Game

[Review] Game Dead Cells: Sang Penghancur yang Rapuh

06 Oct 2018 | Ayyub Mustofa
Bagai makan sambal, Dead Cells adalah pengalaman yang menyakitkan, namun juga membuat ketagihan

Anda terbangun di sebuah penjara bawah tanah yang lembab. Tanpa ingatan, tanpa teman, tanpa tahu apa yang sedang terjadi di balik dinding tebal yang mengurung Anda. Ragu-ragu, Anda membuka pintu sel yang ternyata tak terkunci, hanya untuk dikejutkan oleh sosok monster menjijikkan yang tiba-tiba menerjang. Beruntung, di sisi Anda tergeletak sebilah pedang berkarat dan tameng usang. Bukan perlengkapan paling meyakinkan, tapi jauh lebih baik daripada tak ada sama sekali.

Satu monster, dua monster. Satu lusin, dua lusin. Tak butuh waktu lama sampai Anda tak ingat lagi sudah berapa monster yang telah Anda basmi. Tanpa tahu harus ke mana, tiap langkah Anda berat oleh rasa takut dan penasaran. Setidaknya Anda tahu satu hal: bahwa Anda harus terus bergerak. Tidak ada pilihan lain. Diam berarti mati.

Dead Cells | Screenshot 1

Hampir-hampir Anda putus asa, kalau saja Anda tak melihat cahaya dari pintu di salah satu sudut lorong. Anda berlari mendekat, berharap menemukan jalan keluar, tapi sebelum sempat melewati pintu itu seorang kesatria menghadang jalan Anda.

“Bagaimana rasanya, jalan-jalan tanpa kepala?” sapa si kesatria.

Selamat datang di Dead Cells.

Dia yang tak bisa mati

Uraian singkat di atas adalah gambaran tentang apa yang Anda rasakan ketika bermain Dead Cells untuk pertama kali. Bingung, tegang, mungkin bahkan takut karena Anda merasa begitu tak berdaya. Dead Cells memang game yang sedikit “jahat”. Game ini tidak mengajarkan banyak hal. Anda langsung diceburkan ke dalam bahaya dan dipaksa untuk meraba-raba.

Dead Cells | Screenshot 2

Tokoh utama Dead Cells sebenarnya bukanlah manusia, melainkan sekumpulan sel yang menghuni tubuh orang mati. Karena sebenarnya Anda sudah mati, tentu saja Anda tak bisa mati lagi. Karena itulah setiap kali Anda game over, Anda dapat hidup kembali, namun dengan kehilangan nyaris semua progres dan barang yang telah Anda temukan.

Mekanisme permainan yang disebut “roguelike” ini selaras dengan konsep dunia yang ada dalam Dead Cells. Di sini, kematian bukanlah akhir, namun awal dari siklus yang harus Anda lewati untuk menyelesaikan game. Meski Anda harus mengulang dari awal, setiap pengulangan terjadi Anda pasti menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Dead Cells | Screenshot 3

Kekuatan itu datang dari berbagai upgrade permanen yang dapat Anda beli dari NPC bernama The Collector. Ketika Anda membunuh musuh, terkadang musuh itu bisa menjatuhkan sel yang dapat Anda serap. Sel itulah mata uang yang dapat Anda tukar dengan kemampuan baru. Misalnya membuka senjata-senjata baru, membuka beragam skill pasif yang disebut Mutation, mendapatkan Healing Potion lebih banyak, dan sebagainya.

Ketika baru mulai bermain, Anda mungkin akan merasa game ini susah sekali. Tapi seiring Anda mengumpulkan sel dan mendapatkan berbagai kemampuan baru, Anda akan merasa kemungkinan hidup Anda berangsur-angsur meningkat.

Tentu saja, sebanyak apa pun Anda mengumpulkan sel, tetap tak ada artinya tanpa disertai keahlian yang mumpuni. Di dalam Dead Cells, semua hal berusaha untuk membunuh Anda. Jebakan menanti di setiap sudut ruangan, dan bila tak hati-hati, musuh selevel kroco pun bisa membuat Anda tewas mengenaskan.

Dead Cells | Screenshot 4

Usaha takkan mengkhianati

Motion Twin, developer Dead Cells, menyebut bahwa game ini terinspirasi oleh tiga hal: Rogue, Castlevania, dan Dark Souls. Kemiripan dengan Rogue terletak pada dunianya yang dibuat acak secara prosedural. Jadi setiap kali Anda bermain, desain level serta musuh di dalamnya akan selalu berubah.

Kemiripan dengan Castlevania terletak pada tampilan visualnya yang menggunakan pixel art dua dimensi dan permainan yang memiliki fokus kuat pada eksplorasi. Anda akan menemukan bahwa banyak sekali jalur atau ruangan yang tidak bisa langsung dimasuki dari awal. Jalur-jalur rahasia tersebut hanya bisa Anda buka dengan memanfaatkan kemampuan tertentu, misalnya kemampuan untuk menghancurkan dinding atau teleportasi.

Dead Cells | Screenshot 5

Pengaruh Dark Souls terasa sangat kuat di dua hal: pertarungan dan cerita. Jangan bayangkan Anda bisa bermain asal pencet lalu semua musuh akan musnah. Dark Cells menuntut Anda untuk benar-benar mempelajari pola serangan tiap lawan, kemudian menyerang balik dengan metode yang tepat.

Selain itu, Dead Cells juga memiliki cerita yang misterius dan sulit dimengerti. Jangan bayangkan adegan-adegan teatrikal bersulih suara ala Castlevania: Symphony of the Night. Dead Cells justru menyajikan ceritanya secara implisit dan minimalis, tersebar di antara catatan-catatan yang dapat Anda temukan di seluruh penjuru kastil serta monolog si tokoh utama.

Walau tidak begitu koheren, saya cukup menikmati cerita Dead Cells karena cara penyajiannya yang eksentrik dan kental akan nuansa dark humor. Dipadukan dengan arahan visual yang berhasil berkali-kali menyajikan image kuat dalam ingatan, developer Dark Cells tampaknya ingin mengajak kita semua untuk tak lupa tertawa meski sedang merasa terkurung oleh kejamnya dunia.

Dead Cells | Screenshot 6

Satu hal pasti yang bisa saya simpulkan dari gaya penceritaan Dead Cells. Ini bukan game untuk anak-anak.

Geser keseimbangan neraca takdir

Dead Cells memiliki desain kesulitan brilian yang akan membuat Anda bersemangat sekaligus tegang pada waktu yang sama. Memang benar, mati adalah hal yang sangat mudah dalam Dead Cells. Tapi game ini juga membekali Anda dengan segudang senjata maupun gadget yang begitu variatif, Anda akan merasa bagaikan sedang menjadi Batman. Batman yang terjebak di dalam neraka, mungkin.

Dalam permainan, Anda hanya boleh membawa lima perlengkapan, terdiri dari dua jenis senjata, dua jenis gadget, dan satu aksesoris. Dua senjata itu bisa terdiri dari satu pedang dan satu tameng, atau dua buah pedang, atau satu pedang dan satu panah, atau dua panah, bahkan dua tameng bila Anda mau. Ragam senjatanya pun begitu luas. Tak hanya pedang, panah, dan tameng, ada juga tombak, cambuk, pisau, palu, sepatu, bumerang, bahkan The Force.

Dead Cells | Screenshot 7

Gadget (sebetulnya istilah asli dalam Dead Cells adalah Skill, tapi saya lebih suka menyebutnya gadget) yang tersedia pun tak kalah luas. Bermacam-macam granat, jebakan, ranjau, serta kemampuan spesial ada di sini. Dengan pemilihan gadget yang tepat Anda bisa membuat semua musuh tak berdaya, tapi tentu itu semua tergantung dari bagaimana Anda menggunakannya.

Dead Cells memaksa pemainnya untuk berpikir dan mengambil keputusan-keputusan sulit sepanjang permainan. Pasalnya, semua senjata dan gadget hanya bisa Anda dapat secara acak. Anda harus pintar memilih mana saja benda yang harus Anda bawa, yang sesuai dengan gaya permainan Anda, agar Anda dapat mengalahkan lawan-lawan secara optimal.

Dead Cells | Screenshot 8

Sinergi merupakan kata kunci penting di sini. Bisa saja Anda menemukan satu senjata dahsyat yang langka, tapi bila senjata itu tidak sinergis dengan gadget dan Mutation Anda, mungkin lebih baik buang saja. Mutation yang Anda pilih juga akan berpengaruh besar, karena Anda terbatas hanya bisa menggunakan tiga jenis Mutation. Keberuntungan tak bisa diprediksi, tapi bagaimana Anda memanfaatkan apa yang Anda punya, itulah yang menjadi penentu kesuksesan.

Bukan untuk semua orang

Dead Cells adalah game seru yang sangat memacu adrenalin. Kesenangan melakukan eksplorasi sambil melibas monster-monster dengan gabungan aksi heroik dan taktik benar-benar menimbulkan rasa candu. Persis seperti makan sambal, sebetulnya menyakitkan namun susah berhenti karena enak.

Dead Cells | Screenshot 9

Tak semua orang doyan makan sambal. Begitu pula tak semua orang cocok memainkan Dead Cells. Struktur permainan roguelike bisa membuat orang frustasi karena mereka harus mengulang dari awal lagi bila mati. Selera humor dalam ceritanya tidak cocok untuk orang yang anti pikiran-pikiran negatif. Kesulitannya yang tinggi pun memberikan tantangan baik kepada otak maupun jari-jemari kita.

Sesuai dengan tiga game yang menginspirasinya, Dead Cells hanya cocok untuk orang yang menyukai game setipe Rogue, Castlevania, dan Dark Souls sekaligus. Bila Anda merasa bagian dari kelompok itu, Dead Cells akan membawa Anda ke dalam pengalaman yang adiktif walau menyakitkan, kejam namun indah dipandang, dan membuat Anda terdorong untuk mencoba lagi dan lagi.

Tapi bila Anda tidak termasuk di dalamnya, sebaiknya jauh-jauh saja.

Sparks

  • Animasi pixel art yang mulus, setiap aksi terasa berbobot dan memuaskan
  • Cerita misterius, penuh dark humor serta referensi ke elemen pop culture lain
  • Desain level walau prosedural tetap terasa menarik untuk dieksplorasi
  • Progresi tidak linear, jalur-jalur rahasia dapat membawa Anda ke level berbeda bahkan bos musuh berbeda pula
  • Variasi senjata dan gadget sangat luas, menghasilkan segudang kemungkinan strategi berbeda
  • Sound effect didesain brilian, membuat setiap aksi terasa lebih epik dari kelihatannya

Slacks

  • Desain roguelike yang memaksa mengulang ke level pertama bisa memunculkan rasa frustrasi