Esports Ecosystem

NSE dan ESL Kerja Sama untuk Siapkan Mahasiswa Kerja di Industri Esports

16 Aug 2019 | Ellavie Ichlasa Amalia
Program buatan NSE dan ESL ditujukan untuk atlet esports dan pemain di balik layar

Esports kini memang tengah menjadi pembicaraan hangat. Meskipun berawal dari komunitas, esports kini tumbuh menjadi industri bernilai US$1,1 miliar, menurut Newzoo.

Para tim dan pemain profesional tentu saja jadi bintangnya. Ketika Kyle “Bugha” Giersdorfmenjadi juaraFortnite World Cup, namanya muncul di berbagai headline media. Namun, menjadi atlet tidak melulu soal hadiah yang besar dan popularitas. Ada harga mahal yang harus dibayar bagi para atlet esports profesional, mulai masalah kesehatan, stres, hingga kerelaan untuk tidak menjalin hubungan romantis. Di belakang para atlet ini, juga terdapat manajemen tim yang mendukung. Seperti yang dibahas dalam artikel tentang perjuangan para atlet esports, salah satu kunci dari keberlangsungan esports sebagai industri adalah regenerasi.

ESL Jagoan Series - Free Fire
Sumber: ESL Indonesia

Sekarang, di Amerika Serikat, mulai bermunculan program yang dikhususkan untuk memunculkan para atlet esports berbakat. Contohnya, University of California, Irvine (UCI) telah menawarkan program beasiswa untuk pemain Super Smash Bros. Kabar terbaru, National Student Esports (NSE) juga mengumumkan kerja samanya dengan ESL. Dengan kerja sama ini, NSE dan ESL akan membuat program untuk para mahasiswa di universitas di Inggris agar mereka lebih siap untuk masuk ke industri esports.

“Universitas selalu menjadi pusat berkumpulnya talenta generasi berikutnya di industri baru, begitu juga dengan esports,” kata Executive Director of NSE, Jon Tilbury, seperti dikutip dari Esports Insider. “Kami tidak sabar untuk bekerja sama dengan ESL untuk membuka kesempatan bagi para mahasiswa, tidak peduli apakah mereka ingin menjadi pemain profesional atau bekerja di belakang layar untuk mengadakan turnamen esports terbesar dunia.”

Kerja sama dari ESL dan NSE ini diawali dengan workshop yang diadakan oleh Intel. Dalam satu tahun ke depan, ESL dan NSE akan bekerja sama untuk membuat berbagai program, baik program yang akan mereka eksekusi bersama atau dengan perusahaan dan organisasi lain yang menjadi rekan mereka.

Baik NSE dan NSL merupakan ahli di bidangnya. Menurut British Esports Association, NSE merupakan badan resmi yang dibuat dengan tujuan untuk mengembangkan ekosistem esports di tingkat universitas dan mereka telah sukses melakukan itu. Sementara ESL dipercaya sebagai perusahaan esports terbesar. Mereka merupakan penyelenggara turnamen yang telah berdiri sejak 2000. Di Indonesia, ESL pernah menyelenggarakan R6S Community Cup.

“Kami sangat senang untuk menjalin kerja sama yang positif dengan NSE untuk mendekatkan diri dengan mahasiswa,” kata Marketing and Communication Manager, ESL, Heather Dower, seperti dikutip dari Gamasutra. “Kerja sama yang erat akan menjadi kunnci dari pertumbuhan industri esports di Inggris pada masa depan. Kami tidak sabar untuk memberikan informasi lebih detail tentang ini!”

Meskipun masih ada stigma negatif tentang pekerjaan terkait gaming atau esports di Indonesia, dipercaya bahwa industri game lokal akan tumbuh positif. Saat ini, telah ada 20 sekolah dan kampus Indonesia yang menawarkan pendidikan terkait pembuatan game. Mengingat game menggabungkan banyak aspek — mulai dari pemrograman, animasi, musik, hingga penulisan cerita — maka program studi yang ditawarkan juga beragam. Misalnya, SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus membuka program studi Desain Komunikasi Visual, Animasi 3D, dan Rekayasa Perangkat Lunak. Sementara Institut Teknologi Bandung menawarkan program Opsi Media Digital & Teknologi Game di bawah program studi Teknik Elektro.