Dark
Light

Papataka: Penerbit Digital dan Pengecer Konten Berbasis Web

3 mins read
May 18, 2010

Masih ingat dengan NulisBuku yang meski belum launching, saya pernah membahas dan mencoba memprediksikan layanan seperti apa yang akan mereka tawarkan, lalu masih ingat Evolitera, model aplikasi, yang termasuk salah layanan lokal yang mencoba membuka jalan baru bagi dunia tulis menulis yang ‘ramah’ internet.

Kini akan segera hadir, pemain baru lagi yang akan meramaikan dunia tulis menulis 2.0 di Indonesia, Papataka. Dari pengumuman di situs mereka, Papataka akan hadir bulan Mei 2010, yang berarti akan rilis dalam waktu dekat, mengingat bulan Mei hanya tersisa dua minggu lagi.

Papataka menyebut diri mereka sebagai ‘Indonesia’s first digital publication’ dan ‘web based digital content retailer’. Kalau mencoba melihat beberapa keterangan dari situs mereka, Papataka akan menjadi online store untuk berbagai buku elektronik alias eBook yang terdiri dari tidak hanya eBooks tetapi juga eComics dan eMagazines. Selain itu Papataka juga menawarkan koleksi mereka yang jumlahnya lebih dari 100.000 judul, eBooks, baik itu rilisan terbaru terlaris, atau eBooks favorit, komik dan koleksi judul-judul klasik yang biasanya sudah tidak ada lagi versi cetaknya. Tidak hanya itu, Papataka juga menyediakan platform khusus yang diperuntukkan bagi penulis independen untuk menerbitkan karya mereka lewat Papataka.

Yang menarik bagi saya sebenarnya layanan Papataka sebagai content retailer serta perangkat yang bisa digunakan dalam membaca produk-produk yang disediakan Papataka, yaitu produk mobile device, seperti iPhone atau Blackberry, PC, Mac dan dua device yang cukup menarik untuk diperhatikan bagaimana Papataka akan memanfaatkan trend tentang device ini, eBook Reader dan iPad.

Seperti yang ditulis Kompas, Papataka akan menjadi salah satu pemasok utama konten elektronik untuk ‘iRiver Story E802’, sebuah eBook reader keluaran Sony. Alat pembaca buku elektronik sebenarnya bisa menjadi pilihan baru bagi dunia tulis menulis di Indonesia, meski akan berbenturan dengan banyak sekali hal terutama yang berhubungan dengan pola perliaku konsumsi buku digital disini serte edukasi pasar, tapi ditengah kelesuan dunia tulis menulis dan buku di Indonesia, mungkin saja alat pembaca buku elektronik bisa memberikan angin segar untuk, setidaknya memberi nuansa baru dari dunia tulis menulis dan buku di tingkat lokal. (saya menyebutkan dunia buku di sini lesu karena, meski pertumbuhan penulis muda terus tumbuh, dan buku semakin menjadi gaya hidup, tapi perkembangan di belakang layar tidak memberikan indikasi perbaikan, seperti masalah distribusi, pembajakan, serta sistem diskon gila-gilaan yang mengindikasikan bahwa stok buku begitu menumpuk dan tidak berputar).

Meski belum tertarik membeli, tetapi saya salah satu yang termasuk ‘penggemar’ Kindle, dan sangat tertarik melihat berbagai perkembangan yang mereka lakukan, terutama karena device ini di dukung oleh Amazon yang punya koleksi buku cukup besar, dan menantikan kapan user di sini bisa menikmati pola pembelian online lewat Amazon dan membacanya di mobile device, termasuk PC, yang sampai saat ini Kindle untuk PC belum bisa dinikmati oleh user Indonesia.

Apalagi kini muncul iPad, yang salah satu strateginya adalah menyasar pada publisher untuk membuat konten mereka ramah iPad yang akan berperan dalam merubah pola baca user dari print behaviour ke digital behaviour. Memang kita harus terus berpikir tentang digital reading behaviour di sini, mengingat pola baca konvensional saja kita masih jauh dari cukup. Jadi pertanyaan tentang apakah penjualan buku digital bisa sukses, masih terus relevan.

Tapi setidaknya pasar untuk buku jenis ini, diatas kertas terbuka lebar, pertumbuhan smartphones (iPhone dan Blackberry) yang terus tumbuh, netbook dan notebook yang sudah menjadi gadget ‘wajib’ serta PC yang walaupun pertumbuhannya disalip laptop tapi masih menjadi produk yang ada disetiap rumah, setidaknya bagi konsumen SES A dan B. Dan, sepertinya itu pula yang ingin disasar Papataka.

Saya selalu gembira dan merasa bersemangat jika ada layanan yang mau mengembangkan dan membawa dunia buku serta tulis menulis kearah baru, seperti juga review saya atas berbagai layanan yang berhubungan dengan dunia buku digital atau web based di DailySocial, termasuk juga untuk Papataka, apalagi selain sebagai retailer konten digital, Papataka juga sepertinya akan menerbitkan naskah untuk mereka pasarkan, meski akan bersaing dengan Evolitera dan mungkin NulisBuku, tetapi market place adalah salah satu yang penting bagi pertumbuhan eBook dan konten digital lain, karena meski mudah membuatnya, eBook (misalnya dalam format PDF) proses menyebarkan apalagi menjual adalah problem tersendiri, meski kini ada Twitter dll, tetapi market place khusus untuk eBook, saya kira bisa membantu para pembuat konten atau pengarang dan penulis menjadi lebih bersemangat untuk berproduksi.

Satu yang pasti, kita memang belum bisa menilau lebih jauh dari layanan Papataka, sebagai content retailer, yang pasti riset adalah yang utama yang harus dilakukan Papataka, terutama yang berhubungan dengan behaviour atas konten digital yang akan mereka jual, selain data tentang apakah user disini sudah mau membeli untuk membaca di mobile device mereka, pilihan judul juga sepertinya harus dipikirkan, mungkin salah satu caranya adalah mencari penulis yang bukunya sedang naik penjualannya untuk diajak kerjasama atau kalau bisa menemukan naskah dari penulis yang bukunya laris untuk dibuatkan versi digitalnya dan menyebarkan pada user sebelum versi cetaknya rilis. Mirip dengan apa yang pernah dilakukan Dewi ‘Dee’ Lestari atas buku Perahu Kertas, yang sempat di rilis versi mobile, yang kontennya bisa dibaca di ponsel jauh sebelum versi cetak rilis.

Sebagai publisher, sepertinya sistem sharing cukup menarik, seperti yang disebutkan pada page Facebook mereka, dengan hanya mengambil 20% dari penjualan bersih buku, dan memberikan sisa 80% untuk penulis akan jauh lebih menarik dari sistem cetak/konvesional, yang biasanya terbalik, penulis yang hanya mendapatkan 10%-15% royalti, sisanya diambil penerbit, yang harus membaginya ke distributor atau retail. Meskipun sistem listing fee sebesar Rp. 150.000 mungkin belum cukup populer bagi penulis disini, lagi-lagi Papataka harus benar-benar bisa menonjolkan kelebihan mereka, dan mengedukasi pasar, sehingga para penulis menjadi semakin tertarik dengan layanan mereka.

Jika anda penasaran anda bisa langsung menuju situs mereka di sini, meskipun belum bisa menikmati daftar judul yang tersedia, tetapi anda bisa menerka-nerka layanan seperti apa yang akan mereka tawarkan dari kesan nyaman yang cukup diberikan dari situs mereka, yang berwarna dasar coklat dengan warna hijau di bagian tertentu.

Tidak lupa, jika anda punya saran dan kritik untuk Papataka, anda bisa share pendapat anda pada kolom komentar.

Wiku Baskoro

Penggemar streetphotography, penikmat gadget, platform agnostic gamers, build Hybrid.co.id to make impact.

7 Comments

  1. Hmm, ide bisnis yang menarik…

    But, “Indonesia’s first digital publication”???
    Kok kayanya tagline ini agak kurang pas ya… Mengingat sudah ada beberapa penyedia jasa digital publication local Indonesia, seperti yg sudah disebutkan oleh DS.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous Story

Facebook vs Dunia

Next Story

Rubah Api Dan Indonesia

Latest from Blog

Don't Miss

nft buku pelajaran

Berkat NFT, Buku Pelajaran Digital Bisa Dijual Kembali Sebagai Buku Bekas

Dewasa ini, hampir semua buku diterbitkan dalam format fisik sekaligus

Pearson Luncurkan Layanan Subscription untuk Buku Kuliah

Model bisnis subscription telah mengubah cara kita mengonsumsi berbagai macam