mengambil setting waktu di era Perang Salib ke-3 di kawasan yang dikenal dengan nama Holy Land — yang kini merupakan kawasan dari Palestina, Suriah, dan Israel.

Di Assassin’s Creed, pemain akan bisa menjelahi kota-kota penting di Holy Land, seperti Damascus dan Jerusalem. Selain itu, pemain juga akan bisa mengunjungi Masyaf, markas dari para Assassin. Sementara tokoh utama dari game ini adalah Altair Ibn-La’Ahad, seseorang yang dilatih untuk menjadi Assassin dari kecil dan ditugaskan untuk membunuh sembilan tokoh penting yang didasarkan pada sejarah.

Assassin’s Creed pertama mengambil setting lokasi di Holy Land. | Sumber: Steam

Untuk membuat game Assassin’s Creed tampil beda dengan Prince of Persia, Ubisoft juga menambahkan narasi yang mengambil setting waktu di era modern.

Di game Assassin’s Creed pertama, pemain tidak hanya bisa bermain sebagai Altair, tapi juga Desmond Miles, keturunan dari Altair. Desmond diculik oleh Knights of Templar — musuh bebuyutan Assassins yang dikenal dengan nama “Abstergo Industries” di era modern. Menggunakan alat bernama Animus, Abstergo membuat Desmond melihat dan mengalami kehidupan Altair.

Sejak awal, Ubisoft optimistis dengan kesuksesan Assassin’s Creed. Buktinya, game itu dirilis pada November 2007, waktu menjelang liburan yang dianggap sebagai prime time. Tak hanya itu, Assassin’s Creed juga harus bersaing dengan Halo 3, game yang paling ditunggu-tunggu pada 2007, seperti yang disebutkan oleh Den of Geek.

Setelah dirilis, Assassin’s Creed mendapatkan sambutan yang cukup baik. Secara total, game itu terjual sebanyak lebih dari 10 juta unit. Meskipun begitu, ada elemen dari game tersebut yang kurang disukai oleh para gamers dan kritikus game. Sebagai contoh, walau element stealth dan action dari Assassin’s Creed mendapatkan pujian, misi utama dari game tersebut dianggap membosankan.

Sebagian misi di Assassin’s Creed pertama dianggap membosankan. | Sumber: Steam

Keluhan lainnya, Assassin’s Creed pertama juga hanya memiliki sedikit sidequests. Selain itu, ketika pemain memainkan Desmond, aktivitas yang bisa pemain lakukan sangat terbatas.

Hal ini membuat gameplay dari Desmond menjadi jauh lebih membosankan daripada gameplay dari Altair. Kabar baiknya, angka penjualan game tersebut dianggap cukup baik sehingga Ubisoft tidak keberatan untuk meluncurkan sekuel dari Assassin’s Creed.

Assassin’s Creed 2, Brotherhood, dan Revelations

Ubisoft meluncurkan Assassin’s Creed 2 pada 2009. Dalam game tersebut, tim Montreal berhasil menyempurnakan resep yang mereka gunakan untuk membuat game Assassin’s Creed pertama. Di AC2, Altair tidak lagi menjadi tokoh utama. Sebagai gantinya, para pemain akan bermain sebagai Ezio Auditore da Firenze, bangsawan muda asal Florentine yang hidup di Italia pada zaman Renaissance.

Untuk menyempurnakan AC2, tim Montreal mendengarkan kritik dan protes dari para gamers di game sebelumnya. Karena itu, AC2 tidak lagi memiliki side quests yang membosankan. Selain itu, untuk membuat gameplay dari AC2 menjadi lebih seru, tim Montreal memperkenalkan sejumlah musuh baru.

Memang, di game itu, Anda masih akan menemukan musuh yang mengutamakan kekuatan otot. Namun, Anda juga akan menemukan musuh lincah yang bisa bergerak cepat untuk mengejar Ezio. Tak hanya itu, di game ini, musuh juga bisa memeriksa tumpukan jerami, yang bisa menjadi tempat persembunyian bagi para pemain.

Selain membuat musuh yang lebih beragam, Montreal juga mengubah movesets dari Ezio. Harapannya, pemain akan bisa menghadapi musuh-musuh yang muncul di AC2 dengan lebih baik. Di game ini, Ezio tidak hanya ahli dalam menggunakan berbagai senjata — mulai dari pedang sampai halberd — dia juga bisa menggunakan hidden blade, senjata khas Assassin, untuk membunuh musuhnya. Ezio bahkan bisa menggunakan smoke bomb untuk melarikan diri.

Crowd system sudah menjadi bagian penting dari game Assassin’s Creed pertama. Di AC2, Montreal membuat sistem tersebut menjadi lebih baik. Selain menyempurnakan gameplay dari Ezio, Montreal juga membuat gameplay Desmond menjadi lebih menarik. Untuk itu, mereka mengenalkan Bleeding Effect, yang memungkinkan Desmond untuk meniru hal-hal yang bisa dilakukan oleh para pendahulunya.

Usaha Ubisoft Montreal berbuah manis. Assassin’s Creed 2 berhasil memenangkan sejumlah penghargaan game bergengsi. Melihat kesuksesan ini, Ubisoft pun berencana untuk meluncurkan lebih banyak game di bawah franchise Assassin’s Creed.

Namun, dalam pengembangan game Assassin’s Creed berikutnya, Raymond dan Desilets tidak lagi turun tangan. Padahal, keduanya memiliki peran penting dalam pembuatan franchise Assassin’s Creed.

Raymond tidak lagi bekerja di tim Assassin’s Creed karena dia dipromosikan untuk menjabat sebagai eksekutif. Sementara Desilets keluar dari Ubisoft untuk membuat studio baru di bawah THQ pada 2010. Tetapi, pada Januari 2013, Desilets kembali bekerja untuk Ubisoft setelah THQ tutup.

Desilets tidak bertahan lama di Ubisoft. Pada Mei 2013, dia dipecat dari perusahaan. Keluarnya Desilets tidak menghentikan Ubisoft untuk membuat game Assassin’s Creed baru.

Ezio kembali jadi tokoh utama di Brotherhood.

Assassin’s Creed: Brotherhood dirilis di 2010. Pada awalnya, gamers punya ekspektasi rendah akan game itu. Karena, Raymond dan Desilets tidak lagi turun tangan dalam pembuatan game tersebut. Selain itu, jeda waktu peluncuran Brotherhood dengan AC2 juga sangat singkat, hanya satu tahun. Gamers mengira, Brotherhood hanya akan menawarkan cerita fillers dari para Assassins. Namun, ternyata, kualitas Brotherhood tidak kalah dari AC2.

Di Brotherhood, Ezio masih menjadi peran utama. Tapi, game ini menawarkan pengalaman bermain yang berbeda dari AC2. Jika AC2 fokus pada petualangan Ezio untuk menjadi seorang Master Assassin, Brotherhood lebih fokus pada perjuangan Ezio setelah dia menjadi Master Assassin. Di Brotherhood, para pemain akan bisa merekrut orang-orang untuk bergabung dengan Assassins guild.

Brotherhood juga menjadi game Assassin’s Creed pertama yang memperkenalkan fitur competitive multiplayer. Di mode ini, para pemain akan menjadi Assassins yang harus bertarung dengan satu sama lain di peta yang penuh dengan NPCs.

Ubisoft merilis AC: Revelations pada 2011. Game itu menjadi game Assassin’s Creed ke-3 yang menjadikan Ezio sebagai tokoh utama. Game tersebut bercerita tentang usaha Ezio dalam mencari Masyaf. Revelations juga menjadi akhir dari cerita Ezio dan Altair.

Assasin’s Creed 3, Black Flag, Unity, dan Syndicate

Satu tahun setelah Revelations, pada 2012, Ubisoft meluncurkan Assassin’s Creed 3. Game tersebut menjadi game Assassin’s Creed pertama yang mengambil setting lokasi di Amerika Utara. Menggunakan Animus, Desmond akan menelusuri kehidupan Ratonhnhaké:ton, alias Connor. Montreal mulai mengembangkan AC3 pada 2010, tidak lama setelah AC2 diluncurkan. Secara total, game ini terjual sebanyak 12 juta unit.

Sama seperti di game Assassin’s Creed sebelumnya, di AC3, para pemain juga bisa menemukan berbagai tokoh sejarah, baik sebagai teman ataupun lawan. Contohnya, Benjamin Franklin, George Washington, Paul Revere, dan Marquis de Lafayette.

Ratonhnhaké:ton alias Connor. | Sumber: YouTube

Di tahun yang sama AC3 diluncurkan, Ubisoft juga merilis game spin-off dari Assassin’s Creed, yaitu Liberation. Dibuat oleh Ubisoft Sofia, Liberation mengambil setting lokasi di Louisiana pada abad ke-18. Tokoh utama di game ini adalah Aveline de Grandpré, seorang Assassin perempuan keturunan Prancis dan Haiti.

Diluncurkan pada 2013, Assassin’s Creed 4: Black Flag fokus pada cerita Edward Kenway, bajak laut asal Wales. Game tersebut mengambil setting lokasi di Karibia pada awal abad ke-18, yaitu di era kejayaan bajak laut. Black Flag merupakan salah satu game terlaris di 2013. Pada 2020, total penjualan dari game itu mencapai 15 juta unit, menurut laporan History Hit. Black Flag juga memiliki expansion yang melanjutkan cerita Aveline setelah Liberation.

Pada 2014, Ubisoft meluncurkan tiga game Assassin’s Creed: Freedom Cry, Rogue, dan Unity. Freedom City merupakan salah satu game spin-off dari Assassin’s Creed. Game tersebut mengambil setting waktu pada 1730-an. Tokoh utama dari game tersebut adalah Adéwalé.

Ahli sejarah, Alyssa Sepinwall menganggap, Freedom Cry merupakan game yang cukup penting karena game tersebut membuat para pemain memahami penderitaan para budak dalam perjuangan mereka untuk merdeka.

Sama seperti Liberation, Assassin’s Creed Rogue dikembangkan oleh Ubisoft Sofia. Game ini diharapkan akan menjadi akhir dari cerita Assassin’s Creed di kawasan Amerika Utara. Melalui game tersebut, Sofia juga mencoba untuk mengembangkan fitur berlayar, yang muncul di Black Flag.

Adéwalé di Freedom Cry. | Sumber: YouTube

Sementara itu, Rogue mengambil setting waktu saat Seven Years War. Di sini, pemain akan menjadi Shay Patrick Cormac, seorang imigran asal Irlandia yang tinggal di New York. Unity, yang dikembangkan oleh Ubisoft Montreal, diluncurkan bersamaan dengan Rogue. Game ini mengambil setting lokasi di Paris, di era Revolusi Prancis. Di Unity, para pemain akan bisa mengunjungi sejumlah tempat-tempat bersejarah dalam Revolusi Prancis.

Sayangnya, sambutan gamers akan Unity cukup buruk. Game itu tidak hanya penuh dengan bugs, animasi di game tersebut juga tidak terlalu bagus. Tak hanya itu, cerita yang diangkat Montreal dalam Unity juga dianggap kurang memuaskan. Dari berbagai masalah yang ada di Unity, terlihat jelas bahwa Unity terlalu terburu-buru untuk meluncurkan game tersebut.

Meskipun Unity menuai banyak protes, Ubisoft tetap bersikeras untuk meluncurkan Assassin’s Creed Syndicate pada 2015. Mengambil setting lokasi di Inggris pada abad ke-19, Syndicate fokus pada cerita sepasang saudara kembar: Jacob dan Evie Frye. Kedua karakter itu bisa dimainkan oleh para gamers secara bergantian.

Evie dan Jacob Frye. | Sumber: The Gamer

Di Syndicate, pemain akan bisa menjelajahi London di tengah Revolusi Industri. Jadi, para gamers akan bisa melihat bagaimana teknologi, kemiskinan, dan polusi mempengaruhi kehidupan di negara tersebut. Selain itu, para pemain juga akan bisa menemukan sejumlah tokoh sejarah ternama, seperti Charles Dickens, Charles Darwins, Karl Marx, Florence Nightingale, dan Duleep Singh, Maharaja terakhir dari Kekaisaran Sikh yang tinggal di Inggris.

Syndicate tidak dibuat oleh Ubisoft Montreal. Proyek pengembangan game tersebut dipimpin oleh Ubisoft Quebec. Secara total, Syndicate hanya terjual sebanyak 5,5 juta unit. Angka penjualan game ini lebih rendah dari game-game Assassin’s Creed lain. Hal ini terjadi karena pandangan gamers akan game Assassin’s Creed sudah terlanjur buruk, akibat Unity yang penuh dengan bugs.

Turunnya angka penjualan Syndicate mendorong Ubisoft untuk tidak terlalu tergesa-gesa dalam merilis game Assassin’s Creed baru. Setelah Syndicate, Ubisoft menghabiskan waktu dua tahun sebelum meluncurkan game Assassin’s Creed baru.

Origins, Odyssey, dan Valhalla

Setelah Syndicate, Origins menjadi game terbaru dalam franchise Assassin’s Creed. Game itu dirilis pada 2017, dua tahun setelah Syndicate. Satu hal yang menarik, dalam membuat Origins, Ubisoft memutuskan untuk melakukan sejumlah perubahan. Daripada fokus pada elemen stealth dan action, Ubisoft memilih untuk memasukkan elemen RPG di Origins.

Origins mengambil setting lokasi di Mesir Kuno. Cerita dari game ini fokus pada Bayek of Siwa dan istrinya, Aya. Keduanya ingin membalaskan dendam atas kematian anak mereka. Selain itu, mereka juga akan mencoba untuk mencari tahu asal dari konflik berkepanjangan antara Hidden Ones — cikal bakal dari Assassin Brotherhood — dan Order of Ancients, yang nantinya akan menjadi Templar Order.

Di Origins, Ubisoft juga pertama kali memperkenalkan mode Discovery Tour. Sesuai namanya, Discovery Tour memungkinkan para pemain untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Mesir Kuno. Ketika mode ini aktif, pemain juga bisa mendengarkan komentar audio serta membaca informasi teks yang tertera.

Satu tahun kemudian setelah Origins diluncurkan, pada 2018, Ubisoft merilis Assassin’s Creed Odyssey. Sebenarnya, pengembangan Odyssey berjalan secara bersamaan dengan Origins. Hanya saja, Odyssey dikembangkan oleh Ubisoft Quebec. Game tersebut fokus pada Peloponnesian War antara Sparta dan Athens yang terjadi pada 500 Sebelum Masehi.

Assassin’s Creed Odyssey. | Sumber: Steam

Di Odyssey, pemain akan menjadi seorang mercenary asal Sparta. Sebagai seorang mercenary, karakter yang pemain pilih akan bertarung di sisi para Sparta dan Athens.

Selain itu, sang tokoh utama mecoba untuk mencari saudaranya dan melawan Cult of Kosmos. Sama seperti Origins, Odyssey juga dilengkapi dengan fitur Discovery Tour. Secara total, game tersebut terjual sebanyak 10 juta unit.

Setelah selesai membuat Origins, Ubisoft Montreal fokus untuk membuat Valhalla. Game yang diluncurkan pada 2020 itu bercerita tentang seorang Viking raider bernama Eivor Varinsdottir.

Satu hal yang menarik, sebagian dari proses pengembangan Valhalla dijalankan pada era pandemi COVID-19. Menurut The Gamer, Valhalla terjual sebanyak 1,8 juta unit dalam seminggu pertama sejak game itu diluncurkan. Ubisoft bahkan mengklaim, game tersebut merupakan game dengan total pemasukan terbesar ke-2.

Sumber header: Red Bull

bigmode games
Previous Story

Youtuber Dunkey Dirikan Perusahaan Publisher Indie sendiri, Bigmode

gaming Reno8 Pro 5G
Next Story

Main Game di Reno8 Pro 5G, Lancar dan Tidak Panas Berlebihan

Latest from Blog

Don't Miss

H3RO Land dari Bima+, Teman Mabar Anak Esports

Salah satu bentuk dukungan untuk perkembangan esports di tanah air
Review Poco X6 5G Hybrid

Review Poco X6 5G, Performa Ekstrem dan Sudah Dapat Pembaruan HyperOS

Poco X6 membawa layar AMOLED 120Hz dengan Dolby Vision lalu