Esports Ecosystem

Jalan Berliku Esports Mobile Legends Meraih Emas SEA Games 2019

09 Aug 2019 | Akbar Priono
Dengan proses Pelatnas yang singkat dan banyaknya pemain bintang yang diseleksi, haruskah kita khawatir dengan hal ini?

Sudah sejak lama kompetisi menjadi satu elemen dalam komunitas gamers. Awalnya, ini hanya menjadi hiburan di kala bermain seorang diri jadi membosankan. Kalau Anda sempat mengalami era warnet, Anda mungkin pernah mengalami saling berkompetisi demi mendapatkan billing gratis.

Seiring perjalanan waktu, perebutan billing gratis berubah menjadi sebuah industri, menjadi apa yang kini kita kenal sebagai esports. Kini, esports kembali berevolusi. Berawal sebagai ajang membela ambisi pribadi, tahun 2019 esports telah berubah menjadi ajang bela negara.

Desember 2018, esports diumumkan menjadi cabang resmi SEA Games 2019. Dengan total 6 medali yang diperebutkan, 6 game yang menjadi pertandingan dalam cabang esports adalah: Dota 2, StarCraft II, Tekken 7, Arena of Valor, dan Mobile Legends.

Jalan Berliku Atlet Mobile Legends Indonesia Merebut Emas SEA Games 2019

Indonesia punya 5 cabang kontingen yang akan diberangkatkan untuk SEA Games 2019. Lewat gelaran Indonesia Esports National Championship 2019 (IENC 2019), tersaring pemain-pemain terbaik untuk bertanding dalam 3 cabang Dota 2, Tekken 7, dan Mobile Legends.

Dari tiga cabang tersebut, sorotan tentu tertuju pada cabang Mobile Legends. Selain sebagai game dengan komunitas terbesar di Indonesia, cabang ini adalah kesempatan terbesar Indonesia untuk mendapatkan emas di SEA Games 2019.

Bagaimana tidak, dari segi talent pool, Indonesia punya banyak pemain berbakat. Secara historis, belakangan prestasi Indonesia di kancah Mobile Legends juga sedang keren-kerennya. Mulai dari RRQ yang jadi Mobile Legends Star League, sampai ONIC Esports yang berhasil meraih titel tertinggi lewat gelaran Mobile Legends SEA Championship 2019 (MSC 2019).

ONIC saat jadi juara MLBB Southeast Asia Cup 2019
ONIC saat jadi juara MLBB Southeast Asia Cup 2019

Kendati demikian, merebut emas di cabang Mobile Legends SEA Games 2019 adalah perjuangan yang saya sebut panjang dan berliku. 6 Agustus 2019, panitia Kerja Timnas Mobile Legends berbagi segala hal seputar pengiriman kontingen Mobile Legends untuk SEA Games 2019, dalam sebuah gelaran konfrensi pers.

Pertama-tama, soal pelatih. Dalam acara tersebut, Panitia Kerja Timnas Mobile Legends mengumumkan dua orang pelatih, yang akan menyaring pemain-pemain yang sudah lolos ke pelatnas sebelumnya. Dua orang tersebut adalah Jeremy “Tibold” Yulianto dan Afrindo “G” Valentino.

Keduanya sudah cukup di kenal di kalangan komunitas. Jeremy sempat aktif berkompetisi di kancah League of Legends. Ia bersama kawan-kawan kampus Universitas Pelita Harapan pernah mewakili Indonesia dalam ajang kompetisi League of Legends antar kampus di Taiwan.

Setelah itu, ia memutuskan untuk gantung keyboard, dan menjadi pelatih tim League of Legends Bigetron Esports. Ketika menjadi pelatih, ia juga berhasil membawa timnya menjadi yang terbaik di tingkat Nasional, menjuarai League of Legends Garuda Series: Spring 2019 (LGS Spring 2019).

Sementara itu Afrindo “G”, juga merupakan sosok yang kerap disebut pemain yang lengkap secara otak dan otot. Tak hanya sangat lihai mengendalikan hero-hero yang ia mainkan, ia juga kerap menjadi mastermind yang membangun strategi permainan dan pemilihan hero untuk tim EVOS. Menjadi asisten pelatih bagi Jeremy, kemampuannya dalam menganalisis kemampuan serta strategi permainan seharusnya sudah tak perlu diragukan lagi.

Afrindo Valentino (tengah kiri) dan Jeremy Yulianto (tengah kanan) dua sosok pelatih timnas Mobile Legends untuk SEA Games 2019. Sumber: Hybrid - Akbar Priono
Afrindo Valentino (tengah kiri) dan Jeremy Yulianto (tengah kanan) dua sosok pelatih timnas Mobile Legends untuk SEA Games 2019. Sumber: Hybrid – Akbar Priono

Selanjutnya adalah soal seleksi. Ini adalah alasan mengapa proses ini saya sebut panjang dan berliku. Timnas Mobile Legends Indonesia untuk SEA Games 2019 bukanlah sesederhana mengirim satu tim yang sudah biasa bermain bersama untuk berangkat.

Prosesnya sebagai berikut: semua tim yang lolos dari IENC, dengan total ada 40 pemain yang jadi peserta pelatnas, akan disaring. Dari 40 disisakan 10 pemain saja untuk saling tanding. Lalu terakhir, disisakan 7 atlet terbaik saja yang akan menjadi kontingen timnas Mobile Legends SEA Games 2019. Proses ini dilakukan oleh para pelatih dalam jangka waktu yang cukup singkat, yaitu mulai dari 12-18 Agustus 2019 mendatang.

“Seperti yang kita tahu, kancah Mobile Legends Indonesia Indonesia punya banyak pemain bintang dan disegani oleh negara-negara lain. Para pemain kita pun tahu bahwa mereka adalah yang terbaik. Jadi tantangan dalam seleksi memang lebih soal menahan ego masing-masing pemain. Jawab Jeremy, membahas penyeleksian pemain untuk timnas Mobile Legends Indonesia.

“Selain itu membuat mereka untuk tetap humble, dan bisa saling bekerja sama mungkin jadi tantangan lain. Menyatukan 5 kepala menjadi 1 itu tidak mudah. Kami akan mencoba fokus membuat tim juara, bukan tim terkuat. Jika semuanya lancar, kami optimis bisa mendapatkan emas.” Tambah Jeremy “Tibold”.

Seleksi dan Persiapan Timnas Mobile Legends Indonesia

Kini, tinggal tersisa 3 sampai 4 bulan menuju SEA Games; yang akan diselenggarakan November nanti. Durasi seleksi dan pelatihan intens juga terbilang singkat, hanya 6 hari saja. Penyaringannya juga sangat ketat, dari 40 menjadi 7 pemain. Melihat beberapa hal ini, jujur saya skeptis, jika nantinya timnas Mobile Legends Indonesia bisa bicara banyak di SEA Games 2019.

Membahas hal ini, saya juga berbincang dengan Yohannes Siagian, VP Esports tim EVOS Esports, yang juga punya banyak pengalaman dalam persiapan atlet untuk SEA Games, ASIAN Games.

Yohannes Paraloan Siagian while attending JD.ID pers conference High School League. Source: Line Today
Yohannes Paraloan Siagian saat mendatangi konfrensi pers JD.ID High School League. Sumber: Line Today

Pertama-tama soal durasi pelatnas. Saya sebenarnya cukup penasaran, apakah proses dengan jangka waktu yang sempit ini terjadi di seluruh cabang kontingen SEA Games? Ternyata menurut Joey sendiri, durasi ini terbilang relatif sempit. “Kalau cabang olahraga lain, harusnya saat ini sudah masuk fase pencoretan akhir.” Jawab Joey yang memang punya pengalaman dalam proses persiapan atlet untuk festival olahraga seperti SEA Games.

“Tetapi karena esports berbeda dengan olahraga tradisional, menurut saya masih possible untuk memadatkan jadwal latihan intensif. Berhubung latihan bermain bisa dilakukan kapan saja oleh sang pemain, jadi sebenarnya tinggal mencari waktu untuk melatih chemistry, kekompakan dan strategi saja.” jawab Joey membahas durasi pelatnas yang cukup sempit ini.

Soal penyaringan, Joey juga memberikan satu pendapat yang cukup menarik. Seperti yang saya katakan pada paragraf awal bagian ini, saya sebenarnya skeptis kalau diharuskan membuat tim dari awal dengan membawa pemain-pemain terbaik dari berbagai tim. Akan lebih baik jika mengirim satu tim yang sudah jelas solid, demi memastikan emas untuk kontingen Mobile Legends bukan?

“Alasan soal chemistry, strategi dan lain sebagainya ini memang wajar, tapi menurut saya terlalu dilebih-lebihkan.” Joey membuka pembahasan. “Menurut saya, pemain-pemain Mobile Legends Indonesia sudah tidak lagi di level tersebut. Justru memang seharusnya caranya seperti ini. Kumpulkan 7 pemain terbaik, kemudian jalankan latihan intensif untuk membangun kekurangan tersebut. Terus terang, melihat kualitas pemain Indonesia, mendapat medali perak saja sudah bisa dibilang terasa kurang maksimal. Kenapa? Karena kita punya komposisi pemain yang sanggup meraih medali emas.”

Sumber: Hybrid - Akbar Priono
Tim Panitia Kerja Timnas Mobile Legends. Andrian Pauline (AP – Kiri) sedang menjawab pertanyaan dari awak media saat gelaran konfrensi pers. Sumber: Hybrid – Akbar Priono

Bicara soal latihan, uji coba, dan proses pembabakan skuat timnas Mobile Legends Indonesia, Panitia Kerja Timans Mobile Legends, yang diwakili oleh Andrian Pauline juga turut membeberkan beberapa hal.

“Untuk timnas Mobile Legends, kita sebetulnya memang disiapkan budget dari pemerintah untuk tanding uji coba di luar negeri.” tukas AP. “Tapi mengingat ada kepentingan liga, jujur, ini sulit untuk dilakukan. Jadi jalan tengah yang kami usahakan adalah dengan cari waktu saat break liga. Setelahnya, kami akan mendatangkan tim dari luar negeri untuk tanding uji coba di Indonesia.” AP menjelaskan lebih lanjut.

Jadi, apakah benar bahwa kekhawatiran ini bersifat dilebih-lebihkan seperti apa yang dikatakan Joey? Pada akhirnya Jeremy “Tibold” kembali menegaskan kepada awak media yang hadir dalam gelaran konfrensi pers kemarin untuk kedua kalinya. “Saya percaya dengan modal pemain yang kita miliki. Jadi saya pede kontingen Mobile Legends untuk SEA Games 2019 bakal dapat emas.”

Walau bukan yang pertama kali, esports menjadi cabang festival olahraga antar negara tetap menjadi hal yang baru bagi ekosistem ini. Tak heran, jika dalam praktek penyeleksian dan prosesnya terbilang masih meraba dan mencari metode yang paling efisien untuk bisa menghasilkan tim yang dapat menjadi juara.

Apapun hasilnya, bagaimanapun prosesnya, sudah menjadi tugas kita semua untuk kawal dan dukung kontingen esports Indonesia. Mari kita bersama doakan agar kontingen ini bisa mendapatkan hasil yang terbaik di SEA Games 2019.