Esports Ecosystem

[Profile] Herry Wijaya: Kekurangan Event Esports Indonesia Ada pada Minimnya Pemahaman Fundamental Event

29 Jun 2020 | Yabes Elia
Apa yang bisa kita pelajari dari salah satu orang paling senior dalam hal event organizer esports di Indonesia?

Event esports di Indonesia memang sudah berkembang pesat 2 tahun terakhir — meski saat ini sedang bergeser ke online karena pandemi. Kemilau lampu warna warni, kemegahan panggung bagi para atlet esports beradu kemampuan, layar lebar segede gaban, serta gemuruh teriakan para penggemar esports yang membuat atmosfir event esports terasa begitu unik dan berkesan memang sudah biasa ditemukan di gelaran esports di tanah air belakangan ini.

Sayangnya, di balik itu semua, tidak sedikit juga event esports di tanah air yang masih memiliki begitu banyak kekurangan — seperti jadwal acara yang ngaret sampai berjam-jam, persoalan koneksi internet, dan lain sebagainya. Di sisi lainnya, satu hal yang saya pribadi percayai, kita bisa belajar dari mereka-mereka yang sudah lebih dulu punya pengalaman lebih matang.

Karena itulah, saya sengaja mengajak salah satu kawan saya yang satu ini untuk berbincang-bincang seputar pengalamannya. Herry Wijaya, Head of Operation Mineski Global Indonesia, adalah salah satu dari segelintir orang yang telah mengantongi segudang pengalaman seputar event esports di Indonesia.

Awal Perjalanan Kariernya

Herry pun bercerita bahwa awal perkenalannya menangani event adalah saat ia masih SMA (SLTA, SMU atau apapun namanya sekarang ini). “Sama seperti kebanyakan anak-anak SMA yang lain, gua juga berangkat dari pensi (pentas seni), termasuk waktu itu juga sudah jualan sponsorship.” Kata Herry mengawali ceritanya.

Herry juga mengaku dulu sempat menjadi anak band namun ia mengurungkan niat tersebut karena merasa karier di musik itu berat modalnya. Zaman dulu, belum ada YouTube jadi setiap anak band yang bercita-cita ingin berkarier jadi musisi harus lewat music label. Ia pun memilih untuk lebih sibuk mengurus event.

Dokumentasi: Mineski Indonesia
Herry Wijaya. Dokumentasi: Mineski Indonesia

Selepas lulus sekolah, Herry sempat belajar servis komputer dan ponsel karena memiliki ketertarikan di sana. Kemudian, ia bercerita mendapatkan beasiswa untuk kuliah di jurusan IT. Namun, belum sempat menyelesaikan gelarnya, ia berhenti untuk jadi broker Forex dan Index. Kala itu, ia mengaku melihat banyak dinamikanya bekerja di bidang ini karena harus selalu memerhatikan sentimen-sentimen yang ada di pasar.

Berjalan satu tahun, ia mendapatkan tawaran untuk kuliah lagi namun di jurusan manajemen. Ia pun mengambil tawaran tersebut. Tak lama setelahnya, dia juga berkesempatan untuk berbisnis sebagai wedding organizer. “Berangkat dari situ, gua pun jadi keranjingan dengan yang namanya event. Gua belajar dari front-end sampai back-end.” Ujar Herry melalui sambungan Voice Call via Discord.

Masuknya Herry ke industri gaming

Sumber: Mineski Infinity Indonesia
Bagaimana peluang bisnis warnet di tengah geliat esports? Sumber: Mineski Infinity Indonesia.

Herry bercerita bahwa awal mulanya ia masuk ke industri gaming dan seputarnya adalah saat ada satu investor yang menawarinya untuk membuka warnet (warung internet). Herry lalu mengambil kesempatan itu dan membuka warnet yang bernama Velocy.

Saat itu, Herry juga sebenarnya bermain DotA namun ia mengaku selalu kalah saat berhadapan dengan para pemain legendaris dari Indonesia saat itu seperti Ritter ataupun Lakuci. Sembari menjalankan bisnis warnetnya, ia juga mendapatkan tawaran untuk bekerja di salah satu publisher game sebagai Assistant Project Manager. Sayangnya, perjalanannya di publisher game ini tak lama.

Ia pun kembali fokus ke Velocy namun ia mengaku sudah merasa bosan di sana. Kemudian, ada seorang kawannya yang sama-sama berkecimpung di warnet mengajaknnya untuk membantu menangani warnet yang berkapasitas 200 PC. Dari sana, Herry mendapatkan kesempatan baru dari layanan video streaming. Saat itu ia dipercaya oleh HalloStar untuk menjadi agency yang merekrut talent-talent untuk konten gaming seperti Vina Eleast, Kelly Boham, dan yang lainnya.

Beberapa bulan proyek tersebut berjalan, ia juga ditawari untuk menjalankan event untuk HalloStar. Event-event gaming saat itu juga sudah mulai bermunculan. Ia pun bertemu dengan Eddy Lim (pemilik Ligagame dan Ketua IESPA). Meski awalnya hanya ditawari untuk menangani satu proyek event, Herry pun akhirnya bergabung dengan Ligagame. Di sana, Herry bercerita banyak belajar soal broadcasting.

IGC 2017. Sumber: IGC
IGC 2017. Dokumentasi: Indonesia Games Championship

Karena ada beberapa hal yang tidak bisa saya tuliskan di sini (wkawkakwka), Herry pun meninggalkan Ligagame. Namun, setelah meninggalkan Ligagame, kepedulian Herry atas esports Indonesia bertumbuh semakin kuat. Ia pun mencari kendaraan baru yang bisa ia gunakan untuk membangun esports di Indonesia. Kemudian, Herry mengaku mendapatkan tawaran untuk ikut menggarap IGC (Indonesia Games Championship) 2017 sebagai salah satu subcontractor.  Menurutnya, IGC 2017 itu adalah salah satu milestone terbesar sepanjang perjalanan kariernya.

Setelah IGC selesai, ia pun bergabung dengan tim yang menangani proyek tadi yang bernama WOG (yang sebelumnya dikenal dengan nama Kairos). Pasca dari Kairos, Herry pun sempat meninggalkan industri esports. Ia masih berkecimpung di event sebenarnya namun tak lagi di ranah esports. Saat itu, beberapa bentuk proyeknya seperti annual meetingconference, gathering dari berbagai ranah industri.

Herry sebenarnya mengaku sudah asyik dengan proyek ini waktu Agustian Hwang, CEO Mineski Global Indonesia, mengajaknnya untuk menangani proyek MPL ID S3. Di satu sisi, Herry mengaku tidak terlalu tertarik untuk menangani proyek tersebut. Namun di sisi lain, ia takut jika proyek dengan budget besar itu berantakan karena tidak ditangani oleh yang berpengalaman. Karena itulah, awalnya Herry memutuskan untuk mengambil proyek tersebut dan menyelesaikannya sebelum kembali lagi ke event-event sebelumnya. Namun demikian, untungnya Herry ternyata tetap bertahan sampai sekarang dan bahkan naik jabatan jadi Head of Operation sampai sekarang.

Pendapat Herry soal event esports di Indonesia

Sumber: Dokumentasi Eddy Lim
Sumber: Dokumentasi Eddy Lim

Sebenarnya cerita Herry ke saya seputar perjalanan kariernya masih banyak namun saya takut menjabarkannya semua di sini (kwakwakkwa) dan mungkin akan jadi terlalu panjang juga. Meski begitu, setidaknya cerita tadi bisa menjadi gambaran segudang pengalamannya.

Mengingat Herry juga sudah terjun menangani event-event esports di Indonesia sejak beberapa tahun lalu, saya pun menanyakan pendapatkan tentang perkembangan event esports di Indonesia dan perbedaannya. Ia mengatakan bahwa ada 3 fase perkembangan event esports di Indonesia sampai hari ini.

Fase pertama adalah saat zaman WCG (World Cyber Games). Menurut Herry, di fase ini sebagian besar event bisa dibilang sebagai turnamen liar dan WCG yang menjadi kulminasi dari berbagai turnamen liar tadi. Informasi-informasi turnamen di fase ini hanya ada di forum-forum seperti Ligagame.

Fase kedua adalah saat ia bekerja untuk WOG. Menurutnya, fase ini masih sangat konservatif karena orang-orang masih menunggu. Semua hal yang dibutuhkan, seperti teknologi, sebenarnya sudah ada di fase ini namun orang-orang masih ragu apakah esports akan ramai atau tidak.

Fase ketiga dimulai dengan MSC 2017 dan esports Mobile Legends. Bagi Herry, MSC 2017 adalah sebuah proof of concept bahwa esports memang sudah siap dijalankan di Indonesia. Namun demikian, Herry mengatakan pertumbuhan industri esports pasca MSC 2017 ini terlalu cepat yang bisa jadi berbahaya. Menurutnya, hanya 30% dari total pelaku industri esports sekarang yang nantinya masih bisa bertahan. 2 tahun ke depan ini yang akan jadi fase-fase pengujiannya.

Dokumentasi: Herry Wijaya
Dokumentasi: Herry Wijaya

Lalu, jika berbicara soal beberapa kekurangan di event-event esports yang terjadi di Indonesia, sebenarnya apa penyebabnya? Menurut Herry, kekurangannya ada di fundamental pemahaman orang-orangnya terhadap event. “Fundamental event itu apa aja sih, marketing, operation, dan sales; sama kalau di esports ada aspek baru yaitu broadcasting-nya.” Jawab Herry yakin.

Berhubung Herry memang kebetulan sudah menggarap begitu banyak event bahkan di luar ranah esport sekalipun, kemudian apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang event di esports sekarang yang mungkin memang belum punya kesempatan menangani event lain dan langsung terjun ke esports?

“Ya mereka harus nge-track apa yang salah dari mereka, dari aspek-aspek fundamental itu apa yang salah. Lu cek lagi, berkaca lagi. Kalau lu ga bisa ngakuin kesalahan lu, itu lebih fatal lagi sih…” Jelas Herry. Saya sepenuhnya setuju dengan pendapat ini. Saya kira melakukan kesalahan itu memang sebenarnya bagian dari proses belajar selama memang bisa disadari sebelum bisa dibenahi.

Terakhir, apakah Herry ada saran buat anak-anak muda yang ingin terjun ke event esports? “Tentukan ekspektasinya apa. Atur aksi dan reaksi. Maksudnya, dengan waktu yang lu punya, apakah tujuan itu bakal tercapai? Ada goal yang harus ditentukan sebelumnya.” Tutup Herry.

Dokumentasi: Herry Wijaya
Dokumentasi: Herry Wijaya

Penutup

Tentu saja, seperti yang selalu saya katakan saat menuliskan perjalanan karier/hidup seseorang, adalah sebuah penyederhanaan yang keterlaluan saat mencoba memampatkan sekian banyak pengalaman tadi menjadi kata-kata — berapapun itu jumlahnya.

Namun demikian, jika saya boleh menyimpulkan sendiri dari cerita pengalaman Herry ini, salah satu hal yang berhasil membawanya sampai ke titik ini adalah pengalamannya menangani berbagai event bahkan di luar esports sekalipun sampai proyek-proyek lainnya seperti bisnis warnetpublisher gamebroker Forex, ataupun yang lainnya.

Jadi, jangan takut untuk menimba segala macam pengalaman juga meski awalnya tidak terlihat relevan dengan cita-cita Anda. Satu hal yang selalu saya percayai, belajar apapun tidak akan pernah berakhir dengan sia-sia.