Esports Ecosystem

Tiongkok Prediksi Akan Hasilkan 2 Juta Talenta Esports di Tahun 2024

04 Jul 2019 | Ayyub Mustofa
Laporan dari kementerian Tiongkok menunjukkan tren sangat positif, tapi pelaku industri tak boleh terbuai.

Tiongkok selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang paling maju dan kompetitif di bidang esports. Selain memiliki sejumlah organisasi besar dan berprestasi global, serta perusahaan-perusahaan raksasa penerbit game yang mendunia, dukungan dari pemerintah juga jadi salah satu pendorong ekosistem esports negara tersebut. Contohnya dengan mengakui esports sebagai profesi resmi serta menciptakan berbagai regulasi yang bertujuan membuat iklim esports dan game di sana lebih baik.

Beberapa bulan lalu, salah satu media Tiongkok yaitu China Central Television (CCTV) melaporkan bahwa industri esports di sana diperkirakan akan menyerap tenaga kerja hingga 250.000 orang pada tahun 2020, dengan nilai output industri mencapai 21,1 miliar Yuan (sekitar Rp44,1 triliun). Kali ini Kementerian Sumber Daya Manusia dan Kesejahteraan Sosial Tiongkok merilis laporan industri esports yang sedikit berbeda.

Dilansir dari The Esports Observer, laporan yang datanya disediakan oleh perusahaan bernama IRE Research itu menyebutkan bahwa industri esports Tiongkok telah menghasilkan total output senilai 94 miliar Yuan (sekitar Rp193,39 triliun) di tahun 2018. Angka ini diprediksi akan meningkat menjadi lebih dari 135 miliar Yuan (sekitar Rp277,74 triliun) pada tahun 2020.

Vici Gaming - Epicenter Major
Tiongkok adalah rumah sejumlah tim esports kuat, contohnya Vici Gaming | Sumber: Wykrhm Reddy

Selain itu, masih ada dua poin penting lainnya. Pertama adalah bahwa 86% pekerja Tiongkok di bidang yang berkaitan dengan esports ternyata memperoleh gaji 1 – 3 kali lebih tinggi dari upah rata-rata Tiongkok. Kedua, bahwa negara ini diproyeksikan menciptakan sekitar 2 juta talenta di bidang esports selama lima tahun ke depan.

Laporan ini membuat pandangan masyarakat Tiongkok terhadap esports semakin positif, bahkan dikatakan bahwa esports adalah kunci pengembangan berikutnya di negara tersebut. Namun perlu diperhatikan adanya ketimpangan yang besar antara data IRE Research dengan data yang sudah ada sebelumnya dari CCTV dalam hal prediksi output 2020. IRE Research memproyeksikan angka 135 miliar Yuan, sementara CCTV hanya 21,1 miliar Yuan.

Bila kita perhatikan perkiraan jumlah tenaga kerja pun, yaitu 250.000 jiwa di tahun 2020 (tahun depan) namun meningkat menjadi 2.000.000 pada tahun 2024 (lima tahun lagi), artinya terjadi peningkatan 800% dalam waktu 4 tahun saja. Padahal bila dibandingkan dengan industri olahraga, data Biro Statistik Tiongkok hanya menunjukkan peningkatan sekitar 15,7% dari tahun 2016 ke tahun 2017.

Proyeksi peningkatan yang sedemikian meroket tentu saja tidaklah mustahil. Akan tetapi bila kita lihat dari rekam jejak, ada perbedaan yang cukup besar antara 800% selama 4 tahun dengan 15,7% per tahun. Antusiasme masyarakat dan optimisme pemerintah terhadap perkembangan industri esports adalah hal yang kita sambut baik, namun seyogyanya para pelaku industri di Tiongkok harus hati-hati agar tidak mengambil keputusan gegabah setelah melihat proyeksi seperti ini.

Sumber: The Esports Observer, Invictus Gaming