Esports Ecosystem

Christian Wihananto Bicara Soal Free Fire Master League, Franchise Model, dan Inklusifitas dalam Esports

15 Jan 2020 | Akbar Priono
Walau membutuhkan biaya investasi sebesar Rp50 juta, namun Free Fire Master League bukanlah satu-satunya jalan menuju tingkat internasional

Dengan ekosistem esports yang semakin berkembang, dan semakin banyaknya pesaing, tentu akan membuat persaingan jadi semakin ketat. Karena ini, para pelakunya mau tidak mau perlu terus melakukan inovasi agar tetap bertahan di tengah arus perubahan yang jadi semakin cepat. Dalam hal esports, adaptasi model dan struktur kompetisi jadi salah satu hal yang perlu dipikirkan, agar tetap relevan bagi penonton dan mengundang minat para tim untuk mengikutinya.

Free Fire Master League Season adalah satu produk kompetisi baru yang dihadirkan Garena Indonesia dalam skena Free Fire. Kemarin, Hybrid sudah mewartakan perihal liga tersebut. Namun satu yang belum terjawab adalah asal muasal tim peserta liga. Dalam sesi doorstop, Christian Wihananto Produser Free Fire dari Garena Indonesia menjabarkan proses serta pandangannya soal Free Fire Master League Season 1.

Sumber: Dokumentasi Garena
Sumber: Dokumentasi Garena

Pada saat sesi tanya jawab terbuka, Chris (sapaan akrab Christian) menyatakan bahwa liga ini merupakan sarana bagi Garena Indonesia untuk mengasah mentalitas pemain-pemain Free Fire, demi mengulang kesuksesan tim Indonesia di kancah internasional seperti saat EVOS memenangkan World Championship. Tapi bagaimana mencapai hal ini?

Ia mengatakan bahwa satu hal yang mereka coba terapkan adalah dengan menciptakan struktur serta regulasi yang jelas. Chris menyatakan, bahwa ia ingin agar liga ini bisa menciptakan sikap disiplin dan konsistensi kepada para pemain. Ini adalah langkah yang baik, apalagi konsistensi prestasi adalah satu masalah yang cukup kentara di skena kompetisi Free Fire. Salah satu contoh aksi nyatanya, adalah dengan melakukan pertandingan Free Fire Master League secara offline di kantor Garena. Lewat cara ini, pemain diharapkan bisa bertanding secara lebih disiplin dan mengikuti peraturan yang ada.

Sebagai cara mengikat tim dan pemain agar tidak melanggar peraturan, Garena Indonesia menerapkan sistem liga yang bentuknya hampir mirip Franchise League System. Ya, benar, layaknya liga kasta utama Mobile Legends, Free Fire Master League menerapkan sistem biaya investasi jika ingin mengikuti liga.

“Bisa dibilang campuran antara invitational dengan kualifikasi tertutup. Untuk Free Fire Master League, kami (Garena Indonesia) melakukan pendekatan kepada organisasi esports besar di Indonesia, lalu memberi kesempatan mereka untuk menyodorkan proposal aplikasi tim untuk masuk ke liga. Proposal-proposal tersebut lalu akan diseleksi lewat proses tertutup yang dilakukan oleh Garena Indonesia. Setelahnya tim yang lolos seleksi diperkenankan untuk masuk dengan proses Buy-In ke dalam liga.” Chris menjelaskan.

“Benar, kita ada sistem buy-in, dengan biaya investasi sebesar Rp50 juta untuk satu tim. Satu organisasi diperkenankan mengirimkan dua tim ke dalam Free Fire Master League, namun mereka harus menambah Rp150 juta untuk tim kedua. Jadi jika mendaftar untuk dua tim, maka organisasi harus membayar total sebesar Rp200 juta. Biaya investasi ini juga hanya terbatas untuk satu season saja.” Tutur Chris.

Biaya investasi ini terbilang jauh lebih murah jika dibanding dengan investasi Franchise Model Mobile Legends, yang harganya mencapai Rp15 miliar. Bagi organisasi, ini tentu jadi lebih menguntungkan, mengingat popularitas Free Fire yang sedang meledak belakangan. Lebih lanjut, Chris lalu menyatakan pandangannya yang menjadi landasan pemilihan sistem seperti ini untuk Free Fire.

Sumber: Dokumentasi Hybrid - Akbar Priono
24 Tim yang menjadi peserta Free Fire Master League Season 1. Sumber: Dokumentasi Hybrid – Akbar Priono

“Sebetulnya saya tidak bisa mengatakan ini (FFML S1) adalah Franchise Model. Sejauh yang saya tahu, pada sistem tersebut tim dan organisasi memiliki share ownership terhadap liga, namun FFML tidak demikian. Dalam liga ini, bisa dibilang sistemnya seperti turnamen arisan yang dulu biasa terjadi di kalangan grassroot. Jadi, tim peserta membayar biaya registrasi, setelahnya biaya tersebut akan digunakan untuk hadiah.”  Tukas Chris.

“Sistem ini jadi diterapkan karena concern saya terhadap profesionalitas tim. Sejauh ini saya meilihat fenomena, banyak orang mengaku sebagai tim esports, tetapi profesionalitasnya dipertanyakan, cuma modal nyali saja. Saya tidak bilang modal nyali itu buruk, namun dalam FFML, kami ingin membangun fondasi dan ekosistem yang bertahan lama. Maka dari itu kami ingin tim yang menjadi bagian dari FFML untuk berinvestasi, agar mereka semua lebih terikat. Jadi baik Garena ataupun tim peserta punya satu komitmen yang sama untuk mengembangkan ekosistem dan komunitas Free Fire secara bersama-sama.” Chris memberikan pandangannya terhadap model yang digunakan FFML.

Secara umum, menurut saya, sistem ini adalah Franchise Model namun dengan sedikit modifikasi dan penyesuaian. Kontrak jangka pendek yang hanya satu musim saja, mungkin adalah salah satunya – karena biasanya Franchise Model punya kontrak jangka panjang yang menjamin tim untuk tetap bertahan di liga dalam durasi yang panjang.

“Kami tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah Franchise Model. Kami sendiri sebenarnya ingin bisa inventing new model, karena selama ini, kami merasa model yang ada bleum cocok untuk ekosistem Free Fire. Terlebih, visi Garena Indonesia adalah menciptakan ekosistem esports yang inklusif, sehingga semua orang bisa punya kesempatan yang sama untuk mencapai kejayaan. Jadi kalau ditanya ini Franchise Model atau bukan, saya mungkin akan bilang kalau ini adalah Buy-In Model.”

Sumber: Dokumentasi Hybrid - Akbar Priono
Beberapa rencana kompetisi Free Fire di Indonesia. Sumber: Dokumentasi Hybrid – Akbar Priono

Inklusifitas dalam esports, memang bisa dibilang selalu menjadi satu visi Garena Indonesia yang kerap mereka gaungkan. Saat mengumumkan COD Mobile: Major Series, Edmundo Swidoyono, produser COD Mobile dari Garena Indonesia juga menggaungkan pesan yang sama, inklusifitas. Mengingat Free Fire Master League dibuat dengan model tertutup, maka dari itu Garena mempersiapkan struktur keseluruhan, yang lebih terbuka.

Selain liga utama, mereka juga sudah punya rencana liga kasta kedua yang akan diumumkan pada kesempatan berikutnya. Selain itu, menurut saya satu hal yang membuat ucapan Chris soal inklusivitas jadi lebih masuk akal, adalah kesempatan untuk mencapai panggung dunia di skena Free Fire.

Walaupun FFML S1 menggunakan model tertutup, namun puncak kompetisi di skena Free Fire di tahun 2020 ini tetaplah Free Fire Indonesia Masters. Jika peserta FFML S1 berhasil finish pada peringkat 6 besar di akhir musim, mereka tidak serta-merta berangkat ke pertandingan internasional, melainkan hanya mendapat hak mengikuti FFIM saja. Sementara itu, kesempatan mengikuti FFIM tetap terbuka lebar. Semua orang dari berbagai belahan nusantara tetap berhak mengikuti kompetisi tersebut, asal mereka bisa membuktikan bahwa tim mereka adalah yang terbaik setelah mengikuti proses kompetisi yang diikuti.

Saya bisa bilang sistem ini adalah kompensasi yang baik dari Garena. Karena di satu sisi Free Fire Master League akan menguntungkan secara bisnis bagi kedua pihak. Sementara di sisi lain, visi esports yang inklusif tetap dijaga lewat Free Fire Indonesia Master. Saya juga merasa ini jadi adil secara bisnis, karena organisasi esports yang lebih mapan secara finansial diberikan kewajiban yang lebih besar dengan hak-hak yang lebih sepadan lewat FFML. Setelah kita panjang lebar bicara soal konsep, semoga saja Free Fire Master League bisa dieksekusi dengan baik, agar ekosistem Free Fire tetap langgeng.

Sumber Header: Dokumentasi Hybrid – Akbar Priono