Gaming News

Rangkuman Preview Gameplay Cyberpunk 2077

26 Jun 2020 | Glenn Kaonang
Makin penasaran menyambut salah satu RPG yang paling diantisipasi tahun ini

Kita boleh kecewa dengan penundaan Cyberpunk 2077 untuk yang kedua kali, namun CD Projekt Red nampaknya ingin memastikan bahwa pengorbanan tersebut bakal sepenuhnya terbayarkan nantinya. Live stream Night City Wire yang ditayangkan semalam menampilkan sejumlah hal baru terkait gameplay Cyberpunk 2077, dan kali ini kita juga ketambahan impresi dari sejumlah publikasi yang diberi kesempatan untuk mencoba versi demonya.

Meski hanya sempat mencoba bermain selama sekitar empat jam, respon yang diberikan media terhadap Cyberpunk 2077 rata-rata positif. Sebagian besar memuji betapa mendetailnya dunia yang tersaji dalam permainan, sebagian lain dibuat terkesan oleh kompleksitas mekanisme gameplay yang ditawarkannya.

Sebagai sebuah role playing game, kebebasan memilih merupakan aspek penting dalam Cyberpunk 2077, dan itu sudah bisa langsung dirasakan dari awal permainan. Kustomisasi karakternya begitu lengkap – terlalu lengkap bahkan – dan pemain juga dibebaskan untuk memilih satu dari tiga latar belakang karakter yang tersedia: Nomad, Street Kid, atau Corpo.

Masing-masing latar belakang punya porsi prolognya sendiri. Misalnya, jika Anda memilih Nomad, maka V (nama protagonis utama Cyberpunk 2077) bakal memulai kisahnya di sebuah distrik di luar Night City. Kalau memilih Street Kid, adegan prolognya menceritakan V yang sedang sibuk mencuri mobil. Corpo di sisi lain menempatkan V sebagai karyawan Arasaka, satu dari tiga perusahaan besar yang berkuasa di jagat Cyberpunk 2077.

Selain menyuguhkan adegan pembuka yang sangat berbeda, masing-masing latar belakang karakter tadi juga berpengaruh langsung terhadap jalannya cerita, serta memberikan sejumlah opsi dialog khusus di sepanjang permainan. Misalnya saja jika memilih latar belakang Corpo, maka V akan punya opsi dialog yang lebih banyak ketika menjalani quest yang berada dalam lingkup korporasi.

Cyberpunk 2077

Setelah melewati prolog, barulah kita bisa memainkan Cyberpunk 2077 dalam mode open-world sebebas-bebasnya. Kondisinya kurang lebih sama seperti ketika menyelesaikan map White Orchard di The Witcher 3. Meski demikian, setting kota metropolitan di masa depan membuatnya lebih terasa seperti hasil perkawinan seri Grand Theft Auto dan Deus Ex (plus estetika ala film Blade Runner maupun Ghost in the Shell).

Saat pertama mengetahui bahwa ada bermacam kendaraan di Cyberpunk 2077, saya pribadi sempat khawatir feel mengemudinya bakal jelek. Kekhawatiran saya berdasar pada pengalaman bermain seri Just Cause, yang buat saya benar-benar jelek feel mengemudinya, apalagi jika dibandingkan dengan seri GTA. Dalam lingkup permainan open-world, GTA IV dan GTA V sendiri terbilang superior feel mengemudinya karena Rockstar memang sudah menggeluti bidang tersebut selama bertahun-tahun.

CD Projekt Red di sisi lain belum punya banyak pengalaman soal itu, dan menunggangi kuda milik Geralt di The Witcher 3 juga bukanlah pengalaman berkuda terbaik di sepanjang sejarah video game. Namun kalau merujuk pada impresi PC Gamer selama menjajal demonya, feel mengemudi dalam Cyberpunk 2077 rupanya masih cukup oke, dan kita dibebaskan untuk menyetir dalam sudut pandang orang pertama atau ketiga.

Seperti di GTA, Cyberpunk 2077 juga memiliki semacam wanted system. V akan dikejar-kejar polisi seandainya melancarkan aksi kriminal di hadapan publik. Sebaliknya, V juga bisa membantu mencegah tindak kriminal di berbagai area di Night City, dan setelahnya, polisi bakal memberikan insentif.

Live stream semalam tidak lupa menyoroti salah satu fitur gameplay andalan dalam Cyberpunk 2077, yaitu Braindance. Secara lore, Braindance di Night City merupakan salah satu format hiburan yang paling populer. Menggunakan semacam VR headset super-canggih, penghuni Night City bisa merasakan pengalaman orang lain secara penuh berkat Braindance.

Braindance juga sangat berguna untuk keperluan investigasi. Memori yang dialami orang lain tadi bisa kita eksplorasi secara bebas; bisa di-rewind, bisa dimajukan, dan bisa di-pause kapan saja kita menemukan informasi atau petunjuk yang sekiranya berguna. Anggap saja Braindance ini seperti fitur Detective Mode pada seri Batman: Arkham, tapi yang canggihnya berkali-kali lipat.

Bagi penggemar The Witcher 3, mereka pasti langsung sadar bahwa Braindance adalah pengganti untuk sistem Witcher Sense. Anda akan lebih terkesan setelah menonton sendiri cuplikan penggunaan fitur Braindance dalam Cyberpunk 2077, namun menariknya lagi, CD Projekt juga bakal memanfaatkan fitur ini sebagai medium lain untuk bercerita lewat beragam clue yang pemain temukan.

Jujur saya sudah benar-benar tidak sabar menunggu sampai 19 November, dan saya tidak peduli kalaupun harus dicap sebagai fanboy. Menjelang peluncurannya nanti, CD Projekt berencana untuk menyiarkan sejumlah episode lain Night City Wire. Well, saya rupanya harus tabah dibuat semakin penasaran.