Esports Ecosystem

Mengenal Perbedaan Model Bisnis Platform Streaming Game dari China dan Twitch

14 Aug 2019 | Ellavie Ichlasa Amalia
90 persen pendapatan platform streaming China berasal dari virtual gift dari fans

Layanan streaming seperti Twitch membantu industri esports untuk tumbuh besar. Keberadaan layanan streaming memungkinkan banyak orang untuk menonton turnamen esports.

Menurut Newzoo, tahun ini, penonton esports secara global mencapai angka 453,8 juta orang, tumbuh 15 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Dari total penonton, sebanyak 201,2 juta masuk dalam kategori Enthusiast dan 252,6 juta sisanya menjadi bagian dari Occasional Viewer.

Semakin banyak jumlah penonton esports, semakin banyak pula perusahaan yang mau menjadi sponsor atau ikut serta dalam industri bernilai US$1,1 miliar ini. Misalnya, Honda baru mengumumkan keputusannya untuk menjadi sponsor dari League of Legends Championship Series untuk menjangkau konsumen generasi milenial dan generasi Z.

Secara global, Twitch adalah platform streaming paling dikenal. Meski belakangan, Mixer mulai berusaha mengejar. Namun, di China, pemerintah melarang Twitch untuk masuk. Ini memberikan ruang bagi perusahaan lokal untuk membuat layanan serupa.

Dikutip dari Abascus News, para analis memperkirakan bahwa industri streaming game di China akan mencapai US$3 miliar. Beberapa tahun lalu, ratusan layanan streaming game muncul. Pada 2016, terjadi “perang” antara platform streaming game di China. Douyu adalah salah satu pemain yang tersisa, bersama dengan pesaingnya, Huya.

Di tengah persaingan yang ketat, strategi Douyu adalah dengan menjadi royal dengan para top streamer mereka. Ialah Liu “PDD” Mou, top streamer di Douyu. Douyu membayar US$4 juta pada PDD agar dia mau menyiarkan kontennya secara eksklusif di platform itu. Setiap hari, PDD menyiarkan empat jam konten ketika dia bermain League of Legends.

Liu "PDD" Mou. | Sumber: YouTube
Liu “PDD” Mou. | Sumber: YouTube

Uang yang didapatkan oleh Liu dari Douyu itu tidak termasuk virtual gift yang diberikan oleh fans-nya. Harga virtual gift ini beragam, mulai dari beberapa dollar sampai US$300. Virtual gift juga akan menguntungkan Douyu sebagai platform karena mereka akan mendapatkan setengah dari total penjualan virtual gift.

Bisnis model platform streaming game di China memang berbeda dengan platform lain seperti Twitch. Sementara Twitch menjadikan iklan dan biaya berlangganan sebagai sumber pendapatan, hidup dan mati Douyu tergantung pada virtual gift. Pada kuartal yang berakhir pada Maret, 91 persen pendapatan dari Douyu berasal dari pembelian virtual gift.

Jangan heran jika Douyu sangat royal pada para top streamer mereka, seperti DPP. Menurut Ke Yan, analis Aequitas Research dari Singapura, Liu memberikan 3 persen kontribusi pada total pendapatan Douyu.

Sebagai perbandingan, Tyler “Ninja” Blevins, pria yang sempat menjadi streamer paling populer di Twitch sebelum pindah ke Mixer, mendapatkan US$500 ribu per bulan, menurut lapora Business Insider. Untuk mencapai ini, dia harus membuat konten siaran selama 12 jam setiap harinya.

Selain virtual gift dari fans untuk streamer, Douyu berusaha untuk mendapatkan pendapatan dengan membuat kegiagan offline. Belum lama ini, mereka mengadakan festival untuk jumpa fans dengan para streamer selama tiga hari. Dari ini, mereka berhasil meraup 20 juta yuan dari penjualan tiket.

Sumber: Douyu via Weibo
Sumber: Douyu via Weibo

Liu adalah salah satu streamer yang hadir di sini. Dalam festival itu, Liu juga menjamu 3.000 fans-nya selama dua malam. Semua itu dia lakukan menggunakan uangnya sendiri.

Ini adalah salah satu cara Liu untuk memuaskan para fans setianya. Salah satunya fans hardcore Liu adalah Sun Yi, pria berumur 22 tahun yang rela untuk naik kereta selama 24 jam demi dapat ikut serta dalam makan malam jamuan DPP.

Masalah Platform Streaming di China
Jika dibandingkan dengan pesaing utamanya, Huya, Douyu memiliki jumlah pengguna yang lebih banyak. Selain itu, jumlah top streamer mereka juga lebih banyak. Namun, dari segi pendapatan dan margin laba, Huya masih lebih baik.

“Terlepas dari laporan keuangan Douyu pada kuartal pertama yang sangat baik, Huya memiliki bisnis yang lebih baik,” kata Arun George, analis di Global Equity Research dari Inggris, seperti yang dilaporkan Abascus News.

Dia memperkirakan, alasan mengapa Huya dapat melakukan monetisasi dengan lebih baik karena aplikasinya yang dapat menampilkan konten sesuai dengan selera pengguna.

Strategi Douyu untuk fokus pada top streamer tidak salah. Namun, muncul pertanyaan apakah strategi ini bisa dipertahankan. Salah satu masalah yang dihadapi Douyu saat ini adalah bagaimana top streamer “membeli” popularitas.

Misalnya, tak lama setelah Liu menandatangani kontrak dengan Douyu pada Maret, dia menghabiskan hampir 20 juta yuan untuk mendapatkan dukungan penonton dalam kompetisi tahunan yang diadakan Douyu.

CEO Douyu, Chen Shaojie mengonfirmasi bahwa setengah dari total uang yang dihabiskan oleh Liu dihitung sebagai pemasukan Douyu sementara setengahnya kembali ke kantong Liu.

“Suara ‘belian’ itu akan tetap dihitung sebagai pemasukan karena, di bawah standar akuntansi, streamer tetaplah pelanggan yang membayar,” kata George. “Fokus Douyu pada top streamer membuat platform itu lebih rentan akan hal-hal seperti ini.”

Masalah lain yang harus dihadapi oleh platform streaming di China adalah penyensoran dari pemerintah. Seorang top streamer diblokir karena dia membuat candaan tentang serangan Jepang ke China.

Liu menyadari hal ini. Karena itulah, dia semakin berhati-hati ketika melakukan streaming. Misalnya, dia berhenti merokok di hadapan penonton.

Di Indonesia, Huya masuk dengan merek Nimo TV. Menurut laporan Antara News, total pengguna Nimo TV pada September dan Oktober 2018 naik hingga 300 persen. Ini menunjukkan besarnya potensi bisnis untuk platform streaming di Indonesia.

Memang, berdasarkan studi yang dilakukan oleh Kepios bersama We Are Social dan HootSuite, sebanyak 26 persen pengguna internet Indonesia menonton turnamen esports.

Mengingat APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) mengatakan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 171 juta orang, itu artinya, ada 44,5 juta orang yang menonton esports.

Sumber: Abascus News, TechCrunch, Business Insider