Esports Ecosystem

10 Fighting Game Unik dan Seru yang Kini Hilang Ditelan Zaman

10 Sep 2019 | Ayyub Mustofa
Dengan semakin populernya fighting game, mungkinkah judul-judul di bawah bisa bangkit kembali?

Sejak dipopulerkan oleh Street Fighter II di awal tahun 90an, genre fighting game terus mengalami evolusi, baik itu karena perkembangan teknologi ataupun karena kreativitas para pembuatnya. Luasnya variasi ini kemudian memberikan daya tarik tersendiri. Anda bisa saja tak cocok dengan suatu judul—katakanlah, Tekken—tapi dengan begitu banyak judul fighting lainnya, besar kemungkinan akan ada salah satu yang pas dengan selera Anda.

Sayangnya, besarnya variasi itu juga menjadi semacam pedang bermata dua. Sering ada developer yang menciptakan fighting game unik namun tidak berhasil meraih audiens mainstream. Akibatnya, banyak judul fighting yang kemudian hanya jadi relik sejarah, kalah dengan judul-judul yang lebih populer dan hilang ditelan zaman.

Saya ingin mengajak Anda mengenang sejenak beberapa fighting game unik tersebut. Beberapa di antaranya mungkin pernah Anda mainkan, tapi mungkin ada juga yang bahkan tidak pernah Anda dengar. Mana di antara judul berikut yang pernah mengisi hari-hari Anda?

Ehrgeiz

Ehrgeiz
Sumber: The Fighters Generation

Mendengar nama perusahaan Square Enix atau Squaresoft, hal pertama yang terpikirkan oleh kita pasti adalah judul-judul RPG ternama seperti Final Fantasy atau Kingdom Hearts. Tapi tahukah Anda bahwa Squaresoft juga pernah menerbitkan fighting game? Game itu berjudul Ehrgeiz, atau lengkapnya, Ehrgeiz: God Bless the Ring.

Dirilis untuk PS1 pada tahun 1998, Ehrgeiz merupakan fighting game 3D yang unik karena memiliki gameplay yang terinspirasi dari gulat profesional, dan memiliki fitur-fitur aneh yang biasanya tak ada di fighting game lain. Contohnya arena yang bertingkat-tingkat, sistem kombinasi tombol yang unik, hingga sistem “magic point” untuk mengeluarkan jurus spesial tertentu.

Mungkin fitur paling berkesan dari Ehrgeiz adalah adanya karakter-karakter playable dari Final Fantasy VII seperti Cloud, Sephiroth, Yuffie, dan Zack. Game ini juga memiliki mode petualangan (Quest Mode) yang akan mengingatkan Anda pada game Diablo.

Rival Schools

Rival Schools 2
Sumber: Capcom Database

Rival Schools adalah seri fighting game buatan Capcom yang keren, namun lebih sering dikenang bukan karena pertarungannya. Pasalnya, seri ini menyediakan segudang mode sampingan yang tak kalah seru dari pertarungan itu sendiri. Sesuai judul, Rival Schools memiliki tema kehidupan sekolah, karena itu karakter-karakternya pun dibuat berdasarkan berbagai kegiatan sekolah. Contohnya Roberto yang pemain sepak bola, Shoma yang pemain bisbol, atau Natsu yang pemain bola voli.

Kita dapat memainkan karakter-karakter itu dalam mini-game yang berhubungan dengan kegiatan mereka. Tersedia mini-game adu penalti, memukul home run, bermain voli, dance, dan sebagainya. Lebih seru lagi, Rival Schools juga memiliki mode dating sim, di mana kita menjalani kehidupan sekolah, berinteraksi dengan para karakter dalam game, serta menjalin hubungan persahabatan atau asmara bersama mereka. Semua ini sangat fun!

Seri Rival Schools terakhir kali terbit di Dreamcast dengan judul Project Justice. Beberapa karakter dari Rivals Schools kini muncul dalam Street Fighter V, namun hanya sebagai figuran yang menghiasi latar belakang. Kapankah Capcom akan membangkitkan kembali seri ini?

Gundam Battle Assault

Gundam Battle Assault
Sumber: Gundam Wiki

Fakta ini mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, tapi Bandai memiliki seri fighting game 2D bertema Gundam yang sangat keren dan sempat berjalan cukup lama. Dikembangkan bekerja sama dengan Natsume, Gundam Battle Assault pertama kali muncul di PS1 dan telah singgah juga di platform lain seperti PS2 dan GBA. Di Jepang, seri ini dikenal dengan judul Gundam: The Battle Master.

Berhubung Gundam adalah pertarungan antar robot, gameplay dalam seri ini agak berbeda dari fighting game pada umumnya. Setiap robot, misalnya, memiliki jatah peluru dan energi untuk serangan spesial yang terbatas dan tidak bisa dipulihkan. Robot-robot ini juga bisa melayang di udara dengan menggunakan thruster, namun durasinya terbatas. Gerakan juga terasa berat dan mengguncang tanah, sebagaimana seharusnya gerakan sebuah robot raksasa.

Saat ini Bandai Namco sudah memiliki seri fighting game Gundam lain yang juga populer, yaitu Gundam Versus. Akan tetapi seri tersebut mengusung sistem permainan 3D, jauh berbeda dengan Gundam Battle Assault.

Fatal Fury

Garou Mark of the Wolves
Sumber: MaiOtaku

Berasal dari seri game apakah karakter Terry Bogard, Mai Shiranui, dan Geese Howard? Kalau Anda menjawab The King of Fighters (KOF), Anda salah. Sebelum muncul di KOF, mereka sudah memiliki seri fighting game orisinal terlebih dahulu dengan judul Fatal Fury (alias Garou Densetsu).

KOF sebetulnya merupakan kompilasi dari berbagai seri game berbeda bikinan SNK, di antaranya Fatal Fury, Art of Fighting, Ikari Warriors, dan Psycho Soldier. Kenal karakter Athena Asamiya dan Sie Kensou? Mereka berasal dari game Psycho Soldier, karena itulah tim mereka di KOF dikenal dengan nama “Psycho Soldier Team”. Hal serupa juga berlaku untuk beberapa karakter lain, seperti Ryo Sakazaki atau Leona Heidern.

Sayangnya, judul-judul yang merupakan “rumah” dari banyak karakter KOF itu kini justru tak diproduksi lagi. Fatal Fury sendiri terakhir muncul pada tahun 1999, dengan judul Fatal Fury: Mark of the Wolves. Di kalangan penggemar fighting game retro, judul ini masih sering dibahas sebagai salah satu game terbaik era tersebut.

One Piece: Grand Battle

One Piece Grand Battle 3
Sumber: Game Planet

Satu lagi seri fighting game keren yang dibuat berdasarkan anime adalah One Piece: Grand Battle. Game ini memiliki kontrol yang cukup sederhana, dengan jurus-jurus spesial yang bisa dikeluarkan dengan menekan dua tombol saja. Namun meski kontrolnya sederhana, One Piece: Grand Battle punya gameplay yang cukup solid dan layak dimainkan dengan serius.

Ketika muncul di era PS1, One Piece: Grand Battle menggunakan arena pertarungan 2D bertingkat seperti seri Super Smash Bros. Tapi memasuki era PS2 seri ini berubah menjadi pertarungan 3D sepenuhnya. Daya tarik utama game seri ini, selain cerita yang mengikuti komik aslinya, adalah jurus-jurus karakter yang digambarkan dengan keren dan kocak seperti adegan anime.

One Piece: Grand Battle punya banyak kemiripan dengan seri Naruto: Ultimate Ninja Storm. Bila fighting game Naruto bisa terus hidup dan laku keras hingga saat ini, saya pikir seharusnya One Piece juga bisa. Tapi developernya yaitu Ganbarion akhirnya beralih fokus menjadi pengembang game action-adventure, seperti One Piece: Unlimited World RED dan yang terbaru One Piece: World Seeker.

Darkstalkers

Darkstalkers Resurrection
Sumber: WallpaperBro

Seri fighting game yang dikenal dengan judul Vampire di Jepang ini pasti tak asing bagi Anda yang sering mengunjungi arcade center di tahun 90an. Wajar bila Darkstalkers digemari banyak orang, karena game ini memang memiliki kualitas tinggi sebagaimana standar developernya yaitu Capcom.

Dengan desain yang terinspirasi gaya gotik, serta karakter-karakter berbasis makhluk-makhluk mistis (seperti drakula, mumi, dan jiangshi), Darkstalkers berhasil menjadi alternatif bagi penggemar fighting game yang bosan dengan desain Street Fighter. Tapi belum ada sekuel baru dalam seri ini sejak Darkstalkers 3 (Vampire Savior di Jepang) di tahun 1997. Setelah itu yang kita dapatkan hanyalah rilis ulang atau kompilasi di era PS2 dan PS3.

Meski tidak ada sekuel selama 22 tahun, Darkstalkers masih populer di berbagai belahan dunia dan sering dipertandingkan di turnamen. Salah satunya turnamen Combo Breaker 2019 beberapa waktu lalu. Darkstalkers juga menginspirasi pembuatan sebuah judul fighting game populer lainnya, yaitu Skullgirls.

Capcom vs. SNK

Capcom vs. SNK
Sumber: Polygon

Pada era 90an hingga awal 2000an, Capcom sempat menjalin kerja sama jangka panjang dengan SNK yang membuat mereka berhasil menelurkan sejumlah game brilian. Sistemnya begini: Capcom boleh mengembangkan fighting game menggunakan karakter-karakter SNK, dan sebaliknya SNK pun boleh mengembangkan fighting game berisi karakter-karakter Capcom.

Game hasil kolaborasi yang dikembangkan oleh SNK disebut sebagai SNK vs. Capcom (SVC), sementara yang dibuat oleh Capcom disebut Capcom vs. SNK (CVS). Kedua seri sama-sama menarik karena mengkombinasikan gameplay dari berbagai judul fighting milik Capcom dan SNK sekaligus. Hasilnya adalah fighting game yang sangat kompleks, sangat variatif, dan mendorong kreativitas strategi para pemain.

Di antara sejumlah judul dalam seri SVC dan CVS, yang paling berkesan mungkin adalah Capcom vs. SNK 2: Mark of the Millennium 2001. Memiliki total 48 karakter dan sistem unik bernama “Groove”, game ini benar-benar menawarkan variasi permainan yang seolah tak ada habisnya. Sistem Team Battle asimetris di dalamnya juga memberikan tambahan strategi tersendiri. Setiap tim bisa memiliki jumlah karakter berbeda, dan dengan mengurangi jumlah anggota, karakter yang Anda mainkan akan menjadi lebih kuat.

Virtua Fighter

Virtua Fighter 5 Final Showdown
Sumber: Microsoft

Sebetulnya masih belum bisa dipastikan apakah Virtua Fighter telah mati atau tidak, namun yang jelas kita sudah lama sekali tidak mendapat sekuel dari game ini. Sekuel terakhirnya, Virtua Fighter 5, dirilis pada tahun 2006 yang berarti 13 tahun lalu. Setelah itu SEGA sempat merilis versi update berjudul Virtua Fighter 5 R dan Virtua Fighter 5 Final Showdown, tapi tak ada kabar mengenai Virtua Fighter 6.

Peran Virtua Fighter dalam sejarah fighting game sangat besar. Seri ini merupakan pionir fighting game 3D, dan banyak menciptakan pakem yang populer hingga sekarang seperti konsep ring out, juggle combo, serta motion capture. Bahkan konon, popularitas Virtua Fighter adalah alasan mengapa Sony dan SEGA berminat mengembangkan console yang fokus pada teknologi 3D (PS1 dan Saturn).

Beberapa karakter Virtua Fighter sempat muncul di Dead or Alive 5, seperti Akira Yuki, Jacky dan Sarah Bryant, serta Pai Chan. Sayangnya mereka tidak muncul kembali dalam Dead or Alive 6.

Bushido Blade

Bushido Blade 2
Sumber: RetroMags

Bushido Blade memperkenalkan sebuah konsep radikal, yaitu pertarungan bersenjata di mana setiap serangan bersifat mematikan. Seperti dunia nyata, dalam game ini, satu sabetan pedang saja bisa membuat karakter Anda langsung tewas. Tentu dengan syarat serangan itu mengenai musuh secara telak.

Karena setiap serangan bisa berakibat fatal, pertarungan di Bushido Blade lebih banyak melibatkan aksi berlari, menghindar, dan menangkis. Kita dapat memilih berbagai macam senjata, dari yang khas Jepang seperti katana, nodachi, dan naginata, atau yang kebarat-baratan seperti rapier, longsword, dan broadsword. Beberapa karakter juga memiliki senjata spesial, seperti pisau lempar, shurikendual katana, bahkan pistol (ya, ini bukan game yang adil).

Bushido Blade mungkin tidak punya jurus-jurus flashy seperti game berbasis senjata lainnya, misalnya Samurai Shodown dan Soulcalibur. Akan tetapi pertarungan “instant death” ini memiliki sensasi tersendiri yang belum tergantikan hingga sekarang. Bayangkan seperti apa pertarungan yang muncul bila game seperti ini dimainkan di level esports!

Bloody Roar

Bloody Roar 3
Sumber: Listal

Game terakhir dalam daftar ini adalah game yang pasti sangat familier di kalangan gamer millennial. Mengusung konsep di mana setiap karakter bisa berubah menjadi siluman binatang (beast), Bloody Roar adalah game yang menarik perhatian karena begitu keren untuk dilihat. Gameplay di dalamnya pun sangat solid, dengan gerakan-gerakan cepat serta combo yang ganas.

Seri Bloody Roar sempat sangat populer di Indonesia di era PS1, dengan entri andalannya saat itu yaitu Bloody Roar 2: The New Breed. Terakhir kali, seri ini muncul di PS2 dengan judul Bloody Roar 4, namun setelahnya tidak terdengar lagi. Salah satu penyebab Bloody Roar menghilang adalah karena penerbitnya, yaitu Hudson Soft, mengalami kebangkrutan di tahun 2012.

Setelah kebangkrutannya, Hudson Soft diakuisisi dan dilebur menjadi salah satu bagian dari Konami. Sementara itu studio co-developer Bloody Roar yaitu Eighting masih terus aktif hingga sekarang. Mereka berada di balik berbagai fighting game Kamen Rider, dan telah membantu Capcom dalam pengembangan Marvel vs. Capcom 3 serta beberapa judul Monster Hunter.

Secara pribadi, hampir semua judul di atas punya kesan tersendiri dalam kehidupan saya. Virtua Fighter 3 misalnya, sempat menemani malam-malam saya ketika masih kuliah dulu dan bertemu dengan teman yang sama-sama menyukai fighting game. Gundam Battle Assault 2 mengisi hari-hari ketika saya duduk di bangku SMP, menghabiskan waktu untuk bermain PS1 di rental dan membaca ulasan strateginya di majalah Hotgame. Sementara Darkstalkers saya kenang sebagai game yang selalu saya tonton di arcade center tapi tidak pernah saya mainkan karena saya tidak paham cara mainnya (waktu itu saya masih SD).

Tapi bila boleh memilih satu saja judul untuk dibangkitkan kembali di console modern, tanpa pikir panjang lagi saya akan memilih Bloody Roar. Memang, game ini tidak punya cerita menarik dan terkenal punya balance yang sama sekali tidak balanced. Tapi seri ini sangat menyenangkan untuk dimainkan, dengan tema yang tak biasa dan jurus-jurus yang keren untuk dilihat. Semoga saja suatu saat Konami berminat menghidupkan kembali Bloody Roar, apalagi mengingat esports merupakan salah satu pilar penting dalam strategi Konami di tahun 2019 ini.