Exclusive Content
for SEO
Exclusive Content

Iklan di Game: Hasil Evolusi Industri yang Perlu Dicaci atau Dihargai?

30 January 2022Ellavie Ichlasa Amalia

Sekarang, banyak mobile game yang menggantungkan diri pada iklan sebagai sumber pemasukan

Masing-masing generasi konsumen punya ekspektasi yang berbeda pada brands. Karena itu, cara perusahaan untuk memenangkan hati mereka pun berbeda-beda. Misalnya, Gen X adalah konsumen yang setia pada merek. Mereka berharap, kesetiaan mereka akan diapresiasi. Karena itu, memberikan rewards atas kesetiaan konsumen Gen X adalah salah satu cara yang bisa dilakukan oleh perusahaan untuk memenangkan hati mereka.

Sementara itu, generasi milenial cenderung ingin pendapatnya didengar. Ketika mendapat pengalaman buruk saat membeli produk sebuah brand, konsumen milenial biasanya akan menceritakan masalah yang dia alami di media sosial. Sebaiknya, perusahaan menanggapi keluhan tersebut. Dengan begitu, perusahaan tidak hanya bisa mempertahankan konsumen, mereka juga bisa menunjukkan bahwa mereka mendengarkan kritik dan saran dari konsumen.

Karena masing-masing generasi konsumen punya kebiasaan berbelanja yang berbeda, cara brands untuk menjangkau mereka pun berbeda-beda. Jadi, jangan heran, dari era ke era, metode iklan akan terus berubah: mulai dari word-of-mouth, iklan di koran, iklan di radio dan televisi, dan sekarang, iklan di media digital. Game merupakan salah satu media digital untuk menampilkan iklan.

Pengertian dan Sejarah Iklan

Iklan atau advertising, menurut Britannica adalah teknik dan praktek untuk membuat produk, layanan, opini, atau sebuah misi diketahui oleh masyarakat umum, dengan tujuan untuk membuat masyarakat memberikan respons yang positif pada hal yang diiklankan.

Sementara menurut Advertising Association of the UK, iklan adalah pesan yang dibeli oleh pihak yang ingin mengirimkan pesan tersebut dengan tujuan untuk memberikan informasi atau mempengaruhi orang-orang yang menerima pesan tersebut, seperti yang disebutkan dalam Economic Times. Sementara pengiklanan itu sendiri bisa disebut sebagai cara komunikasi dengan pengguna sebuah produk atau layanan.

Dalam buku Adland: A Global History of Advertising, penulis Mark Tungate menyebutkan, salah satu iklan paling tua di dunia bisa ditemukan di reruntuhan Pompeii. Iklan itu merupakan iklan dari rumah bordil. Sementara di era medieval, word-of-mouth bisa dianggap sebagai iklan. Industri iklan sendiri mulai berkembang setelah mesin cetak diciptakan oleh mantan goldsmith asal Jerman, Johannes Gutenberg pada 1447.

Keberadaan mesin cetak mendorong perkembangan industri iklan. | Sumber: Britannica

Orang lain yang dianggap punya peran penting dalam sejarah iklan adalah dokter dan jurnalis Prancis, Théophraste Renaudot. Terlahir di keluarga kaya, Renaudot masuk ke sekolah kedokteran di Paris dan Montpellier. Dia menjadi dokter pada umur 20. Dia dianggap terlalu muda untuk menjadi dokter. Karena itu, dia memutuskan untuk pergi ke Swiss, Inggris, Jerman, dan Italia. Ketika dia pulang, dia bertemu dengan Armand Jean du Plessis, yang nantinya akan dikenal dengan nama Cardinal Richelieu. Pertemuan ini berbuah manis bagi Renaudot, yang dipilih untuk menjadi dokter dari Raja Prancis, Louis XIII.

Renaudot memang seorang dokter. Tapi, dia juga merupakan pemikir dan senang menulis. Melihat kondisi warga miskin di Paris, dia terdorong untuk membuat kantor rekrutmen di Île de la Cité. Kantor tersebut menampilkan informasi lowongan pekerjaan untuk para pengangguran. Tidak lama kemudian, kantor buatan Renaudot itu menjadi pusat informasi bagi orang-orang yang mencari pekerja atau pengangguran serta serta orang-orang yang ingin membeli atau menjual sesuatu. Ingin bisa menyebarkan informasi ini ke lebih banyak orang, Renaudot membuat koran Prancis pertama pada 1631. Koran itu dinamai La Gazette. Dengan ini, Renaudot menjadi jurnalis pertama di Prancis. Dia juga dianggap sebagai pencipta dari “iklan pribadi”.

Sementara itu, di London, Inggris, koran mulai menampilkan iklan pada abad ke-17. Di abad 18, iklan di koran semakin menjamur. Perkembangan bisnis pada abad ke-19 membuat industri iklan menjadi semakin besar. Di era inilah, agensi iklan mulai muncul di Amerika Serikat. Pada awalnya, agensi iklan tidak lebih dari broker yang menghubungkan pihak pengiklan dengan pihak koran. Namun, pada tahun 1920-an, fungsi agensi iklan mulai melebar. Kini, mereka tidak hanya berfungsi sebagai broker, mereka juga bertanggung jawab untuk membuat rencana dan bahkan mengeksekusi kampanye iklan.

Iklan pertama di dunia disiarkan di Amerika Serikat pada 1 Juli 1941. Iklan tersebut ditayangkan di channel televisi New York WNBT, yang masih beroperasi sampai saat ini dengan nama WNBC. Produk yang diiklankan saat itu adalah jam buatan Bulova. Iklan ini ditayangkan dalam pertandingan baseball antara Brooklyn Dodgers dengan Philadelphia Phillies. Menurut laporan Real Business, Bulova dikabarkan membayar US$4 sampai US$9 untuk iklan tersebut. Sebagai perbandingan, sekarang, untuk menayangkan iklan di channel TV nasional di tengah pertandingan olahraga — yang banyak ditonton orang — sebuah perusahaan akan harus membayar ratusan juta dollar.

Di Inggris, iklan pertama yang ditayangkan di TV tampil pada September 1955. Alasan mengapa iklan TV pertama di Inggris terpaut jauh dengan iklan TV pertama di AS adalah karena BBC menggunakan model bisnis berlangganan. Jadi, mereka tidak perlu memasang iklan untuk mendapatkan pemasukan. Iklan pertama di Inggris ditayangkan di ITV. Produk yang ditampilkan adalah odol Giibs SR, yang kini menggunakan nama Mentadent SR dan ada di bawah naungan Unilever.

3 Teknologi Di Balik Digital Marketing

Keberadaan iklan memang sudah ada sejak lama. Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi, media yang digunakan untuk menampilkan iklan pun berubah. Menurut Digital Marketing Institute, tiga teknologi yang memulai era digital marketing adalah internet, big data, dan smartphone.

Konsep internet telah ada sejak tahun 1960-an. Namun, World Wide Web baru diciptakan oleh Tim Berners-Lee pada 1989. Pada awalnya, tujuan Berners-Lee membuat internet adalah untuk menghubungkan komputer para peneliti di Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire (CERN) dengan satu sama lain. Hal ini akan memudahkan para peneliti untuk saling berbagi informasi.

Pada 1991, untuk pertama kalinya, individual di luar CERN diizinkan untuk mengakses internet. Tiga tahun kemudian, pada 1994, Netscape — browser pertama yang digunakan secara massal — dirilis. Di Desember 1995, jumlah pengguna internet hanya mencapai 16 juta orang atau sekitar 0,4% dari total populasi dunia. Dalam dua tahun, angka ini meroket menjadi 70 juta orang atau 1,7% dari total populasi dunia. Per Maret 2021, jumlah pengguna internet di dunia diperkirakan mencapai 5,17 miliar orang atau 65,6% dari populasi dunia.

Seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna internet, lanskap digital pun berubah. Mulai muncul berbagai layanan baru di internet, seperti email, search engine, dan juga e-commerce. Semua layanan internet itu bisa menjadi alat baru bagi pengiklan untuk menjangkau konsumen. Misalnya, email bisa digunakan sebagai alat marketing, sementara search engine merupakan alat bagi konsumen untuk mencari produk yang mereka inginkan.

Layanan internet yang dirilis pada 1995. | Sumber: Medium

Selain internet, teknologi lain yang mendorong perkembangan digital marketing adalah big data. Dengan bertambahnya jumlah layanan di internet, maka orang-orang pun semakin sering melakukan kegiatan digital. Dan kegiatan digital konsumen ini bisa dicatat dan dianalisa, seperti yang disebutkan oleh University of Western Australia. Kemunculan media sosial juga mendorong tren big data. Dengan adanya media sosial, konsumen dengan suka rela memberikan data pribadi mereka. Pada akhirnya, mengumpulkan dan menganalisa data konsumen yang perusahaan dapatkan dari media sosial atau channel digital lain, hal ini memungkinkan mereka untuk melakukan targeted marketing atau bahkan predictive analysis.

Terakhir, teknologi yang membuat industri digital marketing tumbuh pesat adalah smartphone. Ponsel handheld pertama sebenarnya telah ada pada 1973. Hanya saja, ponsel tersebut memiliki berat dua kilogram. Dan kemampuan ponsel itu pun jauh lebih terbatas dari smartphone yang ada sekarang. Seiring dengan berjalannya waktu, teknologi ponsel terus berkembang. Ponsel buatan BlackBerry sering dianggap sebagai “smartphone” pertama. Ketika itu,  pengguna BlackBerry sudah bisa mengirimkan email melalui ponselnya. Dan karena BlackBerry membanggakan keamanan jaringan, ponsel mereka banyak digunakan oleh pekerja kantoran dan pegawai pemerintah.

Pada 2007, Apple merilis iPhone pertama. Dengan ini, era smartphone yang sebenarnya pun dimulai. Keberadaan smartphone memungkinkan brands untuk menjangkau konsumen dengan lebih akurat dan dalam jangka waktu yang lebih lama. Karena konsumen cenderung menggantungkan diri ke smartphone. Waktu yang mereka habiskan untuk menggunakan smartphone pun terus naik. Pada 2011, rata-rata, warga Amerika Serikat menggunakan smartphone selama 46 menit per hari. Angka ini naik menjadi 258 menit (4 jam 18 menit) per hari pada 2017.

Selain itu, harga smartphone yang lebih murah dari komputer berarti, orang-orang yang tidak dapat membeli komputer, dapat memiliki smartphone dan terhubung ke internet. Jadi, brands punya grup konsumen baru yang bisa dijangkau berkat keberadaan smartphone. Kombinasi smartphone dan media sosial juga membuka peluang yang lebih besar bagi pengiklan untuk menjangkau konsumen.

Sejarah Marketing Dalam Game

Pada 2019, 94% mobile game yang bisa dimainkan dengan gratis menampilkan iklan. Angka ini naik dari 87% pada 2018, menurut survei dari DeltaDNA. Tidak aneh jika jumlah mobile game yang menjadikan iklan sebagai sumber pemasukan bertambah, mengingat pemasukan developer game dari iklan memang tidak kecil. Menurut survei dari Omdia, pada 2019, developer-developer game di dunia mendapatkan US$42 miliar dari iklan dalam game.

Iklan dalam game sering dikaitkan dengan game free-to-play, khususnya mobile game. Namun, sebenarnya, iklan dalam game sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Tentu saja, bentuk iklan dalam game pada tahun 1970-an jauh berbeda dengan iklan dalam game saat ini.

Iklan dalam game pertama muncul di Adventureland, yang diluncurkan pada 1978. Di era 1970-an, tidak banyak game yang memiliki grafik visual, termasuk Adventureland. Namun, hal itu tidak menghentikan developer Scott Adams untuk memasukkan “iklan” dalam game text-based buatannya. Iklan yang Adams masukkan dalam Adventureland merupakan promosi dari The Pirate Adventure, game kedua yang hendak dia buat. Menurut TechSpot, melalui iklan itu, Adams tidak berusaha untuk mendorong orang-orang untuk membeli game yang sedang dia kembangkan. Dia hanya ingin untuk membuat banyak orang tahu akan keberadaan The Pirate Adventure.

Iklan dalam Adventureland. | Sumber: TechSpot

Di era 1980-an, iklan di TV dan bioskop sudah menjadi hal yang lumrah. Misalnya, film Back to the Future menampilkan produk dari sejumlah brands ternama, seperti Nike dan Pepsi. Sementara itu, industri game juga mulai berubah. Pada tahun 1980-an, arcade cabinet dan konsol — seperti NES dan Sega Master System — mulai populer. Melihat hal itu, para pengiklan merasa, game bisa menjadi ladang baru untuk menampilkan iklan.

Advergame, alias game iklan, pertama yang tercatat dalam sejarah adalah Tapper, yang diluncurkan pada 1983. Dalam game ini, pemain harus menyajikan bir Budweiser kepada para pengunjung. Karena itu, arcade cabinet dari game Tapper sering dipasang di bar. Dalam game Tapper, logo Budweiser terpampang jelas. Dengan begitu, pemain pasti akan tahu perusahaan bir yang mensponsori game tersebut. Selain Tapper yang mengiklankan Budweiser, ada beberapa advergame lain yang dirilis pada era 1970-an dan 1980-an, seperti The Ford Simulator, Pepsi Challenge, dan Avoid the Noid dari Domino.

Memasuki era 1990-an, industri game kembali berubah. Game kini menjadi semakin kompleks. Konsol-konsol seperti PlayStation dan Nintendo 64 sudah bisa menampilkan game 3D. Sehingga, game-game 3D pun semakin bermunculan. Dan hal ini membuka kesempatan baru bagi pengiklan untuk menampilkan iklan dalam game.

Menariknya, advergame yang muncul di era 1990-an cukup disukai oleh masyarakat. Misalnya, Pepsiman, yang tersedia di PlayStation. Walau advergame itu dibuat dengan dana terbatas, ia tetap berhasil menyajikan gameplay yang menarik dan sudah menggunakan grafik 3D. Saya pernah memainkan Pepsiman bersama teman ketika saya masih SD. Dan saat itu, saya tidak terlalu memusingkan fakta bahwa game Pepsiman menampilkan iklan Pepsi secara terang-terangan. Satu-satunya hal yang saya pedulikan adalah cara untuk maju ke level berikutnya.

Contoh lain dari advergame yang dirilis pada 1990-an adalah Chex Quest. Game itu dibuat oleh Digital Cafe pada 1996 sebagai iklan untuk sereal Chex. Mengusung genre FPS, Chex Quest layaknya Doom yang lebih ramah anak. Di tahun 1996, Chex Quest memenangkan EFFIE Award for Advertising Effectiveness dan di 1998, game itu mendapatkan Golden Reggie Award untuk Promotional Achievement.

7-Up juga memiliki advergame sendiri, yaitu Cool Spot pada 1993 dan Spot Goes to Hollywood pada 1994. Kedua game itu menampilkan logo 7-Up — yaitu Red Spot alias titik merah — sebagai tokoh utama. Walau Cool Spot disebut sebagai “salah satu platformergame yang paling menyenangkan” oleh majalah teknologi Finlandia, Pelit, Spot Goes to Hollywood justru dikenal karena desain dan kendali yang buruk.

Sejauh ini, biasanya, ada dua jenis iklan dalam game. Pertama, game yang memang dibuat untuk mempromosikan produk tertentu, seperti Chex Quest atau Pepsiman. Kedua, game menampilkan brands atau logo perusahaan, tapi gameplay tidak fokus pada produk yang diiklankan. Terkadang, developer bisa mengintegrasikan iklan ke dalam game dengan baik dan keberadaan iklan justru membuat game terlihat lebih realistis. Contohnya, dalam FIFA atau game olahraga lainnya.

Di dunia nyata, stadion sepak bola memang dipenuhi dengan iklan. Bahkan, seragam pemain pun menampilkan nama atau logo dari sponsor tim. Dan jika developer menampilkan iklan itu dalam FIFA, maka hal itu justru membuat game terlihat seperti dunia nyata. Satu hal yang menarik, developer sebenarnya harus membayar lisensi jika mereka ingin menampilkan logo atau brands dari sebuah perusahaan dalam game. Hanya saja, mereka bisa menghindari hal itu jika mereka menampilkan logo atau brand perusahaan dalam game sebagai iklan.

Sayangnya, tidak semua iklan dalam game bisa diintegrasikan dengan baik. Jika iklan ditampilkan dengan cara yang tidak tepat, hal ini justru bisa merusak pengalaman bermain dari para gamers. Battlefield 2142 adalah salah satu game yang melakukan kesalahan ini. Game itu mengambil setting waktu di masa depan. Namun, game tersebut tetap memiliki billboard digital, yang diisi oleh iklan seperti Pepsi dan Intel. Untungnya, EA menyadari kesalahan mereka dan tidak memasang iklan di game-game Battlefield mereka yang lain.

Iklan dalam Battlefield 2142. | Sumber: TechSpot

Kemunculan mobile game mendisrupsi industri game, baik dari segi cara membuat game maupun cara game dikonsumsi. Salah satu perubahan yang mobile game bawa adalah metode distribusi game. Sebelum kemunculan mobile game, kebanyakan game untuk konsol dan PC diperjualbelikan di toko retail. Namun, untuk mendapatkan mobile game, Anda hanya perlu mengunduhnya melalui toko digital, seperti App Store dan Play Store. Karena mobile game bisa diunduh secara online, developer tidak perlu bingung memikirkan tentang cara mendistribusikan game mereka. Alhasil, muncul banyak developer game indie baru. Selain itu, keberadaan mobile game juga membuat model bisnis free-to-play menjamur. Iklan menjadi salah satu sumber pemasukan game gratis.

Sejak kemunculan smartphone dan mobile game, iklan dalam game menjadi industri dengan nilai miliaran dollar. Dari tahun ke tahun, format iklan dalam game juga terus berubah. Pada awalnya, iklan dalam game yang sering muncul hanya berupa iklan banner atau full-screen. Saat Anda memainkan game free-to-play, Anda pasti akan sering menemukan banner iklan di bagian atas atau bagian bawah layar. Biasanya, banner itu akan menampilkan iklan dari produk yang relevan dengan pemain. Format iklan dalam game lain yang sering ditemukan adalah iklan full-screen yang muncul ketika pemain baru menyelesaikan satu level atau justru ketika mereka kalah. Sementara itu, iklan dalam bentuk video biasanya ditampilkan pada waktu transisi.

Format iklan dalam game yang beragam membuat popularitasnya meroket. Pada saat yang sama, keberadaan iklan dalam game mulai membuat para gamers gerah. Karena, developers mulai mengubah desain game demi bisa menampilkan iklan lebih sering dan memaksimalkan pemasukan dari iklan. Misalnya, setiap level dibuat agar bisa diselesaikan dengan cepat sehingga iklan bisa ditampilkan setiap pemain menyelesaikan satu level. Atau sebaliknya, pemain dibuat mudah “mati” atau kalah agar, sekali lagi, iklan bisa ditampilkan.

Kabar baiknya, belakangan, iklan dalam game juga menjadi semakin kreatif. Misalnya, iklan dari game Homescapes biasanya berupa iklan interaktif. Jadi, Anda bisa “memainkan” game yang diiklankan. Sayangnya, terkadang, iklan interaktif ini tidak menampilkan gameplay yang sebenarnya. Walau harus diakui, iklan interaktif adalah format unik yang hanya bisa ditemukan dalam iklan di game.

Data Iklan Mobile Game dari SocialPeta

Untuk mengetahui keadaan industri iklan dalam game sekarang, saya akan menggunakan data dari SocialPeta. Menurut white paper yang mereka rilis, pada 2021, pertumbuhan mobile game advertisers mulai melambat. Tahun lalu, jumlah mobile game advertisers hanya mengalami pertumbuhan sebesar 5% dari tahun sebelumnya. Padahal, pada 2020, tingkat pertumbuhan mobile game advertisers mencapai 44%. Kabar baiknya, pertumbuhan yang terjadi di era pasca-pandemi menunjukkan tren yang stabil. Pada 2021, total mobile game advertisers mencapai 65 ribu perusahaan. Diperkirakan, angka ini akan mencapai lebih dari 70 ribu entitas pada 2023.

Sementara itu, durasi tayang rata-rata dari iklan game pada 2021 adalah 32,5 hari. Jika dibandingkan dengan durasi tayang rata-rata pada 2020, durasi tayang rata-rata pada 2021 mengalami kenaikan sebesar 87,9%. Memang, sejak 2018, durasi tayang rata-rata iklan terus menunjukkan tren naik. Pada 2018, durasi tayang rata-rata hanya mencapai 7,3 hari. Angka ini naik menjadi 8,7 hari pada 2019, dan kembali naik menjadi 17,3 hari pada 2020.

Durasi tayang rata-rata dari iklan game pada 2021. | Sumber: SocialPeta

Hal lain yang SocialPeta bahas dalam white paper mereka adalah konsumen lebih suka untuk menonton iklan video. Mereka menyebutkan, salah satu alasan mengapa iklan video digemari adalah karena adanya jaringan 5G di sejumlah negara. Memang, pada 2021, kebanyakan iklan mobile game — sebesar 86,01% dari keseluruhan iklan game — menggunakan format video. Jadi, tahun lalu, ada 5,6 juta iklan mobile game yang dibentuk dalam format video. Sementara itu, iklan dalam bentuk gambar hanya memberikan kontribusi sebesar 11,65% pada total iklan mobile game. Dan 2,34% sisanya merupakan iklan menggunakan format selain gambar dan video.

Sejak tahun 2017, iklan dalam bentuk video memang semakin disukai. Buktinya, pada 2017, persentase iklan video dari total iklan hanya mencapai 44,24%. Namun, angka itu terus naik. Pada 2018, persentase iklan video mencapai 64,25% dan naik menjadi 65,49% pada 2019. Pada 2020, persentase iklan video kembali naik, menjadi 69,66%.

Pada tahun 2021, jumlah rata-rata pengiklan aktif setiap bulan mencapai 20 ribu entitas. Pada puncaknya, ada 21.384 entitas yang menjadi pengiklan aktif. Hal ini terjadi pada Juli 2021. Sementara itu, jumlah pengiklan aktif terendah di tahun lalu adalah 17.885 entitas, yang terjadi di bulan Januari 2021. Dari segi jumlah iklan yang tayang, April 2021 menjadi bulan dengan jumlah iklan paling banyak. Ketika itu, jumlah rata-rata iklan per mobile game advertiser mencapai 588 iklan. Sayangnya, pada semester 2 2021, jumlah rata-rata iklan per mobile game advertier mengalami penurunan. November 2021 menjadi waktu dengan jumlah iklan per mobile game advertiser paling rendah, dengan jumlah iklan sebanyak 371 iklan.

Jumlah mobile game advertiers berdasarkan kawasan. | Sumber: SocialPeta

Amerika Utara merupakan kawasan dengan jumlah mobile game advertisers paling banyak. Di kawasan tersebut, ada 41 ribu pengiklan pada 2021, naik 18,72% dari tahun sebelumnya. Sementara itu, kawasan yang mengalami pertumbuhan jumlah mobile game advertisers tertinggi adalah Hong Kong, Macau, dan Taiwan. Pertumbuhan jumlah mobile game advertisers di kawasan tersebut mencapai 23,91% pada 2021.

Seperti yang bisa Anda lihat pada grafik di atas, kebanyakan region di dunia mengalami pertumbuhan jumlah mobile game advertisers. Namun, ada beberapa kawasan yang justru mengalami penurunan, seperti Asia Tenggara yang mengalami penurunan 5,09%, Oceania yang turun 8,93%, Eropa yang turun 9,97%, dan Afrika yang mengalami penurunan sebanyak 3,31%.

Sementara jika Anda mengategorikan game berdasarkan genre, game kasual menjadi genre dengan jumlah pengiklan paling banyak. Secara total, ada 18 ribu game kasual yang menjadi pengiklan. Genre terpopuler ke-2 adalah action. Sebanyak 10 ribu mobile game ber-genre actions menjadi advertisers.

Namun, dari segi jumlah iklan terbanyak, RPG menjadi genre game yang memasang iklan paling banyak. Pada tahun lalu, ada 6,6 juta iklan dari game RPG. Jadi, persentase iklan game RPG mencapai 13,23% dari total iklan mobile game. Genre terpopuler ke-2 adalah kasual, dengan persentase sebesar 12,75%, diikuti oleh puzzle, dengan pangsa pasar sebesar 12,16%.

Hal menarik lain yang SocialPeta temukan adalah di kawasan negara berkembang, durasi tayang sebuah iklan biasanya lebih singkat. Begitu juga dengan iklan yang ditampilkan untuk pada hardcore gamers. Buktinya, durasi tayang rata-rata iklan di Amerika Serikat hanya mencapai 40,6 hari. Di Tiongkok, angka ini mencapai 42,3 hari dan di Eropa, 44,5 hari.

Durasi tayang rata-rata dari iklan di berbagai negara. | Sumber: SocialPeta

Pada Juni 2020, Apple mengatakan bahwa mereka akan menghapuskan Identifier for Advertiers (IDFA). Hal ini dapat mengacaukan ekosistem iPhone, khususnya bagi pengiklan dan developer mobile game. Pasalnya, dengan perubahan ini, pengiklan tidak bisa melacak pengguna iPhone, kecuali jika sang pengguna memang mengaktifkan IDFA. Keputusan Apple memang sejalan dengan strategi mereka selama ini, yang mengedepankan keamanan dan privasi pengguna sebagai kelebihan iPhone. Namun, perubahan tersebut berpotensi untuk membuat ribuan orang di ekosistem iklan aplikasi mobile kehilangan pekerjaan, menurut Brian Bowman, seperti yang dilaporkan oleh VentureBeat.

Berdasarkan white paper dari SocialPeta, keputusan Apple untuk menghapus IDFA memang punya dampak pada ekosistem iklan di iOS. Sekarang, jumlah pengiklan di Android jauh mengalahkan iOS. Dari keseluruhan advertisers di ekosistem mobile, sebanyak 66,73% merupakan pengiklan di Android. Tak hanya itu, jumlah iklan per advertiser di Android kini juga tidak jauh berbeda dengan iOS. Karena, sekarang, semakin banyak perusahaan game yang memilih untuk memasang iklan di Android.

Kabar baiknya, hal itu bukan berarti ekosistem iklan di iOS telah mati. Di iOS, tiga game dengan jumlah iklan terbanyak adalah Cash Frenzy, Jackpot World, dan Mafia City. Sementara tiga game dengan jumlah downloads terbanyak di iOS adalah Subway Surfers, Project Makeover, dan Roblox. Dari segi pemasukan, tiga game dengan pendapatan tertinggi adalah Honor of Kings, Roblox, dan Peacekeeper Elite.

Mari kita bandingkan dengan Android. Di Android, tiga game dengan iklan terbanyak adalah Jackpot World, Cash Frenzy, dan Lotsa Slots. Sementara tiga game dengan jumlah downloads terbanyak adalah Free Fire, Subway Surfers, dan Ludo King. Untuk tiga game dengan pemasukan terbesar adalah Coin Masters, Uma Musume: Pretty Derby, dan Roblox. Menariknya, saat ini, Uma Musume: Pretty Derby hanya tersedia di Jepang. Tapi, game itu tetap berhasil masuk ke top 3 game Android dengan pemasukan terbesar.

Data mobile game advertisers di platform-platform Meta. | Sumber: SocialPeta

Facebook adalah aplikasi pertama yang berhasil mendapatkan 2 miliar pengguna aktif bulanan (MAU). Sementara Instagram — media sosial yang juga ada di bawah naungan Facebook — kini juga memiliki lebih dari 1 miliar MAU. Selain itu, Facebook juga memiliki Messenger dan Audience Network. Dan sejauh ini, platform di bawah Facebook masih menjadi platform favorit bagi mobile game yang ingin memasang iklan.

Secara total, ada lebih dari 47,1 ribu mobile game advertisers di Meta. Jumlah pengiklan rata-rata per bulan di Facebook mencapai 15,3 ribu mobile game advertiers, di Instagram 14,6 ribu pengiklan, di Audience Network terdapat 14,2 ribu pengiklan, dan di Messenger, terdapat 14 ribu advertisers. Dari segi genre, game kasual memiliki jumlah pengiklan paling banyak. Tahun lalu, ada 51,8 ribu game kasual yang menjadi pengiklan di platform Meta. Genre game dengan jumlah pengiklan terbanyak ke-2 adalah puzzle, diikuti oleh action. Sementara dari segi jumlah iklan, RPG merupakan genre dengan jumlah iklan terbanyak, diikuti oleh kasual dan puzzle.

Dalam white paper-nya, SocialPeta juga mencari tahu tentang biaya iklan untuk mobile game. Amerika Serikat menjadi negara dengan Cost per Mille (CPM) paling mahal. Di sana, biaya untuk mengakuisisi seribu pemain mencapai US$28,18. Negara dengan CPM termahal ke-2 adalah Australia, yang memiliki CPM sebesar US$27,2. Jepang ada di posisi ke-3 (CPM US$25,84) dan Korea Selatan ada di posisi ke-4 (CPM US$24,73). Dari semua negara Asia Tenggara, Singapura menjadi satu-satunya negara yang masuk ke dalam daftar 10 negara dengan CPM termahal. Negara itu ada di peringkat 8, dengan CPM sebesar US$22.03.

Biaya CPM per negara. | Sumber: SocialPeta

Ada dua platform Google yang menjadi perhatian SocialPeta, yaitu AdMob dan YouTube. Di AdMob, tiga game yang paling sering memasang iklan adalah Sudoku, Mobile Legends, diikuti oleh Happy Color. Sementara di YouTube, Genshin Impact menjadi game yang paling sering memasang iklan, diikuti oleh Mobile Legends.

Tren pengiklan di platform Google tidak jauh berbeda dengan pengiklan di media sosial. Game kasual masih menjadi genre dengan jumlah pengiklan terbanyak. Sebanyak 18,08% dari total mobile game advertisers di platform Google merupakan game kasual. Hal itu berarti, ada 4,7 ribu game kasual yang memasang iklan di AdMob dan YouTube. Genre dengan jumlah pengiklan terbanyak ke-2 adalah puzzle, diikuti oleh simulation. Sementara dari segi jumlah iklan, puzzle menjadi genre game dengan jumlah iklan terbanyak: mencapai 180 ribu iklan. RPG menjadi genre dengan jumlah iklan terbanyak ke-2 dan posisi ke-3 ditempati oleh genre strategi.

Di Asia Tenggara, kebanyakan mobile game yang memasang iklan merupakan game kasual. Dari seluruh mobile game advertisers di Asia Tenggara, 18% merupakan game kasual. Sementara itu, RPG menjadi genre dengan jumlah iklan paling banyak. Pada 2021, jumlah mobile game advertisers di Asia Tenggara mencapai 17,1 ribu pengiklan. Per bulan, jumlah rata-rata pengiklan mencapai 7,6 ribu advertisers. Sementara itu, jumlah pengiklan mencapai titik tertinggi pada bulan Agustus 2021. Ketika itu, ada 8,4 ribu advertisers. Dan titik terendah terjadi pada Januari 2021, yang hanya memiliki 6,8 ribu pengiklan.

10 game dengan total download dan pemasukan terbesar di Asia Tenggara. | Sumber: SocialPeta

Tiga game yang paling sering memasang iklan di Asia Tenggara adalah Jackpot World, Gaple, dan Lotsa Slots. Di iOS, tiga game dengan total downloads paling banyak adalah Free Fire, Subway Surfers, dan Moble Legends. Dan tiga game dengan pemasukan paling besar adalah Genshin Impact, Free Fire, dan PUBG Mobile. Sementara di Play Store, posisi tiga teratas dalam daftar game dengan jumlah downloads terbanyak diisi oleh Mobile Legends, Worms Zone.io, dan Higgs Domino Island. Dan tiga game dengan pemasukan terbesar adalah Free Fire, Genshin Impact, serta Mobile Legends.

Penutup

Dalam On the Origin of the Species, Charles Darwin mengatakan, spesies yang bisa bertahan hidup bukanlah spesies yang paling kuat atau paling cerdas, tapi spesies yang bisa menyesuaikan diri. Pada akhir 2021, Facebook melakukan rebranding dan mengganti nama perusahaan menjadi Meta. Alasannya adalah karena mereka ingin fokus pada metaverse, salah satu teknologi baru yang kini tengah hype.

Dalam laporan terbarunya, Newzoo memperkirakan, alasan Facebook mengubah jati diri menjadi Meta adalah karena pengguna media sosial Facebook mulai menua. Sementara itu, Gen Z cenderung menggunakan media sosial yang lebih baru, seperti Instagram, Snapchat, dan TikTok. Dan karena Gen Z mulai sulit untuk dijangkau dengan media sosial, kemungkinan, metaverse akan menjadi alat untuk mendekatkan diri dengan Gen Z dan Gen Alpha.

Dari sini, kita bisa menyimpulkan, sebuah industri akan terus berubah, mengikuti perkembangan zaman. Begitu juga dengan industri iklan. Selama beratus-ratus tahun, industri iklan memang sudah mengalami perubahan. Ke depan, jika pelaku industri iklan ingin bertahan, mereka juga akan menyesuaikan strategi dan alat yang mereka gunakan. Di masa depan, tidak tertutup kemungkinan, metaverse juga akan menjadi alat lain bagi marketer untuk menjangkau konsumen mereka.

Sumber header: Steam

Play video

27 June 2022

Ledger NFT Marketplace #shorts

Ledger umumkan markteplace NFT. Berita lengkap ...

Others from #HybridTV