Esports Ecosystem

Mengenal Shroud, Mantan Atlet CS:GO yang Beralih Jadi Streamer Dermawan

26 Feb 2019 | Ayyub Mustofa
Meski sudah meninggalkan esports, Shroud tetap dikenal sebagai penembak terbaik di dunia. Simak kisahnya.

Atlet esports dan content creator adalah dua hal yang sering kali saling bersilangan. Sering kali, seorang gamer profesional juga berprofesi sampingan sebagai streamer di Twitch atau YouTube. Terkadang, bila ia memiliki jumlah subscriber cukup banyak, penghasilan dari streaming justru bisa lebih tinggi dari penghasilannya sebagai atlet. Dan atlet esports selalu punya daya tarik tersendiri bagi para penggemar suatu game, karena dalam video-video mereka terdapat permainan dengan level tinggi yang menghibur.

Shroud adalah salah satu streamer tersebut. Dengan jumlah follower lebih dari 5,7 juta orang, nama Shroud sudah sangat dikenal di kalangan komunitas gamer, terutama penggemar first-person shooter dan battle royale. Apalagi berkat kemunculan Apex Legends beberapa waktu lalu, nama Shroud kembali mencuat sebagai salah satu pemain yang sering menunjukkan permainan-permainan mengagumkan.

Di usianya yang masih 24 tahun, Shroud seharusnya berada di masa prima karier seorang atlet esports. Tapi ia justru memilih untuk pensiun dini dari dunia game kompetitif dan menjadi streamer saja. Seperti apa sepak terjang Shroud di dunia esports? Mengapa ia pensiun cepat? Simak kisahnya di bawah.

Cinta game gara-gara ayah

Shroud alias Michael Grzesiek lahir di kota Mississauga, Kanada, pada tanggal 2 Juni 1994. Ia merupakan anak dari orang tua berdarah Polandia, walau lucunya Shroud sendiri tidak bisa bahasa Polandia. Ayahnya adalah seorang perakit dan penggemar berat PC, termasuk menggemari game di platform “master race” tersebut. Sejak kecil, ia sudah sering bermain sambil Shroud duduk di pangkuannya. Tidak mengejutkan bila kemudian Shroud tumbuh menjadi penggemar game PC juga.

Antusiasme ayah Shroud terhadap PC sangat besar. Sejak Shroud berusia lima tahun, di rumahnya sudah terdapat lima PC yang terhubung dengan jaringan LAN. Tidak perlu pergi ke warnet, ruang bawah tanah rumah Shroud sudah merupakan fasilitas LAN party yang bisa diakses setiap hari. Nah, kira-kira game apakah yang jadi menu wajib LAN party di era 90an akhir? Benar. Counter-Strike.

Ayah Shroud adalah penggemar Counter-Strike, jadi tentu saja ia menularkan minat yang sama pada anaknya. Tak disangka, ternyata Shroud sangat berbakat. Dalam beberapa bulan saja ia sudah menjadi sangat ahli, jauh di atas kemampuan ayahnya. Sayangnya, pada tahun 2004 Valve merilis Counter-Strike: Source yang kurang memuaskan. Game ini dinilai kurang kompetitif bila dibandingkan dengan Counter-Strike 1.6. Shroud pun kehilangan minat, sehingga ia berhenti bermain Counter-Strike.

Terinspirasi menjadi streamer

Pada tahun 2011, terjadi sebuah gebrakan besar di dunia video game. Di tahun inilah platform live streaming Twitch pertama kali diluncurkan. Tak butuh waktu lama, muncul beberapa streamer hebat yang meraih popularitas di kalangan gamer. Salah satunya bernama Jaryd Russel Lazar, atau dikenal juga dengan sebutan Summit1g.

Shroud—saat itu masih berusia 17 tahun—sangat mengidolakan Summit1g. Ia merasa bahwa Summit1g adalah orang yang sangat inspiratif. Tak hanya mampu tampil menghibur di depan kamera, Summit1g juga berdedikasi tinggi di dunia streaming. Ia bahkan meninggalkan pekerjaannya untuk beralih menjadi streamer penuh waktu. “Saya juga ingin seperti itu,” demikian pikir Shroud.

Shroud memulai karier streaming dari nol di tahun 2011. Saat itu ia menggunakan nickname Eclipse, dan untuk waktu yang lama, channel Twitch miliknya tidak diminati orang. Dalam wawancara dengan theScore Esports, Shroud bahkan mengaku bahwa selama setahun hanya ada satu viewer di channel miliknya, yaitu dirinya sendiri! Tapi Shroud tidak patah semangat.

Mengharumkan nama Amerika

Minat Shroud terhadap first-person shooter kembali bangkit di tahun 2012 ketika Valve merilis Counter-Strike: Global Offensive (CS:GO) yang fenomenal. Kesuksesan CS:GO mendorong ekosistem esports untuk tumbuh di sekitarnya, dan Shroud pun terjun ke dalam dunia CS:GO profesional. Ia sempat bergabung dengan beberapa tim kecil, seperti Slow Motion, Exertus eSports, dan Manajuma. Tapi kariernya sebagai atlet baru melejit ketika ia ditarik menjadi pemain pengganti (stand-in) di tim compLexity.

Saat itu tim compLexity tengah naik daun berkat beberapa prestasi yang mereka raih. Termasuk di antaranya posisi tiga besar di turnamen ESEA Global Invite Season 16, CEVO Season 4: Professional, DreamHack Winter 2013, hingga mendapat undangan bertanding ke ESL One Cologne. Akan tetapi terjadi masalah karena kontrak yang ditawarkan pihak manajemen tidak memuaskan para pemain compLexity.

Cloud9 yang merupakan salah satu organisasi esports terbesar Amerika Serikat langsung mengakuisisi roster compLexity ke dalam divisi CS:GO mereka. Shroud ketiban rejeki, meski statusnya di compLexity hanya stand-in ternyata ia juga ditarik sebagai anggota tetap Cloud9.

Kiprah Shroud bersama Cloud9 benar-benar mengangkat nama Amerika Serikat di kancah esports CS:GO. Dulunya dipandang sebagai wilayah dengan level kompetitif rendah, Cloud9 ternyata tampil memukau di turnamen CS:GO kelas dunia, ESL ESEA Pro League Season 1. Mereka meraih juara dua, kalah oleh Fnatic yang merupakan tim senior, tapi itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa Amerika Serikat juga punya pemain-pemain hebat yang mampu bersaing secara global.

Prestasi Cloud9 membuat popularitas Shroud melejit. Ia dengan cepat dikenal sebagai salah satu pemain CS:GO dengan kemampuan membidik terbaik di dunia. Follower pun mulai berdatangan ke channel Twitch miliknya. Dari tahun 2014 hingga 2018, Shroud telah mengantar Cloud9 meraih sederet gelar, termasuk juara satu dalam kompetisi bergengsi ESL Pro League Season 4 di tahun 2016.

Pensiun dini demi PUBG

Mendekati akhir tahun 2017, karier Shroud di dunia esports CS:GO mulai terlihat meredup. Permainannya dinilai kurang memuaskan, bahkan ia menyebut dirinya “bukan lagi pemain bintang”. Bila dulu Shroud bersinar sebagai pemegang posisi Entry Fragger, ia kini harus tergeser menjadi pemain posisi Support. Artinya tugas Shroud di permainan berubah, bukan lagi mengincar kill namun melindungi teman-temannya dengan berbagai jenis granat dan senjata jarak jauh.

Masuknya beberapa pemain baru ke Cloud9 membuat posisi Shroud semakin suram. Ia terdepak menjadi pemain cadangan, dan tak lama kemudian ia mengumumkan bahwa dirinya telah beralih peran di Cloud9 menjadi streamer penuh waktu. Itu pun tak berlangsung lama. Puncaknya, pada bulan April 2018, Shroud keluar dari Cloud9 dan menyatakan pengunduran diri secara permanen, tidak hanya dari Cloud9 tapi juga dari dunia CS:GO kompetitif.

Melihat lagi ke belakang, Shroud memang dari awal memiliki cita-cita untuk menjadi streamer, bukan atlet esports. Ia suka menghibur orang lain, membantu komunitas gamer, dan melakukan hal-hal yang lucu. Rekam jejaknya di dunia CS:GO telah mendatangkan banyak penggemar, dan menurut pengakuan Shroud, penggemar itulah yang mendorong dirinya berani melepaskan karier esports untuk kembali menjadi streamer.

Pengunduran diri Shroud dari Cloud9 ada di tengah musim meledaknya popularitas genre battle royale. PlayerUnknown’s Battleground (PUBG) baru saja keluar dari fase beta, disusul oleh Fortnite yang mendapatkan mode battle royale setelahnya. Sebagai penggemar shooter, Shroud tentu tak ketinggalan mencoba. Hasilnya, ternyata Shroud sangat jago di game tersebut.

Mungkin bila dibandingkan dengan CS:GO, genre battle royale lebih mementingkan kemampuan individu. Apalagi bila kita tidak sedang bermain dalam sebuah tim. Shroud, dengan kemampuan membidiknya yang dahsyat, segera melejit di dunia battle royale sebagai salah satu pemain terbaik.

“Saya merasa memang sudah waktunya untuk pergi (dari Cloud9). PUBG telah dirilis, saya sangat menikmati PUBG, dan pelan-pelan saya kehilangan passion untuk berkompetisi. Saya hanya ingin bersantai, duduk di sini dan bermain game,” ujar Shroud dalam salah satu sesi streaming.

Raja battle royale yang murah hati

Sejak saat itu, battle royale telah tumbuh menjadi tren besar di seluruh dunia. Shroud berada di tengah-tengahnya, memanfaatkan keahlian dan pengalamannya dalam esports CS:GO untuk mendominasi permainan. Game apa pun yang dimainkannya, baik itu PUBG, Fortnite, Call of Duty, atau Apex Legends, ia selalu menunjukkan aksi kreatif yang seru bagi para penonton.

Shroud kini menjalani kehidupan yang sesuai dengan cita-citanya delapan tahun lalu, yaitu menjadi streamer penuh waktu. Namun meski tak lagi berkecimpung di esports, keahliannya menembak sangat dihormati oleh pemain-pemain lain. Malah beberapa streamer besar seperti DrDisrespect dan Ninja mengakui bahwa Shroud adalah penembak jitu terbaik di dunia. Bila Anda melihat video-video permainan Shroud, mungkin Anda juga akan setuju.

Rasa segan komunitas gamer terhadap Shroud tidak hanya datang dari kemampuan, tapi juga kepribadiannya yang selalu positif. Shroud adalah orang yang humoris, dan ia selalu santai menanggapi isu miring apa pun atau hater yang ada di sekitarnya.

Ditambah lagi, Shroud adalah streamer yang peduli terhadap perkembangan para streamer lainnya. Ia sering mengajak para penggemar untuk menonton tayangan live streaming dari channel kecil yang tak terkenal, memberi donasi pada para streamer yang membutuhkan, atau sekadar melakukan hosting ke berbagai channel yang menurutnya menarik.

Dengan perkiraan penghasilan US$300.000 (Rp4,2 miliar) per bulan dari subscriber Twitch saja, Shroud jelas punya banyak uang untuk dihamburkan. Kini ia menggunakan kekayaan dan popularitasnya untuk kebaikan komunitas gamer, sambil tetap mempertahankan karier sebagai entertainer. Ia tak mudah tergoda pada tren, dan memilih untuk memainkan sebuah game benar-benar karena ia menyukainya. Shroud boleh saja mundur dari dunia kompetitif. Tapi bagi para penggemar, ia tetap seorang idola.

Channel Twitch: Shroud