Dark
Light

JagatReview – Engadget Versi Lokal

1 min read
November 15, 2010

Mungkin banyak kita temukan situs-situs atau blog yang memberi opini atau bahkan review yang cukup mendalam mengenai hardware atau gadget, tapi biasanya tulisan-tulisan ini hanya satu-dua macam dan kebanyakan berdasarkan hobi saja.  Jarang kita temukan situs yang mendedikasikan dirinya untuk menulis review secara konsisten dan berkala.  Di luar negeri, tentunya situs-situs seperti ini sudah lumrah dan banyak bisa kita temukan, seperti misalnya Engadget atau Tom’s Hardware, tapi untuk lokal belum banyak (kalaupun ada).
Jagatreview.com, menurut salah satu editornya Patrick Gerard van Diest, adalah sebuah situs berita dan review yang berfokus pada IT dan perangkat komunikasi serta budaya yang berkembang di sekitar teknologi itu sendiri.  Situs ini digawangi oleh sekumpulan orang-orang yang antusias pada perkembangan teknologi terutama yang berkaitan dengan komputer dan komunikasi serta gemar melakukan review produk-produk terbaru secara komprehensif.

Ditanya mengenai apa yang membedakan JagatReview dengan situs-situs lokal lainnya, Patrick menjawab,


JagatReview
hadir dengan konten yang lebih mendalam dan dengan bahasan serta metode pengujian yang bisa dipertanggungjawabkan, dengan demikian kami berharap bisa menjadi acuan bagi para pembaca dalam melakukan pemilihan barang/ keputusan.

Kalau anda berkujung ke situs JagatReview, anda bisa melihat apa saja topik-topik utama yang mereka tulis.  Dari segi Teknologi topik-topik yang mereka tulis antara lain adalah mengenai Kamera Digital, Graphic Card, Processor, atau Gadget secara umum.  Kemudian di bagian topik Cultures, mereka banyak mengulas mengenai Gaming, Movies dan Buku.
Ulasan-ulasan ini juga bukan hanya tulisan saja, tapi mereka juga punya Video Review!  Bahkan mereka juga punya YouTube Channel sendiri, khusus untuk JagatReview, yang isinya bukan hanya berita dan review tapi juga tutorial.

Monetisasi Konten Premium

Dari segi monetisasi, JagatReview untuk sekarang masih bergantung dari iklan promosi dari para vendor, walaupun mereka menekankan bahwa merekea akan selalu menjaga supaya kondisi ini tidak mempengaruhi obyektivitas review atau pengujian yang mereka lakukan.  Yang lebih menarik adalah JagatReview sedang mempertimbangkan opsi-opsi pemasukan lain, salah satunya adalah menyediakan konten premium bagi pengunjung.  Konten premium ini tentunya berarti konten berbayar.  Saya pikir ini menarik sekali untuk diikuti, karena pada umumnya masyarakat Internet masih belum biasa dengan konten berbayar ini.  Kalau tipe monetisasi ini jadi diimplementasikan dan hasilnya memuaskan, ini akan membuka pintu lebih lebar untuk penyedia-penyedia konten yang lain.
Pertanyaan untuk anda … apakah anda ‘siap dan bersedia’ membayar konten yang di-konsumsi lewat Internet?  Toh kalau kita bandingkan dengan media ‘kertas’, masyarakat tidak berpikir dua kali untuk membeli koran dan majalah.  Padahal kalau dipikir-pikir, konten yang ada di koran dan majalah itu tidak banyak berbeda dengan konten yang ada di Internet.  Tentunya saya membandingkan dengan media online yang bonafide, bukan yang sekedar amatir.

Kembali lagi ke JagatReview, untuk kedepannya mereka punya banyak rencana, seperti fitur-fitur baru, dan kemungkinan adanya aplikasi mobile.

JagatReview berusaha untuk menjadi Engadget atau Tom’s Hardware versi lokal, dan saya yakin kalau mereka tetap konsisten dan terus berinovasi, mereka bisa berhasil.

Chris Prakoso

Chris Prakoso is a Software Analyst Programmer and Web Developer, who mainly codes in .NET, Ruby on Rails, and the myriads of other Web Frameworks. He is also a Tech Geek, Seasonal Podcaster and a Coffee drinker, who recently converted to Mac. You can find him haunting the Social Media scenes whenever he has spare-time.

6 Comments

  1. Bagus sih … apalagi saya pernah bincang bincang sewaktu PB pertama dengan patcrick .. meskipun bgitu jagatreview sudah perlu melihat bisnis model selain advertising. sejauh ini di pasar lokal bisnis advertising internet adalah bisnis dengan level paling rendah atau tepatnya memegang jatah kue paling kecil dibanding media konvensional lainnya…

  2. Terima kasih buat Chris, Rama dan Daily Social yang sudah meliput kami lewat artikel ini. Dukungan dari teman-teman media online memang sesuatu yang sangat membangun. Sukses selalu juga untuk Daily Social dalam mengangkat dan memperkenalkan startup-startup lokal Indonesia. 🙂

    @Arham: Apa kabar? semoba baik-baik saja selalu. Memang awalnya model bisnis kami diawali lewat banner advertising. Hal ini kami ambil sebagai batu loncatan, because somebody gotta make something in spite of nothing, right? ke depannya tentunya kami sedang menggodok peluang lain untuk monetisasi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous Story

Facebook dikabarkan segera luncurkan webmail

Next Story

Docs.com Tambahkan Fitur Kerja Kolaborasi Lewat Facebook Groups

Latest from Blog