Esports Ecosystem
for SEO
Esports Ecosystem

3 Keuntungan yang Bisa Diraih dengan Menjadi Sponsor Akademi Esports

5 February 2021Ellavie Ichlasa Amalia

Sebuah brand bisa membuat para fans esports familier dengan mereknya

Regenerasi pemain masih menjadi salah satu masalah di dunia esports. Membuat akademi esports bisa menjadi salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut. Sayangnya, menyelenggarakan akademi esports membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kabar baiknya, sekarang, ada banyak perusahaan yang tertarik untuk terjun ke dunia esports, baik merek endemik maupun non-endemik.

ASUS menjadi salah satu perusahaan yang tertarik untuk membuat akademi esports. Minggu lalu, mereka mengumumkan bahwa mereka akan membuat ROG Academy di India untuk para gamer yang ingin menjadi pemain Counter-Strike: Global Offensive profesional. Dalam mengadakan akademi ini, ASUS juga menggandeng AFK Gaming, perusahaan media dan konten esports, serta SoStronk, platform esports yang mengkhususkan diri pada CS:GO.

Pertanyaannya: apa keuntungan yang bisa didapatkan oleh sebuah brand jika mereka ikut serta dalam membuat akademi esports?

 

Eksposur

Esports telah menjadi industri bernilai ratusan juta dollar dan jumlah fans esports mencapai ratusan juta orang. Jadi, tidak heran jika banyak pihak yang berbondong-bondong untuk masuk ke dunia esports, mulai dari perusahaan fashion seperti Louis Vuitton sampai klub sepak bola. Cara yang paling sering digunakan oleh sebuah entitas untuk mendekatkan diri dengan komunitas esports adalah dengan menjadi sponsor dari pelaku esports.

Beberapa merek internasional yang sudah terjun ke esports. | Sumber: The Esports Observer
Beberapa merek internasional yang sudah terjun ke esports. | Sumber: The Esports Observer

Secara garis besar, sebuah perusahaan punya dua opsi ketika mereka ingin menjadi sponsor di esports. Pertama, mensponsori jalannya turnamen atau liga esports. Kedua, menjadi sponsor dari pemain atau tim esports. Masing-masing opsi ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan dari mensponsori turnamen atau liga esports adalah audiens yang besar. Sebagai ilustrasi, total view dari Mobile Legeds Professional League (MPL) Season 5 mencapai lebih dari 73 juta di YouTube dan Facebook.

Satu hal yang harus diingat, durasi penyelenggaraan turnamen atau liga esports tidak lama. Turnamen esports biasanya diadakan pada akhir pekan dan hanya berlangsung selama 2-3 hari. Sementara liga esports di Indonesia biasanya berlangsung selama sekitar satu-dua bulan. Regular Season dari MPL berjalan selama 8 minggu. Sementara babak Playoffs dari liga tersebut hanya memakan waktu 3 hari. Hal itu berarti, dengan menjadi sponsor dari liga atau turnamen esports, sebuah merek memang akan mendapatkan eksposur tinggi, tapi eksposur itu tidak akan berlangsung lama.

Sementara jika sebuah brand ingin mendapatkan eksposur dalam waktu yang lebih lama, mereka bisa mempertimbangkan untuk mendukung tim atau pemain esports secara langsung. Selain itu, brand juga bisa mendukung tim akademi atau penyelenggaraan pelatihan esports. Mensponsori sebuah tim esports juga akan membuat para fans mengaitkan image pihak sponsor dengan tim yang mereka dukung. Hanya saja, fans sebuah organisasi esports atau seorang pemain esports tentunya tak sebanyak fans dari sebuah game esports.

Menjadi sponsor dari akademi esports bisa dianggap sebagai investasi jangka panjang, mengingat para peserta akademi masih belum menjadi pemain profesional. Namun, dengan menjadi sponsor dari akademi esports, sebuah brand akan punya waktu yang cukup untuk membuat peserta akademi dan fans esports familier dengan mereka.

 

Brand Loyalty

Di era serba diskon, membangun brand loyalty bukanlah masalah mudah. Konsistensi menjadi salah satu kunci penting bagi perusahaan untuk membuat konsumen menjadi setia. Hal lain yang bisa mereka lakukan adalah memenangkan hati target audiens mereka. Kabar baik bagi merek yang menargetkan fans esports, competitive gaming memiliki komunitas yang besar. Sayangnya, tidak mudah bagi brand untuk bisa masuk ke komunitas gaming atau esports. Alasannya, fans esports memiliki ekspektasi tinggi pada perusahaan yang mau masuk ke dunia competitive gaming.

Jumlah fans esports capai ratusan juta orang di dunia. | Sumber: CNBC
Jumlah fans esports capai ratusan juta orang di dunia. | Sumber: CNBC

“Fans esports adalah audiens yang sangat menuntut,” kata Chief Marketing Officer, ESL, Rodrigo Samwell, seperti dikutip dari McKinsey. “Salah satu hal pertama yang kami beritahukan pada rekan kami adalah mereka harus memikirkan cara yang otentik untuk bisa mendekatkan diri dengan para fans esports.”

Dengan kata lain, ketika hendak menargetkan fans esports, sebuah merek harus menunjukkan bahwa mereka serius dalam mendukung ekosistem esports. Mereka juga harus bisa menggunakan bahasa yang sama seperti yang digunakan oleh para penggemar esports. Jika tidak, mereka justru bisa mendapat cibiran. Mensponsori akademi esports bisa menunjukkan keseriusan sebuah brand dalam mendukung ekosistem esports. Selain waktu penyelenggaraan yang cukup lama, akademi esports juga punya peran penting dalam regenerasi pemain di dunia competitive gaming.

 

Data Gamer

Membangun komunikasi dengan target audiens merupakan salah satu cara lain bagi sebuah merek untuk membangun brand loyalty. Namun, perusahaan tak akan bisa menjalin komunikasi yang efektif tanpa mengenal konsumen atau target pasar mereka.

Jika target pasar sebuah merek adalah gamer dan fans esports, mensponsori akademi esports akan memungkinkan mereka untuk mendapatkan data tentang komunitas gamer. Data ini — yang bisa berupa Facebook page atau server Discord dan lain sebagainya — bisa mereka gunakan untuk langsung menjalin komunikasi dengan para fans esports. Data komunitas juga bisa digunakan oleh perusahaan untuk melakukan profiling sehingga mereka bisa membuat strategi yang sesuai untuk mendekatkan diri dengan konsumen yang mereka sasar.

Bagi merek endemik, seperti penyedia hardware, menjadi sponsor dari akademi esports juga memungkinkan mereka mendapatkan saran dan masukan akan produk mereka. Misalnya, saat meluncurkan ROG Phone II, ASUS mengaku bahwa para gamer profesional merupakan bagian dari “kerajaan gamer” mereka. Mereka juga mengungkap, mereka bekerja sama dengan tiga organisasi esports untuk mendapatkan feedback tentang smartphone gaming mereka.

Sumber header: Vulcan Post