Esports Ecosystem

Berinvestasi di League of Legends Championship Series, Apakah Menguntungkan?

19 Nov 2019 | Ellavie Ichlasa Amalia
Harga slot untuk berlaga di League of Legends Championship naik dalam dua tahun

Sejak 2017, Riot Games menggunakan model franchise untuk League of Legends Championship Series, liga LoL untuk kawasan Amerika Utara. Dalam liga yang menggunakan model franchise, tim yang hendak bertanding harus membayar sejumlah uang untuk membeli slot dari liga tersebut. Echo Fox mengeluarkan US$10 juta untuk membeli slot LCS pada 2017. Belum lama ini, slot tim Echo Fox dibeli oleh Evil Geniuses. Menurut orang yang mengaku tahu tentang transaksi ini, Evil Geniuses mengeluarkan US$33 juta. Ini menunjukkan bahwa harga slot franchise LCS naik 230 persen dalam waktu dua tahun.

Selain itu, Michael Prindiville, CEO Dignitas, mengaku bahwa prioritasnya setelah dia menjabat sebagai CEO Dignitas adalah untuk mendapatkan slot LCS. Dignitas akhirnya bisa kembali ke LCS setelah mereka melakukan merger dengan Clutch Gaming. Nilai merger ini dikabarkan mencapai US$20 juta. Dalam daftar 13 perusahaan esports dengan nilai terbesar menurut Forbes, 9 di antaranya merupakan pemegang slot franchise untuk liga League of Legends di Amerika Utara dan Eropa. Masing-masing perusahaan memiliki nilai lebih dari US$120 juta. Namun, itu bukan berarti organisasi esports yang ikut berlaga dalam LCS atau liga LoL lainnya sudah mendapatkan untung dari liga tersebut.

Menurut Will Hershey, co-founder dan CEO Roundhill Investments, alasan mengapa organisasi esports tertarik berlaga di liga League of Legends adalah karena popularitas dari game buatan Riot Games tersebut. Berbeda dengan olahraga tradisional yang keberadaannya tidak tergantung pada satu perusahaan, keberlangsungan esports sangat tergantung pada sang developer. Jika Riot memutuskan untuk menutup League of Legends, maka liga esports dari game itu juga akan mati. Namun, 10 tahun sejak dirilis, League of Legends masih populer. Pada 2018, Riot mendapatkan US$1,4 miliar dari game yang bisa dimainkan secara gratis tersebut. Ini menjadikan League of Legends sebagai game dengan pendapatan terbesar nomor tiga, menurut data SuperData.

“Jika Anda ingin terlibat dalam satu game, League of Legends adalah pilihan yang paling masuk akal,” kata Hershey, dikutip dari The Washington Post. “Game ini tidak hanya berumur panjang, tapi juga memberikan kontribusi besar pada pendapatan publisher. Pendapatan dari sebuah game adalah faktor paling penting yang harus dipertimbangkan ketika Anda hendak menanamkan investasi.”

Sumber: leagueoflegends.com
Sumber: leagueoflegends.com

Hal lain yang menjadi pertimbangan calon investor adalah hak siar media, menurut Josh Champan, co-founder dan Managing Partner, Konvoy Ventures, perusahaan venture capital yang fokus pada industri game dan esports. “Saya rasa, liga ini akan menghasilkan banyak uang. Apakah ini akan menguntungkan tim esports, tergantung pada besar investasi dari masing-masing tim dan pembagian pendapatan dari hak siar media untuk setiap tim.”

Chapman mengatakan, hak siar media untuk liga esports akan berbeda dari hak siar untuk liga olahraga tradisional seperti NFL, liga american football di Amerika Serikat. NFL memiliki kontrak senilai SU$27,9 miliar selama 9 tahun dengan CBS, NBC, dan FOX. Sebagai perbandingan, pada 2016, Riot menjual hak siar esports League of Legends selama 7 tahun pada BAMTech dengan nilai US$300 juta, menurut Wall Street Journal. Perjanjian ini lalu diperbarui pada 2018, ketika Disney mengakuisisi BAMTech. Hak siar esports LoL kemudian dipindahtangankan ke platform streaming ESPN+. Sayangnya, tidak diketahui berapa besar nilai dari perjanjian hak siar baru tersebut.

Sumber: Geek.com
Sumber: Geek.com

Untuk memperkirakan nilai hak siar esports League of Legends, Chapman menggunakan Overwatch League (OWL) dari Activision Blizzard sebagai perbandingan. Twitch membayar US$90 juta untuk mendapatkan hak siar eksklusif dari OWL selama dua tahun. Sejak September 2017 sampai Agustus 2019, Overwatch memiliki jumlah penonton rata-rata 33.987 setiap bulannya. Itu artinya, Twitch membayar US$1.324 untuk satu penonton. Sementara itu, League of Legends memiliki jumlah rata-rata penonton 116.669 orang. Dengan harga yang sama, maka hak siar eksklusif untuk esports League of Legends akan bernilai US$154,5 juta per tahun.

Namun, Chapman dan Hershey percaya, Twitch membayar harga terlalu mahal untuk hak siar eksklusif akan OWL. Chapman memperkirakan, channel resmi Twitch OWL hanya berkontribusi US$8,2 juta dari total pendapatan iklan Overwatch League selama periode dari September 2018 sampai Agustus 2019. Angka ini jauh lebih rendah dari harga US$45 juta yang dibayarkan oleh Twitch. Meskipun begitu, Hershey tetap percaya bahwa hak siar media akan menjadi sumber pendapatan utama dari sebuah liga, selain dari sponsorship dan penjualan merchandise.

“Ada satu perbedaan besar antara esports dan olahrga tradisional,” kata Hershey. “Penonton harus rela membayar jika mereka ingin menonton pertandingan olahraga tradisional Tapi, selama ini, mereka bisa menonton esports dengan gratis. Jadi, ini adalah salah satu masalah besar yang harus diselesaikan oleh penyelenggara industri esports.”

Sumber: The Esports Observer
Sumber: The Esports Observer

Saat ini, setidaknya 35 persen dari total pendapatan LCS masuk ke kantong pemain, 32,5 persen untuk tim, dan 32,5 persen sisanya untuk Riot. Menurut Hershey, pada 2018, masing-masing tim mendapatkan hampir US$1 juta. Pada tahun ini, dia memperkirakan angka itu naik menjadi sekitar US$1 juta sampai US$2 juta. “Masih jauh lebih rendah dari jumlah yang mereka bayarkan untuk mendapatkan slot franchise LCS,” katanya. “Tapi, sekarang, kita masih ada di tahap awal dalam memonetisasi liga esports.”

Chapman berharap, para pemilik slot LCS mengerti bahwa investasi mereka tidak akan berbuah dalam waktu dekat. Dia memperkirakan, diperlukan waktu bertahun-tahun sebelum para peserta LCS bisa mendapatkan untung. Hal ini tidak hanya terjadi pada esports League of Legends, tapi juga pada Activision Blizzard, yang menggunakan sistem franchise untuk menyelenggarakan Overwatch League dan Call of Duty League pada tahun depan.

Ini tidak membuat Prindiville dari Dignitas gentar. Dia mengatakan, dia tidak memiliki rencana untuk keluar dari scene esports League of Legends dalam waktu dekat. “Kami rasa, esports ini masih bisa bertahan selama 50 tahun lagi,” katanya. “Dalam waktu pendek, pendapatan akan datang dari sponsorship dan hak siar media. Dalam jangka panjang, kami ingin memiliki slot ke sejumlah franchise penting seperti LCS, karena nilainya akan naik seiring dengan waktu. Dalam 10-20 tahun lagi, siapa yang tahu berapa harga dari slot LCS? Begitulah cara Anda membangun perusahaan besar, inilah cara untuk mendapatkan kembali jutaan dollar yang telah Anda keluarkan.”

Sumber header: Business Insider