Esports Ecosystem

Michael “Shroud” Grzesiek Pindah ke Mixer

25 Oct 2019 | Ellavie Ichlasa Amalia
Michael "Shroud" Grzesiek merupakan salah satu streamer terpopuler di Twitch

Salah satu satu streamer terpopuler di Twitch, Michael “Shroud” Grzesiek mengumumkan bahwa akan menyiarkan konten secara eksklusif di platform streaming buatan Microsoft, Mixer. Nama Grzesiek mulai dikenal ketika dia menjadi streamer Counter-Strike sebelum dia direkrut oleh Cloud9 sebagai pemain profesional. Tahun lalu, saat dia masih berumur 23 tahun, Grzesiek mengundurkan diri dari scene esports profesional. Sejak saat itu, dia mendedikasikan waktunya sebagai streamer.

Grzesiek pindah ke Mixer hanya beberapa bulan setelah Tyler “Ninja” Blevins, salah satu streamer paling populer Twitch lain, memutuskan untuk menyiarkan konten secara eksklusif di platform buatan Microsoft tersebut. Keputusan Grzesiek ini mungkin mengejutkan sebagian orang. Terutama karena ketika Blevins mengumumkan kepindahannya ke Mixer, Grzesiek mengatakan bahwa ini adalah kesempatan baginya untuk menambah fans-nya di Twitch. Grzesiek mengumumkan keputusannya untuk pindah ke Mixer melalui Twitter. “Shroud yang sama. Tempat baru,” tulisnya dalam sebuah kicauan.

Dengan follower lebih dari tujuh juta orang, Grzesiek adalah salah satu streamer paling populer di Twitch. Fans suka padanya karena dia memiliki skill yang hebat dan sikapnya yang santai. Keputusannya untuk pindah ke Mixer berarti dia harus kembali membangun fanbase-nya dari nol. Saat artikel ini ditulis, ada 290 ribu orang yang mengikuti channel Mixer Shroud. Angka itu jauh lebih sedikit dari channel Shroud di Twitch. Namun, ini tidak aneh, mengingat jumlah penonton Mixer memang masih jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan Twitch.

Hal yang sama juga terjadi pada Blevins ketika dia memutuskan untuk pindah ke Mixer. Sejak dia menggunakan Mixer, rata-rata penonton Blevins turun dari 37 ribu per sesi menjadi 14 ribu per sesi. Dikabarkan, alasan Blevins rela pindah ke Mixer yang penontonnya lebih sedikit adalah karena Microsoft berani menawarkan kontrak yang menarik. Dugaan lainnya adalah karena Blevins khawatir akan mengalami burnout. Manager dan istri Ninja, Jessica Blevins, mengatakan, uang bukan alasan mereka untuk pindah dari Twitch. Mereka memutuskan untuk menjalin kerja sama dengan Mixer karena mereka merasa, jika mereka tetap ada di Twitch, mereka tak bisa mengembangkan merek “Ninja”, menurut laporan Business Insider.

Keputusan Blevins untuk pindah ke Mixer mengejutkan banyak orang. Jelas, ini merupakan usaha Microsoft untuk mengejar ketertinggalannya dari Twitch. Menurut data terbaru dari Streamlabs dan Newzoo, kehadian Blevins di Mixer membuat semakin banyak kreator konten tertarik untuk membuat channel di Mixer. Per Q3 2019, jumlah channel di Mixer naik 188 persen. Sayangnya, hal ini tidak diikuti dengan pertumbuhan jumlah penonton. Menurut laporan StreamElements, kepindahan Blevins ke Mixer tidak memberikan banyak pengaruh pada total durasi video ditonton. Pada Juli dan September, Twitch masih menguasai 75,6 persen total durasi video ditonton. Sebagai perbandingan, Mixer hanya memberikan kontribusi sebesar 3,2 persen. Tentu saja, satu streamer populer di Mixer tidak akan membuat platfrom itu dapat mengalahkan Twitch.

“Dari Twitch, kita tahu bahwa mengembangkan platform streaming yang sukses adalah proses yang panjang. Jadi, kita sebaiknya tidak menilai apakah keputusan Mixer untuk bekerja sama secara eksklusif dengan sejumlah streamer ternama merupakan keputusan strategis atau tidak berdasarkan jumlah durasi video ditonton,” kata CEO StreamElements, dikutip dari Forbes. “Mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum dampaknya terlihat.” Meskipun saat ini popularitas Mixer masih kalah jauh dari Twitch, tapi Microsoft melengkapi platform streaming mereka dengan berbagai fitur menarik, seperti protokol Faster Than Light dan MixPlay.

Sumber: Kotaku, Polygon, The Verge