Dark
Light

Dampak Pandemi ke Budaya Kerja Developer Game

4 mins read
June 30, 2022
Pandemi membuat proses pembuatan game tersendat. | Sumber: Pexels

Game menjadi salah satu industri yang justru berkembang selama pandemi COVID-19. Sayangnya, pandemi tidak hanya memberikan dampak positif pada para pelaku industri game, tapi juga dampak negatif. Bagi produsen konsol seperti Sony, salah satu masalah yang mereka hadapi selama pandemi adalah suplai. Sementara bagi developer game, pandemi mengubah gaya kerja perusahaan, yang bisa berujung pada ditundanya peluncuran dari game yang mereka buat.

Dampak Pandemi ke Developer Game di Asia

Pandemi memaksa banyak perusahaan dari berbagai industri untuk menerapkan sistem kerja Work From Home (WFH), tak terkecuali developer game. Untuk mengetahui bagaimana budaya WFH mempengaruhi developer game, khususnya yang berasal dari Asia, saya menghubungi Darang S. Candra, Director for Southeast Asia Research, Niko Partners.

Melalui email, Darang mengatakan, perusahaan game juga tetap terkena dampak dari pandemi dan kebijakan WFH. Namun, dampak yang dirasakan oleh sebuah studio game tergantung pada ukuran perusahaan dan ukuran proyek yang mereka kerjakan.

“Secara umum, developer indie tidak terlalu terpengaruhi oleh WFH, jika dibandingkan dengan developer game AAA besar,” jelas Darang. “Karena, developer indie sudah terbiasa untuk bekerja secara remote dan memiliki tim yang lebih kecil. Selain itu, developer indie punya birokrasi perusahaan yang relatif lebih sederhana dari developer AAA.”

Eric Barone adalah seorang solo developer. | Sumber: PC Gamer

Meskipun begitu, Darang mengatakan, WFH tetap menyebabkan penundaan peluncuran dari sejumlah game. “Untuk Asia, budaya kerja berlebihan, seperti 996 di Tiongkok atau karoshi di Jepang, juga memberatkan pekerja industri game yang bekerja secara jarak jauh,” kata Darang.

Beberapa perusahaan Tiongkok menerapkan sistem kerja 996. Dalam sistem itu, seseorang harus bekerja selama 6 hari dalam seminggu dan 12 jam dalam sehari, dari jam 9 pagi sampai 9 malam. Menurut para kritikus, sistem kerja 996 itu melanggar hukum tenaga kerja di Tiongkok. Pada Agustus 2021, sistem kerja 996 telah dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Agung Rakyat. Sayangnya, keputusan tersebut tidak selalu ditegakkan.

Sementara itu, di Jepang, ada istilah “karoshi“, yang mengacu pada momen ketika seorang pekerja mati akibat bekerja terlalu keras. Memang, kerja lembur terus-terusan akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti sakit jantung dan stroke. Biasanya, penyakit itu muncul akibat stres dan pola makan yang tidak sehat.

Karoshi merupakan istilah untuk kematian pekerja akibat bekerja terlalu keras. | Sumber: WIRED

“Meski sudah ada upaya untuk mengurangi beban pekerjaan yang ditugaskan pada para pekerja remote, budaya kerja berlebihan yang justru mengurangi produktivitas dan kreativitas tetap perlu diperbaiki untuk membentuk industri yang lebih sehat,” ungkap Darang.

Hal lain yang bisa perusahaan game lakukan untuk memitigasi dampak buruk akibat WFH adalah menggunakan metode kerja hybrid. Menurut Darang, menggabungkan konsep WFH dan WFO dapat mengurangi miskomunikasi yang terjadi dalam tim developer. “Selain itu, developer juga perlu untuk mengurangi budaya overwork, yang mengakibatkan model WFH menjadi semakin tidak sehat,” ujarnya.

Di masa depan, seiring dengan semakin teratasinya pandemi, Darang mengungkap, kemungkinan, kebanyakan studio game, khususnya studio besar, akan kembali mengharuskan para pekerjanya untuk bekerja dari kantor. “Walau metode hybrid dengan beberapa tim atau waktu dilakukan secara WFH akan tetap bertahan,” katanya.

Masalah yang Dihadapi Developer

Ketika ditanya tentang masalah yang developer hadapi ketika para staf bekerja dari rumah, Gary Carr, Studio Director dari Two Point Studios mengatakan, sistem WFH membuat proses kerja tim menjadi tersendat, tidak semulus biasanya. Dia memberikan contoh, ketika pekerjaan dilakukan di kantor, tim programmer bisa secara otomatis memperbaiki bug dalam game ketika merkea mereka mendengar keluhan dari para tester. Sayangnya, interaksi ini tidak akan muncul selama WFH.

Two Point Studios adalah developer di balik Two Point Campus. | Sumber: Twitter

Seperti yang dikatakan oleh Darang, semakin besar sebuah studio game, semakin besar pula dampak dari penggunaan sistem WFH. Menurut Guha Bala, President dari Velan Studios, metode WFH mempersulit proses pembuatan game yang masih ada di tahap awal pengembangan.

“Ketika proses pengembangan game Anda sudah memasuki tahap akhir, Anda sudah tahu apa yang harus Anda lakukan dan semua orang juga sudah punya tugas masing-masing. Jadi, untuk bisa tetap produktif, kita hanya harus memastikan kita menyelesaikan tugas kita,” kata Bala dalam wawancara dengan GamesIndustry. “Jika Anda punya tempat kerja yang mendukung di rumah, jika Anda tahu apa yang harus Anda lakukan dalam satu hari atau dalam satu minggu, Anda akan bisa menyelesaikan tugas Anda.”

Velan Studios berhasil merilis dua game baru selama lockdown. Bala menceritakan, mereka dapat menyelesaikan dan meluncurkan Mario Kart Live pada 2020. Satu tahun kemudian, di 2021, mereka juga berhasil merilis Knockout City. Dan pencapaian ini membuat tim Velan merasa, bekerja dari rumah bukan masalah besar. Namun, mereka mulai menemui masalah ketika mereka harus membuat game baru dari nol.

Knockout City dirilis pada 2021. | Sumber: Epic Games Store

“Kami menemui masalah ketika kami memasuki siklus R&D baru, yang membutuhkan komunikasi informal dan memiliki tujuan yang lebih ambigu… Ketika kami tahu bahwa kami ingin membuat game yang keren, dan kami punya bayangan akan game yang kami inginkan, tapi kami tidak tahu persis apa yang kami mau. Ketika produktivitas pekerja tidak ditentukan oleh daftar tugas yang harus mereka selesaikan, tapi ide kreatif yang merkea dapat,” cerita Bala.

Masalah lain yang dihadapi oleh Bala dan timnya adalah kerenggangan yang muncul dalam hubungan antar karyawan. Pasalnya, selama pandemi, sejumlah studio game justru mempekerjakan karyawan baru. Padahal, WFH membuat komunikasi kasual antar karyawan menjadi mustahil. Alhasil, para karyawan merasa tidak mengenal satu sama lain. Dan hal ini membuat hubungan antar para karyawan menjadi renggang.

“Saat kita sedang berdiskusi, setengah dari karyawan bahkan tidak menyalakan kamera mereka. Jadi, Anda tidak bisa melihat wajah dari orang-orang yang Anda ajak bicara,” ungkap Bala. “Kita tidak bisa membangun hubungan yang kuat karena satu-satunya topik yang Anda bicarakan adalah pekerjaan Anda.”

Mario Kart Live jadi salah satu game yang Velan Studios rilis selama lockdown. | Sumber: PC Mag

Kerenggangan hubungan antar para karyawan ini memunculkan masalah baru: meningkatnya jumlah pegawai yang keluar atau pindah ke perusahaan lain. Karena, Bala mengatakan, jika seseorang tidak punya hubungan erat dengan kolega atau manajernya, dia akan lebih tergoda untuk pindah ke perusahaan lain ketika dia mendapatkan tawaran yang lebih baik.

Menurut Bala, tingkat turnover tinggi ini bisa berdampak pada kualitas game yang sebuah studio rilis. Alasannya, semakin lama sebuah tim, biasanya, performa mereka pun menjadi semakin baik. Padahal, Bala mengungkap, salah satu faktor yang menentukan performa sebuah tim adalah team veterancy.

Sumber header: Pexels

Karakter Genshin Impact 3.0
Previous Story

Bocoran Karakter Genshin Impact 3.0: Tighnari, Collei, dan Dori, Beserta Skillnya

Guide Yu Zhong Mobile Legends
Next Story

Guide Yu Zhong Mobile Legends 2022, Fighter yang Bisa Mendominasi Teamfight

Latest from Blog

Don't Miss

H3RO Land dari Bima+, Teman Mabar Anak Esports

Salah satu bentuk dukungan untuk perkembangan esports di tanah air
Review Poco X6 5G Hybrid

Review Poco X6 5G, Performa Ekstrem dan Sudah Dapat Pembaruan HyperOS

Poco X6 membawa layar AMOLED 120Hz dengan Dolby Vision lalu