Esports Ecosystem
for SEO
Esports Ecosystem

Media Sosial: Panggung Pertempuran Utama untuk Organisasi Esports

5 November 2020Yabes Elia

Bagaimana organisasi esports bertarung di panggung pertempuran yang berbeda?

Jika kita berbicara soal pertempuran antara organisasi esports, seringnya kita akan terbayang pada panggung megah, gemerlap lampu, dan riuhnya teriakan para fans.

Meski begitu, kompetisi bukanlah satu-satunya panggung pertempuran untuk organisasi-organisasi esports. Panggung pertempuran yang tak kalah sengit adalah jejaring media sosial.

Bahkan, mungkin kompetisi bisa jadi kalah penting dibanding media sosial karena sebagian besar pendapatan tim esports justru berasal dari sponsor ataupun investor, bukan hadiah turnamen.

Kali ini, kita akan membahas panjang lebar soal pertempuran di media sosial bagi organisasi esports bersama Bigetron. Salah satu organisasi esports terbesar, paling populer, dan paling berprestasi ini buka-bukaan data media sosial mereka kepada Hybrid.

Buat yang belum tahu, Anda bisa membaca profil dan sejarah Bigetron di artikel kami sebelumnya. Namun singkatnya, Bigetron adalah organisasi esports Tier 1 asal Indonesia yang beberapa kali membanggakan Ibu Pertiwi dengan membawa pulang piala turnamen tingkat internasional di PUBG Mobile.

Semua pemerhati esports Indonesia ataupun dunia harusnya tahu dominasi mereka di skena esports PUBG M lokal ataupun internasional.

Data by: Social Blade. Graphic by: Hybrid
Data by: Social Blade. Graphic by: Hybrid

Namun demikian, Anda mungkin tidak tahu jika, saat ini, mereka adalah organisasi esports asal Indonesia dengan tingkat engagement tertinggi di sosial media. Selama satu tahun terakhir, selain engagement, popularitas mereka di media sosial juga melesat cepat.

Saya pun berbincang dengan Shena Septiani, Marketing Manager dari Bigetron Esports untuk mengupas lebih dalam tentang sepak terjang mereka lewat media sosial.

 

Strategi Media Sosial Bigetron Esports

Jika Anda melihat sejumlah tangkapan layar yang kami tampilkan di sini, ada lonjakan besar dari performa media sosial Bigetron selama satu tahun belakangan. Tentu saja, dominasi Bigetron RA di skena esports PUBG Mobile berpengaruh terhadap mencuatnya popularitas organisasi esports yang satu ini — yang akan kita bahas nanti. Namun, sebenarnya apa yang terjadi di belakang layar? Strategi baru apa yang mereka lakukan?

Menurut penuturan Shena, Bigetron melakukan perombakan di berbagai aspek, mulai dari workflow sampai tahapan kreatif yang langsung terpusat pada sang CEO, Edwin Chia. “Karena itu, seluruh tim dapat saling belajar dengan konsultasi langsung. Baik CEO maupun karyawan, dapat saling bertukar pendapat. Hal ini membuat tim kami tetap kecil, tanpa birokrasi, namun dengan kualitas yang konsisten.” Ujar Shena.

Credit: Bigetron Esports
Credit: Bigetron Esports

Lebih lanjut ia menjelaskan, “kami sadar bahwa pendukung adalah salah satu aspek utama tercetaknya prestasi-prestasi bagi tim. Hingar-bingar fans berhasil membentuk mental pemain untuk lebih semangat menggali kemampuan mereka hingga ke titik tertinggi. Selain itu, kami ingin terus menggapai prestasi yang terbaik karena tak ingin mengecewakan harapan dari para pendukung Bigetron.

Pendukung, baik fans maupun sponsor, merupakan bentuk penghargaan yang harus dipertahankan.”

Saat ini, dari sisi konten Bigetron, mereka memiliki 3 kriteria yang harus dipenuhi yaitu menghibur, mendidik, dan positif. Kriteria tadi diambil karena Bigetron ingin membentuk komunitas di dalam media sosial resmi mereka, yang sebelumnya jarang dilakukan.

“Kami menanamkan karakter dasar dari esports yang bisa diterima oleh orang awam sekalipun. Pada YouTube, setiap detail baik gambar maupun alur cerita sengaja dibuat natural dan sederhana. Sehingga, masyarakat yang tidak mengenal esports pun dapat menikmati konten kami.” Cerita Shena.

Sedangkan dari sisi media sosial, Bigetron juga sangat menghargai pendapat dari fans dan kerap berinteraksi dengan mereka. Tim media sosial Bigetron juga menghindari aspek-aspek yang dapat memancing bully ataupun komentar negatif. Mereka sadar bahwa komentar negatif dapat memberikan dampak yang buruk. Makanya, mereka pun menindak tegas ujaran kebencian dengan penghapusan komentar, blokir, sampai juga ke jalur hukum.

Shena pun mengatakan, “kami bertanggung jawab atas ekosistem yang telah kami bentuk di media sosial dengan harapan, semua orang dapat menikmati sosial media Bigetron Esports tanpa emosi negatif.”

Saya pribadi sepenuhnya setuju dengan keyakinan tadi. Tak jarang, fenomena yang ramai di komunitas esports memang seputar drama personal. Menurut saya, hal ini bisa jadi hambatan bagi industri esports untuk bisa menunjukkan profesionalitasnya — yang penting di mata sponsor dan investor. Belum lagi, kita juga masih harus berjuang melawan paradigma negatif dari masyarakat awam soal esports. Tentunya, interaksi dan komunitas yang positif bisa jadi salah satu sarana untuk melawan paradigma negatif tadi.

Untuk strateginya, Bigetron Esports ingin menciptakan euforia esports di tengah pandemi agar industri ini terus bertahan meski tanpa pertandingan yang bisa disaksikan langsung. Maka dari itu, tim marketing dari Bigetron pun menggunakan strategi yang fleksibel dengan tujuan membuat fans menjadi bagian dari tim kesayangan mereka. Hasil dari strategi tersebut berupa Vlog perjalanan, Mic Check yang menghibur, Podcast yang mendidik, nobar komunitas, Giveaway, Q&A, ngobrol langsung dengan pemain profesional setiap pekan, Scrim bersama komunitas, dan lain-lainnya.

 

Antara Follower vs. Engagement

Mungkin, berhubung Indonesia memang masih muda dalam hal persaingan di dunia digital, kebanyakan pelaku industri memang lebih fokus pada angka dasar semata (jumlah Follower, Pageviews, dkk.). Padahal, faktanya, angka dasar tadi bukanlah satu-satunya tolak ukur dalam menentukan performa di ranah digital.

Di media sosial, misalnya, ada angka yang sebenarnya tak kalah (atau bahkan lebih) penting ketimbang jumlah follower yaitu engagement rate. Engagement rate berbicara soal aktif atau tidaknya interaksi pelaku bisnis dengan penggunanya. Untuk organisasi esports,engagement rate berarti interaksi mereka dengan para pendukungnya.

Menariknya, tim marketing Bigetron Esports juga sudah menyadari pentingnya engagement rate selain jumlah follower. Menurut mereka, Bigetron lebih fokus terhadap interaksi ketimbang jumlah follower karena mereka menyadari pentingnya memberikan ruang interaksi ke pendukungnya — karena Bigetroopers (sebutan untuk fans Bigetron) juga merupakan bagian dari tim.

“Saat ini Bigetron sudah memiliki hampir 1 juta followers organik dengan persentase engagements lebih dari 5%, dan total views mencapai 100 juta di Bigetron TV. Konten vlog sepak terjang atlet esports Bigetron menuju prestasi juga telah disaksikan belasan juta kali. Hal ini membuktikan bahwa Bigetron berhasil menggaet minat masyarakat untuk melihat sisi menarik Industri esports.” Kata Shena yakin.

Shena pun menjelaskan lebih lanjut tentang pentingnya engagement, “dengan menambah angka engagement, artinya kita berhasil membuat suatu circle yang terus berkembang. Engagement berpengaruh terhadap popularitas setiap karya-karya kami karena semakin banyak orang serius dalam menanggapi. Hal ini adalah pertanda yang baik karena artinya kami berhasil menciptakan ekosistem yang kuat.”

Selain itu, engagement yang tinggi juga berguna buat manajemen dan juga sponsor.

“Dari sisi fans, pendukung yang besar membuat manajemen maupun pemain jadi semakin bersemangat. Baik menang maupun kalah, mereka tahu fans tetap akan mendukung mereka. Fans juga membantu kami menjaga antusiasme kami dalam bekerja.

Dari sisi sponsorship, angka engagement juga penting karena membuktikan kepedulian fans pada produk atau aktivitas brand. Kepedulian itu tentunya satu tingkat lebih berharga ketimbang jumlah follower.”

Masih seputar engagement vs. follower, mari kita selami lebih dalam lagi. Bagi saya pribadi, follower atau subscriber itu penting meski hanya sebatas first impression karena angka tersebut yang paling mudah terlihat oleh sponsor ataupun investor. First impression itu memang penting namun tak hanya itu saja targetnya jika Anda ingin bertahan cukup lama.

Credit: Bigetron Esports
Credit: Bigetron Esports

Lagi pula, jika kita berbicara algoritma YouTube saat ini, kita bisa saja melihat rekomendasi video yang berkaitan dengan video-video yang sering kita tonton sebelumnya meski video tersebut berasal dari kanal yang tidak kita subscribe. Sebaliknya, konten-konten dari kanal yang kita subscribe belum tentu muncul di laman utama YouTube kita jika kita jarang menonton konten yang dianggap berkaitan oleh algoritma YouTube.

Hal ini juga sebenarnya terjadi di Facebook dan juga Instagram. Tak semua postingan dari orang ataupun fanpage yang kita follow atau like akan muncul di Newsfeed kita pribadi. Silakan perhatikan sendiri laman utama YouTube, Instagram, atau Facebook Anda. Sayangnya, saya jarang bermain di Twitter jadi saya tidak bisa berbicara banyak soal media sosial tersebut.

Tadi kita masih berbicara soal reach. Misalnya pun sebuah post atau konten sampai ke layar Anda, apakah Anda akan berinteraksi dengan postingan tersebut? Seringnya, sebagian besar post yang Anda lihat, Anda tidak akan berinteraksi dengannya. Sebagian besar video yang muncul di rekomendasi juga tidak akan Anda tonton. Sekali lagi, jika Anda sadari sendiri perilaku Anda dalam menggunakan media sosial, saya yakin Anda akan setuju dengan pendapat saya tadi.

Credit: Bigetron Esports
Credit: Bigetron Esports

Jika Anda masih tidak percaya, silakan googling kata kunci ini ‘good engagement rate’. Anda akan menemukan bahwa angka engagement rate yang lebih kecil dari yang Anda bayangkan sebelumnya — jika Anda belum pernah benar-benar riset soal marketing di ranah digital. Ada yang mengatakan bahwa engagement rate sebesar 1-4% itu sudah bagus namun angka rata-ratanya berada pada kisaran 2,4%. Ada juga yang mengatakan bahwa, di Twitter dan Facebook, engagement rate-nya hanya ada pada angka 0,5-1%. Sedangkan di Instagram angkanya lebih bagus dengan kisaran 3-6%.

 

Antara Prestasi dan Popularitas

Tentu saja, jika kita berbicara soal tim/organisasi esports, perdebatan ini akan selalu muncul seperti yang pernah kita bahas sebelumnya.

Dikotomi antara prestasi dengan popularitas memang sering menjadi perdebatan. Pasalnya, ada tim esports yang begitu populer namun tak sebanding dengan prestasinya. Ada juga tim esports yang punya segudang prestasi namun tak mampu bersaing merebut perhatian di media sosial.

Mungkin juga dikotomi tadi juga bentuk distorsi dari tokoh-tokoh publik. Selebriti yang populer mungkin tak punya prestasi yang berguna bagi kemaslahatan orang banyak. Sebaliknya, ilmuwan, engineer, ataupun bahkan peraih nobel sekalipun biasanya memang minim eksposur meski prestasi mereka memang bisa dibanggakan.

Namun demikian, jika kita berbicara tim esports, prestasi dan popularitas sebenarnya bisa berjalan berdampingan dan sejalan. Untuk satu individu, salah satu mungkin memang harus dikorbankan atau diambil jalan tengahnya (seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya) karena waktu masing-masing individu yang sangat terbatas. Sebaliknya, jika kita berbicara soal organisasi esports, dua kebutuhan tadi dijalankan oleh orang-orang ataupun tim yang berbeda.

Bagaimana Bigetron melihat fenomena tersebut? Apakah justru ada korelasi antara prestasi dan popularitas di media sosial?

Menurut Shena, “Prestasi dan popularitas dapat dikatakan sejalan. Semakin banyak prestasi, semakin banyak orang mengenal dan ingin berpartisipasi dalam perjalanan tim. Meskipun popularitas tidak hanya bisa didapatkan dengan prestasi. Semua kembali lagi kepada bagaimana suatu tim ingin membentuk brand mereka.”

Ia pun memberikan contohnya. “Selama PMPL SEA Finals berlangsung, media sosial milik Bigetron Esports dibanjiri oleh belasan ribu komentar dan ratusan ribu Like dari para fans. Komentar dari para fans yang berasal dari luar negeri juga tidak kalah banyak. Hal ini semakin membuktikan bahwa fans bersatu untuk mendukung Bigetron di PMPL SEA Finals.”

“Meski popularitas dapat sejalan dengan prestasi, namun popularitas memiliki ruang lingkup yang lebih besar. Popularitas tidak selalu dapat dimenangkan hanya dengan prestasi. Bisa juga dengan kualitas konten, ide kreatif, dan lainnya. Kami memilih untuk menjalankan dua sisi aspek tersebut. Jadi ya tentu tingkat kesulitannya sama saja. Dan keduanya sama-sama menyenangkan ketika berhasil untuk dicapai. Kesuksesan di bagian marketing dan konten adalah ketika karya yang kami ciptakan menjadi populer/viral. Sedangkan kesuksesan bagi pemain, adalah ketika mereka berhasil meraih gelar juara.” Tutup Shena mengakhiri perbincangan kami.

 

Kesimpulan

Dari pembahasan tadi, ada beberapa poin penting yang bisa Anda ambil jika Anda ingin meningkatkan daya serang Anda bertempur di panggung media sosial. Pertama, ada tolak ukur lain seperti engagement yang satu tingkat lebih tinggi ketimbang jumlah follower yang bisa Anda masukkan ke target strategi.

Kedua, sedangkan cara untuk mendapatkan angka engagement yang lebih tinggi, menurut saya — jika kita belajar dari Bigetron, adalah mindset yang menjadikan fans sebagai bagian dari tim; bukannya target iklan. Terakhir, yang tak kalah penting, prestasi dan popularitas sebenarnya bisa saja berjalan seiringan dan berbanding lurus jika kita memang bisa menarik korelasi antara keduanya dan membuatnya relevan satu sama lain.

Dengan demikian, inilah alasannya kenapa saya mengatakan bahwa media sosial menjadi panggung pertempuran utama untuk organisasi esports. Selain media sosial menjadi ruang berinteraksi aktif untuk komunitas, media sosial yang memiliki tingkat engagement tinggi seperti milik Bigetron juga lebih menguntungkan untuk sponsor karena mampu memancing kepedulian dari fansnya.

Disclosure: Artikel ini dan data-data dari sosial medianya adalah hasil kerjasama dengan Bigetron Esports

Feat Image via: Deposit Photos