Esports Ecosystem

Perombakan yang Terjadi di Roster Dota 2 OG Sampai Saat ini

30 Jan 2020 | Yudi Anggi
Sudah puas akan prestasi, Roster Dota 2 OG yang legendaris berhenti sampai di sini

Setelah pengumuman rehatnya Anathan “Ana” Pham pada tanggal 25 Januari kemarin. OG mengumumkan keputusan Jesse “JerAx” Vainikka dari ranah kompetitif Dota 2. Ana dan JerAx memperkuat Roster Dota 2 OG sejak tahun 2016. Ana memang sempat beberapa kali memutuskan untuk beristirahat dari ranah kompetitif dan kembali bertanding pada The International. Bagi JerAx sendiri, bermain secara kompetitif sangat melelahkan baginya.

I’ve grown tired from always trying to compete, getting better and aiming for a win

Kalimat tersebut saya kutip dari penjelasan pribadi JerAx mengenai keputusannya untuk pensiun. Sebagai pemain profesional, ia selalu didorong untuk menjadi yang terbaik. Hal ini membuat dirinya tidak nyaman. Ia mengaku sangat lelah untuk selalu berkompetisi. Pada akhirnya dia merasa sangat sulit baginya untuk mengimbangi lawan-lawannya kini.

“These are feelings that initially got me deeply connected to the game, but have faded away. This is due to me seeing the game as a competition.”

Saya bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Jesse mengenai kalimat di atas. Dota 2 adalah game untuk bersenang-senang. Anda bisa kecanduan bermain Dota 2 tentu karena seberapa menyenangkan game ini untuk dimainkan terlebih bersama teman-teman. Tetapi JerAx sudah sangat jauh dengan kesenangan yang ia dapat ketika ia bermain dulu. Yang ia rasakan hanyalah tekanan untuk menjadi yang terbaik dengan cara bereksperiman dan menciptakan satu formula untuk memenangkan pertandingan. Saya menganalogikannya jadi seperti robot yang terus berpikir, dibandingkan seseorang yang bermain game.

Tidak memiliki keinginan untuk bermain Dota 2

Sumber: Facebook OG
Sumber: Facebook OG

JerAx berkata bahwa ia ingin mengejar tujuan lain di hidupnya dan tidak ada lagi keinginan untuk bermain Dota 2. Hal tersebut bisa jadi wajar diucapkan oleh seseorang yang sudah mendapatkan uang setidaknya sebesar 88 miliar Rupiah dari karir profesionalnya. Pasalnya, ia sudah mendapatkan tahta tertinggi di Dota 2 dua kali berturut-turut. Yaitu juara The International pada tahun 2018 dan 2019. JerAx memiliki segala alasan untuk meninggalkan ranah kompetitif. Entah memulai bisnis baru atau melakukan investasi (di ekosistem esports mungkin?)dan membiarkan uangnya yang bekerja.

Lelah, tidak ada motivasi dan menginginkan hal lain

Sumber: ogs.gg
Sumber: ogs.gg

“It is time for me to take a step back, and remove myself from the active roster. I will be taking a role within OG in which I will be able to help all teams and players with increasing their performance.”

Sébastien “Ceb” Debs memberikan pernyataan bahwa dirinya mengundurkan diri dari roster aktif OG. Ia memutuskan untuk fokus membina pemain-pemain OG. Tidak hanya Dota 2, kini OG memiliki banyak divisi esports di organisasinya. Ceb memang memiliki kemampuan untuk memotivasi pemainnya. Anda tentu dapat melihatnya di film dokumenter “True Sight” dari Valve. Di film tersebut memperlihatkan cara Ceb untuk membuat timnya tetap berada pada keadaan mental yang positif. Peran tersebut memang biasanya dilakukan oleh pelatih atau psikolog.

“It truly feels like we went through most of what competitive DotA had to offer.”

Sama dengan alasan JerAx, Ceb memutuskan untuk keluar dari roster aktif karena ia merasa sudah meraih impiannya. Tidak ada lagi yang bisa ia gapai selanjutnya di kompetitif Dota 2. Merasa cukup terhadap perjuangan yang harus mereka lalui. Karena untuk menjadi yang terbaik tentu sangat melelahkan dan membutuhkan pengorbanan yang besar.

Memang tidak bisa dipungkiri, mereka sudah meraih semuanya di Dota 2. Menjadi juara turnamen Major, dua kali juara The International dan menjadi 5 atlet esports dengan pemasukan paling banyak saat ini. Tidak ada lagi yang bisa mereka kejar. “You either die a hero or you live long enough to see yourself become the villain” merupakan keputusan yang diambil oleh Ceb dan JerAx.

Free agent terbaik, Suma1L bergabung dengan OG

 

Tidak mudah bagi N0tail untuk mencari pengganti Ana di posisi carry. Beruntungnya, Sumail “Suma1L Hassan sedang dalam status free agent. Selepasnya Suma1L dari Evil Geniuses, ia seperti kebingungan untuk mencari tim yang tepat untuk bermain. Ia bahkan tidak bertahan lebih dari satu bulan di Quincy Crew.

Komunitas Dota 2 memang sudah mengira bahwa Suma1L atau Yeik “MidOne” Nai Zheng akan bergabung dengan OG. Untuk MidOne sendiri sepertinya tidak ada lagi posisi yang bisa dipilih. Pasalnya, MidOne adalah seorang pemain mid lane. Lalu di OG sudah ada Topias “Topson” Taavitsainen yang mengisi role tersebut. Suma1L sendiri sangat gembira untuk bergabung dengan OG. Ia berkata, “bersama OG, orang-orang yang memiliki prestasi yang lebih banyak dari saya di Dota. Saya sangat berharap bisa belajar banyak dari Ceb dan N0tail.” Pengumuman masuknya Suma1L ini dilakukan ketika penayangan perdana film dokumentar “True Sight” di Berlin.

MidOne dan Saksa melengkapi roster Dota 2 OG

 

Datangnya Yeik “MidOne” Nai Zheng dan Martin “Saksa” Sazdov telah melengkapi roster Dota 2 OG untuk berlaga di ESL One Los Angeles 2020. Berbeda dari sebelumnya, MidOne akan bermain sebagai offlaner. Agak ironis memang, apakah ia harus berganti nama menjadi OfflaneOne? Saksa sendiri akan mengganti posisi Jesse “JerAx” Vainikka di support 4.

Selesai sudah perombakan pemain yang terjadi di OG. Dengan begini, roster Dota 2 OG sekarang berisikan 3 midlaner. Suma1L dan MidOne mungkin akan membutuhkan beberapa waktu untuk menyesuaikan posisinya. Tetapi kita sudah melihat bagaimana N0tail memimpin sebuah tim dan membawa rooster lama OG ke titik tertinggi. Seharusnya mereka bisa tetap bersinar dengan roster baru ini.