Esports Ecosystem

IGEC 2019 Bicara tentang Standar Jurnalisme Esports yang Baik dan Benar

14 Jun 2019 | Ayyub Mustofa
Diskusi panel tentang jurnalisme esports ini menjadi panel paling diminati di acara IGEC 2019.

Inven Global Esports Conference atau IGEC adalah konferensi tahunan yang diadakan oleh Inven Global dengan satu visi: autentisitas. Mereka ingin menciptakan wadah di mana para pakar industri esports bisa berkumpul dan mendiskusikan topik esports paling mendesak di tahunnya. Tahun 2019 ini, IGEC diadakan pada tanggal 4 Juni di University of California, dan menyajikan berbagai hiburan, kesempatan networking, serta diskusi-diskusi panel yang dihadiri sederet narasumber kawakan.

Ada satu panel diskusi yang sangat menarik perhatian di IGEC 2019, yaitu panel berjudul “Esports Journalism: The Good, The Bad, and The Ugly”. Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh senior industri esports, termasuk Nick D’Orazio (Director of Strategic Content, Inven Global), Christopher “MonteCristo” Mykles (caster Overwatch League), Duncan “Thooorin” Shields (Esports Journalist of the Year 2017), Richard Lewis (kreator konten, jurnalis esports senior), serta Yoonsup “Locodoco” Choi (kreator konten, mantan pelatih LCS) sebagai moderator.

Inven Global telah merilis transkrip lengkap diskusi panel tersebut, yang bisa Anda baca keseluruhannya lewat tautan ini. Tapi bila Anda merasa membaca transkrip acara sepanjang 45 menit terlalu melelahkan, berikut beberapa intisarinya.

“Jurnalis esports” adalah label yang rancu

Poin pertama yang dibahas dalam panel ini adalah bahwa sebetulnya “jurnalis esports” itu sendiri merupakan label yang cukup aneh. Karena bila kita berbicara tentang esports, cakupannya bisa luas sekali. Kreator konten yang membahas tentang strategi pertandingan dengan detail, dan penulis yang mempublikasikan tentang drama dan gosip tim-tim esports, sama-sama bisa disebut sebagai jurnalis esports.

Richard berpendapat bahwa penting untuk memahami adanya berbagai macam jurnalisme. Mulai dari blog berisi opini, tulisan-tulisan sejarah, serta ulasan game, semuanya bisa dikategorikan jurnalisme. Tapi setiap jenis juga punya level manfaat berbeda-beda. Sekadar repost artikel dan memasang judul-judul clickbait, bobotnya tentu akan berbeda dengan tulisan tentang statistik tim dan strategi permainan.

Seorang jurnalis yang baik punya tanggung jawab untuk menghadirkan konten dengan value yang baik pula. Atau setidaknya berusaha untuk terus meningkatkan kualitas. “Bila Anda melakukan hal sampah itu (jurnalisme value rendah), dan Anda tidak punya keinginan untuk maju ke level berikutnya, saya tidak bisa menghormati Anda,” ujar Richard.

IGEC 2019 - Photo 1
Sumber: Inven Global

Unsur “jurnalis” lebih penting dari unsur “esports”

Mirip seperti banyak karier lainnya, jurnalis juga pekerjaan yang butuh passion. Ketika kita memiliki passion terhadap sesuatu, kita ingin mengerjakan hal itu terus bahkan hingga seumur hidup. Dan kita merasa nyaman apabila telah menjadi bagian dari suatu ekosistem, mendapat banyak kenalan di dalamnya, serta diakui sebagai “teman” oleh banyak pihak.

Akan tetapi seorang jurnalis punya tanggung jawab berat untuk selalu netral dan tidak takut menyampaikan fakta, meskipun mungkin fakta itu bisa membuat kita kehilangan relasi bahkan pekerjaan. Di sini seorang jurnalis esports bisa mengalami konflik batin. Ia mungkin akan berusaha menghindari pemberitaan hal yang buruk bagi ekosistem esports karena merasa merupakan bagian dari ekosistem itu.

Richard berkata bahwa di industri ini, jurnalisme investigatif adalah jenis jurnalisme yang punya value paling tinggi. Jurnalisme seperti ini penting untuk menjaga supaya industri tetap berjalan dengan jujur, tapi juga merupakan pekerjaan yang paling berbahaya sehingga banyak orang takut melakukannya. Terkadang memberitakan sesuatu bisa membuat jurnalis dibenci banyak orang, namun semestinya jurnalis tidak boleh takut akan hal-hal seperti itu.

MonteCristo menambahkan, “Orang-orang yang telah berada di industri ini selama 10 – 15 tahun sadar bahwa industri ini terkadang bisa eksploitatif dan korup. Ini masalah yang besar. Kami melakukan hal ini (jurnalisme investigatif) karena kami sangat peduli tentang esports, dan kami tidak mau terus membiarkan eksploitasi terjadi terus-menerus.”

Giving a voice to the voiceless

Jurnalis adalah pekerjaan yang bisa jadi membuat pelakunya dibenci banyak orang. Tapi yang sering kali orang lupa adalah bahwa seorang jurnalis (yang baik) sebetulnya tidak melakukan hal-hal yang membuatnya dibenci karena memang ia ingin dibenci. Juga bukan karena si jurnalis membenci pihak-pihak yang ia beritakan. Justru sebaliknya.

Industri esports, sebagaimana industri-industri lainnya, digerakkan oleh para pemilik modal dan pemangku kepentingan. Pihak-pihak ini, contohnya perusahaan atau organisasi esports, pada dasarnya adalah sebuah bisnis dan mereka pasti selalu berusaha mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya. Terkadang usaha itu merugikan orang lain, dan orang yang dirugikan tidak punya kekuatan untuk melawan.

IGEC 2019 - Photo 2
Sumber: Inven Global

Richard memberi contoh kasus Rick Fox, pendiri organisasi Echo Fox. Rick Fox adalah tokoh besar di dunia esports, dan terkenal sebagai salah satu pionir yang berani mengambil risiko meski para investor belum banyak melirik. Akan tetapi yang tidak banyak orang tahu adalah ternyata Rick Fox diperlakukan buruk oleh investornya sendiri.

Tokoh sebesar Rick Fox pun ternyata bisa mendapat eksploitasi dan ia tak berkuasa melawan karena “musuh” yang ia hadapi adalah pemilik modal. Apalagi para aktor industri lainnya, yang kekuatannya mungkin tidak sebesar Rick Fox. Di sinilah jurnalis berperan menjaga supaya industri esports kembali ke jalan yang benar. Mereka berperan untuk mengekspos hal-hal seperti itu supaya terjadi perubahan. Mereka berperan memberikan suara kepada orang-orang yang tidak memiliki suara.

Thooorin menganalogikan pekerjaan jurnalis seperti adegan di film 300, ketika Leonidas melempar tombaknya dan berhasil melukai Xerxes sang raja Persia. Xerxes memang tidak kalah atau mati. Tapi Leonidas menunjukkan kepada orang-orang bahwa Xerxes bukan dewa, hanya manusia biasa, dan bisa terluka. “Satu luka kecil itu nilainya lebih besar dari yang mungkin Anda bayangkan,” ujar Tooorin.

Kaitan antara motivasi dan jenis konten

Seperti dibahas sebelumnya, jurnalisme itu tipenya bisa bermacam-macam. Demikian pula investigasi bukan satu-satunya wujud jurnalisme yang bisa kita ciptakan. Mungkin seorang jurnalis punya minat yang besar terhadap suatu hal, namun tidak ada orang yang peduli terhadap hal itu. Di sini Thooorin memberi dorongan supaya kita menciptakan tipe konten sesuai dengan apa yang kita sukai.

Thooorin sendiri lebih banyak menciptakan konten bertipe sejarah, dan ia lebih suka menyebut diri dengan label “Esports Historian” daripada jurnalis. Ketika ia baru memulai, tipe konten yang ia buat tidak banyak dicari oleh peminat esports. Tapi ternyata sekarang konten-konten tersebut mendatangkan manfaat. Salah satunya adalah manfaat bagi para atlet yang sudah pensiun.

“Pemain-pemain (yang sudah pensiun) ini tahu bahwa alasan orang-orang mengingat nama mereka adalah karena Anda menulis cerita tentang mereka. Harus ada seseorang di luar sana yang menunjukkan bahwa sejarah itu hidup di masa sekarang,” kata Thooorin. Jurnalis boleh membuat konten dengan tipe apa saja sesuai dengan motivasi yang ia miliki. Tapi yang pasti adalah konten itu harus memiliki value, dan harus dibuat dengan tujuan membuat ekosistem industri esports jadi lebih baik.

Efek media sosial terhadap jurnalisme

“Media sosial secara umum adalah sebuah anugerah sekaligus masalah besar,” kata Richard. Di satu sisi, media sosial membuat kita punya platform sendiri yang bebas dan tidak dikendalikan oleh pihak tertentu. Tapi di sisi lain, kita tidak bisa mengendalikan bagaimana orang-orang di sana menggunakan konten kita. Bisa saja isinya dicatut, dipelintir, atau malah dianggap bohong. “Media sosial adalah mimpi buruk. Bagus untuk discovery (penyebaran konten), tapi tidak untuk selain itu,” tambahnya.

Reddit adalah media sosial yang menurut Richard punya masalah ekstra, karena di Reddit ada sistem moderasi oleh manusia. Padahal moderator itu sendiri isinya adalah orang-orang tak dikenal dari segala penjuru internet yang belum tentu punya kompetensi di bidangnya. Mereka bisa menyensor atau melarang suatu konten tampil di Reddit tanpa alasan yang jelas. Bahkan Inven Global pun saat ini diblokir (shadowbanned) oleh para moderator di subreddit League of Legends.

Meski mungkin tidak separah Reddit, platform media sosial lainnya juga sebetulnya punya masalah serupa. Facebook contohnya, punya kebijakan tersendiri tentang apa yang boleh dan tidak boleh kita post di sana. Twitter pun punya rekam jejak melakukan penghapusan terhadap akun-akun tertentu.

Terhadap kebebasan media dalam menyampaikan informasi, media sosial sebenarnya berdampak buruk. Tapi media sosial juga punya manfaat, utamanya yaitu sebagai tempat untuk membangun brand. “Anda bisa menulis artikel di Medium, dan bila isinya benar, tidak akan ada orang yang menghentikan Anda. Ada banyak contoh bagus akan orang-orang yang menciptakan brand sendiri lewat media sosial,” jelas Nick.

IGEC 2019 - Photo 3
Sumber: Inven Global

Dunia media butuh platform monetisasi yang independen

Apa masalah yang harus diselesaikan oleh dunia jurnalisme di masa depan? Para narasumber panel sepakat bahwa masalah utamanya adalah monetisasi. Industri esports butuh dikritisi dan dijaga, tapi yang jadi masalah adalah kebanyakan platform monetisasi media pun sebetulnya berada di bawah kekuasaan para pemangku kepentingan.

Richard memberi contoh misalnya Twitch. Dulunya Twitch berpotensi jadi solusi akan masalah tersebut, tapi kemudian Twitch dibeli oleh Amazon. Amazon adalah korporasi besar yang bahkan memiliki outlet media sendiri, jadi kita tidak bisa berharap banyak pada kenetralannya.

YouTube pun kini dipaksa oleh Wall Street Journal untuk menghilangkan iklan dari jenis-jenis konten tertentu. Contohnya konten tentang Counter-Strike, dengan alasan karena Counter-Strike adalah game yang mengandung unsur senjata api. Sulit menjaga kenetralan dan independensi bila jurnalis menggantungkan monetisasi pada platform-platform seperti ini.

Richard malah mencetuskan ide, seharusnya platform-platform itulah yang bergerak dengan cara membuat divisi berita sendiri. “Mereka punya begitu banyak uang, jadi mengapa tidak mendirikan divisi berita? Kita butuh platform baru dengan model monetisasi solid yang tak bisa diganggu gugat sehingga para jurnalis bisa melakukan pekerjaannya tanpa perlu memiliki majikan,” ujarnya. Thooorin menambahkan bahwa masalah ini tidak berlaku hanya di esports, tapi juga dunia media secara umum.

Jurnalisme autentik tidak akan pernah mati

Sebagai penutup, para narasumber berkata bahwa penting bagi seluruh penggemar maupun pelaku industri esports untuk selalu mendukung jurnalisme berkualitas, meskipun jurnalisme itu mengekspos kenyataan-kenyataan yang tidak mengenakkan. Karena hanya dengan begitulah kita bisa terus meningkatkan kualitas industri ini.

Sebaliknya, para jurnalis juga harus menjaga integritasnya dan mengedepankan nilai-nilai jurnalisme. Richard berkata, “Pada akhirnya, jika Anda lebih mementingkan aspek esports dibandingkan aspek jurnalisme, ada jutaan hal lain yang bisa Anda lakukan. Sudah jelas Anda bukan jurnalis dan Anda merasa tidak nyaman sendiri suatu saat nanti.”

Para calon jurnalis juga tidak perlu takut untuk menggeluti jurnalisme esports, meskipun hal-hal yang dibahas dari tadi seolah-olah menunjukkan bahwa bidang ini adalah profesi yang sangat tidak enak. Memang akan ada pihak-pihak yang melakukan blacklist. Akan ada orang-orang yang benci, atau berusaha menyetir dan menyingkirkan jurnalis dari dalam industri. Sebagian mungkin berpendapat bahwa “jurnalis esports” akan hilang ketika industri esports sudah membesar, karena pemberitaan esports dicaplok oleh media-media mainstream.

Tapi bagaimana pun juga, jurnalisme yang sesungguhnya tidak akan bisa disingkirkan. Mereka akan tetap bertahan, tetap dibutuhkan orang, dan tetap akan membuat banyak pihak tidak senang. Jurnalis media mainstream boleh saja mencoba menulis tentang esports, tapi (tanpa maksud merendahkan) mungkin pengetahuan yang mereka miliki mengenai industri esports tidak sedalam seorang jurnalis esports sungguhan.

“Orang-orang yang sebenarnya kita butuhkan adalah orang-orang yang sudah berada cukup lama di industri ini untuk menyampaikan cerita-ceritanya. Para penggemar esports bisa mengenali seorang (jurnalis) palsu. Mereka tahu ketika Anda tahu apa yang Anda bicarakan, dan tahu ketika Anda sedang membual,” ujar Thooorin.

Sumber: Inven Global