Esports Ecosystem

Esports Street Fighter dan Rocket League Jadi Pre-Event Olimpiade 2020

12 Sep 2019 | Ayyub Mustofa
Ini merupakan kesempatan bagi pegiat olahraga dan esports untuk belajar dari satu sama lain.

Kemunculan esports di Olimpiade Tokyo 2020 telah cukup lama jadi bahan obrolan hangat di dunia olahraga. Terlebih setelah esports memperoleh panggung di Asian Games dan SEA Games nanti, semakin banyak pihak yang mendukung supaya esports tampil di Olimpiade. Akan tetapi International Olympic Committee (IOC) yang merupakan panitia penyelenggara Olimpiade pada akhirnya memutuskan untuk tidak mengikutsertakan esports, bahkan hingga Olimpiade Paris 2024.

Kendati demikian, IOC juga berjanji untuk terus memantau perkembangan industri ini serta tebuka terhadap diskusi dengan para stakeholder esports untuk mencari jalan tengah. Kini rupanya diskusi tersebut telah membuahkan hasil. IOC, bekerja sama dengan Intel sebagai sponsor global, mengumumkan peluncuran kompetisi esports Intel World Open sebagai acara penyambutan alias “pre-event” Olimpiade Tokyo 2020.

Intel World Open menyediakan babak kualifikasi online, di mana siapa saja boleh berpartisipasi untuk memperoleh hak maju sebagai perwakilan tim nasional. Kemudian dilanjutkan dengan kualifikasi live pada bulan Juni 2020 di Katowice, Polandia, untuk menentukan siapa yang akan mengikuti final di Tokyo. ESL, yang merupakan partner global Intel, akan menangani produksi Intel World Open.

Intel World Open - Poster
Sumber: The Esports Observer

Bila Olimpiade Tokyo 2020 akan diselenggarakan pada tanggal 24 Juli, maka Intel World Open memiliki acara puncak (final) yang akan berlangsung di tanggal 22 – 24 Juli 2020. Babak final tersebut rencananya digelar di lokasi Zepp DiverCity, Tokyo, yang memiliki kapasitas penonton kurang lebih 1.100 kursi.

Ada dua game yang dipertandingkan dalam Intel World Open, yaitu Street Fighter V: Arcade Edition dan Rocket League. Masing-masing cabang kompetisi menawarkan hadiah sebesar US$250.000, sehingga total hadiah di acara ini adalah US$500.000. Menurut Mark Subotnick, Director of Business Development for Games and Esports di Intel, dua game ini dipilih karena keduanya merupakan game yang paling mudah dimengerti oleh penonton.

“Ketika kami bekerja dengan IOC dan mengerjakan sesuatu seperti Intel World Open, kami benar-benar menginginkan audiens terluas dengan aksesibilitas tertinggi, dan dua judul ini sangat memenuhi tujuan tersebut,” ujar Subotnick, dilansir dari The Esports Observer, “Dua judul ini adalah sesuatu yang dapat dilihat dan dimengerti oleh konsumen atau audiens rata-rata, dan sayangnya hal itu tidak selalu terjadi di esports. Jadi masuk akal untuk bekerja sama dengan dua partner ini (Capcom dan Psyonix Games).”

Zepp DiverCity
Sumber: Zepp Hall Network

Bagi pihak Capcom, Intel World Open merupakan kompetisi unik karena memiliki jangkauan secara nasional. Capcom sudah memiliki program esports berupa Capcom Pro Tour dan Street Fighter League, tapi tidak ada yang bisa menjangkau audiens nasional seperti Intel World Open. Hal ini dikemukakan oleh Mike Larson, Vice President of Marketing di Capcom Media Ventures.

Sementara itu, Psyonix menyambut baik kesempatan ini untuk menguji coba pertandingan dengan format timnas, yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan. “Kami rasa meskipun ini bukan ajang Olimpiade resmi, acara ini tetap sesuatu—dengan melihat karakteristik dari acaranya sendiri—yang dapat menciptakan banyak kegembiraan dalam komunitas esports itu sendiri, dan di antara para penggemar,” kata Jeremy Dunham, Vice President of Publishing di Psyonix, “Ini sesuatu yang berbeda. Kami belum pernah mengadakan hal seperti ini sebelumnya, dan ini adalah sesuatu yang sudah banyak diminta para penggemar untuk waktu yang sangat lama—untuk bisa mempertaruhkan kebanggaan nasional ketika mereka bermain Rocket League.”

Intel World Open memang bukan merupakan bagian langsung dari Olimpiade, tapi dengan adanya kompetisi yang memiliki ikatan brand dengan Olimpiade itu sudah merupakan kemajuan besar. IOC pun terus mencari cara untuk menjangkau audiens muda dan memperluas jangkauan audiens Olimpiade. Apakah ini bisa membuka jalan bagi esports untuk masuk Olimpiade nantinya, Subotnick pun tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti, melalui Intel World Open, para pegiat olahraga dan para pegiat esports bisa bekerja sama dan saling belajar dari satu sama lain.

Sumber: The Esports Observer