Infinix: Yang Paling Penting Bukan Seberapa Sering Brand Menyebut AI, Tapi Apakah User Merasakan Manfaatnya

2 mins read
June 3, 2026

Integrasi Kecerdasan Buatan (AI) kini menjadi standar baru yang disematkan oleh hampir seluruh pabrikan ponsel pintar, mulai dari segmen entry-level hingga kelas flagship.

Infinix juga jadi salah satu brand yang menyematkan AI di perangkatnya, namun Infinix berpendapat bahwa masifnya penggunaan istilah ini memunculkan skeptisisme di kalangan konsumen mengenai apakah teknologi tersebut benar-benar memberikan utilitas harian atau sebatas strategi pemasaran belaka.

Infinix mengklaim bahwa mereka menghadirkan ekosistem AI yang tepat guna, salah satunya melalui perangkat terbarunya, Infinix NOTE 60 Pro.

Lewat rilis yang dikirim resmi ke meja redaksi, Infinix ingin mengemukanan pendapat bahwa pendekatan industri saat ini mulai bergeser dari sekadar adu spesifikasi di atas kertas menuju penciptaan pengalaman pengguna (user experience) yang lebih organik.

Konsumen modern lebih membutuhkan perangkat yang gegas, efisien dalam konsumsi daya, serta memiliki fitur yang benar-benar mempermudah rutinitas, alih-alih inovasi niche yang jarang digunakan setelah perangkat dikeluarkan dari kotaknya.

Sayangnya, tidak ada sumber data untuk mendukung klaim yang disebutkan di rilis tersebut.

Bagaimana Pabrikan Merespons Ekspektasi Pengguna?

Sergio Ticoalu, Southeast Asia Marketing Director Infinix, menggarisbawahi bahwa arah pengembangan AI harus berpusat pada relevansi fitur terhadap kebutuhan riil pengguna di lapangan.

“User sebenarnya tidak terlalu peduli apakah sebuah fitur menggunakan AI atau tidak. Yang penting adalah apakah teknologi itu membantu kehidupan sehari-hari mereka secara nyata,” tuturnya. Visi inilah yang diwujudkan melalui lini Infinix NOTE 60 Series, di mana kestabilan kinerja dan responsivitas perangkat menjadi prioritas utama.

Mengapa Kapabilitas Hardware Menjadi Sangat Krusial?

Kehadiran fitur AI generatif yang beroperasi langsung di dalam perangkat (on-device AI) menuntut kekuatan komputasi yang masif. Memproses data secara lokal tanpa bergantung pada cloud membutuhkan sinergi yang sempurna antara perangkat lunak dan arsitektur chipset agar ponsel tidak mengalami overheating atau pengurasan baterai yang ekstrem.

Untuk mengatasi tantangan komputasi tersebut, perangkat terbaru dari Infinix ini mengadopsi prosesor besutan Qualcomm, yakni Snapdragon 7s Gen 4. Robiat Fahlevie, Marketing Manager Qualcomm Indonesia, memaparkan pentingnya peran cip keras dalam mengeksekusi algoritma cerdas.

“AI membutuhkan processing power yang besar. Karena itu, performa chipset menjadi fondasi utama agar fitur AI bisa berjalan optimal tanpa mengorbankan efisiensi daya maupun responsivitas perangkat,” jelas Robiat.

Personalisasi Melalui Antarmuka Sistem Operasi

Selain aspek keras keras, perangkat lunak memegang peranan krusial sebagai jembatan interaksi. Axellio Vincent, Product Manager OS Infinix, menjelaskan bahwa integrasi kecerdasan buatan ditujukan untuk memahami konteks harian penggunanya. Melalui pembaruan sistem antarmuka XOS 16 dan asisten virtual cerdas Infinix AI Assistant (Folax), pengguna dijanjikan navigasi yang lebih seamless.

Sepertinya Infinix ingin ‘menyindir’ brand yang sering menggunakan AI sebagai kampanye perangkatnya. Tapi di sisi lain, Infinix juga jualan AI, misalnya lewat Folax, dan tidak semua brand jualan AI hanya sebatas jargon, beberapa brand seperti Samsung, mengintegrasikan fitur AI ke dalam UX mereka (Galaxy AI) menjadi sebuah pengalaman seamless atau cross app experience.

Infinix seperti sudah ketinggalan gerbong AI, produk mereka kini harganya makin mahal. Tadi di sisi lain, tidak mungkin sepertinya jika brand ponsel untuk tidak menyematkan fitur AI, karena, konsumen mencari fitur ini kok. Buktinya? Samsung berhasil menjadi salah satu brand papan atas yang mengkampanyekan fitur AI di produk baru mereka.

Disclosure: Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan dalam pengawasan editor.

Wiku Baskoro

Penggemar streetphotography, penikmat gadget, platform agnostic gamers, build Hybrid.co.id to make impact.

Previous Story

Apa Itu The Credibility Paradox? Riset Burson Ungkap Celah Kredibilitas AI dalam Praktik GEO

Next Story

Mirip Brand ‘Sebelah’, Tecno Kini Luncurkan Promosi Layanan AI dari Google

Latest from Blog