Featured Article

[Exclusive] Saweria: Streamer Game Bisa Dapatkan Rp44 Juta Sebulan dari Dana Dukungan

14 Oct 2020 | Yabes Elia
Saweria adalah jembatan interaksi antara konten kreator dengan penontonnya

Konten kreator, khususnya di ranah gaming memang biasanya mendapatkan pendapatan dari sponsor alias iklan. Namun hal ini sebenarnya jadi menciptakan gaya dan tren konten yang itu-itu saja karena mereka mencoba mencari penonton sebanyak-banyaknya agar dilirik pengiklan. Konten kreator yang membahas konten-konten niche jadi kian sedikit karena dianggap tak mampu menarik perhatian sponsor, yang akhirnya juga tak bisa mencari pemasukkan dari hasil jerih payahnya.

Jujur saja, karena itulah, saya sungguh tertarik untuk metode lain dalam menghasilkan pendapatan. Salah satu metode pendapatan lain yang sebenarnya sudah berjalan buat konten kreator di luar sana adalah aliran dana dari para pendukungnya. Anda bisa membaca lebih lanjut soal ini di artikel yang sebelumnya kami tuliskan.

Dengan mencari dana dukungan dari para penonton, seorang konten kreator mungkin tak perlu mencari penonton sebanyak-banyaknya namun lebih mencari penonton setia meski niche topik bahasannya. Salah satu contoh konkretnya adalah soal PC gaming dan mobile gaming. Jika Anda mencari massa sebanyak-banyaknya, mobile gaming memang lebih masuk akal. Namun, pecinta PC gaming bisa jadi berada di kelas ekonomi yang lebih tinggi sehingga mau merogoh kocek untuk memberikan dana dukungan kepada idolanya.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan cerita dari seorang kawan (streamer Dota 2) yang mengatakan bahwa pendapatannya dari donasi penonton bisa mencapai Rp7 juta dalam satu pekan. Salah satu sarana yang memungkinkan kawan saya meraih pendapatan tersebut adalah Saweria.

 

Tentang Saweria

Untuk menggali lebih jauh tentang potensi pendapatan dari dana dukungan itu pun, saya langsung menghubungi Saweria. Saya pun berbincang dengan Natalia, salah satu Co-Founder dari Saweria lewat Google Meet.

Buat yang belum tahu, Saweria adalah jembatan interaksi live-streamer dengan penonton. Dengan kata lain, Saweria adalah sebuah layanan yang membantu konten kreator untuk mendapatkan dukungan finansial dari penikmat karyanya. Saat ini, Anda bisa memberikan dukungan lewat Saweria melalui 4 ewallet terbesar yang ada di Indonesia yaitu GoPay, OVO, DANA, dan LinkAja. Buat konten kreatornya, dana Anda bisa dicairkan ke semua rekening bank di Indonesia. Untuk lebih jauh tentang Saweria, Anda bisa membaca sendiri keterangan lengkapnya di tautan ini.

Oh iya, untuk setiap transaksi dana dukungan yang diberikan, ada potongan sebesar 5% lewat semua ewallet (kecuali OVO yang sebesar 6%). Untuk mencairkan dana, Anda juga akan dikenakan potongan sebesar Rp5000 setiap kali cash-out. Menurut Natalia, potongan tersebut sepenuhnya dari sistem payment yang digunakan. Dana minimal yang bisa dicairkan adalah Rp100 ribu. Sedangkan dana dukungan minimal yang bisa dikirimkan adalah Rp10 ribu.

Menariknya, Natalia pun bercerita bagaimana Saweria berdiri di 2019. Ia bercerita bahwa salah satu Co-Founder Saweria lainnya memang berkawan dengan konten kreator dan gamer. Ia memang suka mencoba produk-produk baru yang unik. Maka dari itu, Saweria dibuat untuk memberikan dukungan lebih kepada orang-orang di industri kreatif.

 

Under the Hood 

Setelah kita berkenalan, mungkin inilah yang Anda tunggu-tunggu. Saat kami berbincang, saya pun menanyakan market share pengguna Saweria. Natalia pun mengatakan bahwa 90% streamer di Saweria memang datang dari ranah gaming. Meski begitu, ia juga mengatakan ada juga streamer dari ranah musik (seperti band atau DJ) ataupun 3D Artist.

Lalu seberapa besar sebenarnya donasi-donasi yang dikirimkan lewat Saweria? Natalia mengatakan, “dana dukungan rata-rata yang diberikan oleh fans ada di Rp27 ribu. Sedangkan highest earner di Saweria bisa mencapai Rp44 juta dalam sebulan. 10 penerima dana dukungan terbesar di Saweria juga gamer.”

Kemudian, apakah ada kurasi dari pihak Saweria untuk siapa saja yang boleh menggunakan? Menurut penjelasan Natalia, patokan yang digunakan adalah hukum yang berlaku di Indonesia. Ia pun mengungkap sebenarnya ada beberapa yang terkait dengan konten pornografi namun pihak Saweria akan langsung menutupnya jika hal tersebut ditemukan. Untungnya, menurut Natalia, komunitas gamer (mayoritas pengguna Saweria) memang tidak separah itu.

Saweria
Saweria

Sebaliknya, apakah Saweria juga akan aktif mencari streamer atau kreator konten untuk diajak kerja sama? “Sementara itu kita memang belum mengejar ke sana. Promosinya memang masih lumayan minimal. Namun kita sangat terbuka untuk berbincang dengan para streamer dan kreator konten yang butuh bantuan untuk mencari dukungan.”

Meski usaha promosinya minimal, mungkin memang industri gaming sedang hangat-hangatnya. Pasalnya, Natalia mengatakan bahwa Daily Active Users di Saweria mencapai 500-700 streamer. Itu angka streamer atau kreator konten yang menerima dana dukungan ya. Harusnya, menurut saya, pengguna yang memberikan dukungan bisa lebih banyak dari angka tadi. Sedangkan halaman utama website Saweria mendapatkan 700 ribu Pageviews setiap minggunya.

 

Industry Insight

Angka Rp7 juta dalam satu pekan (dari kawan saya) ataupun Rp44 juta dalam satu bulan (pendapatan terbesar di Saweria, saat artikel ini ditulis), itu memang tidak kecil. Faktanya, angka tersebut bahkan mungkin lebih besar jumlahnya dari harga yang disodorkan oleh beberapa sponsor — apalagi tidak sedikit sponsor yang maunya kasih produk… Uhuk… 

Namun pertanyaannya, apakah aliran dana dari fans bisa mengalahkan pendapatan dari sponsor? Natalia pun menjawab, “gaming itu lagi hot. Akan ada lebih banyak uang yang mengalir ke industri ini. Jadi kayaknya ga mungkin sih ngalahin dana dari sponsor. Lagipula, tujuan kita memang membantu small to medium streamer sih… Biar mereka bisa terus produktif meski baru memulai.”

Selain itu tadi, kebanyakan pengguna internet di Indonesia berpikir bahwa konten itu harusnya gratis. Lalu kenapa hal ini bisa berubah sekarang?

Saweria percaya bahwa fans itu rela memberikan dana dukungan jika mereka benar-benar menyukai konten yang disuguhkan. Apalagi di zaman demokratisasi konten sekarang ini, setiap orang berhak membuat konten ataupun memilih konten yang ingin dikonsumsi. Dengan memberikan dana dukungan, hal tersebut seperti sebuah vote untuk konten seperti apa yang disukai oleh masing-masing orang.

Selain itu, meski sistem donasi ini juga sudah berjalan dari beberapa tahun silam, ekosistem di Indonesia yang tidak memiliki sarana untuk memberikan dukungan itu. “Dulu misalnya kan ramai pakai PayPal tapi orang-orang di Indonesia kan kebanyakan tidak punya kartu kredit.” Jelas Natalia. Sekarang, sistem ewallet sudah sangat umum digunakan oleh sebagian besar pengguna internet.

 

Plan for the Future

Lalu bagaimana rencana ke depan dari Saweria?

“Saat ini kita fokus untuk memperkaya fitur, misalnya seperti fitur overlay yang membuat fans memberikan dukungan lebih banyak.” Saat ini, Saweria memang sudah memiliki beberapa fitur yang menarik sebenarnya. Fitur voting, misalnya, mengizinkan penonton menentukan pilihan sembari mengirimkan dana dukungan. Ada juga fitur Milestone, misalnya, jika total dana dukungan sudah mencapai angka tertentu, sang streamer akan melakukan hal tertentu.

Meski saat ini sebagian besar pengguna Saweria datang dari komunitas gamer, Saweria sendiri sebenarnya tidak ditujukan spesifik untuk gamer. Tujuannya adalah untuk semua orang yang streaming atau membuat konten. Maka dari itu, Saweria sangat terbuka untuk streamer ataupun kreator konten dari ranah lainnya jika mereka membutuhkan bantuan.

Namun demikian, Saweria juga terbuka jika ada perusahaan lain yang ingin berkolaborasi.

Selain itu, Natalia pun mengatakan bahwa Saweria juga ingin memberikan opsi lebih dalam hal pembayaran seperti transfer bank ataupun kartu kredit. Namun mereka mengaku masih ingin riset dulu soal itu, apakah akan efektif atau tidak.

Berhubung semangat Saweria yang terbuka untuk membantu para streamer dan kreator konten, saya pun menghubungi dua kawan saya untuk menanyakan pendapat mereka tentang Saweria dan fitur baru apa yang mereka inginkan.

Edi “Edel” Kusuma, salah satu founder dari HASAGI yang merupakan komunitas League of Legends Indonesia, menceritakan pengalamannya menggunakan Saweria.

Ia bercerita jumlah yang ia dapatkan masih sangat sedikit namun ia juga menyadari soal sifatnya yang sukarela. “Kalau lagi beruntung, ada yang pernah sumbang sampai ratusan ribu tapi biasanya sekitaran Rp10-50 ribu saja.”

“Saweria jelas lebih gampang. Daftarnya mudah, pakainya mudah, dan pencairan dananya juga mudah banget. Komunitas yang mau nyumbang pun enggak akan dibuat repot, cukup pindai QR Code yang ada atau bisa lewat website Saweria.” Jawab Edel saat saya tanya pengalamannya menggunakan Saweria dibanding layanan sejenis.

“Paling lebih ke kustomisasi ya. Misalnya perbanyak font, warna, dll. buat overlay. Intinya kasih lebih banyak pilihan kustomisasi saja di bagian overlay. Karena, menurut gua, overlay Saweria itu masih kaku banget yang kadang ga masuk banget ke desain overlay gua yang futuristik. Sisanya udah oke kok. Fungsinya bagus sih, gua suka. Real time banget. Pencairan dananya yang paling gua demen, potongannya dikit.” Ujar Edel memberikan masukkan sembari menutup perbincangan.

Kawan saya satu lagi adalah Yudi “Justincase” Anggi yang merupakan caster Dota 2 tua, eh senior (wkawkawk), yang sekarang streaming untuk WxC Indonesia.

Ia pun memberikan beberapa fitur yang ia inginkan dari Saweria.

  • Profanity filter. Walaupun sedikit, masih ada beberapa donatur yang sengaja memasukkan kata-kata kasar ketika melakukan donasi.
  • Block URL di pesan dukungan. Beberapa donatur memanfaatkan jumlah viewer yang banyak untuk memasarkan produk/website mereka. Seperti jadi mirip pesan spam/iklan.
  • Alert customization. Kita bisa mendesain sendiri bentuk dan warna alert donasi sesuai dengan keinginan kita.

So far so good sih Saweria. Mereka udah banyak ngasih pilihan pembayaran donasi. Udah ada update untuk mengatur sendiri efek suara alert donasi dan ada fitur GIF di alert donasi.” Ujar Yudi tentang pendapatnya menggunakan Saweria.

“Mereka memang bisa membaca kekurangan platform donasi yang sudah ada di Indonesia sebelumnya. Makanya, mereka langsung mendominasi pasar ketika masuk.” Tutup Yudi.

 

Penutup

Akhirnya, saya pribadi memang jujur berharap aliran dana dari komunitas bisa menyegarkan tren konten gaming Indonesia yang isinya itu-itu saja dengan yang lebih niche.

Lagi pula, saya juga sangat percaya seperti yang dikatakan oleh Douglas Rushkoff bahwa aliran dana yang lebih luas dan lebih cepat akan lebih baik buat sebuah industri. Meski mungkin memang aliran dana saat ini didominasi oleh sponsor dan mungkin akan terus demikian, sumber aliran dana baru bisa membantu mereka-mereka yang baru mulai ataupun tak ingin mengikuti budaya massa.

Feat Image via: Deposit Photos