Esports Ecosystem

[Report Analysis] Korelasi antara Jaringan Internet Nirkabel dengan Esports

22 Feb 2020 | Ellavie Ichlasa Amalia
Opensignal membuat daftar tentang kualitas jaringan mobile dari negara-negara di dunia

Bisakah Anda membayangkan jika di tengah pertandingan final The International 2019, OG melawan Team Liquid, mendadak koneksi internet mati? Keberlangsungan pertandingan sangat tergantung pada koneksi internet. Karena itu, dalam turnamen esports, pihak penyelenggara biasanya menggunakan jaringan kabel, yang lebih stabil daripada WiFi atau jaringan seluler. Masalahnya, akan sangat merepotkan untuk mengimplementasikan jaringan kabel ke smartphone. Padahal, belakangan, mobile esports juga mulai menjadi populer, terutama di negara-negara mobile first seperti Indonesia, India, dan Brasil.

Inilah yang mendorong Opensignal, perusahaan analitik mobile, untuk melakukan studi terkait hubungan antara kualitas jaringan mobile di berbagai negara dengan pengalaman bermain mobile game. Untuk mengumpulkan data dari studi ini, Opensignal meneliti 37,8 juta perangkat dari pengguna yang ada di 100 negara.

Bagaimana Opensignal memberikan penilaian pada pengalaman bermain?

Pengalaman bermain cenderung subjektif. Jadi, hal pertama yang Opensignal lakukan dalam studi ini adalah membuat model Mean Opinion Score (MOS) untuk mengetahui kaitan antara perhitungan teknis jaringan dengan pengalaman bermain game. Untuk membuat model MOS, Opensignal melakukan tes laboratorium terkait sejumlah mobile game. Untuk menentukan model MOS, Opensignal menguji beberapa mobile game dengan genre yang berbeda-beda dalam laboratorium. Caranya adalah dengan meminta sekelompok orang untuk memainkan game-game populer dalam keadaan jaringan yang berbeda-beda. Setelah itu, para pemain diminta untuk memberikan nilai atas pengalaman bermain mereka, dengan nilai dari 0 sampai 100.

Inilah kategori penilaian pengalaman bermain game yang dibuat oleh Opensignal:

85<100: Sangat baik
Kualitas jaringan sangat baik. Game responsif dan hampir semua responden mengaku tidak mengalami masalah apapun.

75<85: Baik
Kualitas jaringan baik. Ketika responden melakukan action, game responsif. Kebanyakan responden mengaku tidak mengalami masalah.

65<75: cukup
Responden merasa pengalaman bermain mereka “rata-rata”. Sebagian besar responden mengakui bahwa mereka mengalami masalah delay ketika mereka mengambil action.

40<65: buruk
Kualitas jaringan buruk. Game kurang responsif ketika pemain mengambil action. Sebagian besar responden mengaku bahwa pengalaman bermain di jaringan ini tidak menyenangkan.

0<40: sangat buruk
Hampir semua responden mengatakan bahwa mereka mengalami delay ketika bermain dan tidak bisa mengendalikan karakter dalam game sesuai dengan keinginan mereka. Game tidak responsif, membuat para responden merasa bahwa mereka tidak bisa bermain di jaringan ini.

Ranking: Singapura di peringkat 1, Indonesia di 55

Dari studi yang dilakukan oleh Opensignal, diketahui bahwa negara dengan jaringan nirkabel terbaik untuk bermain game adalah Singapura dengan nilai 85,5. Sementara itu, Belanda ada di posisi nomor dua dengan skor 85,4, disusul oleh Jepang dengan nilai 85,43. Sementara itu, Indonesia ada di peringkat ke 55 dengan nilai 63,6. Ini berarti, kualitas jaringan di Tanah Air masuk dalam kategori Buruk. Anda bisa melihat peringkat masing-masing negara dalam gambar di bawah ini.

Sumber: Opensignal
Sumber: Opensignal

Opensignal melakukan pengujian pada sejumlah game dengan berbagai genre, termasuk olahraga, MOBA, dan battle royale. Menariknya, ketika mereka menyempitkan pengalaman bermain pada game bbattle royale saja, Belanda naik ke peringkat satu, menggeser Singapura ke posisi kedua. Sementara itu, peringkat Korea Selatan melonjak naik dari 14 menjadi 4.

Ada beberapa alasan mengapa Opensignal sengaja membahas pengalaman bermain game battle royale secara khusus. Salah satu alasannya adalah karena game battle royale tengah sangat populer. Siapa yang tidak pernah mendengar PUBG Mobile atau Free Fire? Di negara-negara Barat, Fortnite menjadi game battle royale pilihan. Per Maret 2019, game buatan Epic Games itu telah memiliki 250 juta pengguna. Alasan lain mengapa Opensignal membahas game battle royale secara khusus adalah karena pengalaman bermain game battle royale sangat tergantung pada kualitas jaringan.

Misalnya, ketika Anda memainkan game strategi melawan satu orang, sekalipun ada masalah pada jaringan, hal ini mungkin tidak akan memengaruhi kesempatan Anda untuk menang. Lain halnya dengan game battle royale yang mempertemukan 100 orang sekaligus dalam satu pertandingan. Saat bermain game battle royale, kualitas jaringan berpengaruh besar terhadap kesempatan seseorang untuk menang.

Masalah yang mungkin terjadi

Dalam studinya, Opensignal juga membahas tentang masalah yang terjadi pada jaringan dan dampaknya pada pengalaman bermain.

1. Packet loss
Saat bermain game, server dan perangkat pemain saling mengirimkan paket data. Ketika seseorang bermain game dalam jaringan internet yang kualitasnya tidak terlalu baik, ada kemungkinan terjadi packet loss, yang bisa menyebabkan game menjadi tidak responsif. Contohnya, ketika Anda hendak bergerak mundur, tapi karakter Anda tetap diam di tempat karena terjadi packet loss. Masalah ini tidak hanya membuat pemain lebih sulit untuk menang (pemain lain bisa menembak seorang pemain yang diam saja), tapi juga membuat pemain merasa kesal saat bermain.

2. Latensi
Idealnya, ketika Anda bermain game multiplayer, Anda harus bermain dengan jaringan yang berlatensi rendah. Pada dasarnya, latensi adalah delay pada transmisi data. Semakin tinggi latensi jaringan, semakin besar delay dalam game. Memang, jaringan mobile biasanya selalu memiliki latensi yang lebih tinggi dari jaringan kabel. Meskipun begitu, keberadaan 4G telah membuat latensi jaringan mobile menjadi lebih baik. Diperkirakan, jaringan 5G akan membuat latensi jaringan nirkabel menjadi semakin rendah.

3. Jittery
Jiterry terjadi ketika packet data sampai dalam waktu yang berbeda-beda. Ketika packet data dikirimkan dari server ke perangkat pemain, ada waktu delay sebelum packet data itu sampai. Waktu delay ini beragam, dan inilah yang menyebabkan jittery. Jika sebuah packet data sampai terlalu lambat, ada kemungkinan packet data itu diacuhkan karena memang sudah tidak lagi relevan.

Rata atau tidaknya kualitas jaringan di masing-masing Benua

Singapura menjadi negara dengan kualitas jaringan mobile terbaik. Sementara Jepang ada di posisi ketiga. Meskipun peringkat satu dan tiga dipegang oleh negara Asia, kawasan Asia Pasifik menjadi benua yang kualitas jaringan nirkabelnya paling beragam. Dari semua negara di Asia Pasifik, hanya 8 persen yang masuk dalam kategori Sangat Baik dan 15 persen masuk dalam kategori Baik. Sebagian besar masih masuk dalam kategori Cukup (27 persen) dan Buruk (31 persen). Beberapa negara Asia Pasifik yang dianggap memiliki jaringan nirkabel yang Baik antara lain Hong Kong, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Sementara Indonesia masuk dalam kategori Buruk.

Sumber: OpenSignal
Sumber: OpenSignal

Secara keseluruhan, Eropa adalah benua dengan kualitas jaringan nirkabel terbaik. Hal ini terlihat dari fakta bahwa 8 dari 10 negara dengan jaringan mobile terbaik berasal dari Eropa. Sementara dalam top 25, sebanyak 19 negara merupakan negara Eropa. Menariknya, negara-negara di Amerika Utara justru tak masuk daftar 25 besar, kecuali Kanada, yang duduk tepat di ranking 25. Amerika Serikat ada di peringkat 35 sementara Meksiko ada di posisi 61.

Dibandingkan dengan kawasan Asia Pasifik dan Eropa, kawasan Amerika Tengah dan Selatan memiliki rata-rata yang tidak terlalu baik. Tidak heran, karena memang tidak ada negara yang memiliki jaringan yang sangat bagus di kawasan ini. Paraguay menjadi negara di kawasan Amerika Tengah dan Selatan yang memiliki skor paling tinggi dengan nilai 72,5, menempatkan negara itu dalam kategori Baik.

Sementara Brasil mendapatkan nilai 65,4. Ini berarti, para pemain di kedua negara merasa bahwa pengalaman bermain mereka “rata-rata” dan masih mengalami delay dalam game. Sebanyak 13 dari 15 negara di kawasan Amerika Tengah dan Selatan yang masuk dalam studi Opensignal masuk dalam kategori Buruk. Sementara dalam kawasan Afrika dan Timur Tengah, sebanyak 86 persen negara-negara di sini masuk dalam kategori Buruk atau Sangat buruk.

Korelasi antara kualitas jaringan dengan prestasi negara dalam mobile esports

Opensignal mencoba untuk membandingkan kualitas jaringan mobile sebuah negara dengan total hadiah turnamen yang dimenangkan oleh negara-negara tersebut. Misalnya, Amerika Serikat adalah negara dengan jumlah atlet esports terbanyak (15.940 orang) dan total hadiah kemenangan terbesar (US$136,7 juta). Meskipun begitu, kualitas jaringan mobile mereka tidak terlalu bagus.

Begitu juga dengan Korea Selatan, yang dikenal sebagai negara yang menghasilkan banyak atlet esports berbakat hingga banyak atlet mereka yang “diimpor” ke tim dari kawasan lain, seperti Eropa dan Amerika Utara. Namun, soal kualitas jaringan nirkabel, Korea Selatan hanya mendapatkan nilai 79,9, membuatnya jatuh dalam kategori Baik dan bukannya Sangat Baik.

Anda bisa melihat korelasi antara kualitas jaringan di sebuah negara dengan hasil kemenangan mereka pada gambar di bawah.

Sumber: Opensignal
Sumber: Opensignal

Sayangnya, perbandingan yang mereka lakukan sepertinya kurang relevan. Kenapa? Karena negara-negara seperti Amerika Serikat dan Korea Selatan banyak mendulang hadiah esports dari platform PC, bukan mobile seperti The International (Dota 2), League of Legends World Championship, dan Rainbow Six Invitational. Meski begitu, di sisi lain, jika kita lihat 3 negara dengan kualitas internet nirkabel terbaik (Singapura, Jepang, dan Australia) juga tidak berarti mampu menghasilkan para pemain esports yang berkualitas.

Contohnya:

  • Juara dunia Mobile Legends (M1 World Championship) adalah EVOS Esports dari Indonesia.
  • Juara PUBG Mobile tingkat internasional terakhir (PMCO Fall Split Global Finals 2019
  • Juara Arena of Valor International Championship 2019 adalah Team Flash dari Vietnam
  • Juara FreeFire World Series adalah Team Corinthians dari Brazil.

Namun demikian, bukan berarti jaringan nirkabel bisa dibiarkan begitu saja. Seiring dengan naiknya popularitas mobile esports, maka kualitas jaringan mobile juga akan menjadi sorotan. Apalagi negara-negara mobile first seperti Indonesia, yang warganya memang mengenal internet melalui perangkat mobile dan memang lebih suka bermain di smartphone.

Kenapa mobile game dan mobile esports penting?

Jika Anda adalah penganut paham PC Master Race, Anda pasti tahu bahwa gamer yang bermain game di perangkat mobile masuk dalam kelas “wildlife”, yang merupakan kasta paling rendah. Meskipun mobile game sering diledek, tak bisa dipungkiri bahwa pendapatan industri mobile game sudah sangat besar. App Annie memperkirakan, pada 2020, nilai industri mobile game akan mencapai US$100 miliar (sekitar Rp1.380 triliun). Dengan asumsi harga Lamborghini Aventador adalah Rp8,7 miliar, Anda bisa membeli 158 ribu unit mobil mewah itu dari total pendapatan industri mobile game.

Sumber: Imgur
Sumber: Imgur

Di Asia, mobile game juga sangat populer. Sementara di Indonesia, lebih dari 70 persen masyarakatnya bermain mobile game. Masalahnya, kualitas jaringan mobile yang tidak terlalu baik berarti pengalaman bermain yang tidak maksimal. Apalagi jika game yang dimainkan adalah game battle royale. Namun, jangan khawatir, ini tidak membuat developer meninggalkan negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Sebaliknya, ada beberapa developer yang justru memilih untuk mengembangkan versi lite dari game mereka. Contohnya, Tencent dan PUBG Corp. yang merilis PUBG Mobile Lite. Tentu saja, ada beberapa keterbatasan dalam game versi lite. Dalam PUBG Mobile Lite, peta dalam game lebih sempit dan jumlah pemain dibatasi menjadi 60 orang dan bukannya 100 orang.

Jika dibandingkan dengan nilai pasar mobile game dunia, pasar mobile game Indonesia terbilang kecil. Menurut Statista, pasar mobile game Indonesia hanya bernilai US$672 juta. Meskipun begitu, pasar mobile game di Indonesia dianggap masih memiliki potensi besar untuk tumbuh. Potensi pasar mobile game begitu menggiurkan sehingga perusahaan seperti Telkom pun tertarik untuk terjun ke dunia game. Salah satu hal yang mereka lakukan adalah dengan membuat inkubator untuk developer lokal.

Tiga mobile esports terpopuler. | Sumber: Escharts
Tiga mobile esports terpopuler. | Sumber: Escharts

Sementara soal mobile esports, saat ini, esports memang masih didominasi oleh game-game PC dan konsol. Dalam daftar 15 game esports yang memberikan dampak paling besar pada ekosistem versi The Esports Observer, tidak ada satupun mobile game yang masuk dalam daftar itu. Walaupun begitu, mobile esports kini tengah berkembang. Apa indikasinya? Jumlah penonton yang terus naik.

Menurut Esports Charts, Arena of Valor menjadi mobile game yang paling banyak ditonton dengan total durasi video ditonton mencapai 72 juta jam. Sementara itu, PUBG Mobile ada di posisi kedua dengan total jam ditonton mencapai 55,5 juta jam. Turnamen PUBG Mobile yang paling populer adalah PUBG Mobile Club Open Spring Split Global Finals. Pada puncaknya, ada 596 ribu orang yang menonton turnamen tersebut. Sementara PMCO SEA League menjadi turnamen dengan jumlah penonton yang paling banyak. Ke depan, ekosistem PUBG Mobile masih akan terus berkembang. Alasannya, karena Tencent memang serius untuk mengembangkan scene esports dari PUBG MObile. Mereka telah menyiapkan US$5 juta untuk sebagai total hadiah dalam turnamen PUBG Mobile tahun ini. Selain Tencent, Supercell juga mengaku bahwa mereka ingin mengembangkan scene esports dari Clash of Royale tahun ini.

Penutup

Mobile game sering dipandang sebelah mata. Tapi, itu tidak menghentikan pertumbuhan mobile gamer. Selain itu, spesifikasi smartphone yang semakin mumpuni juga membuat mobile game bisa menjadi semakin kompleks.

Soal esports, mobile game juga kurang mendapatkan perhatian, khususnya di negara-negara Barat. Namun, di kawasan Asia Tenggara, mobile game masih menjadi raja. Ke depan, keberadaan 5G hanya akan membuat pertumbuhan mobile esports menjadi semakin pesat. Sayangnya, Indonesia masih belum bisa menikmati jaringan 5G.

Satu hal yang harus diingat, esports adalah industri yang masih sangat baru, yang memberikan ruang untuk berkembang yang sangat luas. Pertumbuhan mobile esports bukan berarti kematian esports untuk PC atau konsol. Kemungkinan, setiap bagian dari esports — PC, mobile, atau konsol — akan terus berkembang, menguasai kawasan negara yang berbeda-beda. Misalnya, League of Legends sangat populer di Tiongkok, Korea Selatan, dan negara-negara Barat. Namun, gaungnya tak pernah terdengar di Indonesia. Sebaliknya, di Indonesia, Mobile Legends adalah salah satu game esports yang sangat populer. Tapi di tingkat global, ekosistem esports Mobile Legends justru tak terlalu berkembang.

Jika game esports untuk PC bisa tumbuh berdampingan dengan mobile esports, itu justru menguntungkan semua orang.

Sumber: Opensignal

Sumber header: Dot Esports