Esports Ecosystem

Melihat Sistem Bagi Hasil Penjualan Skin di Esports PUBG yang Kurang Berhasil

17 Jan 2020 | Akbar Priono
Salah satunya pada liga PUBG NPL, yang mana satu tim hanya mendapat Rp2,4 juta saja dari bagi hasil penjualan skin.

Playerunkown’s Battleground (PUBG – Steam) memulai kemunculannya lewat mod Arma III. Ketika itu, kehadiran mod tersebut ternyata berhasil menarik minat para gamers, karena model permainan yang sangat baru dan ternyata seru, yaitu Battle Royale. Walau berhasil meledak pada awalnya, namun popularitas game ini di PC berangsur menurun. Hype game ini coba dipertahankan lewat esports, namun berakhir kurang sukses dengan jumlah penurunan penonton yang cukup drastis.

Secara esports, tahun 2019 merupakan tahun yang cukup buruk bagi PUBG PC. Secara struktur, PUBG hadir lewat enam liga regional, dan tiga regional kompetitif tambahan. Mengutip Esports Insider, walau liga tersebut terlihat megah dari luar, namun ternyata berbagai pertandingan tersebut datang dengan beberapa masalah. Beberapa di antaranya seperti sedikitnya jumlah penonton, jadwal pertandingan yang ngaret, dan berbagai masalah lainnya.

Tak sampai situ saja, ternyata sistem bagi-hasil pembelian in-game item untuk esports PUBG juga mengalami masalah. Bagi Anda yang belum tahu PUBG sempat menerapkan sistem bagi-hasil untuk setiap pembelian merchandise digital terkait pada kompetisi seperti National PUBG League di Amerika Serikat, PUBG Europe League, atau PUBG Global Championship.

Sumber: PUBG Official
Sumber: PUBG Official

Pada artikel tersebut, Esports Insider juga mengungkap berapa angka hasil penjualan merchandise digital dari beberapa gelaran esports PUBG. Satu yang paling terasa adalah National PUBG League di Amerika Serikat. PUBG Corp menyediakan bermacam in-game item dari beberapa fase liga NPL berjalan. Pada fase dua, total yang didapatkan tim peserta masih lumayan, walau terbilang rendah untuk sebuah liga profesional.

Pada fase 2, NPL menjual jaket digital seharga US$9.99 (sekitar Rp136 ribu) dan berhasil meraup pendapatan total sebesar US$21.498,01 (sekitar Rp293 juta). Penyelenggara lalu membagi 25 persen pendapatan sebesar US$5.374,50 (sekitar Rp73 juta), kepada 16 tim peserta liga. Ini artinya masing-masing peserta hanya menerima US$335,91 (sekitar Rp4,5 juta) saja.

Pendapatan fase tiga malah lebih menurun lagi. Pada fase ini, PUBG Corp menghadirkan tongkat baseball NPL. Dengan besaran bagi hasil yang sama, yaitu 25 persen, besaran yang didapat adalah US$2775,84 (sekitar Rp37 juta). Jumlah tersebut kembali dibagi 16 peserta liga, yang berarti masing-masing tim hanya menerima sebesar US$173,49 (sekitar Rp2,3 juta).

Melihat angka penghasilan yang didapat tim tersebut, ditambah jumlah viewership yang terus menurun, tak heran jika PUBG secara esports terbilang kurang sukses pada 2019 kemarin. Dari sisi penjualan game, PUBG mungkin masih mendulang cukup hasil, karena mereka masih bisa menjual 4,7 juta kopi pada 2019 lalu.

Lalu, apa berikutnya bagi PUBG? Sebenarnya cukup menarik jika melihat esports PUBG secara keseluruhan. Sementara PUBG Mobile sedang mendulang popularitas perhatian khalayak internasional, PUBG PC malah sedang terseok-seok dengan segala masalahnya. Tahun 2020, PUBG Corp, sudah mengumumkan struktur terbarunya. Satu yang cukup terasa adalah hilangnya liga dari dalam struktur. Apakah ini akan memberikan hasil yang baik? Sebagai salah satu penggemar game PUBG, saya hanya bisa berharap yang terbaik saja bagi pionir game Battle Royale di PC ini.

Sumber header: PUBG Official