Dark
Light

Ini Dia Makani Energy Kite, Layang-Layang Pembangkit Listrik Dari Google

1 min read
October 10, 2014

Sering kita anggap sebagai mainan rekreasi, di zaman China kuno ternyata layang-layang sudah dimanfaatkan untuk mengukur jarak, berkomunikasi, mengukur angin, hingga menerbangkan orang. Google juga sedang mengembangkan fungsi baru layangan. Didukung teknologi revolusioner, Google perkenalkan layang-layang pembangkit listrik ramah lingkungan.

Di tahun 2006, seorang inventor bernama Saul Griffith dan rekan-rekannya mendirikan Makani Power, sebuah perusahaan yang fokus pada pengembangan turbin angin. Setelah mendapatkan dana karena menjadi penggagas program non-profit Google Renewable Energy Cheaper Than Coal (RE<C), sang raksasa Kalifornia itu akhirnya memutuskan untuk mengakuisisi Makani Power. Dan akhirnya, diperkenalkanlah Makani ‘energy kite‘.

Layaknya layang-layang biasa, Makani terbang hanya dengan bantuan angin. Ia memang tampak seperti pesawat terbang pengintai nirawak, bahkan Anda mungkin bisa melihat terdapat rangkaian mesin di sana. Tapi perangkat keras tersebut tidak diusung untuk membuatnya terbang. Sebaliknya, ia memiliki sistem turbin untuk mengubah angin menjadi listrik.

Lalu berbeda dari sistem kincir angin biasa, Google dan Makani berupaya agar turbin terbang mereka bisa dibuat dengan harga yang murah. Selain itu pembuatan layangan Makani membutuhkan lebih sedikit material – hemat sekitar 90 persen, serta mampu ‘menangkap’ angin lebih konsisten di jarak lebih tinggi. Ia dirancang agar terbang di ketinggian 140 hingga 310 meter dari permukaan tanah.

Google Makani Kite 02

 

Info menarik: Google X Sedang Kembangkan Teknologi ‘Layar Puzzle’

 

Struktur Makani energy kite terbuat dari serat karbon dipadu bahan composite pada sayap, juga menyimpan konduktor aluminium, dan delapan buah motor DC brushless. Ia terbang dalam pola lingkaran dengan kabel terikat ke bagian pasak sekaligus stasiun. Angin yang bergerak di baling-baling membuatnya tetap berputar, mentenagai generator, kemudian menghasilkan listrik.

Layang-layang pembangkit listrik tersebut tersambung dan mencantel ke Ground Station saat tak dibutuhkan atau sedang ada cuaca buruk. Hebatnya, Makani tak sekedar terbang secara manual. Pola terbang melingkar dipandu oleh komputer layaknya pesawat sungguhan. Ia berputar dalam radius 145 meter, menghasilkan energi 600 kilowatt.

Dari penjelasan Google, turbin angin biasa memerlukan banyak biaya demi menciptakan infrastruktur pendukungnya, serta hanya bisa dimanfaatkan di 15 persen wilayah di bumi dimana angin bertiup kencang. Sedangkan Makani energy kite mampu maksimalkan konversi angin menjadi listrik, di jangkauan wilayah dua kali lipat lebih luas. Dan dibanding yang lain, ia dapat menghasilkan tenaga 50 persen lebih banyak.

Via Daily Mail. Sumber: Google.com.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous Story

Jalin Kemitraan Dengan Garuda Indonesia Membuat Tiket.com Fokus “Jualan” Tiket Pesawat

Next Story

Aplikasi Android Pilihan 6 – 12 Oktober 2014

Latest from Blog

Don't Miss

Era Teknologi Pemasaran AI dari Google Untuk Pengiklan di Indonesia

Google menggelar acara Google Marketing Live Indonesia di Jakarta. Acara

Google Luncurkan Model AI Generatif Gemma 2 untuk Para Peneliti dan Pengembang

Tren AI generatif terus berkembang untuk mengisi berbagai kebutuhan dan