Esports Ecosystem

Perusahaan Analitik Esports, FanAI Dapatkan Investasi Rp112,6 Miliar

15 Nov 2019 | Ellavie Ichlasa Amalia
FanAI akan menggunakan kucuran dana segar ini untuk melakukan ekspansi bisnis

Di tengah hype soal esports, semakin banyak investor yang bersedia menanamkan modal di perusahaan terkait esports. FanAI baru saja mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan pendanaan Seri A sebesar US$8 juta (sekitar Rp112,6 miliar). Pendanaan ini dipimpin oleh konglomerasi bisnis asal Jepang, Marubeni Corporation. FanAI adalah perusahaan yang menawarkan jasa analitik pada sponsor dan pengiklan di esports untuk menghitung dan mengoptimalkan biaya yang mereka keluarkan di industri competitive gaming. CEO FanAI, Johannes Waldstein mengatakan, kucuran dana segar ini akan mereka gunakan untuk memperkuat bisnis mereka yang telah ada di Eropa dan Inggris Raya, serta melakukan ekspansi bisnis ke kawasan Asia Pasifik, dimulai dari Jepang. Selain itu, mereka juga akan menambah pekerja mereka, dari 20 orang menjadi 30 orang.

“Kami akan meluncurkan platform bagi merek dan agensi serta melakukan ekspansi ke bidang analitik hiburan dan olahraga profesional,” kata Waldstein, dikutip dari LA Business Journal. Dia mengatakan, Marubeni adalah investor yang sangat cocok untuk mereka. “Mereka adalah salah satu trading house terbesar di Jepang dan memiliki posisi kuat di Asia Pasifik, yang merupakan pasar gaming dan esports terbesar, lebih besar dari Amerika Serikat. Mereka juga memiliki divisi baru di Amerika Serikat dan kami adalah salah satu perusahaan yang menerima investasi pertama mereka.” Saat ini, FanAI beroperasi di Inggris dan Jerman. Meskipun begitu, mereka tidak memiliki kantor di kedua negara tersebut. Mereka hanya bekerja sama dengan rekan lokal yang akan bertanggung jawab atas klien dan menjual produk FanAI. Namun, mereka berencana untuk membuka kantor di Jepang pada 2020 atau 2021.

Sumber: Aithority
Sumber: Aithority

Pada Januari 2019, FanAI mengakuisisi Waypoint Media, memungkinkan mereka untuk mendapatkan akses ke data pengguna platform streaming Twitch. Dengan data ini, FanAI dapat mengetahui berapa lama waktu yang dihabiskan oleh penonton di Twitch. Selain itu, mereka juga bisa mengetahui konten yang audiens tonton dan tingkat loyalitas para penonton pada seorang streamer atau merek tertentu. “Ini adalah analitik in-depth yang klien kami gunakan untuk memilih streamer atau influencer mana yang harus mereka ajak kerja sama untuk meningkatkan jangkauan mereka,” kata Waldstein. Layanan streaming memang menjadi bagian penting dari esports. Meskipun Twitch masih menjadi platform streaming nomor satu secara global, YouTube Gaming dan Microsoft Mixer mencoba untuk bersaing dengan platform milik Amazon tersebut. Salah satu cara yang mereka gunakan adalah menawarkan kontrak eksklusif pada sejumlah streamer. Beberapa streamer yang akhirnya memutuskan unutk pindah dari Twitch antara lain Tyler “Ninja” Blevins, Michael “Shroud” Grzesiek, dan Jack “CouRage” Dunlop.

Sejak didirikan pada 2016, FanAI telah mendapatkan total investasi sebesar US$12,5 juta (sekitar Rp176 miliar). Waldstein mengatakan, pendanaan Seri A kali ini akan cukup untuk digunakan sepanjang tahun depan. Namun, mereka harus mengumpulkan investasi Seri A sebesar US$10 juta (sekitar Rp141 miliar) sebelum mereka mulai mengejar pendanaan Seri B pada 2021.

Sumber header: The Esports Observer