Pertumbuhan pesat populasi agen kecerdasan buatan (AI agents) di lingkungan korporasi kini melampaui kemampuan tata kelola dan pengawasan tim teknologi informasi (TI) internal.
Berdasarkan studi global terbaru bertajuk “Global AI Confessions Report: CIO Edition, 2026” yang diumumkan oleh platform AI Dataiku pada konferensi tahunan Succeed, tercatat sebanyak 81 persen Chief Information Officer (CIO) tidak memiliki pengawasan penuh terhadap agen AI yang dibuat di luar sistem atau saluran resmi perusahaan.
Laporan hasil survei lembaga riset Harris Poll terhadap 685 CIO global tersebut mengungkap pergeseran mandat pimpinan TI di perusahaan. Fokus para CIO kini tidak lagi sekadar membuka akses adopsi teknologi untuk mengimbangi pesaing, melainkan bagaimana mengendalikan armada agen AI otonom yang terus bertambah dan menyatu ke dalam operasional bisnis.
Terkait tantangan pengelolaan sistem otonom tersebut, Co-founder dan CEO Dataiku, Florian Douetteau,menyampaikan:
“Industri telah meyakinkan para CIO mengenai manfaat otonomi, tetapi sering kali melupakan konsekuensinya: sistem otonom perlu dikelola, bukan sekadar dipantau,” ujar Florian Douetteau, Co-founder dan CEO Dataiku.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa pemantauan hanya memberi tahu apakah suatu agen AI sedang berjalan, sedangkan pengelolaan berfungsi memastikan apakah agen tersebut masih layak untuk terus beroperasi. Saat ini, mekanisme untuk menghentikan agen yang bermasalah hampir tidak tersedia, sehingga kontrol yang andal menjadi kunci utama dalam memaksimalkan nilai AI sekaligus menjaga konsistensi kinerjanya.
Minimnya Visibilitas Biaya dan Standarisasi Siklus Hidup Agen AI
Survei Dataiku menemukan bahwa 67 persen CIO memperkirakan terdapat sedikitnya 51 unit agen AI atau lebih yang saat ini aktif beroperasi di lingkungan produksi perusahaan mereka. Kendati 90 persen responden merasa yakin telah memiliki pelacakan atas agen-agen tersebut, data di lapangan menunjukkan sejumlah celah tata kelola yang krusial:
-
Ketiadaan Standar Siklus Hidup: Sebanyak 83 persen CIO mengakui organisasinya belum memiliki manajemen siklus hidup (lifecycle management) agen AI yang terstandarisasi di seluruh lini perusahaan.
-
Penonaktifan Agen: Sebanyak 47 persen CIO tercatat telah menonaktifkan lebih dari 20 agen AI sepanjang tahun 2026, di mana pergantian tersebut sebagian besar berlangsung tanpa visibilitas yang memadai.
-
Rendahnya Visibilitas Biaya: Hanya 21 persen CIO yang memiliki visibilitas penuh dan nyaris real-timeterhadap rincian biaya operasional AI berdasarkan unit bisnis, tim, maupun skenario penggunaan (use case).
-
Kurangnya Tata Kelola Terpusat: Sebanyak 60 persen responden belum memiliki lapisan tata kelola AI terpusat yang memayungi seluruh aplikasi, perangkat keras, dan lingkungan TI perusahaan.
-
Celah Pengukuran Kinerja: Hampir tiga dari empat CIO (72 persen) tidak dapat memastikan secara konsisten apakah seluruh agen AI yang berjalan benar-benar memberikan hasil bisnis sesuai tujuan awal pembuatannya.Tercatat hanya 28 persen CIO yang rutin mengukur kinerja operasional sekaligus dampak bisnis dari seluruh agen AI, sementara 76 persen lainnya belum memiliki metode pengukuran Return on Investment (ROI) yang matang.
Selain celah pengukuran, rantai pertanggungjawaban saat sebuah agen AI mengalami kegagalan operasional juga masih terfragmentasi. Pandangan para CIO terbelah mengenai pihak yang paling bertanggung jawab menangani masalah tersebut, yakni antara tim gabungan (23%), tim TI pusat (21%), tim data atau AI (20%), serta tim keamanan, risiko, dan kepatuhan (18%).
Tren Pengembangan Terdistribusi dan Strategi Multi-Model
Menghadapi laju karyawan yang menciptakan agen dan aplikasi AI lebih cepat dibandingkan kapasitas kelola tim TI—sebagaimana disepakati oleh 84 persen responden—mayoritas CIO ternyata tidak memilih langkah pembatasan ketat atau sentralisasi penuh.
Sebanyak 91 persen CIO menilai strategi AI yang paling efektif adalah mendistribusikan proses pengembangan kepada masing-masing tim bisnis, namun tetap berada di dalam kerangka lingkungan tata kelola yang jelas. Guna menghindari risiko ketergantungan pada satu sistem tunggal (vendor lock-in), para CIO juga mulai mendiversifikasi fondasi model AI mereka:
-
75 persen CIO berencana mengadopsi lebih banyak variasi model AI guna menjaga kesinambungan operasional.
-
74 persen CIO mempertimbangkan penggunaan model open-source atau open-weight sebagai langkah antisipasi apabila suatu model komersial dihentikan ketersediaannya di masa mendatang.
-
80 persen CIO telah atau berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap risiko ketergantungan pada teknologi AI tertentu.
Tekanan Dewan Direksi: Ancaman Pemangkasan Anggaran hingga Posisi Jabatan
Lambatnya sistem pengendalian dalam mengimbangi penyebaran AI berbanding lurus dengan meningkatnya tekanan dari jajaran eksekutif puncak dan dewan direksi. Sebanyak 97 persen CIO melaporkan peningkatan tuntutan dari dewan direksi untuk segera membuktikan angka ROI AI yang terukur, dengan 77 persen di antaranya menilai tekanan tersebut berada pada level signifikan.
Tuntutan pembuktian nilai bisnis tersebut membawa konsekuensi langsung terhadap anggaran maupun keberlangsungan karier para CIO:
-
Ancaman Pembekuan Anggaran 2026: Sebanyak 72 persen CIO menyatakan anggaran AI mereka berpotensi dipangkas atau dibekukan apabila target kinerja gagal tercapai pada akhir tahun 2026.
-
Taruhan Reputasi dan Jabatan: Sebanyak 88 persen CIO menyebut reputasi profesional dan jalur karier mereka ditentukan oleh keberhasilan implementasi AI, sementara 87 persen mengungkap bahwa CEO mereka secara langsung mengaitkan kelangsungan jabatan CIO dengan hasil nyata penerapan AI.
-
Batas Waktu Akhir 2027: Sebanyak 76 persen CIO meyakini posisi mereka akan terancam jika perusahaan gagal mencetak manfaat bisnis terukur dari AI hingga akhir tahun 2027 (sebagai pembanding, pada laporan CEO Edition 2026, tercatat 80 persen CEO merasakan ancaman serupa terhadap posisi mereka sendiri).
Tekanan paling tinggi tercatat dialami oleh para CIO di pasar Amerika Serikat. Di negara tersebut, 94 persen CIO menilai karyawan membuat agen AI lebih cepat dari kemampuan kelola tim TI, 87 persen menghadapi ancaman pemotongan anggaran di akhir 2026, dan 88 persen merasa jabatannya terancam pada akhir 2027 jika gagal memberikan hasil terukur.
Bahkan, 82 persen CIO di AS mengaku menyesali setidaknya satu keputusan besar terkait pemilihan vendor atau platform AI yang mereka ambil dalam kurun 18 bulan terakhir.
—
Disclosure: Artikel ini disusun dari rilis dengan bantuan AI dan dalam pengawasan editor.