Esports Ecosystem

Tentang Pekerjaan Shoutcaster: Antara Keberanian dan Personalitas

16 May 2019 | Akbar Priono
Simak bincang-bincang redaksi Hybrid dengan Vinzent "Oddie" Indra dan Wibi "8Ken" Irbawanto

Dalam sebuah pertandingan esports, pasti ada saja satu sosok yang berteriak di tengah keseruan pertandingan, memberi analisis, memandu penonton menikmati jalannya pertandingan. Sosok tersebut merupakan sosok yang dikenal sebagai seorang shoutcaster. Pada dasarnya, shoutcaster tak beda jauh dengan komentator olahraga. Perbedaan utamanya mungkin hanya dari penyebutannya saja.

Seiring dengan berkembangnya ekosistem esports di Indonesia, kebutuhan akan pekerjaan shoutcaster ini juga semakin tinggi. Semakin banyak kompetisi yang hadir, para penyelenggara tentu akan semakin membutuhkan shoutcaster tersebut untuk memeriahkan acara mereka. Tetapi, apakah pekerjaan shoutcaster merupakan pekerjaan yang menjanjikan di masa depan? Membahas soal ini, Saya berbincang dengan dua orang yang sudah banyak makan asam garam menjadi caster di ekosistem esports Indonesia, Vinzent “Oddi” Indra dan Wibi “8Ken” Irbawanto. Sebelum menuju ke pembahasan, mari kita sedikit berkenalan dengan para narasumber.

Vinzent “Oddie” Indra

Sumber: Facebook Vinzent Putra
Sumber: Facebook Vinzent Putra

Oddie memulai karir sebagai caster pada tahun 2013 di sebuah studio broadcasting esports, bernama Dota 2 TV Indonesia (DTVI). Ketika itu ia menjadi caster karena diajak oleh Indra “Yota” Putra, dan Yudi “Justincase” Anggi. Ia bercerita ketika itu ia menjalani pekerjaan caster hanya sebagai freelance job dan hobi saja. Namun apa yang ia lakukan bersama DTVI terus berlanjut sampai 2015-2016.

Tetapi nyatanya ia keterusan berkecimpung sebagai caster. Berkat kemampuannya, ia sempat mendapat kesempatan menjadi guest panel desk saat gelaran GESC. Ketika itu ia satu meja dengan panel desk Dota 2 seperti Sheever dan Nahaz. Seiring pergeseran tren, Oddie akhirnya mulai mencoba menjadi shoutcaster Mobile Legends.

Ia menjadi shoutcaster dalam gelaran Mobile Legends Professional League (MPL) S2 (bahasa Inggris) dan S3 (bahasa Indonesia)  dan juga Mobile Legends SEA Championship (MSC) 2018 (bahasa Inggris). Ia juga menjadi caster dalam gelaran Grand Final MPL 2019 yang digelar di Britama Arena pada 5 Mei 2019 lalu.

Wibi “8Ken” Irbawanto

Sumber: Facebook Page @8KenCSGO
Sumber: Facebook Page @8KenCSGO

Nama 8Ken (dibaca HachiKen) pertama kali menjajaki karir sebagai shoutcaster pada tahun 2015. Ketika itu ia menjadi shoutcaster untuk gelaran NXL Amateur Cup sambil menjadi manajer tim CS:GO dari Revival Esports. Masuk tahun 2016, ia menjadi caster dalam gelaran League of Legends Garuda Series Season 6, yang berhasil melejitkan namanya.

Selama beberapa saat, nama HachiKen melekat dengan scene League of Legends lokal. Ia menjadi caster untuk beberapa kompetisi League of Legends lokal, seperti LoL National Collegiate Championship, LGS Summer dan Spring Split pada musim selanjutnya.

Namun, ia juga masih menjadi caster untuk game FPS terutama CS:GO. Ia menjadi caster pada beberapa acara seperti Supreme League Arena Tournament, dan ASUS ROG Masters CS:GO. Seperti Oddie, HachiKen juga turut menjadi caster Mobile Legends, seiring dengan pergeseran tren esports Indonesia. Ia menjadi caster bahasa Inggris pada MPL Finals Season 1, MSC 2017, MPL Regular Season 2 dan Finals, MSC 2018. Ia juga sempat menjadi caster Rainbow Six Siege pada gelaran Silver Slam yang diselenggarakan oleh Mogul.gg

Apa Modal Utama Seorang Shoutcaster?

Topik pertama yang saya lemparkan kepada dua narasumber adalah soal modal untuk menjadi seorang shoutcaster. Anda yang ingin mencoba terjun menjajaki karir di bidang ini mungkin penasaran setengah mati, selain harus percaya diri bicara di depan umum atau di depan kamera, sebenarnya modal apalagi yang diperlukan supaya Anda bisa jadi shoutcaster papan atas di ekosistem esports Indonesia?

Masing-masing narasumber punya poin mereka tersendiri terkait modal kemampuan ini. Wibi mengatakan modalnya adalah berani, sementara Oddie bicara soal modal personality. Memang, keduanya bisa dibilang sebagai modal soft skill yang penting di dunia hiburan esports ini.

Lebih lanjut soal modal berani yang dikatakan Wibi bercerita berdasarkan pengalaman dan melihat kawan-kawannya sesama shoutcaster. “Maksud modal berani itu adalah berani tampil, berani salah, berani dikritik, dan berani untuk terus berkembang walau di luar zona nyaman.” Wibi menjawab. “Anda tak perlu khawatir atau minder ketika tampil untuk pertama kalinya, karena nggak ada caster yang baru muncul langsung jago. Kalau yang saya lihat sendiri, yang bertahan sampai sekarang itu minimal punya mental keberanian yang kuat.”

shoutcasters 3
BangPen dan Pasta, dua shoutcasters yang terkenal punya personality yang kuat. Sumber: Facebook Page PUBG Mobile ID

Vinzent Oddie juga turut menjelaskan modal personality yang ia maksud. “Sebetulnya masing-masing caster punya modalnya sendiri-sendiri,” jawab Oddie membuka penjelasan “tapi yang pasti, selain keahlian bicara dan pemahaman game, modal utamanya adalah personality. Kenapa personality? Agar membuat Anda bisa terlihat berbeda dibandingkan dengan para shoutcaster lainnya.”

“Ada beberapa contoh jika bicara personality. Pasta contohnya, dia punya kemampuan mengomentari play-by-play dengan cepat, tapi dia juga punya personality yang asik. Contoh lainnya Oji Ranger Emas, selain pemahaman atas game dan kemampuan bicara, ia juga berhasil memunculkan personality sebagai seorang shoutcaster yang selalu heboh dalam berbagai momen permainan.” kata Oddie memberi contoh soal personality.

Lebih lanjut soal personality, saya juga menanyakan apa yang harus dilakukan shoutcaster pendatang baru agar bisa tampil beda. Apakah harus jadi shoutcaster yang disukai pasar penonton esports pada umumnya? (caster yang hobi melucu contohnya) atau memaksimalkan personality alami dari sang shoutcaster. Menurut Oddie, lebih baik untuk menjadi natural dan tidak memaksakan menjadi orang lain. “Shoutcaster lucu itu cenderung populer, tapi ini mungkin karena shoutcaster yang punya knowledge lebih, belum bisa menyajikan pengetahuan tersebut dengan menarik dan membuat penonton jadi suka.”

Kembali lagi kepada modal berani yang dibicarakan Wibi, pertanyaannya berikutnya tentu adalah, apakah modal berani saja cukup? Wibi lalu menjelaskan lebih lanjut, bahwa setelah berani, Anda harus terus mau belajar. Pada poin berani, ia juga menyematkan poin berani untuk terus berkembang walau di luar zona nyaman.

“Kenapa yang saya point out adalah modal berani? Karena skill public speaking dan pengetahuan atas game yang dikomentari bisa diasah seiring waktu. Terlebih, seberapa keras Anda belajar juga akan mempengaruhi seberapa cepat karir Anda menanjak di bidang shoutcaster. Semakin bagus cara Anda bicara di depan umum, semakin Anda paham terhadap game yang dikomentari, maka pemasukan Anda akan semakin besar juga.” Wibi menjelaskan. “Sedikit saran, awal mula jadi caster tentunya nggak bakal langsung dapat job bukan? Jadi seiring waktu sambil terus pelajari game yang akan dikomentari dan sering-sering latihan bicara sendiri supaya semakin terlatih.”

Bagaimana Cara Tepat Memulai Karir Shoutcaster?

Setelah bicara soal kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi shoutcaster, topik berikutnya yang kami bahas adalah soal cara tepat memulai karir sebagai shoutcaster. Karena pekerjaan ini terbilang masuk ke golongan pekerjaan dunia hiburan, jadi jalur masuknya terbilang tidak sangat jelas seperti karir di dunia profesional. Kalau karir di dunia profesional, jalurnya mungkin sudah jelas. Anda harus memulai jadi karyawan terlebih dahulu, setelah belajar beberapa tahun, Anda lalu jadi manajer, setelah jadi manajer Anda bisa jadi kepala bagian, sampai Anda menjadi bagian teratas dari manajemen perusahaan.

Tapi bagaimana dengan pekerjaan caster? Orang yang baru jadi caster selama beberapa bulan bisa saja mendadak sukses dan populer dalam satu malam karena cara ia mengomentari game sangat disukai khalayak. Karena jalurnya yang cenderung sangat lepas, jadi bagaimana sebenarnya cara yang tepat untuk memulai karir sebagai shoutcaster.

Dua caster berpengalaman ini pun menceritakan berdasarkan dari apa yang ia alami. Keduanya punya jawaban yang kurang lebih senada. Ada dua jalur yang mungkin dijalani, yaitu jalur usaha sendiri, dan jalur pencarian bakat. Keduanya bukan jalur yang terpisah, Anda bisa saja usaha sendiri, lalu mengikuti ajang pencarian bakat caster yang sedang diselenggarakan.

Sumber: Facebook Page Garena AOV Indonesia
Ajang pencarian bakat bisa menjadi salah satu jalan untuk menjajaki karir di dunia shoutcaster. Sumber: Facebook Page Garena AOV Indonesia

Wibi lalu menjelaskan lebih lanjut soal usaha mandiri yang bisa dilakukan. “Salah satu jalur mandiri yang bisa Anda lakukan adalah dengan menawarkan diri untuk menjadi caster di berbagai acara dengan bayaran yang kecil atau bahkan bersedia tidak dibayar. Anda juga perlu mempersiapkan modal untuk mempromosikan diri sendiri dan Anda bisa membangun portfolio lewat jalur ini.” Sementara penjelasan Oddie soal usaha mandiri sedikit berbeda. “Kalau menurut saya, salah satu usaha mandiri yang bisa dilakukan untuk menjadi caster, Anda bisa ambil game sampel, Anda komentari sendiri, merekamnya, lalu disebarkan lewat kanal berbagi video seperti YouTube.”

Bicara soal hal ini, Oddie membahas pentingnya melakukan networking atau memperluas jaringan pertemanan di ekosistem esports Indonesia. Oddie mengatakan hal tersebut lewat cerita pengalamannya yang menjadi caster karena diajak oleh Yota dan Justincase. “Kalau bicara menjadi caster, memang jalur setiap orang beda-beda. Contohnya seperti saya, yang diajak teman-teman sesama shoutcaster untuk menjadi komentator di dalam suatu kompetisi.”

Shoutcaster 6
Atau mungkin coba melamar pada saat ada rekrutmen tertentu. Sumber: Facebook Page ESL Indonesia

Wibi juga bicara soal pentingnya networking ini berdasarkan dari pengalamannya. “Networking matters a lot. Percuma punya kemampuan tapi tidak ada yang tahu tentang Anda. Tapi juga bukan berarti networking saja bakal membuat Anda jadi shoutcaster yang sangat sukses. Enaknya keduanya berjalan secara paralel, sambil terus networking, sambil terus dikembangkan kemampuan bicara di depan umum dan pemahaman atas game yang dikomentari.”

Oddie pun punya pendapat yang serupa. “Networking tanpa kemampuan yang mumpuni, atau bukti bahwa Anda bisa, akan membuat Anda jadi tidak dipercaya oleh orang lain. Sedangkan kalau Anda kerja terus, walaupun dikenal penonton, bisa jadi Anda tidak mendapat job kalau Anda tidak dikenal oleh sang organizer sebuah kompetisi esports.”

Shoutcaster Sebagai Pekerjaan Tetap, Apa Mungkin?

Seperti yang diceritakan Dimas “Dejet” Surya Rizki dalam gelaran Hybrid Day pertama, menjadi shoutcaster itu menyenangkan. Kenapa? Anda bisa kerja karena hobi, mendapat uang dari hobi tersebut, dan menjadi terkenal karena hobi yang Anda jalani tersebut. Namun, di balik hingar bingar pekerjaan caster, pertanyaan yang sesungguhnya adalah, apakah pekerjaan ini dapat menopang kehidupan sehari-hari? Apakah pekerjaan ini akan terus dibutuhkan sampai, anggaplah 5 tahun ke depan?

Bicara soal pendapatan yang bisa didapatkan oleh seorang caster, tanpa basa-basi Wibi mengatakan bahwa pendapatan shoutcaster itu tidak sebesar yang Anda bayangkan. “Kalau kerjaannya cuma terbatas menjadi shoutcaster saja, saya bisa bilang kehidupan kalian akan sangat pas-pasan. Kenapa? Karena bayaran shoutcaster itu tidak segitu besar, walau pada satu titik bisa saja di atas UMR.”

Sumber: Facebook Page MLBB Indonesia
Sumber: Facebook Page MLBB Indonesia

“Tetapi di sisi lain, shoutcaster kerap dianggap sebagai key opinion leader. Maka dari itu sekarang ini banyak shoutcaster yang merangkap jadi influencer, kenapa? Karena pemasukannya cukup besar dari bidang tersebut.” Jelas Wibi. “Maka dari itu, sebagai shoutcaster, sebenarnya Anda bisa branch out ke beberapa pekerjaan sampingan lain. Contohnya seperti live streaming, bikin konten untuk platform yang tersedia, jadi pembicara, jadi influencer, atau bahkan kerja di belakang layar.”

Lebih lanjut soal gaji seorang shoutcaster, tim Hybrid cukup beruntung karena Wibi mau membocorkan bayaran dari para caster walau hanya bersifat perkiraan saja. “Bayaran caster di Indonesia cukup beragam. Caster pendatang baru mungkin bisa saja tidak dibayar. Tapi kalau untuk sekarang, harusnya para caster pemula sudah bisa mengantungi sekitar Rp250 ribu sampai Rp400 ribu per hari ia menjadi caster. Untuk caster kelas kakap, bayarannya bisa lebih dari Rp1,5 juta per hari. Selain dua spektrum paling ekstrim tersebut, ada juga tingkatan di tengahnya, dengan bayaran kisaran Rp500 ribu – Rp1 juta per harinya.” Jawab Wibi.

Oddie juga angkat bicara soal masa depan pekerjaan caster ini. Menurutnya pekerjaan caster sangat mungkin untuk dijadikan pekerjaan utama, tapi Anda sebagai caster juga harus kompetitif. “Seperti para atletnya, para caster juga harus kompetitif dengan para talent lainnya. Kenapa? Karena jumlah caster dalam setiap acara terbatas, yang tentunya tidak akan cukup untuk semua caster yang ada di Indonesia.” Jawab Oddie. Membahas soal apakah pekerjaan ini masih akan dibutuhkan pada 5 tahun ke depan, Oddie menjawab, tergantung. “Kalau untuk masa depan, itu sih tergantung. Tergantung apakah esports yang jadi ladang pekerjaan shoutcasting Anda masih bertahan di Indonesia atau tidak.

Masih membahas soal pekerjaan shoutcaster sebagai karir masa depan, kami lalu mendiskusikan soal kehadiran talent management atau caster management yang kini menjamur di ekosistem esports Indonesia. Hal yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana peran talent management ini di dalam ekosistem esports? Terutama dari sudut pandang sang caster itu sendiri.

Menurut Oddie, ada beberapa keuntungan bagi seorang caster untuk bergabung dengan sebuah talent management. “Satu hal yang pasti, kalau tergabung ke dalam talent management ada gaji bulanan. Jadi sudah jelas bisa menopang kehidupan sehari-hari.” Selain memberikan pendapatan tetap, Wibi juga menceritakan pengalamannya bergabung di dalam talent management milik RevivalTV. Saat ini sendiri Wibi bekerja paruh-waktu sebagai caster, dengan kesibukan utamanya adalah sebagai mahasiswa. Menurutnya talent management sangat membantu bagi caster yang bekerja paruh-waktu seperti dirinya.

Caster management helps you grow while you do the other stuff. Kalau Anda jadi caster yang dikelola oleh talent management, bisa dibilang Anda tinggal ‘terima jadi’, ini cocok apalagi kalau Anda mau terjun ke dunia esports sambil memiliki kesibukan lain.” Kata Wibi. “Kalau dikelola talent management, networking Anda dibantu oleh sang manajer. Jadi, Anda juga tak perlu repot-repot menjual diri sendiri ke berbagai event organizer. Cuma kekurangannya, bayaran Anda terkena potongan manajemen tentunya.”

Entah menjadi caster yang dikelola talent management atau menjadi freelance casters, keduanya tetap mengharuskan Anda untuk terus belajar, terus berkembang, agar bisa bersaing di dunia kerja yang satu ini. Sumber: LoL Garena Indonesia
Entah menjadi caster yang dikelola talent management atau menjadi freelance casters, keduanya tetap mengharuskan Anda untuk terus belajar, terus berkembang, agar bisa bersaing di dunia kerja yang satu ini. Sumber: LoL Garena Indonesia

Lalu dengan banyaknya talent management, apakah ini artinya akan memperkecil kesempatan caster baru, atau freelance caster untuk mendapatkan pekerjaan di berbagai event esports yang ada? Baik Oddie ataupun Wibi punya jawaban yang senada. Keduanya merasa bahwa sebenarnya talent management tidak sebegitunya memakan seluruh pekerjaan caster yang ada di ekosistem esports Indonesia ini. Kesempatan bekerja tetap sama besarnya, baik bagi caster yang dikelola talent management ataupun mereka yang menjadi freelance caster.

“Terlihat dari 2 event terakhir, yaitu Piala Presiden dan MPL, penyelenggara acara masih menggunakan talent freelance dan juga caster dari talent management lain. Salah satu alasannya, karena memang secara jumlah caster dari satu talent management kadang masih kurang untuk bisa mengisi suatu acara.” Jawab Oddie membahas soal ini. “Tetapi memang freelance caster sebagai karir itu punya risiko yang lebih tinggi. Sebab, seperti  kebanyakan pekerjaan freelance, kita tidak bisa tahu kapan bisa dapat kerjaan. Tetapi mengingat banyaknya event esports sekarang, maka bisa dibilang resiko zaman sekarang terbilang lebih rendah dibanding dulu.” Oddie melanjutkan.

Pendapat dari Wibi juga kurang lebih sama, bahwa sebenarnya talent management tidak serta-merta membuat ladang pekerjaan bagi freelancecaster jadi lebih sempit. “In-house talent (caster yang berasal dari talent management yang sama dengan sang penyelenggara sebuah event esports) memang bisa dibilang lebih murah dan mudah diakses. Tapi hal tersebut tak serta-merta membuat para caster yang tak tergabung dalam talent management manapun jadi tak punya kesempatan untuk bersinar. Malah kadang dalam rivalitas antar manajemen, mereka mau tak mau jadi harus mempekerjakan talent freelance atau opsi-opsi caster lain yang tidak berasal dari saingan langsung mereka. Pro kontra talent management pasti ada, tinggal kembali ke kita aja soal gimana cara menyikapinya.”

Pekerjaan caster, kendati menarik untuk ditekuni, namun memang punya tantangannya tersendiri untuk bisa sukses di bidang tersebut. Anda harus siap usaha ekstra mengembangkan diri, bahkan di luar dari zona nyaman, jika ingin menjadi caster favorit di ekosistem esports Indonesia. Usaha ekstra tersebut bisa dengan menonjolkan personality yang Anda miliki, lebih pintar dalam membahas analisis sebuah pertandingan, atau lebih mahir memainkan kosakata yang bisa membuat penonton jadi tergelitik.

Pada akhirnya pekerjaan shoutcaster bisa dibilang seperti banyak pekerjaan lain di dunia hiburan, aset terbesar dalam pekerjaan ini adalah citra diri Anda sendiri.