Dark
Light

Two News From Two Big Player

3 mins read
January 19, 2010

Awal minggu ini ada 2 berita dari para giant internet. Satu dari rencana New York Times untuk menerapkan konten berbayar tinggal tunggu waktu dan satu lagi Aol, giant dari US yang meluncurkan aplikasi terbaru mirip Wikipedia bernama Owl.

Dua berita ini mungkin tidak terlalu berpengaruh secara langsung pada user internet Indonesia, tapi dua situs ini adalah dua diantara para pemain besar di dunia Internet global, dan saya yakin dampaknya akan sampai juga secara tidak langsung pada Internet lokal. Karena semuanya saling terkait.

Seperti berita pertama tentang konten berita berbayar yang akan diterapkan oleh  Times, bagi saya akan berpengaruh pada percaturan internet global yang nantinya akan berpengaruh juga pada internet di tanah lokal. Proses paid konten memang terus menjadi polemik, bukan saja bagi para user tetapi ternyata perubahan konsep dari yang gratis ke yang berbayar memunculkan perdebatan di sisi internal. Demikian juga di Times, seperti yang di tulis oleh New York Magazine, perdebatan tentang apakah Times akan meluncurkan versi berbayar mendapat pertentangan di internal mereka sendiri, meski akhirnya keputusan untuk monetize konten tidak bisa dielakkan.

Seperti yang kita tahu, industri media online di US memang masih ketar-ketir, dilematik dan perlu gerakan cepat. Apakah perkembangan ini akan berbengaruh pada hasil pencarian Google? Pasti akan berpengaruh, tapi bagaimana dan seperti apa pengaruhnya, kita mungkin harus melihat beberapa minggu ke depan sampai sistem berbayar ala Times diluncurkan ke publik.

Pertarungan Google dan para taipan media memang tidak bisa dielakkan, Google sendiri sedang mengalami masalah serius dengan China yang belum terselesaikan, belum lagi komentar dari seteru Google Steve Ballmer yang mengomentari tentang sikap Google ke China. Mungkin, nanti setelah urusan dengan China beres, Google akan dihadapkan dengan dengan permasalahan konten berbayar ini, meski seperti yang sudah-sudah Google mungkin tidak akan ambil pusing dengan konten berbayar, tinggal menghilangkan konten ini dari hasil pencarian, tapi mungkin agak bermasalah bagi user.

Meski masalah konten berbayar ini masih terus bergulir dan belum akan selalu berbeda penetapannya untuk tiap situs, tapi setidaknya ada 3 sistem yang dikembangkan Times yang bisa kita lihat, mungkin saja memberikan sedikit gambaran atau ide untuk startup atau situs anda, sistem itu antara lain pay wall yang merupakan sistem berbayar klasik, yang membagi konten situs menjadi dua, yang gratis dan subscription-only, lalu yang kedua adalah NPR-style membership, dan yang terakhir metered system yang menyediakan fasilitas bagi user untuk membaca konten gratis sebelum memberikan biaya untuk konten selanjutnya. Masih seperti yang ditulis New York Magazine, Times kemungkinan akan memilih sistem yang ketiga.

The metered system ini memungkinkan Times untuk mengambil keuntungan dari dua jenis user, high-volume readers dan casual browser. Ini berguna juga untuk menjaga traffic, jadi pemasukan bisa didapat dari dua sistem, advertising yang mengacu pada traffic dan subsricber yang mengacu pada konten.

Kita lihat beberapa minggu kedepan, apa yang akan terjadi dengan peluncuran konten berbayar ini dan tanggapan dari Google. Dan seperti tulisan saya yang terdahulu, saya tentu akan terus berharap, sistem konten berbayar ini tidak mampir ke Indonesia, saya masih memilih iklan, meski kadang ganggu juga. 🙂

Oke, satu lagi berita dari Aol yang meluncurkan situs yang seperti ditulis TechCrunch hampir mirip Wikipedia. Owl sendiri bagi saya mungkin menjadi jawaban atas perubahan yang memang sedang gencar di lakukan oleh Aol. Dengan CEO baru serta berhadapan dengan para pesaing yang terus berjalan maju seperti Google, Yahoo!, Microsoft, Aol memang harus terus meremajakan diri.

Dengan hadirnya Owl, sepertinya Aol mau masuk ke apa yang menjadi trend di dunia internet masa kini. Owl sendiri didefinisikan, seperti yang saya kutip dari blognya sebagai breathing library yang diisi oleh para expert dari seluruh dunia, tentang berbagai hal mulai dari pengetahuan yang berguna, opini sampai images.

Kemiripannya dengan Wikipedia adalah dari sistem kontributor yang bisa mengirimkan buah pikirannya, pengetahuannya dan berbagai konten yang nantinya akan disebarkan pada user umum, dari konten yang sangat bermanfaat, saran, komentar, sampai segala sesuatu yang ingin anda ketahui dan hal-hal yang anda tidak tahu tapi harus anda ketahui.

Para kontributor ini bisa mengrimkan konten dan para expert ini juga memungkinkan untuk mendapatkan bayaran. Para expert ini dihimpun melalui SEED. Jika anda mampir ke situs Owl, beberapa artikel masih diisi oleh tim dari Owl, tapi nantinya, artikel-artikel yang ada diharapkan akan datang dari para expertise.

Problem utama bagi para giant adalah, tubuh yang besar menyulitkan untuk bergerak, Aol yang lama juga sepertinya masuk dalam ‘perangkap’ giant itu, internet yang memerlukan kelincahan dalam bergerak, memang selalu menuntut para pembuat aplikasi untuk terus maju dan maju. Dan, dengan meluncurkan Owl, Aol sepertinya memang ingin mulai dilihat kembali, bukan sebagai veteran internet yang sudah tidak punya nyali tapi menjadi seorang atlit yang siap berlomba dengan aura persaingan yang sangat kompetitif.


Sumber: New York Magazine, Telegraph, TechCrunch

Wiku Baskoro

Penggemar streetphotography, penikmat gadget, platform agnostic gamers, build Hybrid.co.id to make impact.

3 Comments

  1. aq paling ga suka konten berbayar,seharusnya semua informasi di internet itu gratis.kecuali kalau kita membutuhkan service tambahan maka hal itu emang wajar.ya makanya aq sangat menyukai google yg berusaha membuat semuanya gratis. thanks to google then. 🙂

    my_blog

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous Story

Aggregator, Indikasi Web 3.0 ?

Next Story

Flukle ‘Twitter’ Untuk Penggila Foto

Latest from Blog

Don't Miss

New York Times Kini Sajikan Berita dalam Augmented Reality

Tepat tanggal 1 Februari kemarin, media publikasi kenamaan asal Amerika

Kurio Terapkan Teknologi Machine Learning untuk Kurangi Penyebaran Hoax

Menghadapi maraknya berita hoax yang simpang siur di internet, Kurio