13 December 2022

by Glenn Kaonang

Playground MMRPV Ingin Leburkan Batasan Antara Metaverse dan MMORPG

Di Playground MMRPV, land ownership hanyalah satu elemen pendukung dari pengalaman secara keseluruhan yang ditawarkan

Saat berbicara mengenai metaverse, sebagian besar dari kita mungkin bakal langsung teringat pada Meta. Ini wajar mengingat sejauh ini Meta adalah perusahaan terbesar yang benar-benar gas pol menanggapi tren metaverse, sementara perusahaan macam Apple justru cenderung skeptis terhadap metaverse.

Idealnya, kita tidak bisa memusatkan perhatian sepenuhnya pada satu pihak seperti Meta begitu saja, sebab pandangan terhadap topiknya malah jadi bergantung pada satu perusahaan itu saja. Sebagai contoh, ketika Meta sudah mulai diberitakan secara negatif β€” mulai dari PHK massal yang terjadi di sana, sampai rumor bahwa karyawan Meta enggan menggunakan platform metaverse yang sedang mereka kerjakan sendiri β€” impresi publik terhadap metaverse pun jadi langsung ikut menurun.

Nyatanya, di luar sana ada banyak yang sibuk mewujudkan visinya masing-masing akan sebuah metaverse. Sebagian berfokus menghadirkan platform dengan fokus pada kepemilikan, termasuk halnya kepemilikan atas properti digital, sedangkan sebagian lainnya mencoba mengambil pendekatan yang lebih holistik. Contoh di kubu yang kedua ini adalah Playground, sebuah startup asal Singapura yang tengah sibuk membangun platform metaverse dengan konsep yang cukup unik.

Secara mendasar, Playground merupakan sebuah platform metaverse dengan elemen gamification yang sangat kental. Konsep ini sebenarnya tidak kedengaran asing mengingat sebagian dari kita ada yang menyamakan metaverse dengan MMORPG (massively multiplayer online role playing game). Namun bagi Playground sendiri, mereka rupanya ingin memperkenalkan konsep baru yang dapat meleburkan batasan antara metaverse dan MMORPG.

Konsep anyar ini mereka juluki massively multiplayer role playing verse atau MMRPV. Untuk mengetahui lebih banyak soal itu, saya berkesempatan mengobrol singkat dengan Isaiah Chua, Chief Marketing Officer dari Playground MMRPV. Isaiah menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang membuat Playground MMRPV berbeda dari metaverse lain.

Yang paling utama adalah pendekatan holistik itu tadi, dengan land ownership hanya sebagai satu elemen pendukung saja dari pengalaman metaverse yang dihadirkan secara keseluruhan. Gaming dan aspek sosial akan menjadi fondasi utama dari Playground, dan itu bisa dilihat dari sebuah MMORPG yang sedang mereka kembangkan, yang akan membantu memperluas aspek worldbuilding pada Playground.

Faktor esensial berikutnya menurut Isaiah adalah kualitas visual. Tanpa menyebut merek, Isaiah mencontohkan sejumlah platform metaverse yang banyak menerima keluhan terkait visualnya. Beberapa di antaranya bahkan dibilang punya kualitas visual yang mirip seperti game era Nintendo 64. Sementara untuk Playground MMRPV sendiri, Isaiah menjelaskan bahwa timnya memilih mengadopsi gaya visual semi-realistis demi meningkatkan sensasi immersive yang bakal pengguna rasakan.

Selain visual yang apik, personalisasi juga merupakan aspek yang tidak kalah esensial. Ketimbang menawarkan NFT secara acak kepada para penggunanya, Playground bakal mempersilakan mereka untuk meracik sendiri NFT yang akan dijadikan foto profil masing-masing dengan setidaknya 48.000 permutasi.

Terakhir, Playground juga akan menjadi infrastruktur yang terbuka bagi para developer game, dengan harapan agar konten hiburan yang ditawarkan tidak akan pernah habis. Buat mitra peritel, Playground juga menjanjikan dukungan gamification yang lengkap pada platformnya.

Metaverse, konsep kepemilikan, dan tantangannya

Seperti di kebanyakan platform metaverse lain, penggunaan blockchain dan konsep kepemilikan merupakan faktor penting di Playground MMRPV. Menurut Isaiah, dua hal tersebut merupakan kunci untuk memaksimalkan potensi metaverse. Ia mencontohkan Roblox, yang oleh sebagian orang sebenarnya sudah dianggap sebagai metaverse, namun di saat yang sama fungsionalitasnya masih terkesan cukup terbatas akibat tidak adanya keterlibatan blockchain.

Playground sendiri sedang dibangun di ekosistem blockchain Polygon. Meski begitu, Isaiah turut menekankan bahwa secara keseluruhan Playground MMRPV bakal jadi proyek multi-chain. Selain Polygon, Playground juga berniat mengintegrasikan proyeknya ke Klaytn, terutama mengingat mereka terdaftar sebagai mitra resmi ekosistem Klaytn.

Juga tidak absen di Playground adalah mata uang. Menariknya, Playground menggunakan waktu alias Time sebagai mata uangnya. Selain untuk membeli sesuatu, Time juga dipakai ketika menjalani quest atau berpartisipasi dalam konten hiburan. Dalam distrik utama Playground yang diberi nama Epicentre, pengguna juga bisa 'bekerja' untuk perusahaan-perusahaan dan menerima imbalan berupa Time.

Sebaliknya, individu di kubu enterprise pun dapat membangun entitas di atas lahan NFT di Playground dan 'memperkerjakan' orang-orang. Konsep waktu sebagai mata uang ini rupanya terikat erat dengan lore Playground MMRPV, sehingga Time pun nantinya juga akan digunakan untuk meng-upgrade gear dalam MMORPG besutan Playground.

Seperti di dunia nyata, konsep kepemilikan ini tentu akan membentuk celah antara "kaum yang punya" dan "kaum yang tidak punya". Isaiah menjelaskan bahwa di metaverse pun tidak mungkin kita bisa menghilangkan hal tersebut sepenuhnya. Yang bisa dilakukan adalah mempersempit celahnya, mirip seperti bagaimana MMORPG melakukan rebalancing secara berkala, sehingga pemain-pemain baru tidak harus selalu tertinggal jauh progresnya.

Playground MMRPV akan tersedia di perangkat desktop sekaligus mobile (Android dan iOS). Dukungan atas perangkat virtual reality (VR) dikabarkan bakal menyusul ke depannya. Singkat cerita, aksesibilitas sepertinya tidak akan menjadi masalah serius buat Playground.

Yang mungkin bisa sedikit menyulitkan menurut saya sebenarnya adalah namanya. Di luar sana ada beberapa proyek metaverse dengan nama yang sama persis. Dua contoh yang saya temukan adalah Playground bikinan startup Vietnam, dan platform game Web3 Playgrnd yang sama-sama bermarkas di Singapura.

Isaiah pun mengakui hal ini bisa menjadi tantangan tersendiri, dan baru-baru ini timnya bahkan sempat menjadi korban salah tag di media sosial. Meski demikian, Isaiah dan timnya tidak terlalu khawatir karena mereka sedang dalam proses mendaftarkan trademark atas "MMRPV", yang diharapkan bisa menjadi identitas unik dari perusahaan. Lebih lanjut, memegang trademark atas "MMRPV" juga bisa membantu Playground memantapkan posisinya sebagai perusahaan yang menggabungkan elemen-elemen MMORPG ke platform metaverse bikinannya.