Esports Ecosystem

Pemerintah Ingin Kembangkan Industri Esports dan Game untuk Serap Tenaga Kerja

30 Aug 2019 | Ellavie Ichlasa Amalia
Meskipun begitu, pemerintah tak akan dorong generasi muda untuk kerja di industri tersebut

Disrupsi oleh teknologi telah menjadi pembicaraan eksekutif perusahaan dunia sejak 2015. Sementara di Indonesia, pemerintah menyebutkan bahwa mereka akan bersiap untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 pada tahun lalu. Dalam era industri 4.0, salah satu tren yang muncul adalah otomatisasi untuk membuat proses bisnis menjadi lebih efektif dan efisien. Penggunaan teknologi seperti artificial intelligence, machine learning, dan Internet of Things akan memengaruhi hidup para pekerja. Pada 2016, startup Sorabel, yang ketika itu bernama Sale Stock, memecat lebih dari 200 karyawan di bidang customer services karena mereka mulai menggunakan chatbot. Namun, itu bukan berarti disrupsi teknologi hanya memiliki dampak buruk. Disrupsi teknologi juga akan membuka ladang lapangan kerja baru. Esports menjadi salah satu industri yang pemerintah harapkan bisa menyediakan lapangan pekerjaan baru di era digital.

Esports adalah barang baru bagi kami,” aku Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden, Abraham Wirotomo saat ditemui dalam acara Indonesia Lokadata Conference (ILOC) yang diadakan di Hotel Kempinski, 29 Agustus 2019. “Idenya muncul dari pak presiden, yang mengatakan bahwa esports harus diperhatikan. Secara garis besar, ada dua, yaitu ekonomi dan sosial.” Menurutnya, lowongan pekerjaan di industri konvensional seperti pertambangan akan berkurang. Karena itu, pemerintah perlu mengembangkan sektor baru untuk menyerap tenaga kerja. Salah satu sektor pilihan pemerintah adalah gaming dan esports.

Saat ini, esports memang tengah menjadi pembicaraan hangat. Salah satu alasannya karena jumlah hadiah turnamen esports yang semakin fantastis, seperti Fortnite World Cup yang menawarkan total hadiah US$30 juta dan The International yang menawarkan total hadiah US$34 juta. Namun, menurut Abraham, turnamen esports tidak mencerminkan bisnis esports secara keseluruhan. “Ada bisnis dari tim esports, bisnis dari iklan, dan fanbase,” katanya. Meskipun begitu, saat ini tidak ada regulasi terkait esports sama sekali. “Ketika kami mendorong regulasi esports, kami bukan mempromosikan turnamen esports, yang mau kita dorong adalah pertumbuhan industri esports.”

Satu panggung dengan Abraham, Presiden Indonesia Esports Premier League (IESPL), Giring Ganesha membahas tentang besarnya pasar gaming di Indonesia. Mengutip laporan The Indonesia Gamer dari Newzoo, dia menyebutkan bahwa jumlah gamer di Indonesia telah mencapai 43,7 juta orang sementara pendapatan di industri ini mencapai US$879,7 juta. Satu hal yang harus diingat, laporan tersebut dibuat pada 2017 dan didasarkan pada data dari warga yang tinggal di kawasan perkotaan.

Pasar gaming Indonesia pada 2017 | Sumber: Newzoo
Pasar gaming Indonesia pada 2017 | Sumber: Newzoo

Dalam pengembangan industri esports, Abraham mengatakan, ada tiga hal yang menjadi fokus pemerintah. Salah satunya adalah perlindungan anak. “Karena kami yakin, meskipun industri esports besar, secara keuangan bagus, tapi jika orangtua takut akan esports, industri esports tidak akan berkembang. Jika ingin industri esports tumbuh pesat dan bisa sustain, perlindungan anak harus ada,” ujar Abraham. Contoh perlindungan anak yang dia berikan adalah instrumen untuk menjerat predator seksual anak yang memanfaatkan game untuk mencari korbannya.

Fokus kedua pemerintah adalah pengembangan industri gaming. Abraham berkata, pemerintah ingin mendukung developer game lokal. Salah satu caranya dengan mendorong perusahana asing untuk investasi ke developer lokal. Pada akhirnya, jika developer lokal berkembang, hal ini diharapkan akan dapat menyerap lapangan pekerjaan, khususnya talenta digital. Setelah industri game tumbuh, rencana pemerintah berikutnya adalah mengembangkan esports sebagai ekosistem. “Kalau industri game sudah tumbuh, kita beri ekosistem, adakan turnamen agar game-nya dikenal masyarakat, kita tonjolkan atlet-atletnya,” katanya.

Tugas kerja di bidang konvensional seperti perbankan tentunya berbeda dengan bekerja di industri baru seperti esports. Ketika ditanya apa yang pemerintah lakukan untuk menyiapkan masyarakat untuk dapat bekerja di bidang baru tersebut, Abraham mengaku bahwa pemerintah tidak akan secara khusus menyiapkan kurikulum atau pelatihan. Pemerintah hanya berusaha untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia secara umum. Misalnya dengan menekan angka gizi buruk dan mengusahakan pemerataan kualitas sekolah dengan sistem zonasi.

Dengan kata lain, pemerintah ingin mengembangkan esports dan gaming sebagai salah satu industri alternatif yang menyediakan lapangan kerja baru di era ekonomi digital. Meskipun begitu, mereka tidak akan secara aktif mendorong generasi muda untuk bekerja di bidang ini. Apakah Anda ingin bekerja di bidang ini atau tidak, keputusan itu ada di tangan Anda sendiri.