Esports Ecosystem

Mengintip Bisnis Perusahaan Voucher Game Digital di Indonesia

07 Mar 2020 | Ellavie Ichlasa Amalia
Jumlah pengguna kartu kredit di Indonesia tak banyak, jadi muncul alternatif pembayaran lain untuk gamer yang ingin membeli item dalam game.

Dalam 10 tahun belakangan, industri game telah banyak berubah. Tidak hanya dari segi teknologi, tapi juga model bisnis. Jika dulu Anda harus membeli game dalam bentuk fisik — cartridge atau kepingan CD — sekarang, Anda bisa membeli game di toko digital, seperti Steam. Setelah game dibeli, Anda cukup mengunduhnya ke komputer atau konsol.

Sementara itu, dari segi model bisnis, kreator game sekarang tidak hanya mendapatkan pemasukan dari penjualan game. Terkadang, game bisa dimainkan secara gratis, tapi ada microtransaction dalam game. Item yang dijual dalam game memiliki fungsi yang berbeda. Ada yang memang berfungsi sebagai powerup, ada juga yang hanya menjadi item kosmetik. Dota 2 dan PUBG Mobile adalah contoh game yang bisa dimainkan gratis tapi menawarkan pembelian dalam game. Selain itu, publisher game sekarang juga bisa menggunakan sistem berlangganan, sehingga sebuah game masih bisa terus menghasilkan pendapatan walau telah diluncurkan beberapa tahun lalu.

Segala sesuatu yang serba digital memang memudahkan gamer untuk membeli game atau item dalam game. Masalahnya, kartu kredit adalah salah satu metode pembayaran utama. Sementara, di Indonesia, pengguna kartu kredit masih sangat sedikit. Menurut Asosiasi Kartu Kredit Indonesia, per 2019, jumlah pengguna kartu kredit Indonesia hanya mencapai 17,48 juta orang. Sementara populasi di Indonesia mencapai 267 juta orang. Itu artinya, jumlah pengguna kartu kredit di Indonesia hanya mencapai 6,55 persen dari total populasi. Untungnya, seiring dengan berkembangnya teknologi, opsi pembayaran untuk membeli game atau item game di Indonesia juga bertambah.

Pada awalnya…

Pada awal tahun 2000-an, ketika game-game MMORPG sedang populer, voucher game masih berupa voucher fisik. Anda bisa membelinya langsung di warnet tempat Anda bermain. Setelah itu, mulai muncul berbagai situs yang menjual voucher game, seperti GudangVoucher, Indomog, dan UniPin. Kemudian, perusahaan telekomunikasi mulai menawarkan metode pembayaran dengan potong pulsa. Sekarang, metode pembayaran untuk membeli game atau item dalam game sudah semakin beragam, mulai dari voucher fisik (ya, ini masih ada), pembayaran di Indomaret/Alfamart, internet/SMS banking, sampai berbagai layanan pembayaran digital, seperti GoPay dan OVO.

Kali ini, kami akan mengintip dari 3 pelaku industri payment gateway yang menjual voucher game sebagai produk layanan mereka.

Pada awalnya, UniPin hanya menjual voucher fisik untuk game. Sekarang, bisnis utama UniPin masih tetap menjual voucher game, hanya saja, dalam bentuk digital. Dengan kata lain, UniPin adalah salah satu tempat untuk top up game. Saat mengobrol dengan Poeti Fatima Arsyad, Senior VP Marketing, UniPin di kantor tempatnya bekerja, dia menjelaskan, UniPin adalah agregator, mempertemukan para publisher game dengan payment channel. Ini memudahkan para gamer untuk membeli item dalam game menggunakan metode pembayaran apapun mereka mau. Selain top up game, Anda juga bisa melakukan pembayaran untuk berlangganan produk digital lain di UniPin, seperti Netflix dan Spotify.

UniPin menjadi situs aggregator. | Sumber: UniPin
UniPin menjadi situs aggregator. | Sumber: UniPin

Perempuan yang akrab dengan panggilan Poeti ini menjelaskan, untuk dapat menjadi agregator, UniPin harus menggandeng berbagai perusahaan penyedia layanan pembayaran. Namun, mereka tidak mau sembarangan menerima metode pembayaran baru yang ada. “Ngomongin soal payment channel, kita nggak serta merta semua dimasukin. Kalau misalnya, ada yang tidak lulus OJK (Otoritas Jasa Keuangan), kita nggak mau. Kita nggak sembarangan,” katanya. Walau sudah pilih-pilih sekalipun, dia mengaku, metode pembayaran di Indonesia memang sangat banyak, lebih dari lima puluh metode pembayaran. “Kita kan negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia, jadi sangat normal kalau metode pembayarannya banyak.”

Selain pengakuan OJK, ada beberapa hal lain yang UniPin perhatikan sebelum mereka menerima metode pembayaran. Dua di antaranya adalah traction dan model bisnis dari sebuah payment channel yang hendak bekerja sama. Meskipun begitu, Poeti mengatakan bahwa mereka tidak memiliki persyaratan tertentu terkait jumlah transaksi atau jumlah pengguna sebuah ewallet.

“Kita nggak punya persyaratan jumlah pengguna. Itu tergantung dari proses negosiasi untuk commercial term-nya bagaimana. Karena, bagi kami, mereka adalah strategic partner kami. Tanpa mereka, kami juga tidak bisa jalan,” katanya.

GoPay mengumumkan ketersediaan sebagai opsi pembayaran terbaru di Google Play Store
GoPay mengumumkan ketersediaan sebagai opsi pembayaran terbaru di Google Play Store.

Dari semua metode pembayaran yang ada di Indonesia, Poeti bercerita bahwa OVO dan GoPay adalah metode pembayaran yang paling sering dipakai. Alasannya karena dua metode pembayaran sangat simpel. Anda bisa melakukan pembayaran via smartphone Anda. Sementara untuk bank, BCA adalah bank yang paling sering digunakan di kalangan pengguna UniPin. Dia menjelaskan, “Di sini, bank paling besar itu apa? BCA. Ya itu juga paling sering dipakai.” Rata-rata jumlah top up pengguna UniPin adalah Rp50 ribu sampai Rp100 ribu. Sementara umur pengguna UniPin biasanya ada di rentang 18 tahun sampai 40 tahun.

Poeti juga mengungkap, jika ada sebuah publisher asing hendak masuk ke Indonesia, maka mereka akan harus menjalin kerja sama dengan semua payment channel yang ada, mulai dari bank, convenient store, ecommerce, dan ewallet. “Sementara fokus mereka itu ya mengembangkan dan merilis game,” katanya. Dengan bekerja sama dengan UniPin, pihak publisher tak lagi perlu repot-repot untuk menghubungi setiap payment channel.”Kami ingin mempertemukan publisher dengan payment channel,” ujarnya.

UniPin dan Bisnis Esports

Setelah sukses menjadi aggregator, UniPin mulai masuk ke dunia esports. Awalnya, Poeti bercerita, UniPin hanya mengadakan turnamen skala kecil dan menengah. “Sebelum esports diakui di Asian Games dan SEA Games, kami sudah membuat turnamen esports yang kecil-kecil,” ungkap Poeti. Menurutnya, UniPin beruntung karena bekerja sama dengan Indomaret. “Mereka kan bisnisnya sudah seperti real estate. Di mana ada perumahan atau gedung baru, di sana ada Indomaret,” katanya. Tak hanya Indomaret, UniPin juga bekerja sama dengan sejumlah warung internet seperti High Ground dan juga restoran seperti Upnormal. Selain mengadakan turnamen, UniPin juga mulai melakukan roadshow secara gerilya dengan tujuan untuk memperkuat komunitas esports.

Pada 2018, UniPin mulai membuat turnamen dalam skala yang lebih besar. Di tahun itu, mereka menyelenggarakan SEACA (South East Asia Cyber Arena), dengan hadiah mencapai Rp1,4 miliar. Pada tahun 2019, UniPin kembali mengadakan SEACA. Kali ini, total hadiah dari turnamen tersebut naik menjadi Rp2,4 miliar. Ketika ditanya tentang alasan UniPin masuk ke esports, Poeti menjelaskan bahwa mereka mengadakan turnamen esports sebagai cara untuk mendukung ekosistem game dan esports.

Sumber: Hybrid - Akbar Priono
SEACA 2019. Sumber: Hybrid – Akbar Priono

“Kenapa kita adain turnamen esports? Karena kalau kita dukung ekosistem, kalau ekosistem terbentuk dengan baik dan stabil, bisnis kita jalan,” jawab Poeti saat ditanya alasan UniPin untuk ikut masuk ke dunia esports. Dia mengaku, mengadakan turnamen esports memberikan dampak langsung pada bisnis mereka sebagai aggregator. “Impact dari esports ke bisnis, aku bisa bilang lebih dari 100 persen, lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan dengan ketika tidak ada event,” ujarnya.

Poeti menjelaskan, jika ekosistem esports tumbuh, ini akan mendorong orang untuk semakin sering bermain atau bermain dengan lebih kompetitif, yang pada akhirnya akan meningkatkan jumlah uang yang dihabiskan oleh para gamer dalam game. “Esports mengajarkan para penontonnya untuk berkompetisi dengan sehat. Karena ada perlombaan, jadi para gamer mau mengasah skill mereka. Dengan adanya esports, spending juga jadi lebih besar,” aku Poeti.

GoPay

Walau pada awalnya GoPay tersedia hanya untuk melakukan pembayaran dari berbagai layanan GoJek, sekarang GoPay bisa digunakan untuk membeli berbagai hal, termasuk top up game. Senior Marketing Manager GoPay, Reza Putranta menjelaskan, industri game memiliki potensi besar di Indonesia. Tidak heran, mengingat jumlah gamer di Tanah Air yang memang tidak sedikit. “Jumlah gamers di Indonesia diperkirakan mencapai 60 juta pada 2019, meningkat menjadi 100 juta gamer pada tahun 2020 ini,” kata Reza dalam pernyataan resmi pada Hybrid. “Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat satu di Asia Tenggara dan peringkat enam di Asia.”

GoGames jadi fitur terbaru GoJek. | Sumber: YouTube Gojek
GoJek targetkan gamer dengan GoGames. | Sumber: YouTube Gojek

Selain UniPin, GoPay juga berkolaborasi dengan sejumlah pihak dalam rencananya untuk menyasar gamer, seperti Codashop, GOC, dan, uPoint. “Sejak Agustus 2019 lalu, pengguna juga sudah bisa top up game dan membayar beragam aplikasi pakai GoPay di Google Play,” ujar Reza. “Ke depan, kami terbuka untuk berkolaborasi dengan semua pihak yang memiliki kesamaan visi.” Reza mengatakan, sejak itu, transaksi GoPay terkait game terus naik. “Jumlah transaksi GoPay di Google Play naik hingga tiga kali lipat dari Agustus hingga Desember 2019. Sebanyak 60 persen transaksi didominasi oleh game, 40 persen sisanya untuk pembayaran aplikasi streaming dan webtoon,” dia mengaku.

Sementara itu, game yang paling populer di kalangan pengguna GoPay adalah Free Fire, Mobile Legends, PUBG Mobile, Game of Sultan, Gardenscape, Homescape, dan Hago. Selain menjadi channel pembayaran, Reza mengatakan, GoPay juga tertarik untuk mendukung industri esports. Salah satu caranya dengan menjadi title sponsor dari GoPay Mobile Legend Campus Championship 2020. Tahun lalu, GoPay juga mensponsori salah satu tim esports terbesar Indonesia, RRQ.

Razer

Sejak awal, UniPin memang perusahaan yang menjual voucher game dan GoPay adalah payment channel yang kemudian memutuskan untuk melayani para gamer. Sementara itu, Razer adalah perusahaan peripheral gaming yang kemudian mencoba untuk menyediakan layanan finansial, salah satunya metode pembayaran. Razer pertama kali meluncurkan zGold dan zSilver pada 2017. Ketika itu, Razer zGold adalah mata uang digital yang dapat digunakan untuk membeli item dalam game, sementara zSilver adalah platform untuk reward ssytem. Pada Desember 2018, Razer mengubah nama kedua produknya menjadi Razer Gold dan Razer Silver, walau fungsi keduanya masih sama.

Selain itu, Razer juga menyediakan Razer Pay, sebuah ewallet. Razer pay pertama kali diluncurkan di Malaysia pada 2018. Menurut laporan The Drum, per 30 Juni 2019, jumlah pengguna Razer Pay telah mencapai satu juta orang. Sayangnya, saat ini, Razer Pay hanya tersedia di Malaysia dan Singapura.

Razer Gold merupakan mata uang digital untuk membeli item dalam game. | Sumber: Razer
Razer Gold merupakan mata uang digital untuk membeli item dalam game. | Sumber: Razer

“Beberapa tahun belakangan, kami terus menciptakan produk baru untuk menjadi bagian dari generasi muda dan milenial di dunia. Ini memberikan kami kesempatan untuk mencoba masuk ke berbagai industri baru,” kata Lee Li Meng, Chief Strategic Officer Razer dan CEO Razer Fintech, dikutip dari The Drum. Salah satu industri baru yang diminati Razer adalah finansial. Sekarang, mereka bahkan memiliki Razer Fintech, divisi yang khusus mengembangkan layanan finansial.

Pada awal tahun ini, Razer mengungkap rencananya untuk membuat bank digital. Di bawah Razer Fintech, mereka meminta lisensi bank digital pada Monetary Authority of Singapore (MAS). Tujuannya adalah untuk menyediakan produk finansial yang transparan untuk generasi muda. Selain itu, dengan menyediakan berbagai layanan finansial, Razer juga berharap, generasi muda akan semakin melek akan literasi keuangan. Memang, Razer mengklaim bahwa 80 persen dari total pengguna mereka — yang mencapai 80 juta orang di dunia — berumur kurang dari 35 tahun.

“Razer Fintech akan fokus pada segmen generasi muda dan milenial yang masih kesulitan mendapatkan layanan finansial. Kami percaya, membuat Razer Youth Bank adalah keputusan yang masuk akal untuk memperluas bisnis pembayaran digital kami,” kata Lee Li Meng.

Kesimpulan

Seiring dengan perkembangan teknologi, maka model bisnis developer game juga terus berubah. Kini, semakin banyak game yang menggunakan model berlangganan atau free-to-play dengan microtransaction di dalamnya. Ada pihak yang diuntungkan dengan model ini, walau tentu saja, juga ada pihak dirugikan (tapi topik itu akan dibahas dalam artikel lain).

Kartu kredit menjadi metode pembayaran utama yang disediakan oleh publisher game. Sayangnya, di Indonesia, tak banyak orang yang punya kartu kredit. Jadi, mulai bermunculan alternatif metode pembayaran mulai dari mobile banking, ewallet, sampai penjualan voucher di convenient store. Ada banyak perusahaan yang tertarik untuk menyediakan payment channel adalah kabar baik bagi konsumen. Ini memberikan Anda kebebasan untuk memilih metode yang memang paling nyaman untuk Anda.

Sumber header: Flickr/Hloom Template