Esports Ecosystem

LPL Tiongkok Akan Ubah Gaji Pemain Sesuai Dengan Performa di Pertandingan

18 Sep 2020 | Akbar Priono
Sistem ini diharapkan dapat menjaga level kompetisi LPL Tiongkok. Terlepas dari itu, cara penerapan sistem tersebut tetap menjadi tanda tanya besar.

Liga LoL Tiongkok, LPL, dikabarkan akan menerapkan sistem batas atas gaji, menyesuaikan performa dari sang pemain. Mengutip dari postingan berbahasa Tiongkok di forum online Hupu, sistem ini diumumkan dalam acara Tencent Global Esports yang terselenggara 24 Agustus 2020 lalu, dan disebut sebagai “financial fairness rule”. Lebih lanjut, InvenGlobal mengatakan bahwa sistem ini kemungkinan akan diterapkan pada LPL Tiongkok musim depan.

Masih dari InvenGlobal, dijelaskan bahwa akan ada penetapan tier atau peringkat berdasarkan kemampuan sang pemain. Nantinya, gaji maksimal sang pemain bisa naik atau turun, tergantung performa, dan posisi mereka di dalam peringkat. Jika sistem tersebut diterapkan, maka pemain yang bermain bagus punya kesempatan dapat gaji lebih besar, dan kemungkinan turun gaji jika performa sang pemain memburuk. Secara konsep, sistem tersebut mungkin bagus, namun demikian ada banyak pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu jika ingin menerapkan sistem ini secara adil.

JD Gaming menang LPL
JD Gaming memenangkan LPL untuk pertama kalinya.

Beberapa pertanyaan yang muncul seperti, apa yang akan menjadi indikator performa “bagus” pemain di LPL menurut sistem ini? Apakah KDA? Apakah penilaian dari pelatih? Atau akan ada semacam komite bersama untuk menentukan tingkat performa ini? Tencent sendiri belum menjelaskan lebih detil soal bagaimana sistem tersebut bekerja. Tapi, kalau memang indikatornya adalah KDA atau statistik permainan, ada kekhawatiran level kompetisi liga LPL jadi menurun.

Ada beberapa kemungkinan bisa terjadi jika sistem tersebut benar diterapkan seperti itu. Pemain di dalam satu tim bisa jadi saling bersaing demi mendapat statistik bagus. Pemain dari tim yang kalah, mungkin akan sengaja menyerah agar statistik mereka tidak tercoreng. Pemain yang sebenarnya bermain bagus, namun tidak punya statistik, bisa jadi tidak mendapatkan gaji yang sesuai.

InvenGlobal mengatakan banyak penentangan terhadap sistem gaji seperti demikian, baik dari para profesional yang terlibat di dalam industri, ataupun komunitas. Terlepas dari itu, insiatif Tencent untuk dapat menjaga level kompetisi suatu liga, tetap merupakan usaha yang baik; walau tentunya dengan segudang pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Liga Franchise dan Level Kompetisi suatu Liga

Sumber: Instagram MPL ID
Sumber: Instagram MPL ID

Bicara soal level kompetisi suatu liga, dalam konteks lokal hal tersebut muncul menjadi topik perbincangan ketika RRQ keluar sebagai juara liga MLBB Indonesia (MPL ID) untuk kedua kalinya. Kemenangan RRQ berhasil memupuskan “mitos”, bahwa tidak ada satu tim pun yang bisa memenangkan MPL ID lebih dari satu kali.

Walau demikian, kemenangan tersebut jadi memunculkan tanda tanya tersendiri. Apakah kemenangan RRQ untuk kedua kalinya jadi berdampak pada ekosistem atau level kompetisi MLBB di Indonesia? Sejauh ini sampai pekan ke-5 di MPL ID Season 6, level kompetisi MPL ID terbilang masih terlalu berpusat pada EVOS, RRQ, Alter Ego, ONIC dan Bigetron. Sementara tiga tim sisanya yaitu Genflix Aerowolf, AURA Esports, dan Geek Fam ID, kerap kali tertatih di kompetisi MPL ID, sejak sistem franchise diterapkan pada MPL ID season 4.

Melihat ini, apakah artinya memang perlu sebuah sistem tertentu untuk menjaga level kompetisi dari sebuah liga esports? Mengingat model franchise seperti pada LPL ataupun MPL mengharuskan peserta liga membayar untuk turut serta, mungkin adil-adil saja jika tim peserta liga menuntut “keseimbangan” dalam level kompetisi.