Esports Ecosystem

[Opini] Sikap Toxic Saat Bermain Game Online, Perlukah?

03 Dec 2018 | Ayyub Mustofa
Perilaku toxic terjadi tidak hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan

Perilaku toxic sudah lama menjadi masalah yang persisten di dunia game online, terutama game online kompetitif. Anda yang sering bermain game sejenis Dota 2, Mobile Legends, atau Overwatch pasti pernah bertemu dengan orang-orang dengan sikap seperti ini. Emosional, menyalahkan orang lain, menggunakan kata-kata kasar, dan merasa benar sendiri adalah beberapa karakteristik gamer yang toxic.

Tidak hanya pemain lain, jangan-jangan mungkin Anda sendiri pun pernah bersikap toxic ketika bermain game. Saya juga termasuk salah satu gamer yang memikul beban kesalahan ini. Sebagian orang menganggap bahwa sikap toxic adalah bagian dari permainan, dan mereka mendapat kesenangan dari melakukannya. Sebagian lainnya, seperti saya, tahu bahwa sikap ini salah, tapi tetap saja terkadang tidak bisa menahan diri untuk tak melakukannya.

Sebetulnya apa sih yang menyebabkan perilaku toxic muncul dalam diri kita? Apakah memang sikap ini tak bisa dihindari? Apa dampak yang ditimbulkannya, apakah selalu negatif atau ada sisi positifnya? Melalui tulisan ini saya akan mencoba mengajak Anda untuk merenung bersama. Bukan untuk menggurui atau menghakimi, tapi demi menciptakan ekosistem game yang lebih asik dan dapat dinikmati semua orang. Mari.

Mobile Legends
Sumber: MLBB Official Forum

Toxic adalah pilihan

Tidak ada definisi yang baku tentang apa itu perilaku toxic, tapi secara umum kita dapat mengartikannya sebagai perilaku yang merusak kenyamanan orang lain secara sengaja. Tipe perilaku toxic di setiap game bisa berbeda-beda, namun secara umum perilaku toxic di game online adalah interaksi sosial yang meliputi cyberbullying, mengganggu pemain lain, bertingkah usil/ngawur, main curang, dan sebagainya.

Seperti slogan salah satu acara televisi swasta populer dulu, perilaku toxic terjadi tidak hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Menurut riset yang dilakukan oleh Haewoon Kwak (Qatar Computing Research Institute), ada beberapa hal yang membuat game online rawan menjadi tempat munculnya perilaku toxic, antara lain:

  • Elemen kompetitif. Natur berbagai game online yang kompetitif membuat kita terdorong untuk mengutamakan kemenangan di atas segala-galanya, dan kita akan merasa bahwa game itu tidak fun bila kita tidak menang.
  • Anonimitas. Karena kita berlindung di balik nickname, dan kemungkinan besar tidak akan bertemu langsung dengan orang-orang yang bermain bersama kita, kita jadi merasa bahwa semua ucapan atau perbuatan kita di game online tidak memiliki konsekuensi.
  • Counterfactual thinking. Sebuah fenomena psikologi di mana ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, kita cenderung membayangkan kejadian alternatifnya. Sebagai contoh, “Andai tadi Marksman kita menyerang Lord, saat ini kita pasti sudah menang!” Counterfactual thinking bisa berdampak positif (bahan evaluasi), tapi juga bisa mendorong kita untuk menyalahkan orang lain.
  • Kultur sosial negatif. Ketika kita tumbuh di kalangan masyarakat yang individualis, tidak mengajarkan empati, atau senang melihat orang lain susah, tinggal menunggu kesempatan saja sebelum keburukan-keburukan itu muncul dari diri kita. Game online menawarkan kesempatan tersebut.
Overwatch
Blizzard selalu berusaha menjaga agar Overwatch jauh dari pemain toxic | Sumber: Blizzard

Kita bisa saja beralasan, bahwa perilaku toxic tidak akan terjadi apabila semua anggota tim bermain dengan baik. Tapi pada kenyataannya, sebaik apa pun permainan tim, dalam game kompetitif pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Statistik Dota 2 misalnya, menunjukkan bahwa rata-rata pemain di seluruh dunia hanya memiliki rasio kemenangan sekitar 50%. Itu artinya, kalah lima kali dari sepuluh pertandingan adalah hal yang normal. Bila Anda mempunya win rate hingga 60% atau bahkan 70%, Anda sudah layak jadi pemain esports profesional.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita bereaksi terhadap kekalahan tersebut? Menerima dengan lapang dada bahwa permainan lawan memang lebih baik, atau malah marah-marah, seperti pendukung olahraga tertentu yang membuat kerusuhan saat tim kesayangannya kalah? Kita mungkin tidak bisa mengendalikan hasil permainan, tapi setidaknya kita harus bisa mengendalikan diri.

Toxic itu asik, tapi…

“Trash talk is part of the game, bro,” demikian kata salah seorang pemain yang saya temui di sebuah match Dota 2 server Asia Tenggara. Ada sebagian orang yang menikmati perilaku toxic, terlepas dari hasil permainan itu sendiri apakah dia atau kalah. Mungkin tipe orang seperti ini juga senang melihat orang lain susah, setidaknya di dunia maya.

Tekken 7
Lebih baik fokus adu skill daripada adu makian | Sumber: Microsoft

Saya tidak bisa melarang atau mengatur apa yang membuat seseorang senang, dan saya rasa masuk akal bila ada orang yang mendapat kesenangan dari bersikap toxic. Mungkin dia sedang terkena fenomena superiority complex—dia menjatuhkan orang lain dan bersikap sombong di dunia demi menutupi kelemahannya di dunia nyata. Tapi satu yang mungkin dia tak sadar, kesenangan itu didapatkannya dengan mengorbankan kesenangan yang lebih besar: kemenangan.

Coba kita tanya kepada diri sendiri. Ketika ada tim kita yang bermain buruk, apakah dengan kita bersikap toxic maka dia akan bermain lebih baik? Ketika tim kita sedang kalah, apakah dengan memaki-maki teman setim maka kita akan berbalik menang? Saya rasa kita semua sudah tahu jawabannya. Tidak. Lalu mengapa kita tetap berlaku toxic?

Satu hal yang mungkin bisa jadi penjelasan atas perilaku ini, adalah bahwa kita bersikap toxic agar setidaknya kita mendapat suatu kesenangan meskipun sedang kalah. Kalah itu tidak enak, dan perilaku toxic bisa jadi pelampiasan untuk sedikit mengurangi rasa tidak enak tersebut. Tapi mental seperti ini adalah mental orang yang mudah menyerah.

Virtus.pro - Kuala Lumpur Major
Mental juara itu tidak putus asa di saat sulit | Sumber: PGL Esports

Ada sebuah jargon yang populer di dunia MOBA, yaitu, “Comeback is real.” Segawat apa pun kondisi permainan, selama kita tidak putus asa, selalu ada kemungkinan kita bisa mengembalikan keadaan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh atlet Street Fighter terkenal, Daigo Umehara, dalam bukunya yang berjudul The Will to Keep Winning. Walaupun lawan punya keunggulan jauh, selama layar belum menunjukkan kata K.O., selalu ada peluang untuk meraih kemenangan.

Menurut saya, kemenangan yang diraih dengan susah payah hingga comeback seperti ini justru adalah kemenangan yang paling memuaskan. Tidak hanya puas karena menang, namun ada tambahan kepuasan karena kita berhasil lepas dari sebuah kondisi yang tidak menguntungkan. Menang melawan musuh yang kuat itu lebih berharga daripada menang melawan musuh yang jelas-jelas lebih lemah dari kita.

Boleh kompetitif, tapi tetap sportif dan positif

Anggaplah bermain game kompetitif sebagai sebuah marshmallow test. Perilaku toxic mungkin bisa membuat kita merasa senang atau hebat sesaat, tapi di jangka panjang, perilaku itu akan menumpuk dan mendatangkan kerugian bagi kita sendiri. Sebagai contoh, saya sering dengar orang mengeluh bahwa game MOBA kesukaannya sepi pemain, padahal salah satu penyebab sepinya adalah karena banyaknya pemain toxic yang membuat tidak betah.

Arena of Valor
MOBA kok…? (isi sendiri) | Sumber: Nintendo

Terlalu sering memaki atau menghina orang di dunia maya, lama-kelamaan juga bisa menular ke kehidupan nyata kita. Apalagi kata-kata kasar yang digunakan oleh para pemain toxic di game semacam Mobile Legends sudah cukup keterlaluan. Tidak hanya mengatai bodoh saja, sudah banyak yang sering memaki dengan membawa-bawa orang tua atau bahkan isu SARA. Dan kita tidak tahu, apakah pemain toxic itu remaja, bapak-bapak, atau anak SD, semuanya sama di balik perisai anonimitas internet.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kebiasaan toxic di game kompetitif. Contohnya seperti:

  • Sering-sering main fighting game. Meski sama-sama kompetitif, fighting game berbeda dengan game berbasis tim seperti MOBA atau beberapa first-person shooter. Dalam fighting game, satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas permainan adalah diri kita sendiri. Ini akan melatih mental kita untuk berani menerima kekalahan dan berintrospeksi, daripada menyalahkan faktor luar.
  • Mengikuti influencer dengan kepribadian positif. Di era informasi sekarang ini peran orang tua dalam mendidik anak semakin menipis. Sadar atau tidak, influencer seperti YouTuber atau streamer punya pengaruh besar dalam menumbuhkan kebiasaan seseorang. Agar kita tertular kebiasaan positif, sebaiknya hindari YouTuber yang toxic, dan sering-seringlah menonton YouTuber yang humble dan santai.
  • Bermain bersama teman. Sikap toxic muncul salah satunya karena kita bermain secara anonim. Bermain dengan orang-orang yang sudah kenal akan menghilangkan anonimitas tersebut, sehingga kita akan lebih terdorong untuk saling membantu. Rata-rata game online memiliki fitur semacam guild atau lobby, ini harus kita manfaatkan sebaik mungkin.
  • Mematikan chat. Terkadang kita bersikap toxic sebagai bentuk balasan atas pemain lain yang bersikap toxic duluan. Tidak ada salahnya kita matikan fitur chat untuk menghindari hal tersebut. Bisa jadi, tanpa chat justru kita akan bisa bermain lebih fokus sehingga lebih mudah memenangkan permainan.
Street Fighter V - Alex
Sakit? Salah sendiri | Sumber: Steam

Saat ini iklim esports Indonesia sedang tumbuh pesat. Namun pertumbuhan itu tidak akan terjadi tanpa adanya dukungan dari komunitas gamer nonprofesional yang menjadi penggemar setia. Kita perlu terus menumbuhkan kultur positif agar game yang kita sukai bisa semakin menyebar luas dan menarik minat para penggemar baru.

Menghilangkan kebiasaan yang sudah berjalan lama memang tidak mudah, tetapi saya yakin kita bisa melakukannya. Bagaimana dengan Anda? Sudah sportifkah Anda hari ini?