Esports Ecosystem

Burnout, Masalah Streamer dan Kreator Konten Hadapi

27 Oct 2020 | Ellavie Ichlasa Amalia
Menghabiskan belasan jam setiap hari untuk membuat konten akan membuat seseorang lelah secara mental

Pada 2019, “cara membuat channel YouTube” menjadi salah satu topik yang paling banyak dicari dalam segmen “bagaimana cara…” Hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat Indonesia untuk menjadi konten kreator cukup tinggi. Dan gaming merupakan salah satu kategori yang cukup seksi, apalagi di tengah pandemi seperti sekarang. Di kala masyarakat diminta untuk tidak berpergian jika tidak perlu, banyak orang menghabiskan waktu luangnya dengan bermain game atau menonton konten game.

Hanya saja, apakah menjadi konten kreator semudah kelihatannya? Memang, konten kreator atau streamer tidak dituntut untuk terus-menerus memberikan performa terbaik layaknya atlet esports. Namun, hal itu bukan berarti para streamer dan konten kreator tidak memiliki masalah sama sekali. Salah satu tantangan yang biasanya dihadapi oleh streamer atau kreator konten adalah stres berkepanjangan yang bisa berujung pada burnout.

 

Apa Itu Burnout dan Apa Pemicunya?

Sebelum kita bicara tentang burnout yang dialami oleh streamer dan kreator konten, mari seragamkan pengertian tentang burnout. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), burnout syndrome adalah kondisi stres kronis akibat pekerjaan yang ditandai dengan rasa lelah, kesal dengan pekerjaan, dan rasa tidak puas. Pertanyaannya, memang seorang streamer game bisa mengalami burnout?

Bagi seorang gamer, dibayar untuk bermain game — dan dapat fans pula — mungkin terdengar seperti pekerjaan impian. Di awal karir sebagai streamer, seseorang mungkin saja rela untuk menghabiskan waktu berjam-jam — atau mungkin belasan jam — untuk melakukan siaran. Hanya saja, seperti yang disebutkan oleh Performance Psychologist, Landon Gorbenko, akan ada waktu ketika seorang streamer menjadi jenuh dengan pekerjaannya. Pasalnya, tidak mudah untuk membuat konten video yang menarik setiap hari.

“Memang tidak selalu, tapi terkadang, para penonton punya ekspektasi bahwa konten sang streamer akan terus menjadi semakin baik dari waktu ke waktu. Hal ini akan memaksa streamer untuk memenuhi ekspektasi tersebut,” ujar Gorbenko dalam sebuah video. “Anda harus mematuhi jadwal yang sudah Anda tentukan, Anda harus terus bersikap ramah karena siaran Anda ditonton oleh banyak orang. Semua ini membuat otak Anda lelah.”

Menurut laporan Polygon, burnout di kalangan streamer Twitch dan kreator konten YouTube bukanlah masalah baru. Pada 2015, Twitch memperkenalkan kelas dan seminar untuk para caster agar mereka bisa membuat konten yang lebih baik. Tak hanya itu, kelas dan seminar tersebut juga berfungsi untuk membantu para caster mengatur waktu mereka. Sementara pada 2014, Fast Company sudah membuat artikel tentang bagaimana para kreator konten mengalami burnout karena mereka harus terus membuat konten tanpa henti.

Olga Kay, YouTuber yang populer ketika itu, mengaku bahwa dia jarang keluar dari apartemennya karena jadwalnya yang sangat padat. “Jika saya mengambil waktu lama untuk beristirahat, saya harus bekerja jauh lebih keras ketika saya kembali membuat konten,” katanya. “Saat saya ingat bahwa saya harus kembali membuat konten, hal ini membuat saya semakin stres.”

Pada 2018, sejumlah kreator konten ternama, seperti Felix “PewDiePie” Kjellberg, EthanKlein, dan Saqib Ali Zahid alias Lirik juga pernah menceritakan tentang burnout dan masalah mental lain yang mereka hadapi. Melalui video di YouTube atau Twitter, mereka mengaku, sulit bagi mereka untuk dapat terus membuat konten ketika mereka juga mengalami berbagai masalah mental seperti gangguan kecemasan atau bahkan depresi.

“Saya merasa, konten yang saya buat tak lagi menarik. Saya tidak tahu kenapa orang-orang terus menonton konten yang saya buat,” kata Lirik ketika itu. “Saya merasa seperti ada di depan panggung tanpa tahu apa yang harus saya katakan karena saya sudah kehabisan bahan.” Dia mengaku, terus terhubung ke internet menguras energinya dan dia merasa harus beristirahat. “Saya sedang memikirkan apa yang akan saya lakukan di masa depan, mengubah kebiasaan saya, menemukan tujuan baru, dan pada akhirnya, menemukan arti hidup.”

Lirik merupakan salah satu streamer yang tidak menampilkan wajahnya. | Sumber: Win.gg
Lirik merupakan salah satu streamer yang tidak menampilkan wajahnya. | Sumber: Win.gg

Jika menulis atau menggambar adalah hobi Anda, Anda pasti familiar dengan istilah “writer’s block” atau “artist’s block“. Ketika Anda sedang jenuh dengan hobi tersebut, Anda bisa berhenti sejenak untuk menyegarkan pikiran Anda kembali. Sayangnya, bagi orang-orang yang berkutat di industri kreatif, seperti streamer, mereka tetap harus membuat konten tak peduli apakah mereka merasa jenuh atau tidak. Selain itu, seorang streamer tak bisa serta-merta berhenti melakukan siaran, karena hal ini bisa membuat mereka ditinggalkan oleh para penontonnya.

Di Medium, Lauren Hallanan, VP of Live Streaming, The Meet Group, menjelaskan bahwa, bagi sebagian besar audiens, menonton para streamer adalah kegiatan untuk mengisi waktu luang, sesuatu yang dilakukan di tengah istirahat makan siang atau sebelum tidur. Dan kegiatan ini jadi rutinitas. Makanya, ketika seorang streamer tidak melakukan siaran di waktu tersebut, mereka akan beralih ke streamer lain. Berbeda dengan televisi yang memiliki channel terbatas, platform digital seperti Twitch menawarkan jutaan streamer.

Thomas Vojnyk, VP of Community and Content, The Meet Group berkata, “Konsistensi adalah kunci sukses untuk seorang streamer, tak peduli platform apa yang mereka gunakan. Namun, kami punya banyak streamer sukses yang mengambil waktu istirahat selama satu minggu tanpa peringatan apapun. Ketika mereka kembali, mereka harus membangun fanbase mereka lagi.”

Jika dibandingkan dengan kreator konten, streamer juga punya satu masalah lain. Berbeda dengan kreator konten yang masih bisa mendapatkan view dari video lama, streamer hanya bisa mendapatkan penonton ketika mereka melakukan siaran. Hal itu berarti, semakin sering dan semakin lama seorang streamer siaran, semakin baik. Hanya saja, melakukan siaran berjam-jam setiap hari, gaya hidup seperti ini akan berujung pada burnout.

Dalam sebuah video, PewDiePie mengaku sadar, semakin banyak kreator konten yang sebenarnya merasa jenuh dengan apa yang mereka lakukan. Namun, mereka tetap memaksakan diri untuk membuat konten yang diinginkan oleh para penonton mereka.

“Salah satu masalah yang dihadapi oleh YouTuber atau kreator konten adalah Anda dituntut untuk terus memberikan konten yang lebih baik,” kata PewDiePie. Dia bercerita bagaimana dia harus tetap terlihat ceria walau dia sedang memainkan game yang tidak dia sukai. “Saya rasa, ada banyak orang yang terbelenggu dengan tuntutan itu… Bahwa mereka harus terus memberikan konten yang lebih baik.” Dan tekanan untuk terus memberikan konten yang menarik bagi para penonton, hal ini bisa membuat seorang kreator konten melakukan hal-hal yang tidak etis. PewDiePie menyebutkan vlogger Logan Paul sebagai contoh.

Pada awal 2018, Logan Paul sempat diterpa kontroversi ketika dia membuat video di hutan Aokigahara, Jepang. Hutan yang terletak di kaki Gunung Fuji tersebut dikenal sebagai tempat bunuh diri. Saat tengah membuat video, Paul dan teman-temannya menemukan mayat dari seorang pria yang tak dikenal. Meski sempat terlihat terkejut, Paul dan teman-temannya juga masih sempat bercanda dan tertawa. Hal ini mengundang kemarahan para netizen.

“Saya pikir, Logan bukanlah orang jahat, “kata PewDiePie. “Menurut saya, dia hanya terpaku pada ide bahwa dia harus terus membuat video yang bisa mendapatkan banyak view. Jika Anda membuat video setiap hari, sulit untuk memastikan bahwa penonton Anda akan terus tertarik dengan konten Anda.”

 

Pentingnya Istirahat Bagi Kreator Konten dan Streamer

Para streamer dan kreator konten dituntut untuk terus dapat memberikan konten berkualitas tinggi. Hal ini membuat mereka rentan pada burnout, menurut Katrina Gay, National Director for Strategic Partnership, National Alliance on Mental Illness. Dan jika seorang streamer atau kreator konten memutuskan untuk mengacuhkan burnout yang mereka alami, mereka bisa membenci pekerjaan mereka sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti.

“Memastikan bahwa Anda memiliki gaya hidup seimbang, hal ini sangat penting,” ujar Gay. “Anda harus sadar akan tuntutan pekerjaan Anda. Anda harus paham bahwa Anda tidak bisa mendedikasikan hidup hanya pada satu bidang. Anda harus belajar cara untuk membatasi pekerjaan, sehingga bisa fokus pada bagian lain dari hidup Anda.”

Menurut Gorbenko, salah satu cara menghindari burnout adalah merencanakan waktu istirahat. “Jika tidak merencanakan waktu istirahat, terkadang Anda akan terus bekerja, bermain, dan melakukan siaran,” ujarnya. Dia menyarankan, ketika sedang beristirahat, seorang streamer sebaiknya mencoba hobi lain selain bermain game.

“Jika seorang streamer melakukan siaran dan mereka menemukan orang-orang toxic, atau performa mereka tidak terlalu baik, hal ini akan membuat mereka sedih atau marah,” kata Gorbenko. “Jika mereka punya hobi lain, seperti memasak, hobi tersebut bisa menjadi emotional buffer. Melakukan hobi lain memungkinkan streamer untuk memulihkan diri sehingga ketika mereka memutuskan untuk kembali melakukan streaming, mereka bisa melakukannya dengan semangat.”

Seorang streamer atau kreator konten sebaiknya memiliki hobi lain selain bermain game. | Sumber: Deposit Photos
Seorang streamer atau kreator konten sebaiknya memiliki hobi lain selain bermain game. | Sumber: Deposit Photos

Sama seperti Gorbenko, Gay juga menyarankan, jika seorang streamer atau kreator konten mulai merasakan burnout, mereka sebaiknya fokus ke aspek lain dari kehidupan mereka. Dia mengungkap, setelah beristirahat, seorang streamer atau kreator biasanya akan kembali ingat tentang alasan yang membuat mereka pertama kali tertarik untuk membuat konten atau melakukan streaming. Dan hal ini membuat mereka kembali merasakan kepuasan yang mereka dapatkan ketika mereka memulai karir mereka.

Untuk menghindari burnout, Gay menyebutkan, seorang streamer atau kreator konten harus memiliki kesadaran diri akan batasan diri mereka. Alasannya, karena mereka sendiri yang menentukan kapan dan berapa lama mereka harus bekerja. “Tidak ada orang yang mengatur jadwal kerja Anda sebagai streamer,” kata Gay. “Anda harus bisa menemukan ritme kerja Anda sendiri. Proses untuk mengetahui hal ini memang tidak mudah, tapi sangat penting.”

 

Penutup

Bagi para gamer, menjadi streamer atau kreator konten memang pekerjaan yang menggiurkan. Bagaimana tidak. Pekerjaan seorang streamer “hanya” bermain game. Dari dana dukungan para penonton, seorang streamer bisa mendapatkan uang hingga Rp44 juta dalam sebulan. Seorang streamer juga dielu-elukan oleh para fans-nya.

Hanya saja, untuk bisa membangun fanbase, seorang streamer harus melakukan siaran secara konsisten. Ketika memulai karir sebagai streamer, seseorang mungkin saja mau dan bisa melakukan siaran hingga berjam-jam setiap hari. Namun, berapa lama seseorang akan bisa bertahan untuk memaksa dirinya bekerja dengan ritme kerja seperti itu? Pada akhirnya, dia akan mengalami kejenuhan atau bahkan burnout.

Satu-satunya cara untuk mengatasi atau mencegah burnout, adalah dengan mengambil waktu istirahat. Seorang streamer sebaiknya memberitahukan para penontonnya jika mereka hendak rehat sejenak. Untuk itu, mereka bisa membahas rencana liburan mereka ketika tengah siaran. Bisa juga, mereka memberikan informasi tentang rencana liburan mereka di profil. Dengan begitu, para penonton akan tahu bahwa sang streamer berencana untuk kembali.