Esports Ecosystem

Peluang Bisnis Warnet di Tengah Geliat Industri Esports

06 Nov 2018 | Yabes Elia
Membahas juga tentang pergeseran kebutuhan di tengah berkembangnya peminat game eSports

Warnet atau iCafe merupakan salah satu komponen penting di ekosistem / industri esports. Muasalnya, warnet mampu memberikan akses ke para pemain amatir/calon pro player yang tak punya PC pribadi untuk berlatih. Selain itu, warnet sendiri bisa menjadi titik atau ruang berkumpul untuk para pemain ataupun penggiat esports.

Namun demikian, industri warnet di Indonesia telah berevolusi dari waktu ke waktu. Bisnis warnet juga sekarang sudah tak lagi termasuk bisnis ‘gampang’ seperti saat ia menjamur sekitar satu dasawarsa lalu.

Pergeseran Kebutuhan

Bisnis warnet di jaman dulu memang boleh dibilang mudah karena hanya perlu menyediakan ruangan, koneksi internet, dan PC seadanya. Koneksi internetnya pun lebih murah karena kala itu seiring dengan masa kejayaan game-game MMO Free-to-Play di PC yang servernya berada di Indonesia (jadi koneksi internetnya pun lebih difokuskan ke koneksi lokal).

Spek PC seadanya juga dulu masih memungkinkan karena kebutuhkan spesifikasi game-game MMO gratisan tadi juga bisa dijalankan di PC dengan grafis onboard.

Sekarang, industri warnet telah berubah mengikuti pergeseran industri game secara umum. Gamer kelas menengah bawah sekarang beralih ke game mobile. Sedangkan gamer kelas menengah ke atas sudah pasti tak nyaman dengan warnet yang jorok, berisik, dan di-manage seadanya.

Gamer kelas menengah juga memiliki selera game yang berbeda yang butuh spesifikasi lebih berat dan koneksi internet ke server luar, setidaknya ke Singapura.

Pergeseran industri warnet ini sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa tahun silam, sekitar 5-6 tahun yang lalu, saat konsep icafe mulai populer dan digunakan. Namun, bisnis warnet yang telah mengusung konsep icafe tadi juga tidak serta merta langgeng dan mampu bertahan sampai hari ini.

Misalnya saja di Jakarta, ada 3 warnet yang sebenarnya dulu cukup populer dan telah mengusung konsep icafe: Gamer Xtreme dan Ritter di Tanjung Duren, dan Level One di Kemanggisan. 3 warnet ini bahkan boleh dibilang punya lokasi yang strategis karena letaknya yang berada di tengah-tengah komunitas gamer (karena berada di dekat kampus Universitas Tarumanagara dan Bina Nusantara).

Perlu Saluran Pemasukan Baru

Saya pun berbincang-bincang dengan beberapa pihak untuk mencari tahu soal bisnis warnet di jaman sekarang ini, dengan penetrasi mobile gaming yang masih agresif dan esports yang kian kencang.

Salah seorang kawan saya, Turyana Ramlan, yang merupakan salah satu pemain di bisnis warnet cukup lama dan Admin Pusat KWI (Komunitas Warnet Indonesia) mengatakan bahwa bisnis warnet di jaman sekarang sudah tidak bisa lagi mengandalkan keuntungan dari billing (tagihan sewa koneksi dan PC) namun dari berbagai pemasukan lainnya, seperti sponsor alias iklan.

Aspek iklan ini memang menarik karena mungkin memang belum banyak yang mengadopsinya. “Bayangkan jika ada 1000 pengguna yang datang ke warnet kita setiap bulannya, masak brand ga mau pasang iklan?” Ujar Ramlan saat saya temui di acara Grand Launching Highgrounds Indonesia di Pantai Indah Kapuk.

Makanan dan minuman yang dijual di icafe juga bisa mendatangkan keuntungan yang lebih besar dari billing.

Lalu bagaimana dengan mobile gaming? Ramlan mengatakan, “industri mobile harusnya bukan dimusuhi tapi dirangkul.” “Sediakan saja Wi-Fi dan ruangan yang nyaman bagi para mobile gamer untuk bermain di warnet. Sediakan juga paket Wi-Fi nya.”

Misalnya, ia menambahkan, buat pelanggan yang ingin Wi-Fi gratisan kasih saja koneksi yang putus setiap satu jam. Sediakan juga voucher Wi-Fi yang harganya bisa disesuaikan, seperti billing PC.

Selain cara-cara tadi, masih banyak juga sebenarnya bentuk pemasukan yang bisa dicari lagi. Misalnya, bisa saja menjadikan warnet sebagai One-Stop gaming center yang tak hanya menyediakan PC. Console, misalnya, yang memang sudah disediakan di beberapa warnet. Ada juga mesin arcade yang bisa ditaruh di warnet untuk memberikan pengalaman gaming yang berbeda.

Ia juga berargumen bahwa masih banyak manajemen warnet yang tidak mengedepankan layanan. Industri warnet adalah soal layanan dan masih banyak pemilik warnet yang belum menyadari hal tersebut. Karena itu jugalah, ia berargumen bahwa OP warnet (sebutan untuk karyawan yang berinteraksi langsung dengan pelanggan) juga harus dilatih dan dididik untuk bisa menyenangkan pelanggan.

OP warnet adalah ujung tombak dari bisnis warnet karena ia yang merepresentasikan (jadi image) warnet ke pelanggan.

Ramlan pun mengatakan, “ga bisa lagi bisnis warnet dengan modal pas-pasan dan manajemen sekenanya. Bisnis warnet yang ilegal, tak ada ijin, menggunakan game ataupun sistem operasi (Windows) bajakan juga akan mengubah image industri warnet jadi negatif.”

Sumber: Highgrounds Indonesia
Sumber: Highgrounds Indonesia

Bisa berkembang bersama esports

Diana Tjong, Owner dari Highgrounds Indonesia, yang saya temui di acara yang sama juga saya tanyakan pendapatnya tentang bisnis warnet sekarang ini. Menurutnya, bisnis warnet sekarang ini bisa berkembang karena industri esports yang sedang kencang pertumbuhannya.

Selain itu, Highgrounds sendiri juga diposisikan untuk kelas atas sehingga memberikan keunikan sendiri dibandingkan yang lain. Lokasinya pun di Pantai Indah Kapuk yang memang boleh dibilang kalangan menengah atas. Kenyamanan adalah keunggulan utama yang ditawarkan oleh Highgrounds.

Harga billing di sana pun juga disesuaikan dengan target pasar mereka. Di sana billing per jamnya bahkan mencapai Rp.20 ribu/jam. Hal ini tentunya dapat menyaring pelanggannya juga secara otomatis. Meski menawarkan harga yang relatif tinggi dibanding warnet lainnya, Highgrounds menyediakan spesifikasi yang mewah. Kartu grafis yang digunakan di PC mereka bahkan menggunakan NVIDIA GTX 1080Ti.

Sumber: Highgrounds Indonesia
Sumber: Highgrounds Indonesia

Segmentasi ini, bagi saya, juga bisa jadi solusi untuk bisa terus langgeng. Ijinkan saya berbagi cerita yang saya dengar dari Ramlan di sini sebagai satu argumentasi untuk menjelaskan poin saya.

Di salah satu warnet yang telah mengusung iCafe, para pelanggannya yang kebanyakan mahasiswa mengeluhkan terlalu banyak user bocah. Namun manajemen warnet justru menurunkan harga saat weekend yang justru berakibat lebih banyak bocah yang datang.

Saya sendiri juga sebenarnya salah satu orang yang tidak nyaman bermain di warnet yang terlalu berisik. Plus, segmentasi produk yang jelas juga sebenarnya sangat berguna demi kelanggengan bisnis.

Dari cerita Diana sendiri juga terbukti bahwa Highgrounds juga dikunjungi oleh para keluarga sebagai pelanggannya. “Orang tua tidak khawatir menitipkan anaknya di sini karena kami juga menawarkan kenyamanan dan keamanan.”

Opsi Franchise

Jika Anda masih bingung dengan banyak hal, bisnis warnet jaman sekarang juga ada opsi franchise seperti yang ditawarkan oleh TNC dan Mineski Infinity.

Sumber: Mineski Infinity Indonesia
Sumber: Mineski Infinity Indonesia

Saya pun menghubungi Nadya Sulastri, Country Manager dari Mineski Infinity Indonesia untuk berbincang. Mineski Infinity Sendiri merupakan unit bisnis dari Mineski yang menawarkan waralaba warnet/iCafe yang diklaim bertujuan memuaskan kepuasan pelanggan sekaligus menjamin skema investasi yang menguntungkan.

Menurut Nadya, perspektif peremajaan PC juga luput dari beberapa pelaku bisnis warnet yang tak mampu bertahan.

“Dalam sebuah bisnis yang bersifat brick & mortar, cukup wajar untuk melakukan peremajaan setiap 5 tahun sekali, seperti renovasi, peralatan elektronik, dll. Sama juga halnya seperti cybercafe, PC yang digunakan akan butuh peremajaan minimal 5 tahun sekali karena performa yang sudah tidak memadai.”

Sumber: Mineski Infinity Indonesia
Sumber: Mineski Infinity Indonesia

Lalu berapa besar modal yang dibutuhkan untuk membuat warnet Mineski Infinity?

“Paket franchise kita start from Rp.900 juta. All-in untuk 40 PC dan dari mulai site visit, renovasi, pengisian barang elektronik, berikut grand opening dan training staffnya.” Jelasnya.

Nadya juga mengutarakan hal yang sama dengan Ramlan dan Diana tentang manajemen warnet.

“Untuk membangun sebuah warnet cukup mudah, bisa dibilang toko komputer pun mungkin sudah bisa karena cukup menyediakan PC dan instalasi software serta networking. Tetapi untuk mengelola bisnis warnet, apalagi menjadi success story, hanya dapat dilakukan oleh mereka yang benar expertise di ekosistemnya; mulai dari teknologi, komunitas, loyalty program, marketing, serta yang tidak boleh ketinggalan terjun langsung ke dalam esports.

Tak ketinggalan, ide untuk merangkul gamer mobile juga disampaikan oleh Nadya. Karena Mineski Infinity juga menawarkan jaringan Wi-Fi yang sangat stabil untuk bermain game.

Sumber: ESL
Sumber: ESL

Penutup

Akhirnya, itu tadi berbagai ide dan insight yang mungkin Anda butuhkan jika tertarik untuk ikut terjun ataupun bertahan di bisnis warnet, mulai dari mencari ide-ide kreatif baru untuk menambah pendapatan seperti yang dilakukan Ramlan, memberikan kepuasan tertinggi kepada pelanggan seperti Highgrounds Indonesia, ataupun langsung bergabung dengan waralaba seperti Mineski Infinity.

1 hal yang pasti yang bisa Anda lakukan di bisnis warnet adalah, jika dulu bersinergi dengan game-game MMO gratisan, berkembang bersama dengan esports yang masih akan menggiurkan sampai bertahun-tahun ke depan.