Esports Ecosystem

5 Tips Mengembangkan Turnamen Fighting Game dari Founder EVO dan CEO

27 Aug 2019 | Ayyub Mustofa
Core-A Gaming duduk bersama para dedengkot turnamen besar dunia untuk mengungkap resep sukses mereka.

Acara kompetisi fighting game belakangan ini seperti tak ada habisnya. Setiap bulan, bahkan nyaris tiap minggu ada saja turnamen yang melibatkan judul-judul game populer di luar sana. Bahkan sering kali penyelenggaraannya melibatkan turnamen resmi, seperti Capcom Pro Tour atau Tekken World Tour. Para penerbit game pun semakin getol mendukung pengadaan kompetisi di level akar rumput, membuat semakin banyak penggemar fighting game yang punya kesempatan untuk berpartisipasi.

Bagaimana caranya mengadakan turnamen fighting game yang besar dan heboh, seperti EVO? Mungkin ada organizer (atau calon organizer) yang penasaran akan hal ini. Para founder ajang fighting game ternama telah duduk bersama Core-A Gaming untuk berbagi kiat-kiat menciptakan serta mengembangkan turnamen. Narasumbernya termasuk Tom Cannon (co-founder EVO), Alex Jebailey (founder CEO), Rick Thiher (Event Director Combo Breaker), Yongde (co-founder SEA Major), dan banyak lagi. Simak tips mereka di bawah.

Step 0: The Game

Sebelum berpikir bagaimana caranya menggelar turnamen besar, harus disadari bahwa untuk menjadi besar itu tidak bisa instan. Bila kita tengok ke belakang, banyak turnamen fighting game yang sekarang sudah sangat terkenal dulunya berawal dari kompetisi kecil-kecilan. EVO misalnya, awalnya hanya kompetisi dengan skala game center lokal. Begitu pula CEO (Community Effort Orlando), berakar dari turnamen kecil di rumah pendirinya yaitu Alex Jebailey.

Sebenarnya untuk mengadakan turnamen, hanya ada dua hal yang dibutuhkan: game untuk dimainkan, dan orang untuk memainkannya. Asalkan ada dua hal ini, kita bisa langsung menggelar turnamen. Jebailey pertama kali menggelar turnamen Super Street Fighter II ketika ia berusia 13 tahun, dan turnamennya diadakan di rumah menggunakan console Super Nintendo. Sesederhana itu sudah cukup.

Step 1: Event Space

Ketika peminat turnamen sudah semakin banyak (katakanlah, di atas 40 orang), inilah saatnya Anda mencari ruang umum untuk menggelar acara. Contohnya seperti bar, atau kafe. Di Amerika Serikat ada istilah “barcade”, yaitu tempat yang menggabungkan sebuah bar dengan arcade center kecil. Bahkan ada franchise bar tersendiri yang bernama Barcade, jadi bar dan gaming adalah dua hal yang sudah terbukti bisa berjalan berdampingan.

Bar atau kafe juga sangat cocok untuk turnamen fighting game, karena di sebuah turnamen biasanya para pengunjung akan diam di tempat untuk waktu yang lama. Otomatis mereka pasti butuh makan, minum, dan layanan-layanan lainnya. Jadi pengunjung bukan hanya datang sebagai peserta atau penonton turnamen, tapi juga sebagai pelanggan kafe.

“Ada sangat banyak bar di Seoul, di sini sangat kompetitif,” kata Josh Lewis, tournament organizer Super Smash Bros di Seoul, Korea Selatan. “Jadi sangat menjual bila saya bisa mendatangi mereka lalu bilang, saya bisa mendatangkan 60 orang ke bar Anda di waktu yang biasanya tidak ramai, misalnya jam 1 siang. Baik itu bar, kafe, atau rental PC, itu adalah nilai jual yang gampang, dan memberi kami leverage untuk negosiasi.”

Jebailey juga memberi contoh tentang kesepakatan yang bisa dicapai antara kedua pihak. Katakanlah ia menggelar turnamen dengan peserta 40 – 50 orang. Setiap peserta ditarik biaya sebesar US$10, kemudian setengah dari uang pendaftaran itu diberikan pada pemilik venue. Pemilik venue juga berhak mendapat seluruh uang hasil penjualan makanan.

Step 2: Community Effort

Ketika turnamen sedang berlangsung, tentu tidak semua orang bertanding secara serentak. Hanya sebagian orang saja yang bertanding, sementara sisanya menonton atau menunggu giliran mereka. Tapi tidak melakukan apa-apa untuk waktu yang lama bisa membuat pengunjung bosan.

Sebuah turnamen yang baik butuh banyak perlengkapan agar pengunjung juga bisa bermain secara kasual, baik sebelum turnamen ataupun sesudah turnamen—karena turnamen juga merupakan ajang nongkrong. Bukan hanya hardware yang mencakup console, PC, dan TV atau monitor, namun juga game itu sendiri. Game yang tampil di turnamen haruslah lengkap, dengan DLC, season pass, dan update terbaru. Bila tidak demikian maka pengunjung akan merasa kecewa, bahkan hasil turnamen bisa dipertanyakan keabsahannya.

Red Bull Conquest
Turnamen fighting game tidak akan bisa besar tanpa usaha komunitas | Sumber: Alex Jebailey

Akan tetapi menyediakan segala hardware dan game itu tentu butuh banyak biaya yang sulit ditanggung organizer kecil. Di sinilah pentingnya menjalin hubungan baik dengan komunitas. Para anggota komunitas bisa ikut membantu menyediakan console dan game. Mereka juga bisa membantu mengatur dan mencatat bracket pertandingan, hingga ikut menata dan menyiapkan peralatan di venue sebagai volunteer.

Peran serupa juga bisa datang dari sponsor, seperti diceritakan Yongde. “Kami mendapat banyak sponsorship, bukan sponsorship uang tapi lebih banyak sponsor perlengkapan,” ujarnya. Kerja sama dengan sponsor dan komunitas seperti ini bisa menurunkan biaya penyelenggaraan turnamen cukup banyak. Jangan lupa juga untuk menyesuaikan jumlah hardware yang diusung dengan kapasitas listrik di venue turnamen.

Step 3: Tournament Standards

Tahap berikutnya adalah tahap yang bisa dibilang merupakan fase “berjualan”. Turnamen butuh pengunjung, tapi pengunjung tidak akan datang ke turnamen yang menurut mereka tidak menarik. Nah, faktor-faktor apa saja yang membuat sebuah turnamen menarik, itu yang harus kita perhatikan.

Uang hadiah bisa menjadi salah satu daya tarik turnamen, tapi lebih dari itu, mungkin yang lebih penting adalah “gengsi”. Para pemain fighting game kompetitif suka mencari lawan yang kuat, jadi kedatangan pemain kuat di sebuah turnamen akan menarik pemain-pemain kuat lainnya. Bagi mereka yang bukan partisipan pun, pemain kuat tentu lebih menarik untuk ditonton daripada peman yang biasa-biasa saja.

Tentu saja mendatangkan pemain profesional (apalagi dari luar negeri) itu sulit, kecuali bila turnamen kita sudah masuk ke dalam sirkuit resmi seperti CPT dan TWT. Jadi solusinya adalah berinvestasi di komunitas. Bantu para pemain lokal meningkatkan keahlian, sehingga mereka menjadi semakin ahli, semakin dikenal, dan menarik pemain-pemain lainnya.

Sebagai timbal baliknya, organizer harus memastikan para partisipan bisa mengikuti turnamen dengan nyaman. Jadwal tidak boleh ngaret, informasi bracket dan pembagian pool harus jelas, format pertandingan pun harus mengikuti sistem turnamen profesional. Ketika organizer sudah bisa menjaga standar-standar turnamen, dan bisa mendatangkan pemain-pemain kuat, reputasi mereka akan meningkat sehingga orang mau datang kembali. Di fase ini, organizer perlu berinvestasi untuk mengincar pertumbuhan jangka panjang.

Step 4: Exposure

Reputasi turnamen dari mulut ke mulut itu bagus, namun turnamen butuh lebih banyak exposure agar bisa berkembang menjadi turnamen besar. Untuk itu diperlukan siaran dan relasi ke media atau influencer. Selain itu, kehadiran talent tertentu juga bisa membuat turnamen lebih menarik. Yongde bahkan menyebutkan bahwa streaming adalah hal paling penting untuk komunitas berkembang dewasa ini.

Organizer bisa memanfaatkan jalur-jalur streaming video seperti YouTube, Twitch, dan Mixer untuk menyiarkan turnamen ke seluruh dunia. Tapi untuk menciptakan kualitas streaming yang terlihat rapi menarik pun diperlukan keahlian tersendiri. Untuk mencapainya, organizer bisa bekerja sama dengan streamer atau content creator profesional yang memang sudah paham seluk-beluk dunia live streaming.

Tak kalah pentingnya adalah talent yang hadir di depan kamera, seperti komentator, analis, host, dan sebagainya. Semakin banyak penonton di jalur streaming, ada kemungkinan pula jalur ini bisa digunakan untuk menarik sponsor. Turnamen-turnamen besar sering kali menyediakan slot iklan di siaran live streaming mereka.

Keberhasilan di tahap ini akan membawa turnamen ke skala menengah. Mungkin turnamen tersebut sudah sangat dikenal di komunitas, atau sudah menjadi bagian dari sirkuit turnamen resmi. Pemain dari lokasi-lokasi jauh berdatangan, dan mungkin organizer akan butuh tempat yang lebih luas. Bila sudah demikian, hotel bisa menjadi pilihan venue, dengan skema kerja sama yang mirip seperti bar/kafe sebelumnya.

Tom Cannon berkata, “Hal penting yang kami pelajari dari bekerja sama dengan pemilik hotel, yaitu bahwa dua hal terpenting bagi mereka adalah penginapan—jika Anda bisa menjamin bahwa para pengunjung akan memesan kamar di hotel tersebut dan menghasilkan bisnis—juga makanan dan pemandian.

Para pengunjung akan memesan banyak makanan karena mereka akan berada di area hotel. Dan salah satu kekuatan turnamen fighting game adalah para pengunjung biasanya diam di lokasi untuk waktu yang lama dibandingkan dengan acara-acara lain.” Area hotel yang luas bisa dimanfaatkan untuk banyak kegiatan, termasuk menjual ruang untuk mendirikan booth bagi vendor yang berminat.

Step 5: Atmosphere

Perkembangan turnamen ke tingkat selanjutnya ada hubungannya dengan persaingan. Anda mungkin sudah sukses sebagai organizer skala menengah, tapi pada saat bersamaan di sekitar Anda pun banyak organizer lain yang menggelar turnamen. Di sini penting melakukan pengembangan ke arah tema yang unik. Turnamen Anda perlu memiliki sesuatu, atmosfer yang tidak ada di turnamen lain.

Ambil contoh saja CEO, turnamen tersebut unik karena mengusung tema yang kental dengan suasana gulat profesional. Bahkan trofi pemenangnya pun berbentuk seperti sabuk kejuaraan gulat. Sementara Combo Breaker justru menghadirkan atmosfer menyerupai konser musik, dengan trofi berbentuk piringan hitam.

Keunikan-keunikan ini bisa dicapai lewat berbagai hal. Misalnya penataan venue, lighting, dan dekorasinya, kemudian wujud hiburan yang disajikan, hingga vendor-vendor yang turut berpartisipasi. Tentu saja ada cara lain untuk bersaing, misalnya dengan adu besar-besaran uang hadiah. Tapi itu akan memunculkan persaingan yang tidak sehat.

Tom Cannon bahkan menyatakan bahwa jika hanya mementingkan uang, EVO mungkin sudah mati dari dulu. Justru karena mereka memperhatikan hal-hal di luar keuntungan finansial maka mereka bisa terus hidup dan digemari begitu banyak orang hingga saat ini.

EVO menggelar berbagai turnamen sampingan untuk memfasilitasi komunitas-komunitas dari game yang tidak mainstream, sehingga semua penggemar fighting game bisa merasa ikut jadi bagian festival besar tersebut. Hal-hal seperti inilah yang membuat orang ingin terus kembali ke EVO dari tahun ke tahun. Turnamen sampingan ini bahkan bisa memunculkan kejutan. Contohnya seri Under Night In-Birth, dulunya hanya turnamen sampingan di EVO tapi kemudian diangkat menjadi turnamen utama karena peminatnya begitu banyak.

Combo Breaker 2019 - SFV Winners
Trofi Combo Breaker berbentuk seperti piringan hitam | Sumber: tempusrob/Robert Paul

Sebuah turnamen fighting game tidak bisa langsung besar dari awal. Setidaknya demikianlah pelajaran yang disampaikan oleh para founder turnamen terbaik dunia. Memang bisa saja organizer mencoba menggelar ajang dengan dana besar langsung. Tapi tanpa memiliki ikatan yang kuat dengan ekosistem akar rumput, jangan harap bisa bertahan untuk waktu yang lama.

Gairah dan kekuatan yang dimiliki komunitas-komunitas lokal itulah yang terus menjadi penopang fighting game kompetitif selama puluhan tahun. Oleh karena itu penyelenggara turnamen fighting game harus banyak berinvestasi di komunitas, juga berinvestasi di hal-hal yang sifatnya bukan mengejar keuntungan semata. Sekarang, organizer manakah di Indonesia yang berani menerima tantangan ini?

Sumber: Core-A Gaming